NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH: MALAM PERTAMA

Resepsi pernikahan yang megah itu akhirnya berakhir saat waktu merayap menuju dini hari, meninggalkan Seraphina dalam kondisi kelelahan yang seolah menembus hingga ke sumsum tulangnya. Sepanjang malam, ia telah memainkan perannya dengan sangat sempurna; tersenyum pada para bangsawan, mengangguk pada ucapan selamat dari kolega bisnis Oskar, dan berpose bak boneka porselen di samping Orion yang tampak begitu perkasa. Giselle tampak melayang dalam kebahagiaan yang meluap, sementara Oskar memberikan pandangan puas yang menegaskan bahwa aliansi ini telah terkunci rapat. Namun, di balik riasan wajah yang tebal dan kain sutra yang mewah, Seraphina tahu bahwa setiap detik yang berlalu adalah langkah kakinya menuju pusat badai yang sesungguhnya.

Orion sama sekali tidak melepaskan tangannya sejak mereka meninggalkan altar gereja katedral. Di antara kerumunan tamu yang bersorak, jemari besar pria itu sering kali meremas telapak tangan Seraphina dengan tekanan yang penuh rahasia, sebuah janji bisu tentang klaim yang akan ia lakukan begitu pintu kamar tertutup. Tatapan Orion malam itu tidak lagi hanya sekadar dingin, melainkan berkilat oleh api obsesi yang sudah lama ia pendam dan kini telah sah secara hukum untuk ia kobarkan.

Akhirnya, mereka tiba di kamar pengantin yang telah disiapkan secara khusus di sayap pribadi mansion Valentinus. Ruangan itu luas dan mewah, dihiasi dengan ribuan kelopak mawar merah yang aromanya menyatu dengan wangi aromaterapi cendana yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Seraphina, suasana itu terasa mencekam, seolah-olah kelopak bunga mawar itu adalah simbol dari darah yang akan tertumpah dalam penaklukan malam ini.

Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, seluruh topeng formalitas yang Orion kenakan di hadapan publik lenyap seketika. Ia berbalik, menatap Seraphina yang masih berdiri kaku di tengah ruangan dengan gaun pengantin yang membebani tubuhnya. Mata Orion menggelap, memancarkan aura predator yang siap menerjang mangsa yang paling ia dambakan.

"Selamat datang di duniamu yang baru, Nyonya Valentinus," Orion mendesis dengan suara yang serak dan rendah, penuh dengan nada kemenangan yang tak tertahankan.

Seraphina tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuhnya gemetar hebat, sebuah reaksi naluriah yang merupakan perpaduan antara ketakutan yang murni dan getaran aneh yang mulai menjalar di pembuluh darahnya. Gaun putih yang bertabur berlian itu kini terasa seperti jerat yang menyesakkan napasnya.

Orion melangkah maju dengan keanggunan yang berbahaya. Tanpa peringatan sedikit pun, ia mencengkeram bahu Seraphina dan menarik ritsleting serta kancing mutiara di punggung gaun tersebut dengan satu gerakan kasar. Suara kain sutra yang robek karena tekanan tangannya terdengar nyaring di keheningan kamar, diikuti dengan jatuhnya gaun mahal itu ke atas tumpukan kelopak mawar di lantai. Seraphina kini berdiri sepenuhnya terekspos, hanya dibalut oleh cahaya temaram lampu tidur.

Kulit Seraphina yang putih mulus tampak berkilau, kontras dengan bayangan gelap yang diciptakan oleh kehadiran Orion. Payudaranya yang montok naik turun mengikuti deru napasnya yang tidak beraturan, dengan puting yang menegang sempurna sebagai reaksi atas suhu dingin dan tekanan emosional yang luar biasa. Di bawah sana, tubuhnya sudah mulai mengkhianatinya; rasa hangat dan lembap mulai muncul, sebuah tanda bahwa tubuhnya telah 'terlatih' untuk merespons kehadiran sang pemangsa.

Orion menatap setiap inci tubuh istrinya dengan pandangan yang sangat intens, seolah sedang memetakan wilayah kekuasaan barunya. Seringai dingin terukir di wajahnya yang tampan. "Kau adalah milikku yang paling berharga, Seraphina. Dan malam ini, aku akan memastikan bahwa kau menyadari posisi itu sedalam-dalamnya."

