NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Terindah

Ta'Aruf Terindah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tertinggal di Bandung

Langit Ciwidey pagi itu cerah, seolah tak pernah ada awan keraguan yang menggantung beberapa hari terakhir. Tapi hati Yasmin tidak secerah langitnya.

Ia duduk di depan rumah dengan secangkir teh hangat, menatap kebun kecil yang mulai dipenuhi bunga liar. Gelang kayu berhuruf R kini melingkar kembali di pergelangan tangannya. Entah kenapa, ia merasa perlu memakainya hari ini.

Semalam ia sulit tidur.

Ucapan Helena terngiang-ngiang di kepalanya. Kamu belum mengenal dunia yang akan kamu hadapi.

Benarkah ia terlalu polos?

Atau justru dunia itu yang terlalu rumit?

________________________________________

Di Jakarta, Ragnar memandangi berkas-berkas yang tak lagi mampu ia fokuskan. Sejak kunjungan ibunya ke Ciwidey, suasana di rumah besar keluarga van Der Veen berubah menjadi lebih sunyi.

Ayahnya tak lagi membahas pernikahan, tapi justru diam—dan diam Willem jauh lebih menekan daripada kemarahan.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

“Kalau kamu ingin tahu seberapa dalam masa lalumu terhubung dengan Yasmin, temui aku. Bandung. Hari ini.”

Ragnar menegang.

Ia tahu siapa pengirimnya tanpa perlu nama.

Clara.

________________________________________

Bandung siang itu ramai seperti biasa. Jalan Asia Afrika dipenuhi wisatawan dan kendaraan yang saling bersahutan. Ragnar duduk di sebuah kafe bergaya kolonial, menunggu dengan wajah serius.

Clara datang lima belas menit kemudian. Anggun seperti biasa, tapi sorot matanya berbeda—lebih tajam, lebih penuh perhitungan.

“Kamu datang,” katanya sambil duduk tanpa diminta.

“Kamu bilang soal Yasmin,” jawab Ragnar langsung. “Apa maksudmu?”

Clara tersenyum kecil. Ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Kamu ingat kecelakaan kecil di Bandung delapan tahun lalu?”

Ragnar mengernyit. “Yang mana?”

“Kamu menabrak sepeda motor di dekat Alun-Alun.”

Ragnar terdiam.

Ia ingat samar-samar. Ia masih kuliah saat itu. Mengemudi mobil sport ayahnya dengan kecepatan berlebihan. Hujan deras. Rem mendadak. Sebuah motor terjatuh.

Tidak ada korban jiwa. Hanya luka ringan. Semua diselesaikan dengan biaya rumah sakit dan kompensasi.

Ia bahkan tidak sempat melihat jelas wajah pengendara yang dibantunya berdiri waktu itu.

Clara membuka salah satu lembaran kertas dan mendorongnya ke depan Ragnar.

“Nama saksi yang membantu korban waktu itu—Yasmin Salsabila.”

Jantung Ragnar seakan berhenti sesaat.

“Mustahil.”

“Bandung tidak seluas yang kamu kira.”

Clara menatapnya dalam. “Gadis desa polos itu pernah ada di lokasi kecelakaanmu. Dia melihatmu di masa paling cerobohmu.”

Ragnar menatap dokumen itu. Tangannya sedikit gemetar.

Potongan memori mulai muncul.

Seorang gadis remaja berdiri di bawah payung kecil. Wajahnya cemas tapi berani. Ia membantu menenangkan korban. Rambutnya basah oleh hujan.

Dan sebelum pergi, Ragnar sempat memberikan gelang kayu kecil—hadiah dari bazar kampus yang tak pernah ia pakai.

Huruf R terukir di sana.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Clara menyandarkan tubuhnya. “Takdir memang lucu, ya?”

Ragnar menutup map itu pelan.

“Apa maumu, Clara?”

“Aku hanya ingin kamu sadar. Masa lalumu belum selesai. Kalau dia tahu kamu hampir menyebabkan orang kehilangan nyawa karena kelalaianmu, apa dia masih memandangmu sebagai lelaki yang pantas jadi imam?”

Itu pukulan telak.

Ragnar menatap Clara dengan mata yang kini dipenuhi kemarahan.

“Aku sudah berubah.”

“Tapi dosamu tetap ada.”

Clara berdiri. “Pikirkan baik-baik. Sebelum kamu membawa gadis itu ke dunia yang belum tentu siap menerima kebenaran.”

________________________________________

Sementara itu di Ciwidey, Yasmin membantu ayahnya memetik daun teh di kebun kecil milik tetangga.

Tiba-tiba Pak Asep berhenti bekerja.

“Min, dulu waktu kamu ke Bandung ikut lomba mengaji… kamu pernah cerita soal kecelakaan, ya?”

Yasmin terdiam.

“Iya, Pak.”

