Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan Brutal
Suara tembakan semakin dekat, semakin banyak, bahkan terdengar seperti perang kecil di luar gudang.
Damian langsung berubah, wajah yang tadi masih menunjukkan emosi, sekarang menjadi dingin. Fokus. Mata seorang pembunuh.
"Berapa banyak orang yang kau bawa?" tanyanya pada ayah sambil mengeluarkan pistol.
"Hanya Marco dan tiga orang lain," jawab ayah, wajahnya pucat. "Kenapa? Siapa yang menyerang?"
"Bratva," jawab Damian. Dia mengecek peluru di pistolnya. "Mereka pasti melacak mobilku. Atau..." dia melirik ayah dengan tatapan menuduh, "seseorang membocorkan lokasi ini."
"Ayah, tidak..."
DUAR!
Pintu gudang meledak terbuka, pecahan kayu beterbangan, dan mereka mulai masuk.
Puluhan pria bertopeng dengan senjata otomatis. Seragam hitam. Bergerak terkoordinasi seperti pasukan militer.
"TURUN!" teriak Damian.
Dia menarik aku ke belakang tumpukan kotak tua. Ayah mengikuti. Peluru mulai bersliweran. Menghantam dinding. Menembus kotak. Debu dan serpihan beterbangan.
Damian bangkit sebentar. Menembak. DUAR! DUAR! DUAR!
Tiga pria jatuh, tapi yang lain terus maju.
"Berapa banyak?!" teriakku di tengah kekacauan.
"Terlalu banyak!" jawab Damian sambil mengganti magazine. "Setidaknya dua puluh. Dan aku hanya punya dua magazine lagi."
Dia menatapku dengan tatapan yang intens.
"Apapun yang terjadi," katanya, "tetap di sini/ dan jangan bergerak."
"Tapi..."
Dia menciumku. Cepat. Kasar.
"Aku bilang jangan bergerak," ulangnya. Lalu dia bangkit lagi. Menembak.
Di sisi lain, ayah juga punya pistol kecil. Menembak dengan tangan gemetar, bukan penembak yang terlatih. Tembakan silih bersahutan, bau mesiu memenuhi udara. Asap mengepul.
Lalu aku mendengar suara yang membuatku lega sekaligus takut. Suara tembakan dari luar. Berbeda. Lebih terorganisir.
Orang-orang Damian datang.
"TUAN!" teriak Marco dari luar. "KAMI DI SINI!"
"MASUK!" teriak Damian balik. "BUNUH SEMUANYA!"
Dan neraka benar-benar dimulai. Pengawal Damian menyerbu masuk. Lima puluh orang seperti yang dia bilang tadi. Bersenjata lengkap. Terlatih.
Pertempuran berubah jadi pembantaian. Aku menonton dari balik kotak. Tangan menutupi telinga tapi mata tidak bisa berpaling.
Damian bergerak seperti penari maut. Menembak dengan presisi. Satu peluru satu nyawa. Tidak ada yang terbuang. Ketika pelurunya habis, dia tidak ragu. Meraih pisau dari pinggang. Dan bergerak ke jarak dekat.
Aku melihat dia menikam leher seorang pria. Darah menyembur, da dia tidak berhenti. Berputar, lalu menendang senjata dari tangan pria lain. Menusuk perutnya, dan menarik pisau ke atas, hingga membuka perutnya.
Pria itu jatuh sambil memegang usus yang keluar.
"Ya Tuhan," bisik ayah di sampingku. Wajahnya hijau. "Dia bukan manusia."
Tapi Damian belum selesai. Dia melihat tiga pria berlindung di sudut, mereka menembak ke arah pengawal Damian. Membunuh dua orang.
Damian bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Berlari. Melompat di balik peti. Mendekat tanpa terlihat.
Lalu dia melompat dari atas, jatuh di tengah mereka bertiga. Pisau bergerak, cepat, dan brutal.
Satu kali tusukan tepat ke bagian mata, pria itu jatuh berteriak. Tusukkan kembali ke tenggorokan pria kedua, darah menyembur seperti air mancur.
Pria ketiga mencoba lari. Damian melempar pisau tepat mengenai punggungnya, hingga pria itu langsung terjatuh.
Damian berjalan mendekat, menarik pisau dari punggung pria itu, lalu membalikkan tubuhnya. Dan menikamnya berulang kali. Bahkan setelah pria itu sudah mati.
"DAMIAN CUKUP!" teriakku. "DIA SUDAH MATI!"
Damian berhenti, napasnya terengah. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, wajah, rambut, pakaian, semuanya merah.
Dia berdiri perlahan, menatap sekeliling. Semua musuh sudah mati, tiga puluh mayat bergelimpangan di lantai gudang. Darah menggenang di mana-mana.
Dan di tengahnya berdiri Damian, seperti raja yang berdiri di atas gunung mayat musuhnya.
"Bersihkan," perintahnya pada Marco. Suaranya datar. Seperti tidak terjadi apa-apa. "Dan cari tahu, bagaimana Bratva bisa tahu lokasi ini."
Lalu dia berbalik menatapku, mata gelap itu menatapku dengan tatapan, yang membuat darahku membeku.
"Kita pulang," katanya.
"Tunggu," kata ayah sambil berdiri. "Alexa tidak akan pergi denganmu. Dia akan ikut ayah."
Damian mengarahkan pistol ke kepala ayah. Cepat, dan tanpa ragu.
"Satu langkah lagi," katanya dingin, "Dan aku akan meledakkan kepalamu."
"TIDAK!" aku berteriak sambil berdiri. Berlari ke antara mereka. "Jangan! Kumohon!"
"Minggir, Alexa," kata Damian tanpa mengalihkan pandangan dari ayah.
