Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Dua minggu pertama sebagai mahasiswa di Universitas Collux berlalu dengan beban yang terasa semakin berat di pundak Kevin. Tugas kuliah mulai menumpuk, memaksa otaknya bekerja dua kali lebih keras untuk mengejar ketertinggalan.
Namun, tantangan terbesarnya bukan hanya di kampus, melainkan juga di mansion. Belakangan ini, Ashley menunjukkan sisi yang sangat langka: ia menjadi sangat manja. Sebuah anomali yang membuat Kevin terkadang bingung harus bereaksi seperti apa, meskipun dalam hati ia menikmatinya.
Satu hal yang paling mengejutkan bagi Kevin adalah ketika ia membuka buku teks Manajemen Bisnis. Nama "Ashley Giovano" dan ayahnya, "Andrew Giovano", tercetak jelas dalam bab-bab utama sebagai contoh nyata dari kesuksesan korporasi modern. Di dunia akademik ini, istrinya bukan sekadar manusia, melainkan legenda hidup. Giotech Corp digambarkan sebagai raksasa yang memegang kendali ekonomi dunia, dan Kevin harus berpura-pura tidak tahu apa-apa saat teman-teman sekelasnya menjadikan Ashley sebagai subjek referensi tugas mereka dengan nada penuh kekaguman.
Sore itu, mobil mewah Kevin berhenti dengan mulus di teras depan mansion. Kevin melangkah keluar dengan wajah yang menunjukkan kelelahan luar biasa. Namun, rasa lelahnya sedikit menguap saat ia masuk dan mendapati Ashley sudah berada di rumah, bersantai di ruang tengah meskipun jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Ini kejadian langka, mengingat Ashley biasanya baru akan menginjakkan kaki di rumah saat matahari hampir tenggelam.
"Kau terlihat sangat lelah. Apa ada seseorang yang mengganggumu di kampus hari ini?" tanya Ashley lembut, tepat setelah Kevin menghempaskan tubuhnya di sebelah istrinya.
Ashley segera meraih remote dan mematikan TV yang sedang menyiarkan berita ekonomi nasional. Ia kemudian mengulurkan tangan, jemari lenturnya mengusap lembut rambut Kevin yang sedikit berantakan.
"Tidak ada, Ash. Mana ada yang berani mengusik 'anak tunggal Direktur Bank Nasional' atau 'putra mahkota sultan minyak'?" jawab Kevin sambil terkekeh lemah. Julukan-julukan konyol dari rumor kampus itu perlahan mulai terdengar akrab di telinganya.
"Hm?" Ashley ikut terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar seperti melodi indah bagi Kevin. "Rumor itu masih beredar? Dari mana mereka bisa menarik kesimpulan sejauh itu?"
"Entahlah. Mungkin karena laptop dan ponsel prototipe ini, atau mungkin jam tangan jutaan dolar dan semua pakaian yang kau pilihkan untukku. Mike bahkan bilang ada forum internet kampus yang membahas profilku secara khusus."
"Baguslah kalau begitu. Kau menjadi populer bahkan sebelum genap sebulan kuliah," ujar Ashley dengan nada bangga yang samar.
"Tapi itu membuatku terbebani, Ash. Ke mana pun aku melangkah, selalu ada mata yang mengawasi. Aku bahkan harus meminta Jonathan untuk berjaga tepat di depan pintu toilet agar aku yakin tidak ada yang berani masuk atau mengintip saat aku sedang menyelesaikan urusan," keluh Kevin. Ia kini benar-benar mensyukuri kehadiran Jonathan yang sebelumnya sempat ia tolak mentah-mentah.
Malam harinya, Ashley kembali ke kamar lebih larut setelah sempat memeriksa beberapa dokumen kantor. Ia menemukan Kevin sudah terlelap dengan sebuah buku tebal masih terbuka di atas dadanya. Dengan gerakan pelan agar tidak membangunkan suaminya, Ashley mengambil buku itu, menyelimuti tubuh Kevin hingga sebatas dada, lalu memberikan kecupan hangat di pipinya sebelum ia sendiri berbaring di samping pria itu.
