Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Dansa Interogasi
"Ikut aku."
Hanya itu yang diucapkan Kairo. Tidak ada permintaan, tidak ada tawaran.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Elena. Cengkeramannya kuat, hangat, dan menuntut kepatuhan.
"Hei! Sakit!" protes Elena, mencoba menarik tangannya. "Kita mau ke mana? Parkiran ada di bawah, Kairo. Liftnya di sebelah sana."
"Siapa bilang kita pulang?"
Kairo tidak menoleh. Dia menyeret—secara harfiah menyeret—Elena menyusuri lorong hotel berbintang itu. Langkah kakinya lebar dan cepat, membuat Elena harus sedikit berlari kecil dengan sepatu hak tingginya agar tidak terjungkal.
"Kairo, berhenti! Orang-orang melihat!" desis Elena.
"Biar mereka lihat," balas Kairo dingin.
Mereka melewati lobi restoran dan masuk ke area Lounge & Bar yang terhubung dengan ballroom utama. Di sana, suasana berbeda seratus delapan puluh derajat.
Lampu temaram, aroma alkohol mahal, dan alunan musik jazz live yang lembut memenuhi udara.
Beberapa pasangan sedang berdansa pelan di lantai dansa kecil di tengah ruangan, berayun mengikuti irama saksofon yang mendayu.
Kairo membawa Elena membelah kerumunan. Dia tidak berhenti di meja bar atau sofa. Dia membawa Elena langsung ke tengah lantai dansa.
"Apa-apaan ini?" Elena melotot. Dia melihat sekeliling. "Kau mau dansa? Setelah hampir kena serangan jantung di meja negosiasi?"
"Anggap saja perayaan," jawab Kairo singkat.
Tanpa peringatan, Kairo menarik pinggang Elena, menempelkan tubuh wanita itu rapat ke tubuhnya yang keras. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Elena, mengangkatnya sejajar bahu. Tangan kanannya menekan punggung Elena, mengunci posisi.
Posisi dansa Waltz.
Klasik. 1ntim. Dan dalam situasi ini... mengancam.
"Aku tidak mau dansa," tolak Elena kaku, menahan dadanya agar tidak menempel pada dada bidang Kairo. "Aku lelah. Kakiku sakit. Dan kau berhutang kunci apartemen saru lagi padaku."
"Bergerak, Sora," perintah Kairo di dekat telinga Elena. "Ikuti langkahku. Mundur."
Kairo melangkah maju, memaksa Elena melangkah mundur.
"Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga," hitung Kairo pelan, suaranya berat dan rendah.
Elena mendengus kesal. Dia tidak punya pilihan selain mengikuti gerakan Kairo. Jika dia melawan, mereka akan terjatuh dan menjadi tontonan konyol. Jadi, dengan enggan, Elena mulai menggerakkan kakinya mengikuti ritme waltz yang dipimpin suaminya.
Mereka berputar pelan. Gaun cheongsam beludru hitam Elena berdesir halus setiap kali kakinya bergerak.
"Jelaskan," kata Kairo tiba-tiba. Tatapannya menusuk tajam ke dalam mata Elena, mengabaikan musik romantis di sekitar mereka.
"Jelaskan apa?" Elena pura-pura bodoh, membuang muka melihat pemain piano.
"Jangan main-main denganku," Kairo meremas pinggang Elena sedikit lebih kuat, memaksanya kembali menatap mata. "Bahasa Mandarin itu. Aksen itu. Dan pengetahuanmu soal hukum investasi."
"Sudah kubilang, aku nonton drama," jawab Elena cepat. Bagus sekali. Ada banyak intrik politik dan..."
"Bohong," potong Kairo. "Aku punya ingatan yang bagus, Sora. Setahun lalu, saat kita bulan madu ke Bali, kau memesan nasi goreng saja pakai bahasa Inggris yang belepotan. Kau bahkan tidak tahu bedanya debit dan kredit saat kuberi kartu tambahan."
Kairo memutar tubuh Elena, membuat wanita itu sedikit pusing, lalu menariknya kembali ke pelukan.
"Orang bisa belajar bahasa, Kairo.”
“Tapi orang tidak bisa transplantasi otak dalam semalam," sanggah Kairo tajam. "Istilah yang kau pakai tadi... Good Faith, Valuasi Likuidasi, Klausul Arbitrase. Itu bukan bahasa drama. Itu bahasa pengacara korporat. Itu bahasa Investment Banker."
Elena terdiam. Dia menyadari kesalahannya. Dia terlalu pamer tadi. Adrenalin saat menjatuhkan Mr. Chen membuatnya lupa menutupi jejak.