"Tidak," jawabku. "Tidak akan kubiarkan kau membunuh dia."
"Dia yang membawamu ke sini," kata Damian. "Dia yang menculikmu, dan dia layak untuk mati."
"Dia ayahku!"
"Dia pembunuh!" teriak Damian. Untuk pertama kalinya aku melihat dia benar-benar kehilangan kendali. "Dia yang membunuh keluargaku! Dia yang menghancurkan hidupku!"
"TAPI KAU YANG BILANG PADAKU, BAHWA KAU YANG MELAKUKANNYA!" teriakku balik. "Tadi kau mengakui itu! Kau yang membakar rumah itu, dan kau yang membunuh keluargamu sendiri!"
Damian terdiam, pistol masih teracung tapi tangannya sedikit gemetar.
"I-itu berbeda," katanya. Suaranya tidak sekuat tadi.
"Kenapa berbeda?" tanyaku. "Karena kau yang melakukannya jadi itu benar? Tapi kalau orang lain yang dituduh jadi itu salah?"
Air mata mengalir di pipiku.
"Kau pembohong," bisikku. "Kau pembohong dan pembunuh. Kau seorang monster, dan aku..."
Suaraku tersedak, tidak bisa melanjutkan. Karena kata-kata yang ingin kuucapkan adalah, dan aku masih mencintaimu.
Tapi aku tidak bisa mengucapkannya. Tidak setelah semua yang baru saja kulihat. Damian perlahan menurunkan pistolnya. Menatapku dengan tatapan yang hancur.
"Ya," katanya pelan. "Aku akui semua itu, dan aku tahu."
Dia melangkah maju, sedangkan aku mundur.
"Tapi kau tetap milikku," lanjutnya. "Dan aku akan membawa kau pulang. Mau kau suka atau tidak."
Dia meraih lenganku kasar, hingga tanganku terasa sakit.
"Lepaskan dia!" teriak ayah sambil maju.
Tapi Damian lebih cepat, satu pukulan keras ke wajah ayah Alexa, hingga membuat ayahnya jatuh.
"AYAH!" aku mencoba melepaskan diri. Tapi Damian terlalu kuat.
Dia menyeretku ke pintu. Aku meronta. Menendang. Menjerit.
"LEPASKAN! LEPASKAN AKU!"
Tapi dia tidak peduli. Terus menyeretku keluar dari gudang. Melewati mayat-mayat. Melewati darah. Melewati kekacauan.
Di luar, konvoi mobilnya sudah menunggu. Dia membuka pintu mobil. Melemparku masuk. Kasar.
Aku mencoba keluar dari pintu sebelah lain. Tapi Marco sudah berdiri di sana. Menghalangi.
Damian masuk. Duduk di sampingku. Pintu ditutup, mobil langsung melaju. Dan tangannya langsung meraih leherku, lalu mencekiknya.
Tidak kuat. Tidak sampai membuatku tidak bisa bernapas, tapi cukup untuk membuat pesan jelas.
"Jangan pernah," katanya dengan suara yang bergetar amarah, "jangan pernah pergi lagi."
Cengkeramannya mengerat.
"Jangan pernah mencoba kabur lagi," lanjutnya. "Jangan pernah bicara dengan ayahmu lagi. Jangan pernah meragukan aku lagi."
Wajahnya sangat dekat. Mata berkilat kegilaan.
"Karena lain kali," bisiknya, "aku tidak akan sekedar menyeretmu pulang. Aku akan bunuh semua orang yang mencoba membantumu. Termasuk ayahmu. Termasuk ibumu. Termasuk adikmu."
Air mata mengalir di pipiku. Napas tercekat di tenggorokan yang dicekik.
"Kau mengerti?" tanyanya.
Aku mengangguk. Sekuat yang aku bisa dengan leher yang dicekik.
Dia akhirnya melepaskan cengkeramannya. Tapi tidak melepaskan tangannya. Hanya mengubahnya jadi pegangan yang sedikit lebih lembut tapi tetap posesif.
"Kau milikku," bisiknya. "Selamanya. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Tidak ayahmu. Tidak kebenaranmu. Tidak apapun."
Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang erat. Mencekik dengan cara yang berbeda.
"Aku mencintaimu," bisiknya di rambutku. "Dan cintaku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan kita."
Dan aku hanya bisa menangis di pelukannya. Di pelukan pembunuh, seorang monster, dan seorang pikopat.
Pria yang baru saja membantai tiga puluh orang tanpa ragu. Pria yang mencekik leherku sambil bilang, bahwa dia mencintaiku. Pria yang masih kumiliki perasaan, walau membenci diriku sendiri karenanya.
Mobil melaju membawa kami pulang. Pulang ke penjara mewah, pulang ke kehidupan yang penuh dengan darah dan kegelapan.
Dan aku tahu, tidak ada jalan keluar lagi. Ayah mencoba, dan hampir berhasil. Tapi Damian terlalu kuat, dia terlalu berbahaya, bahkan terlalu obsesif. Dan aku terlalu rusak untuk diselamatkan lagi.
Tapi di gudang yang ditinggalkan, ayah perlahan bangun dengan wajah berdarah. Marco berdiri di sampingnya, dan ayah berbisik dengan suara yang penuh tekad.
"Ini belum berakhir, aku tidak akan menyerah untuk putriku."
Dan Marco, dengan tatapan yang sulit dibaca, seakan menjawab.
"Saya tahu, Pak. Dan saya akan membantu. Tapi kali ini kita butuh rencana yang lebih baik. Karena lain kali, Tuan Damian tidak akan membiarkan Nyonya hidup, kalau dia mencoba untuk pergi lagi."