Tanpa membuang waktu, Orion mengangkat Seraphina ke dalam gendongannya dan merebahkannya di tengah ranjang yang empuk. Ia segera menindih tubuh mungil itu dengan berat tubuhnya yang kekar, membelah kedua paha Seraphina dengan lututnya hingga bagian paling pribadinya terbuka sepenuhnya. Orion menekan bagian paling sensitif dari miliknya ke arah pintu masuk Seraphina yang sudah sangat basah dan berdenyut penuh antisipasi yang menyiksa.

Jleb!

Orion mendorong miliknya masuk dengan satu hentakan yang sangat dalam dan penuh dominasi. Jeritan Seraphina pecah, melengking tinggi hingga memenuhi setiap sudut ruangan. Rasa penuh yang luar biasa dan sedikit perih karena ukuran Orion yang besar seolah ingin membelah tubuhnya menjadi dua. Ia bisa merasakan setiap inci dari Orion yang panas merayap masuk, menghujam hingga ke dasarnya tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphina untuk bernapas.

"Bernapaslah untukku, Seraphina!" Orion menggeram di depan wajah istrinya. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang sangat cepat dan bertenaga. Clep! Plok! Clep! Suara penyatuan mereka yang basah dan nyata terdengar beriringan dengan deru napas yang saling memburu.

Seraphina merasa jiwanya seolah-olah terlempar ke dalam pusaran energi yang gelap. Setiap dorongan Orion tidak hanya membawa rasa sakit, tetapi juga ledakan kenikmatan yang mematikan yang mulai menguasai sarafnya. Ia mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga jemarinya memutih, sementara kepalanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, mencari udara di tengah badai sensasi ini.

Orion semakin menggila dalam penaklukannya. Ia meremas payudara Seraphina dengan sangat kuat, menghisap putingnya dengan rakus hingga meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok. Ia tidak membiarkan Seraphina beristirahat sejenak pun; setiap kali Seraphina mencoba mengatur napas, Orion akan memberikan hantaman yang lebih dalam dan lebih cepat, memaksanya untuk terus terjaga di dalam labirin gairah ini.

"AH! LEBIH... LEBIH DALAM, ORION! NNGGHH!" Rintihan Seraphina kini bukan lagi sekadar tangisan minta tolong, melainkan sebuah permintaan liar yang dipicu oleh kecanduan yang telah Orion tanamkan di dalam dirinya. Ia merasa seolah-olah sedang terbakar, dan hanya dorongan kasar dari suaminya yang bisa memadamkan api tersebut.

Orion menyeringai puas melihat kehancuran total dari harga diri istrinya di malam pertama ini. Ia mengangkat pinggul Seraphina sedikit lebih tinggi, memberikan sudut yang memungkinkannya untuk menghujam lebih keras lagi. "Kau suka bagaimana aku mengisimu, bukan? Katakan bahwa kau adalah milikku, Seraphina!"

"AKU MILIKMU! AHHH! SAYA MILIK TUAN! LEBIH CEPAT!" Seraphina menjerit histeris, air matanya bercampur dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Ia merasakan rahimnya berdenyut hebat, seolah sedang berusaha melahap setiap inci dari milik Orion.

Mencapai puncaknya yang paling ekstrem, Orion meraung dengan suara yang sangat primitif. Dengan satu dorongan terakhir yang sangat brutal, ia memuntahkan seluruh benihnya yang panas dan kental ke dalam diri Seraphina. Cairan itu terasa seperti lava yang membanjiri bagian dalam tubuh Seraphina, memicu ledakan orgasme yang membuat seluruh tubuh gadis itu mengejang hebat. Seraphina menjerit sekali lagi sebelum akhirnya lemas total, dengan mata yang berputar ke atas akibat intensitas nikmat dan sakit yang menyatu.

Mereka berdua terkapar di tengah hamparan kelopak mawar yang kini sudah berantakan dan basah oleh sisa-sisa malam pertama mereka. Aroma gairah yang pekat memenuhi udara kamar yang mewah itu. Orion menarik dirinya perlahan, menatap hasil karyanya dengan tatapan penuh kepuasan.

"Ini baru permulaan, istriku," Orion berbisik tepat di telinga Seraphina yang masih terengah-engah. Ia membalik tubuh Seraphina ke posisi tertelungkup, mengangkat pinggulnya kembali dengan tatapan yang menunjukkan bahwa malam ini masih sangat panjang. "Aku akan menandaimu dengan setiap gaya yang aku inginkan, sampai kau tidak akan pernah bisa berjalan dengan tegak besok pagi tanpa mengingat bahwa setiap inci tubuhmu adalah milikku."

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!