“Kenapa tidak pernah cerita detailnya?”

Yasmin menunduk.

Ia ingat hari itu dengan jelas. Motor yang menabrak karena mobil sport melaju terlalu cepat. Seorang ibu jatuh dan kakinya terkilir. Gadis kecil di boncengan menangis.

Dan lelaki pengemudi itu—tinggi, panik, tapi bertanggung jawab. Ia membayar biaya rumah sakit tanpa membantah. Ia meminta maaf berkali-kali.

Yasmin melihat penyesalan di matanya.

Itu bukan wajah orang jahat.

“Karena tidak ada yang meninggal, Pak,” jawab Yasmin pelan. “Dan lelaki itu menolong sampai selesai.”

Pak Asep mengangguk perlahan.

“Kamu masih ingat wajahnya?”

Yasmin terdiam lama.

“Iya.”

“Kalau suatu hari kamu bertemu lagi dengannya, apa yang akan kamu lakukan?”

Yasmin menatap pergelangan tangannya. Gelang kayu itu terasa hangat.

“Saya tidak tahu.”

________________________________________

Malam itu Ragnar tiba-tiba muncul di Ciwidey lagi. Wajahnya pucat, matanya penuh beban.

Pak Asep melihat sesuatu yang berbeda.

“Kamu baik-baik saja, Nak?”

Ragnar mengangguk, tapi suaranya berat. “Saya perlu bicara dengan Yasmin.”

Mereka duduk di beranda. Angin malam membawa aroma tanah dan daun basah.

“Apa kamu pernah ke Bandung delapan tahun lalu untuk lomba mengaji?” tanya Ragnar tiba-tiba.

Yasmin terkejut.

“Iya.”

“Apakah kamu pernah melihat kecelakaan mobil dan motor di dekat Alun-Alun?”

Sunyi.

Yasmin memejamkan mata sejenak.

“Lelaki itu… kamu?” suaranya hampir berbisik.

Ragnar menunduk.

“Iya.”

Jantung Yasmin berdegup keras.

Ia menatap lelaki di depannya. Kini bukan hanya calon imam. Tapi seseorang dari masa lalu yang tak pernah ia sangka.

“Saya ceroboh waktu itu,” lanjut Ragnar pelan. “Saya hampir mencelakai orang karena kesombongan saya.”

Yasmin terdiam lama.

“Kenapa baru sekarang Anda mengatakannya?”

“Saya sendiri baru tahu kamu ada di sana.”

Yasmin merasakan perasaannya campur aduk. Takdir terasa terlalu rumit untuk sekadar kebetulan.

“Apakah itu alasan Anda ingin menikah dengan saya?” tanyanya tiba-tiba. “Karena rasa bersalah?”

Pertanyaan itu membuat Ragnar terhenyak.

“Tidak.”

“Yakin?”

Ragnar menatapnya lurus.

“Kalau hanya karena rasa bersalah, saya tidak akan datang sejauh ini. Saya bahkan tidak tahu kamu orang yang sama.”

Yasmin menggenggam gelang kayu itu.

“Gelang ini… Anda yang memberi.”

Ragnar terdiam.

Ia tak pernah menyangka benda kecil itu masih disimpan.

“Saya menyimpannya bukan karena Anda kaya,” kata Yasmin pelan. “Tapi karena hari itu saya melihat penyesalan di mata Anda. Dan itu jarang.”

Angin malam berembus lebih dingin.

“Sekarang saya melihat penyesalan yang sama,” lanjut Yasmin. “Tapi juga ketulusan.”

Ragnar menelan ludah.

“Saya tidak ingin masa lalu menjadi fondasi pernikahan kita,” katanya pelan. “Saya ingin masa depan.”

Yasmin menatap langit.

Takdir telah mempertemukan mereka dua kali—dalam kelalaian dan dalam ta’aruf.

Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka pernah terhubung.

Tapi apakah mereka cukup kuat untuk menerima seluruh versi satu sama lain.

Di kejauhan, awan gelap mulai menggantung.

Karena Clara belum selesai.

Dan keluarga Ragnar baru saja menerima laporan lengkap tentang kecelakaan lama itu.

Masa lalu tidak hanya mengetuk.

Ia sudah berdiri di depan pintu.

1
Alvaraby
namanya juga novel 🤣
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
bukannya kecelakaan motor????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kok mbulet y thor,,,,kan diawal sudah dijelaskan masa lalu yang hampir menikah namanya Clara,,,,awal awal ceritanya bagus pertengahan kok mbulet gini????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
Clara gak ada nyerah nyerahnya y
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
lanjut,,,,,😍😍😍😍😍😍
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
penasaran lanjut,,,
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
masa SMP udah gak ingat wajahnya Yasmin???
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kata katanya tertata rapi banget thor,,,, lanjut semangat berkarya 💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!