Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Hampa
Rumah baru kami seharusnya menjadi tempat peristirahatan yang paling damai. Secara kasat mata, semuanya sempurna. Dinding-dindingnya bersih, atapnya kokoh menaungi kami dari hujan, dan cicilan bank yang aku dan Bayu bayar setiap bulan adalah bukti nyata bahwa kami telah menang melawan kemiskinan. Ayah sering duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi, sebuah pemandangan yang dulu hanya menjadi mimpi saat kami masih harus mengupas bawang hingga larut malam di rumah Nenek.
Namun, kedamaian itu seringkali hanya
Terasa di permukaan. Bagiku, rumah ini terkadang terasa seperti sebuah kotak musik yang indah namun menyimpan nada-nada sumbang di dalamnya. Saat malam tiba dan seluruh rumah sudah terlelap, aku justru sering terjaga. Aku akan duduk di tepi tempat tidur, menatap kegelapan, dan tiba-tiba saja suasana rumah baru ini seolah memudar, berganti menjadi bayangan rumah panggung Nenek yang pengap.
Di dalam kesunyian malam, telingaku seringkali menangkap suara-suara yang tidak ada. Suara derit lantai kayu, suara kunci yang diputar, atau suara langkah kaki berat yang mendekat. Aku tahu itu hanya ilusi, tapi tubuhku bereaksi seolah-olah bahaya itu nyata. Jantungku berdegup kencang, dan keringat dingin mulai membasahi punggungku.
Trauma itu bukan lagi tentang apa yang dilakukan tetangga pria itu kepadaku, tapi tentang bagaimana kejadian itu telah mengubah "instalasi" di otakku. Aku menjadi wanita yang selalu waspada, wanita yang tidak pernah merasa benar-benar aman meski pintu sudah kukunci rapat dua kali.
"May, kenapa matamu sembab terus? Kamu terlalu lelah kerja ya?" tanya Ibu suatu pagi saat melihatku di dapur.
Aku hanya tersenyum tipis sambil mengaduk kopi. "Hanya kurang tidur saja, Bu. Banyak laporan kantor yang harus dipikirkan."
Aku berbohong lagi. Aku tidak mungkin bilang bahwa setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah pria tua itu. Aku . Aku tidak mungkin bilang bahwa kesuksesanku membangun rumah ini tidak mampu membeli ketenangan batin. Aku tetap menjadi "Maya yang pengertian", yang tidak ingin membuat orang tuanya cemas di masa tua mereka yang baru saja tenang.
Di kantor, aku adalah "Si Baja". Gaji dan posisiku terus meningkat karena aku adalah orang yang paling rajin lembur. Rekan-rekanku sering memujiku sebagai wanita yang sangat mandiri. Mereka melihatku sebagai inspirasi anak muda yang sukses mencicil rumah sendiri dan merawat ayahnya yang sakit.
Tapi kemandirian ini sebenarnya adalah sebuah mekanisme pertahanan. Aku bekerja keras bukan hanya untuk uang, tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak butuh siapapun. Aku takut bergantung pada orang lain. Aku takut jika aku membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupku, mereka akan melihat "retakan" besar di dalam diriku.
Suatu hari, seorang rekan kerja pria mulai mencoba mendekatiku secara pribadi. Dia pria yang baik, sopan, dan tampak tulus. Dia mengajakku makan siang, menanyakan merawat ayahnya yang sakit.
Tapi kemandirian ini sebenarnya adalah sebuah mekanisme pertahanan. Aku bekerja keras bukan hanya untuk uang, tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak butuh siapapun. Aku takut bergantung pada orang lain. Aku takut jika aku membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupku, mereka akan melihat "retakan" besar di dalam diriku.