"Mungkin aku diam-diam jenius," elak Elena, mencoba tersenyum miring. "Mungkin selama ini aku cuma pura-pura bodoh supaya kau merasa jantan. Pria kan tidak suka wanita yang lebih pintar darinya."
"Aku tidak butuh ditenangkan egonya," balas Kairo cepat.
Dia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Napasnya hangat menerpa kulit wajah Elena.
"Justru sebaliknya," bisik Kairo. "Tadi... saat kau membungkam tua bangka itu dengan pasal hukum... saat kau bicara dengan dagu terangkat dan mata yang menyala..."
Suara Kairo memberat, menjadi serak.
"...aku merasa itu adalah hal paling seksi yang pernah kulihat seumur hidupku."
Mata Elena membelalak sedikit. Dia merasakan jantungnya berdetak tidak beraturan. Bukan karena cinta, tapi karena intensitas tatapan Kairo.
Pria ini... terangsang oleh otaknya?
Biasanya pria seperti Kairo hanya peduli pada wajah cantik dan tubuh seksi. Tapi sekarang, Kairo menatap Elena seolah dia adalah teka-teki matematika paling rumit yang ingin dia pecahkan di atas kasur.
"Kau aneh," komentar Elena, berusaha menciptakan jarak. "Kau aneh karena bergairah melihat istrimu debat kusir."
"Itu bukan debat kusir. Itu pembantaian elegan," koreksi Kairo.
Musik berubah menjadi lebih lambat. Lampu ruangan semakin meredup.
Kairo tidak melepaskan pelukannya. Justru dia menarik Elena semakin rapat, menghilangkan jarak di antara mereka. Elena bisa merasakan detak jantung Kairo yang kuat di balik jas mahalnya.
Dia bisa mencium aroma musk dan tembakau mahal yang menguar dari tubuh pria itu.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa kau?" tanya Kairo lagi. Kali ini bukan dengan nada marah, tapi dengan nada obsesif. "Kau bukan Sora Araminta yang kukenal. Sora yang itu kosong. Hampa. Cantik tapi membosankan."
Tangan Kairo bergerak naik dari pinggang, menelusuri punggung Elena yang tertutup kain beludru, lalu berhenti di tengkuk lehernya. Mengelus kulit halus di sana dengan ibu jarinya.
Gerakan itu membuat Elena merinding.
"Orang berubah, Kairo," jawab Elena pelan, mencoba menahan getaran suaranya. "Pengalaman hampir mati di bathtub itu mengubah perspektifku. Aku sadar kalau jadi cantik saja tidak cukup untuk bertahan hidup di rumahmu yang penuh serigala."
"Berubah?" Kairo tertawa kecil, tawa yang tidak percaya. "Kau tidak berubah, Sayang. Kau bermetamorfosis. Kau jadi makhluk lain."
Kairo menatap bibir Elena yang dipulas lipstik warna merlot.
"Dan jujur saja... aku membenci Sora yang dulu. Dia beban. Dia parasit. Aku menikahinya cuma karena perjodohan bisnis orang tua."
Pengakuan itu keluar begitu saja. Brutal dan jujur.
Elena menatapnya. "Terima kasih atas kejujurannya. Sakit, tapi menyegarkan."
"Tapi kau..." lanjut Kairo, matanya kembali menatap mata Elena. Ada api gelap yang menyala di sana.
"Kau membuatku penasaran setengah mati. Kau membuatku ingin membedah dan membongkar isi kepalamu. Aku ingin tahu darimana kau belajar strategi itu. Aku ingin tahu apa lagi yang kau sembunyikan."
"Aku bukan buku pelajaran yang bisa kau bongkar," Elena mencoba melepaskan diri lagi. "Lagipula, tugasku sudah selesai. Lima ratus miliar sudah di tangan. Mana kunciku?"
"Nanti," Kairo menahan tengkuk Elena, mencegahnya pergi. "Kita belum selesai dansa."
"Aku tidak mau dansa lagi!"
"Kenapa? Takut?" tantang Kairo. "Takut aku tahu rahasiamu?"
"Aku tidak punya rahasia!"
"Punya. Kau penuh rahasia," bisik Kairo. "Dan aku akan mengupasnya satu per satu. Mulai dari siapa yang mengajarimu Mandarin, sampai siapa yang mengajarimu cara memanipulasi neraca keuangan."
Elena merasa terpojok. Kairo yang ini jauh lebih berbahaya daripada Kairo yang pemarah. Kairo yang terobsesi adalah Kairo yang teliti.
Dia harus mengalihkan perhatian pria ini.
"Kau terlalu banyak berpikir, Suamiku," kata Elena, mengubah taktik.