Keesokan harinya di kampus, suasana mendadak menjadi lebih panas bagi Kevin. Seorang mahasiswi cantik berambut pirang bernama Gwen, yang dikenal sebagai putri dari Inspektur Tertinggi Kepolisian, mulai mendekati Kevin secara terang-terangan.
"Kevin, kau tahu tidak? Aku baru saja membeli parfum baru, tapi aku tidak yakin aromanya cocok untukku. Bagaimana menurutmu?" ucap Gwen sambil sengaja mendekatkan lehernya ke arah Kevin saat mereka berada di lorong fakultas.
Kevin tersentak dan mundur selangkah dengan kikuk. "Ah, maaf... hidungku sedang agak mampet hari ini, Gwen."
Gwen tidak menyerah. Ia terus melancarkan rayuan mautnya, menanyakan hobi, makanan kesukaan, hingga menawarkan diri untuk menemani Kevin belajar di perpustakaan pribadi milik keluarganya. Kevin menjawab semuanya dengan sangat hati-hati, berusaha tetap sopan namun tetap menjaga jarak aman. Namun, sikap kikuk dan misterius Kevin justru membuat Gwen semakin penasaran dan agresif.
Di kafetaria, Mike yang menyaksikan seluruh drama itu hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyeruput kopinya. Setelah Gwen pergi dengan satu kerlingan mata nakal ke arah Kevin, Mike langsung menyambar lengan sahabatnya.
"Gila, Kev! Kau sadar tidak baru saja dirayu oleh putri Inspektur Tertinggi? Itu tadi rayuan maut tingkat tinggi!" seru Mike setengah berbisik. "Gwen itu primadona di sini. Banyak anak pejabat yang mengantre hanya untuk mendapatkan nomor teleponnya, dan dia baru saja menawarkannya padamu secara cuma-cuma."
"Aku tidak tertarik, Mike. Kau tahu sendiri situasiku," jawab Kevin sambil mengusap wajahnya yang memerah karena malu.
"Tapi reaksimu tadi benar-benar lucu. Kau seperti kucing yang ketakutan melihat tikus besar. Kau harus lebih tegas, atau dia akan terus memburumu. Tapi jujur saja, siapa yang bisa menolak Gwen? Cantik, kaya, dan punya pengaruh besar. Kalau aku jadi kau, aku mungkin sudah pingsan di tempat."
"Diamlah, Mike. Ini tidak lucu. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas ranjau," gumam Kevin frustrasi.
Tanpa sepengetahuan Kevin, setiap interaksi itu dicatat dengan sangat detail oleh Jonathan. Sore harinya, saat dalam perjalanan pulang, Jonathan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Ashley melalui sambungan telepon rahasia.
Sesampainya di mansion, Kevin merasakan suasana yang berbeda. Tidak ada sambutan hangat seperti kemarin. Ashley berdiri di dekat jendela besar ruang kerja dengan tangan bersedekap, menatap taman dengan tatapan yang sangat dingin.
"Jadi, bagaimana harimu dengan putri Inspektur itu?" tanya Ashley tiba-tiba, suaranya terdengar seperti es yang digoreskan pada kaca.
Kevin mematung di pintu. "Ash... kau sudah tahu?"
Ashley berbalik, matanya menyipit tajam. "Jonathan melaporkan semuanya. Termasuk bagian di mana dia mencoba merayumu dengan parfumnya. Sepertinya pengamanan tiga meter itu masih terlalu jauh bagi wanita seperti dia."
"Ash, aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan menjauh darinya," bela Kevin dengan suara agak gemetar.
"Aku tahu kau tidak melakukannya, Kevin. Tapi kenyataan bahwa ada wanita lain yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku... itu membuatku sangat tidak nyaman," ucap Ashley sambil melangkah mendekat. Ia meletakkan tangannya di dada Kevin, merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang sedikit terlalu kencang.
"Besok, Jonathan akan berjaga di jarak satu meter. Dan beritahu teman pirangmu itu, jika dia masih ingin ayahnya memiliki jabatan, sebaiknya dia menjaga jarak dari suamiku."
Kevin menelan ludah. Ia baru menyadari bahwa kemarahan Ashley jauh lebih menakutkan daripada rayuan maut mana pun yang bisa diberikan oleh Gwen.