"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Bayang-bayang di balik layar
Malam itu, hening di rumah mewah Adiguna terasa mencekam, namun bukan karena amarah. Ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar kebencian: rasa bersalah yang tidak diundang. Devan berdiri di balik jendela kamarnya yang besar, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca, namun pikirannya tertahan pada satu titik di ruang tengah.
Ia teringat saat tangannya menepis Shena tadi. Suara benturan tubuh wanita itu dengan meja kayu masih terngiang jelas di telinganya. Devan terbiasa menghadapi lawan bisnis yang tangguh, namun ia tidak pernah belajar bagaimana menghadapi seseorang yang membalas kekerasan dengan kelembutan yang tulus.
Pukul dua dini hari, rasa haus yang membakar tenggorokan memaksa Devan keluar. Saat menuruni tangga, langkahnya terhenti. Di atas sofa panjang ruang tamu, Shena meringkuk dengan posisi yang jauh dari kata nyaman. Ia tidak menggunakan selimut, hanya kardigan tipis yang ia peluk erat ke dadanya. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak sedikit mengernyit dalam tidurnya, tangan kanannya masih memegangi lengan kirinya yang memar.
Devan mendekat tanpa suara. Di bawah cahaya lampu temaram, ia bisa melihat gurat kelelahan di wajah istrinya. Ada sisa air mata yang mengering di sudut matanya, namun tidak ada raungan dendam. Devan merasakan dorongan aneh untuk menyelimutinya, namun ia segera mengepalkan tangan. “Jangan konyol, Devan. Dia hanya bagian dari transaksi ini,” bisiknya pada diri sendiri, meskipun hatinya mulai berkhianat.
......................
Keesokan paginya, suasana dapur sudah harum dengan aroma rempah. Shena, meski gerakannya sedikit kaku karena memar di lengannya, tetap menyiapkan segalanya tepat waktu. Ia mengenakan blus lengan panjang hari ini, sebuah usaha yang jelas untuk menyembunyikan "tanda" kekasaran Devan semalam.
Devan duduk di kursi kebesarannya. Ia memperhatikan Shena yang dengan tenang menaruh piring berisi nasi goreng hangat dan segelas kopi hitam kayu manis.
"Duduk," ujar Devan singkat saat Shena hendak kembali ke dapur.
"Mas masih butuh sesuatu?" tanya Shena lembut, tanpa menatap matanya.
"Aku bilang duduk. Makan bersamaku," nada bicara Devan tidak membentak, namun penuh penekanan.
Shena menarik kursi di ujung meja, menjaga jarak yang aman. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka sampai sebuah getaran dari ponsel Devan di atas meja memecah suasana. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan teks yang membuat atmosfer di ruangan itu seketika mendingin.
(Sekretaris):
"Pak, detektif di London menemukan jejak baru. Sarah terlihat di sebuah pameran seni di kawasan Chelsea dua hari lalu. Dia menggunakan nama samaran, tapi wajahnya terkonfirmasi 90% identik. Saya sudah mengirimkan tim untuk memantau apartemen di sekitar sana. Menunggu instruksi Bapak selanjutnya."
Mata Devan terpaku pada nama 'Sarah'. Jantungnya berdegup kencang—perasaan rindu yang selama ini ia agungkan tiba-tiba terasa seperti beban yang menyesakkan saat ia melirik ke arah Shena.
Shena, yang sempat melihat nama itu sekilas sebelum Devan membalikkan ponselnya dengan kasar, hanya bisa menelan ludah. Rasa sakit di lengannya tidak sebanding dengan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia tahu, di hati suaminya, ia hanyalah sebuah bayangan yang menunggu untuk dihapus begitu sang pemilik cahaya kembali.
"Kopimu akan dingin, Mas," ucap Shena pelan, memecah kesunyian yang menyakitkan itu.
Devan menatapnya tajam, mencoba mencari tanda-tanda kecemburuan atau amarah, namun yang ia temukan hanyalah mata jernih yang penuh dengan kepasrahan. "Jangan ikut campur urusan pribadiku," desis Devan, meski sebenarnya ia sedang memarahi dirinya sendiri.
......................
Setelah sarapan yang hambar bagi perasaan mereka masing-masing, Devan meletakkan sebuah undangan fisik berwarna emas di depan Shena.
"Akhir pekan ini, Kakek dan Nenek merayakan ulang tahun pernikahan emas mereka. Seluruh keluarga besar Adiguna akan hadir," Devan berkata dengan nada formal. "Mereka menuntut untuk bertemu dengan istriku."
Shena membaca barisan kata di atas kertas mahal itu. "Apa kau ingin aku datang sebagai diriku, atau sebagai wanita yang kau inginkan?"
Pertanyaan itu menohok Devan. "Datanglah sebagai Nyonya Adiguna yang sempurna. Jangan biarkan siapapun tahu tentang hutang ayahmu atau tentang... Sarah. Jika kau gagal memerankan peranmu, kau tahu konsekuensinya."
"Aku mengerti," jawab Shena singkat. Ia berdiri, merapikan piring-piring itu dengan anggun seolah tidak ada beban yang sedang ia pikul.
Hadiah dalam Keheningan
Sore harinya, saat Shena sedang berada di taman belakang untuk merapikan tanaman, sebuah mobil pengantar barang berhenti di depan rumah. Beberapa kotak besar dibawa masuk ke dalam kamar utama.
Shena yang penasaran masuk ke kamar dan menemukan Devan sedang berdiri di sana, menatap kotak-kotak itu dengan tangan terlipat di dada.
"Pilih salah satu untuk acara besok. Aku tidak ingin kau terlihat seperti pelayan di sampingku," kata Devan tanpa menatapnya.
Shena membuka kotak pertama. Isinya adalah gaun malam dari sutra berwarna biru dongker yang sangat indah. Di kotak kedua, ada sepasang sepatu hak tinggi yang tampak sangat mahal. Namun, saat ia membuka kotak kecil terakhir di ujung tempat tidur, napasnya tertahan.
Bukan perhiasan berlian, melainkan sebuah botol kecil salep penghilang memar kelas medis dan sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang kaku:
"Gunakan ini. Jangan sampai ada yang melihat tanda itu di pestanya nanti."
Shena memegang botol itu erat-erat. Ia tahu Devan memberikan itu mungkin hanya untuk menjaga citranya di depan keluarga besar, agar tidak dianggap sebagai suami yang kasar. Namun, bagi Shena yang sudah lama hidup dalam pengabaian, perhatian sekecil apapun dari Devan terasa seperti tetesan air di padang pasir.
Di ruang kerja, Devan duduk terdiam. Ia memegang ponselnya, menatap laporan dari Rian tentang Sarah, namun pikirannya justru melayang pada bagaimana Shena akan terlihat mengenakan gaun biru itu. Ia mulai menyadari bahwa dinding yang ia bangun untuk mengunci Shena di luar, perlahan-lahan justru mulai mengurungnya di dalam—bersama wanita itu.
...****************...