NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Kabar Buruk

Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Indah dipandang, tapi mudah terbang pergi saat kita mendekat.

Itulah yang dirasakan Raka saat membaca layar ponselnya, Senin pagi, pukul setengah delapan. Ia baru saja selesai mandi, hendak sarapan sebelum berangkat ke kantor. Kopi hitam masih mengepul di meja makan. Arka masih tidur. Bi Inah sibuk di dapur.

Lalu ponselnya berdering. Bukan telepon biasa. Tapi panggilan dari Direktur Utama perusahaan, atasannya sendiri.

"Pak Raka, selamat pagi. Maaf mengganggu pagi-pagi. Bisa bicara sebentar?"

Raka mengernyit. "Tentu, Pak. Ada apa?"

Suara di seberang berat. "Saya baru dapat laporan dari tim hukum. Ada dokumen internal perusahaan yang bocor. Laporan keuangan, data klien, kontrak rahasia. Semuanya tersebar di media online. Berita sudah mulai ramai."

Raka terdiam. Jantungnya berhenti sejenak.

"Apa?"

"Iya, Pak. Saya sudah cek. Ini serius. Berita utama di beberapa portal ekonomi. Harga saham kita sudah turun 7% dalam sejam terakhir. Belum lagi respons klien. Beberapa sudah telepon, marah-marah."

Raka memegang keningnya. Dunia terasa berputar.

"Siapa yang melakukan? Sudah dilacak?"

"Tim IT sedang melacak. Tapi dari sumber awal, data itu bocor dari akun pribadi Bapak. Mungkin dari laptop atau ponsel Bapak."

Raka terbelalak. Dari akunnya?

"Pak, saya... saya tidak mungkin melakukan ini. Ini pasti ada yang sengaja."

"Saya tahu, Pak. Tapi untuk sementara, Bapak harus cuti. Kami akan investigasi internal. Bapak jangan masuk kantor dulu. Dan jangan kemana-mana. Tim hukum akan segera ke rumah."

Telepon ditutup. Raka duduk lemas di kursi makan.

Bi Inah yang melihat wajah pucatnya, mendekat. "Tuan, ada apa? Tuan sakit?"

Raka menggeleng. Tak bisa berkata.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan dari Aira.

"Halo, Raka? Pagi. Aku mau kasih tahu, baju Arka—"

"Aira," potong Raka, suaranya parau. "Ada masalah."

Aira diam. Lalu bertanya, "Masalah apa?"

Raka menceritakan semuanya. Data bocor. Saham turun. Ia dicurigai. Harus cuti.

Aira mendengarkan dengan seksama. Ketika Raka selesai, ia berkata, "Aku ke sana sekarang."

"Tapi—"

"Aku ke sana. Tunggu."

Telepon ditutup. Raka menatap layar ponsel. Tangannya gemetar.

---

Satu jam kemudian, Aira sudah sampai di apartemen. Raka duduk di ruang tamu, wajahnya pucat pasi. Di hadapannya, dua orang pria berpakaian rapi—tim hukum perusahaan—sedang bicara.

"Pak Raka, dari bukti awal, data itu diakses dari ponsel Bapak. Pukul 2 dini hari, tiga malam lalu. Apakah Bapak ingat sedang apa saat itu?"

Raka menggeleng. "Saya tidur. Saya tidak pernah buka laptop atau ponsel malam-malam."

"Tapi data menunjukkan ada akses. Dan semua dokumen itu diambil dari akun cloud pribadi Bapak."

Aira duduk di samping Raka. Meraih tangannya. Memberi kekuatan.

Salah satu tim hukum menatap Aira. "Maaf, Nona siapa?"

"Teman saya," jawab Raka cepat. "Dia boleh dengar."

Tim hukum itu mengangguk. "Baik, Pak. Untuk sementara, kami akan menyegel semua perangkat Bapak. Laptop, ponsel, tablet. Untuk investigasi. Bapak tidak boleh menggunakan perangkat apa pun yang terhubung dengan perusahaan. Ini prosedur."

