"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 (Hari Pernikahan)
Devan berhasil mendapatkan kamar tepat di samping kamar Fania. Dia tidak ingin ketinggalan sedikitpun agar bisa menjaga gadis yang didambakannya. Dia ingin mencari sesuatu yang bisa dibutuhkan suatu hari nanti. Dari lubuk hatinya ang terdalam tidak ingin jika Fania disakiti apalagi dihancurkan oleh pria lain. Tidak menunggu waktu lama, Devan sudah sampai di depan pintu kamarnya. Dia melirik arah kamar sebelah yan sudah sepi.
"Aku ingin tau bagaimana perasaanmu sekarang, Fania. Pria itu sungguh bodoh sekali menyiakan gadis sempurna sepertimu," batin Devan sambil membuka pintu.
Di kamar sebelah, Fania meletakkan kopernya di dekat ranjang. Dia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah perjalanan yang melelahkan. Gadis itu tidak melupakan kewajibannya untuk beribadah. Di Turki jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Sepertinya letak kamarnya jauh dari kamar suaminya. Raditya dan Zelina berada di ruangan paling mahal. Mereka tidak memikirkan perasaan Fania sama sekali.
*****
Keesokan harinya, Fania sudah bangun karena dia menyetel alram lebih awal. Dia segera bersiap untuk menghadiri pernikahan suaminya yang akan diselenggarakan di masjid. Akad nikah dimulai jam sepuluh waktu setempat. Fania menyiapkan gamis berwarna coklat susu dengan hijab yang senada. Tidak lupa cadarnya yang sangat penting untuk melindungi diri dari pandangan orang lain.
Satu jam bersiap, Fania sudah selesai. Dia mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya. Untuk pergi ke masjid tersebut, Fania harus berangkat sendiri. Dia memesan taksi agar segera sampai di sana. Langkah kakinya sangat tegar meski hatinya terasa sesak. Untung saja sudah ada taksi yang menunggu di depan hotel. Jadi dia tidak perlu repot lagi untuk mencari.
Taksi sudah berangkat, lalu tidak lama kemudian muncullah Devan yang sudah siap dengan mobil yang disewanya sendiri. Kebetulan dia mempunyai teman dekat di Turki, jadi dia tidak perlu repot dengan kendaraan umum. Devan mengikuti taksi yang dinaiki Fania. Dia tidak ingin ketinggalan sedikitpun. "Fania, hatimu terbuat dari apa? Bagaimana bisa kamu dengan ikhlas mengantar pernikahan suamimu," pikir Devan dalam hati.
"Tunggu, jika dia ikhlas mengantar suaminya menikah lagi, itu artinya Fania tidak mempunyai perasaan apapun pada suaminya," lanjutnya dengan penuh semangat. Devan seperti mendapatkan titik terang atas perasaanya sendiri. Dia semakin bersemangat untuk bisa meraih hati Fania.
Mobil terus melaju hingga sampai di masjid terbesar di Turki. Suasana sangat ramai karena banyaknya pengunjung. Fania terlihat turun dari taksi, dia melangkah pelam menuju ke dalam masjid. Devan juga mengikuti dari belakang, dia menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh orang lain.
Sesampainya di dalam masjid, Fania masih harus menunggu karena pasangan pengantin belum datang. Dia duduk dengan tenang dan pandangan mata lurus ke depan. Dari sorot matanya terlihat sangat tegar, entah bagaimana perasaannya sangat sulit untuk ditebak. Saat yang ditunggu telah tiba, Raditya dan Zelina datang bersama dan diiringi beberapa orang di belakang.
Keduanya sangat bahagia sehingga terus tersenyum sembari berjalan menuju meja akad. Semua persyaratan telah diurus secara resmi sehinga pernikahan itu bisa dilaksanakan. Fania hanya menatap datar keduanya, tidak ada perasaan iri dalam hatinya. Dalam kepalanya saat ini sedang memikirkan cara untuk kabur dan mengakhiri sandiwara buruk itu.
Raditya dan Zelina sudah duduk di depan penghulu. Fania jadi teringat saat ijab kabul seminggu yang lalu. Memang nasibnya sangat ironis sekali, diduakan tanpa diberi kesempatan untuk merasakan. Akad nikah akan dimulai sebentar lagi. Satu tarikan napas panjang mengiringi acara sakral tersebut.