Suatu hari, seorang rekan kerja pria mulai mencoba mendekatiku secara pribadi. Dia pria yang baik, sopan, dan tampak tulus. Dia mengajakku makan siang, menanyakan
Hobi, dan sesekali menawarkan diri untuk mengantar pulang. Namun, setiap kali dia mencoba menyentuh tanganku atau sekadar berada terlalu dekat dengan ruang pribadiku, tubuhku akan menegang secara otomatis. Aku akan mencari alasan untuk segera pergi.
"Maaf, aku ada janji dengan Ayah di rumah sakit," atau "Aku harus segera ke bank," alasan-alasan klise yang kugunakan untuk membangun tembok yang tinggi.
Pikiranku selalu berputar pada satu hal yang sama: Kalau dia tahu, apakah dia akan tetap menatapku seperti ini? Kalau dia tahu aku sudah tidak 'utuh' sejak SD, apakah dia akan menganggapku rendah? Rasa tidak percaya diri sebagai wanita dewasa menghantuiku seperti kabut hitam yang tak kunjung hilang.
Di sisi lain, hubunganku dengan Ayah semakin unik. Ayah kini sangat bergantung padaku. Ia sering bertanya tentang keputusan - keputusan kecil di rumah, seolah-olah akulah kepala keluarga yang sebenarnya. Aku menikmati peran ini karena itu memberiku kendali, sesuatu yang tidak kupunya saat aku masih kecil.
Tapi terkadang, ada rasa pahit yang muncul. Aku melihat Ayah yang kini begitu patuh, dan aku teringat masa-masa di mana aku harus banting tulang membantu ekonominya sementara ia sibuk dengan selingkuhannya. Aku merasa ada ketidakadilan yang harus kuterima dengan lapang dada. Aku harus menjadi "ibu" bagi Ayahku sendiri, menelan semua kekecewaan masa lalu demi menjaga keharmonisan yang mahal ini.
"May, tadi si... anak itu telepon lagi," ujar Ayah suatu sore dengan nada ragu, merujuk pada salah satu anak dari selingkuhannya dulu.
Aku berhenti menyapu lantai, menatap Ayah dengan tajam namun tetap tenang. "Terus Ayah jawab apa?"
"Ayah bilang Ayah nggak punya uang. Ayah bilang semuanya sekarang diatur kamu," jawab Ayah jujur.
Aku menghela napas. Ada rasa puas karena Ayah akhirnya berpihak padaku, tapi ada juga rasa lelah karena aku harus terus menjadi "penjaga gerbang" agar benalu-benalu itu tidak masuk kembali ke kehidupan kami. Aku memikul beban keuangan, beban cicilan, dan sekarang beban emosional Ayah.
Malam itu, setelah cicilan bank bulan ini terbayar dan sisa gaji kami sisihkan untuk makan, aku duduk di teras depan. Aku menatap langit yang tak berbintang. Hidupku sudah sangat jauh berbeda dari masa-masa mencari besi tua atau memetik biji jambu monyet. Aku punya rumah, aku punya pekerjaan bagus, dan keluargaku utuh.
Namun, aku menyadari bahwa "kesuksesan" adalah sebuah konsep yang relatif. Aku sukses secara fisik, tapi aku masih tertinggal jauh dalam hal kedamaian Jiwa. Aku menyadari bahwa perjalanan hidupku ke depan bukan lagi soal mencari uang, tapi soal bagaimana cara memaafkan masa lalu, cara menerima diri sendiri yang pernah hancur, dan cara belajar percaya bahwa aku pantas dicintai tanpa syarat.
Aku menarik napas panjang, mencium aroma tanah setelah hujan. Besok adalah hari Senin. Besok aku harus kembali menjadi wanita kuat di kantor. Besok aku harus kembali membayar cicilan. Dan besok, aku harus mencoba sekali lagi untuk tidur tanpa harus memikirkan suara derit pintu kayu rumah Nenek.
Aku adalah Maya. Aku masih berjuang, bukan lagi untuk bertahan hidup, tapi untuk benar-benar hidup.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..