Raka mengangguk lemah. "Silakan."

Mereka mengambil perangkat-perangkat itu. Meninggalkan Raka dengan segudang pertanyaan.

Setelah mereka pergi, Aira memegang tangan Raka erat.

"Raka, tenang. Kita cari jalan keluar."

Raka menatapnya dengan mata kosong. "Aira, aku tak melakukan ini. Tapi bukti bicara lain. Semua dari perangkatku. Siapa yang bisa mengakses?"

Aira diam. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Raka, siapa saja yang pernah ke sini? Ke apartemen ini? Selain aku dan Lita?"

Raka berpikir. "Hanya Lita yang sering. Teman-teman kantor kadang, tapi tidak pernah sampai ke ruang kerjaku."

Aira menatapnya tajam. "Lita. Dia sering ke sini, kan? Sebelum ketahuan."

Raka mengerutkan kening. "Kau pikir Lita yang melakukan?"

Aira mengangguk. "Ingat, Raka. Lita datang dengan agenda. Saat ketahuan, dia pergi. Tapi mungkin dia sudah ambil sesuatu. Dokumen-dokumen itu."

Raka memejamkan mata. Mengingat.

"Lita... beberapa kali dia masuk ke ruang kerjaku. Waktu aku ambil minum atau ke kamar mandi. Aku pikir dia cari buku atau mainan Arka. Tapi mungkin..."

"Tidak ada yang mustahil, Raka. Wanita itu punya banyak sisi gelap."

Raka menghela nafas. "Tapi bukti dari perangkatku. Bukan dari perangkatnya."

"Mungkin dia pasang software, atau ambil datanya dari sini. Atau mungkin dia punya akses ke password-mu. Apa kau pernah login di ponselnya? Atau dia pernah lihat kau ketika mengetik password?"

Raka berpikir keras. Lalu teringat.

"Satu kali. Waktu dia minta tolong buka email di ponselku. Katanya ponselnya lowbat. Aku kasih, dan aku buka. Dia lihat aku ketika mengetik password."

Aira mengangguk. "Itu dia. Lita hapal password-mu. Lalu diam-diam, saat kau tidur, dia ambil data. Mungkin malam itu, pukul 2 dini hari. Dia curi data."

Raka mengepalkan tangan. "Lita... kenapa dia tega?"

"Karena dia punya tujuan. Mungkin bukan cuma balas dendam. Mungkin ada yang suruh."

Raka menatap Aira. "Kau pikir ada dalang di belakangnya?"

"Sangat mungkin. Wanita itu tak mungkin kerja sendiri. Dia butuh otak, butuh dana, butuh jaringan."

Raka diam. Pikirannya kacau.

Tiba-tiba, ponsel Aira bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Selamat pagi, Nona Aira. Kabar buruk ya? Raka jadi tersangka. Perusahaannya goncang. Aku hanya ingin bilang, ini belum selesai. Jangan terlalu bahagia. Karena kebahagiaan kalian, akan jadi akhir dari segalanya. - L"

Aira menunjukkan pesan itu pada Raka.

"Ini dari Lita. Dia mengaku."

Raka membaca. Matanya merah.

"Dia... dia benar-benar jahat."

Aira menggenggam tangan Raka. "Raka, kita lawan. Kita kumpulkan bukti. Laporan polisi. Kita hancurkan dia."

Tapi Raka menggeleng. "Buktinya belum cukup, Aira. Ini katanya dari perangkatku. Aku yang akan disalahkan. Sementara Lita bisa mengaku tak tahu apa-apa."

"Tapi kita punya pesan ini. Ini bukti!"

"Bisa dia bilang itu rekayasa. Atau akunnya diretas."

Aira frustrasi. "Lalu kita diam saja?"

Raka menatapnya. "Kita tidak diam. Tapi kita harus pintar. Lita pasti akan muncul lagi. Dan saat dia muncul, kita harus siap."