Dia mengangkat tangannya, merapikan kerah jas Kairo dengan gerakan pelan. "Mungkin kau cuma kaget karena istrimu ternyata punya otak. Nikmati saja hasilnya. Perusahaan selamat, uang mengalir, dan kau terlihat hebat di depan investor. Bukankah itu yang kau mau?"
"Dulu, ya," jawab Kairo. "Sekarang aku mau lebih."
"Rakus," cibir Elena.
"Aku pengusaha. Rakus adalah nama tengahku."
Mereka terus berputar. Orang-orang di sekitar mereka mungkin melihat sepasang suami istri yang sedang menikmati momen romantis.
CEO muda yang tampan dan istrinya yang cantik jelita dalam balutan qipao hitam. Pasangan sempurna.
Padahal, percakapan mereka adalah medan perang.
"Jadi," Elena mendongak. "Apa rencanamu sekarang? Memecat Pak Haryo?"
"Tentu saja. Besok pagi," jawab Kairo tanpa ragu. "Polisi sudah disiagakan. Aku akan pastikan dia membusuk di penjara."
"Bagus. Jangan lupa amankan aset-aset pribadinya sebelum dia memindahtangankan ke anaknya," saran Elena.
"Sudah kuurus," Kairo tersenyum tipis. "Lihat? Kita berpikir dengan cara yang sama. Frekuensi kita sama."
"Jangan samakan aku denganmu. Aku punya hati nurani, kau tidak," elak Elena.
"Hati nurani?" Kairo mendengus. "Wanita yang tadi mengancam akan menghancurkan reputasi Mr. Chen punya hati nurani?
Jangan munafik, Sora. Kau sama kejamnya denganku. Kau menikmati saat melihat wajah tua bangka itu pucat pasi, kan?"
Elena terdiam. Dia tidak bisa menyangkal. Memang ada kepuasan tersendiri saat melihat lawan bisnis bertekuk lutut.
Itu adalah candu bagi Elena.
"Mungkin," aku Elena akhirnya. "Mungkin kita berdua memang monster."
"Kalau begitu kita pasangan yang cocok," Kairo menarik Elena berhenti berputar.
Musik berakhir. Tepuk tangan sopan terdengar dari beberapa tamu lounge.
Tapi Kairo tidak melepaskan pelukannya. Dia masih berdiri di tengah lantai dansa, memeluk pinggang Elena erat-erat, seolah takut wanita itu akan berubah jadi busa sabun.
Elena meletakkan tangannya di dada Kairo, mendorong pelan. "Musik sudah selesai, Kairo. Lepaskan. Orang-orang melihat."
"Biar mereka iri," kata Kairo acuh tak acuh.
Dia menundukkan wajahnya lagi, kali ini sangat dekat, bibirnya hampir menyentuh telinga Elena.
"Dengar baik-baik," bisik Kairo. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan nada kepemilikan yang mutlak.
Elena menahan napas, menunggu apa yang akan dikatakan pria gila ini.
"Aku tidak peduli kau siapa," bisik Kairo, setiap katanya menekan ke dalam kesadaran Elena.
"Aku tidak peduli apakah kau Sora yang bangkit dari kubur, atau roh jahat yang merasuki tubuh istriku, atau mata-mata saingan bisnisku sekalipun."
Tangan Kairo di pinggang Elena mengerat, posesif.
"Kau berguna. Kau cerdas. Dan kau berbahaya. Itu kombinasi yang langka."
Kairo menarik wajahnya kembali agar bisa menatap mata Elena untuk terakhir kalinya malam itu. Tatapannya gelap, lapar, dan tidak menerima penolakan.
"Mulai detik ini, kau asetku. Aset paling berharga di Diwantara Group. Dan aku tidak pernah... tidak pernah melepaskan asetku."
Elena menatap balik, merasakan desiran aneh di perutnya. Itu bukan rasa takut. Itu rasa tertantang.
"Aset bisa depresiasi (turun harga), Kairo," balas Elena berani.
"Bukan aset yang ini," Kairo menyeringai, lalu melepaskan pelukannya tiba-tiba, membuat Elena sedikit terhuyung.
Pria itu merogoh saku jasnya. Mengeluarkan sebuah kunci kartu magnetik. Kunci apartemen Kuningan.
Dia menyelipkan kartu itu ke belahan kerah tinggi qipao Elena, tepat di atas dadanya. Gerakan yang kurang ajar, tapi dilakukan dengan elegan.
"Ambil kuncimu. Anggap itu kandang barumu. Tapi ingat..."
Kairo berbalik badan, berjalan menjauh sambil membetulkan jasnya.
"...tali kekangnya masih ada di tanganku."