Fania mendengar suara penghulu yang memulai acara. Raditya juga sudah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Ijab kabul dimulai, suara lantang menuju sah itu begitu bersemangat. Hingga akhirnya ucapan sakral itu mengakhiri semuanya. Raditya sudah sah menikahi Zelina yang berstatus sebagai istri kedua.
Acara pun selesai, Fania bergegas pergi dari acara tersebut. Dadanya terlalu sesak hingga sangat sulit bernapas. Saat ingin pergi dari tempat itu, suara Zelina terdengar nyaring memanggilnya. "Hei, mau pergi ke mana? Sikapmu sangat tidak sopan sekali. Seharusnya kamu datang memberi selamat dulu padaku."
Fania menghentikan langkahnya, dia berbalik dan berhadapan dengan madunya. "Kamu memanggilku? Jadi kamu masih mengharapkan ucapan selamat dariku? Apa ucapan itu sangat penting?"
"Sepertinya pelajaran waktu itu masih belum membuatmu mengerti, ya? Apa kamu mau aku mengulanginya lagi agar kamu paham?" tanya Zelina mulai terpancing emosi.
Fania tersenyum tipis, dia menatap suaminya yang sejak tadi diam. "Mas, apa kamu belum memberitahu istri tercintamu ini tentang perjanjian itu? Sebaiknya Mas kasih tau dia secepatnya. Bukan apa-apa, hanya saja aku ini punya batas kesabaran. Jangan sampai, aku membongkar pernikahan ini di depan Mama. Mas tau kan jika Mama sangat sayang sama aku."
Zelina merasa direndahkan, dia tidak terima jika kalah dari Fania. "Kamu jangan besar kepala, karena akulah wanita yang dicintai oleh Raditya. Seharusnya kamu malu karena tidak ada apa-apanya denganku."
"Malu? Kenapa harus malu? Dalam status, akulah istri pertama. Lalu, kamu apa? Istri kedua, tapi status seperti simpanan. Apa yang harus ku irikan? Cintai saja suamiku, rawat dia dengan baik. Jangan hanya mau uangnya saja tanpa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Jika kamu pikir aku cemburu itu salah besar. Aku dan Mas Radit tidak ada perasaan apapun, jadi aku tidak rugi sama sekali."
"Kamu ... Kurang ajar!" Zelina ingin menampar Fania, tapi langsung dicegah oleh Raditya.
"Zelin, sudah. Jangan buat keributan. Kita pergi saja dari sini!" Raditya menarik tangan Zelina. Dia sedikit terganggu dengan ucapan istri pertamanya tadi.
Fania mengembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa melawan juga meski harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Semua itu tidak mudah dilakukannya karena sifat dasar yang lemah lembut. "Aku akan melakukan cara ini untuk bertahan dalam sandiwara jahat ini."
Fania pun pergi dari tempat itu. Dia ingin mencari udara segar untuk menetralkan rasa sesak dalam hatinya. Dari sudut ruangan, Devan menyaksikan pertunjukan tadi. Dia sangat senang saat Fania melawan mereka.
"Aku tidak menyangka jika dia bisa melawan dengan cara yang tegas. Sepertinya akan semakin menarik, hanya saja hatinya terlalu lembut untuk disakiti dan diumpat secara kasar," gumam Devan pelan, dia beranjak pergi dari sana untuk mengejar Fania.
Sementara itu di tempat lain, Zelina masih marah dengan kejadian tadi. Dia tidak terima jika ada orang lain yang meremehkannya. "Radit, aku tidak terima jika kamu membelanya. Lalu, perjanjian apa yang sudah kamu buat dengannya? Kenapa dia sangat sombong sekali?"
"Zeline, kamu tenang dulu, ini hari bahagia kita. Aku hanya ingin semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Soal Fania, kita urus saja nanti. Aku akan memberinya hukuman saat pulang nanti. Sudah, ya. Jangan marah lagi, senyum dong istriku yang cantik."
Zelina kembali tersenyum saat dirayu oleh Raditya. Dia luluh dan emosinya menghilang. "Baiklah, aku akan membiarkannya kali ini. Pokoknya sampai rumah nanti kamu harus menghukumnya. Pokoknya aku tidak mau tau."
"Iya, aku aka melakukan apapun demi kamu." Raditya memeluk istri keduanya, dia tersenyum sambil melihat ke arah luar. Dia melihat Fania yang berjalan sendiri. "Jadi dia tidak pernah ada perasaan padaku? Apa itu benar? Aku akan membuktikannya sendiri. Siapa yang bisa bertahan dalam hubungan ini? Aku atau kamu?"
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