---

Dua hari kemudian, kabar semakin buruk. Saham perusahaan Raka turun 15%. Tiga klien besar membatalkan kontrak. Media memberitakan dugaan korupsi dan penyelewengan data. Nama Raka disebut-sebut sebagai tersangka utama.

Raka tak bisa ke mana-mana. Rumahnya dikepung wartawan. Ia hanya bisa diam di apartemen, ditemani Aira dan Arka.

Arka belum tahu apa-apa. Ia hanya senang Aira sering datang. Tapi ia lihat Bapaknya sedih.

Suatu malam, saat Aira dan Raka duduk di ruang tamu, Arka datang memeluk Raka.

"Bapak sedih ya?"

Raka tersenyum getir. "Bapak capek, Nak."

Arka menatap Aira. "Aira, tolong jagain Bapak ya. Bapak jangan sedih terus."

Aira mengusap rambut Arka. "Iya, Ark. Aira jagain."

Arka pergi tidur. Bi Inah menemaninya.

Raka menatap Aira. "Maaf, Aira. Kau jadi ikut terkena imbas. Wartawan pasti sudah cari tahu tentangmu."

Aira menggeleng. "Aku tak peduli. Yang penting kau dan Arka baik-baik saja."

Raka meraih tangan Aira. "Aku tak tahu harus bagaimana. Ini pertama kalinya aku tak punya kendali."

Aira tersenyum. "Kita jalani bersama, Raka. Aku di sini."

Raka menatapnya lama. Lalu berkata, "Aira, apa kau tidak menyesal? Mengenal aku? Masuk ke hidup yang rumit ini?"

Aira menggeleng. "Tidak. Tidak pernah. Karena aku sayang kamu. Sayang Arka. Kalian berharga buatku."

Raka memeluk Aira. Erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendiri.

---

Di hotel berbintang, Lita duduk dengan laptop. Ia membaca berita-berita tentang Raka. Tersenyum puas.

Ponselnya berdering. Panggilan dari "Sayang".

"Halo, Sayang. Berhasil. Perusahaannya goncang."

Suara pria di seberang. "Bagus. Tapi jangan puas dulu. Ini baru awal. Kita harus pastikan dia jatuh total. Sampai tak bisa bangkit."

Lita mengangguk. "Apa langkah selanjutnya?"

"Kita tunggu. Biarkan media terus mengorek. Biarkan klien-kliennya lari. Saat dia paling terpuruk, kita tawarkan bantuan. Tapi dengan syarat."

"Syarat apa?"

"Perusahaan itu harus dijual. Dan kita yang beli. Dengan harga murah."

Lita tersenyum jahat. "Kau memang jenius."

"Bukan jenius. Tapi tahu cara main."

Lita menutup telepon. Menatap layar laptop. Foto Raka dan Arka muncul.

"Maaf, Rak. Kau yang pilih jalan ini. Sekarang terima akibatnya."

Ia menutup laptop. Bersiap tidur.

Di luar, Jakarta malam itu gelap. Tak ada bintang. Hanya lampu-lampu kota yang berkedip sayu.

---

Di apartemen The Rosewood, Aira dan Raka masih duduk di ruang tamu. Mereka tak bicara. Hanya saling menggenggam tangan.

Pukul dua dini hari, ponsel Aira bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Lagi.

"Nona Aira, jangan terlalu dekat dengan Raka. Karena saat dia jatuh, kau ikut jatuh. Dan aku akan tertawa melihatnya. - L"

Aira menunjukkan pada Raka. Raka membaca. Lalu berkata, "Ini perang, Aira. Dan kita harus menang."

Aira mengangguk. "Kita akan menang, Raka. Bersama."

Mereka saling menatap. Di tengah badai yang menerjang, mereka berdua adalah pelabuhan satu sama lain.

Tapi mereka tahu, badai ini belum reda. Justru baru akan dimulai.

Dan ular itu, masih menggeliat di sarangnya. Siap menerkam kapan saja.

---

[?

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!