NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 25 - PERTAHANAN BENTENG

Begitu mereka masuk ke dalam Fort Silvergate, kekacauan menyambut dengan tangan terbuka.

Tentara Lunaria berlarian dengan armor yang penuh darah dan luka. Beberapa terseret oleh rekan mereka, kaki atau tangan patah, mengerang kesakitan. Healer dengan jubah hijau berlutut di mana-mana, mencoba menyembuhkan luka yang terlalu banyak untuk ditangani.

Di halaman utama, pertempuran masih berlangsung. Tentara Varnhold dengan armor putih emas berhadapan dengan tentara Lunaria dalam formasi yang sudah berantakan. Pedang berbenturan, sihir beterbangan, teriakan dan jeritan memenuhi udara sampai membuat telinga Ash berdengung.

Asap hitam mengepul dari beberapa bangunan yang terbakar. Bau darah dan besi memenuhi hidung, membuat perutnya mual.

Ini bukan seperti pertempuran di Lumenvale atau melawan Nightshade.

Ini adalah perang.

Perang yang sesungguhnya.

"Jangan diam!" Razen menarik lengan Ash, memaksanya bergerak. "Kalau kau diam, kau mati!"

Mereka berlari menyusuri tepi halaman, menghindari arus pertempuran. Lyra memimpin di depan, tongkatnya sudah terhunus, siap kapan saja.

Seorang perwira Lunaria dengan helm penyok berlari mendekat. "Nona Lyra! Syukurlah! Komandan ada di menara tengah, kami butuh reinforcement di gerbang dalam! Varnhold sudah menembus dua lapis pertahanan!"

"Berapa yang masuk?" tanya Lyra sambil terus berlari.

"Setidaknya dua ratus infantri, lima puluh pemanah, dan empat ksatria LightOrder!" Perwira itu terengah. "Kami tidak bisa bertahan lama! Kalau gerbang dalam jatuh, menara komando akan terbuka!"

Lyra mengutuk pelan. Dia menoleh ke Ash, Eveline, dan Razen. "Kalian dengar itu. Kita harus pertahankan gerbang dalam sampai reinforcement datang dari ibu kota."

"Reinforcement butuh berapa lama?" tanya Razen.

"Kalau cepat, satu hari. Kalau lambat, tiga hari." Lyra menatap mereka dengan mata serius. "Kita harus bertahan sampai saat itu."

Ash merasakan dadanya sesak. Satu sampai tiga hari. Melawan ratusan tentara Varnhold dan ksatria LightOrder.

Mereka bisa mati.

Sangat mungkin mati.

Tapi kalau mereka mundur, benteng ini jatuh. Dan jalur ke ibu kota terbuka.

"Ayo," ucap Eveline sambil mengecek belatinya. Suaranya datar, tapi tangannya sedikit gemetar. "Kita tidak punya waktu untuk ragu."

Mereka sampai di menara tengah. Di dalam, Komandan Aldus berdiri di depan meja dengan peta besar yang penuh tanda merah dan biru. Wajahnya penuh luka dan darah, armor di bahunya retak, tapi dia masih tegak.

"Lyra." Aldus mengangguk begitu melihat mereka masuk. "Kau datang dengan berapa orang?"

"Lima termasuk aku. Tapi salah satunya..." Lyra melirik ke Morgana yang berdiri santai di sudut sambil mengamati peta dengan minat. "...sangat kuat."

Aldus menatap Morgana dengan mata menyipit. "Dia siapa?"

"Pengamat," jawab Morgana dengan senyum lebar. "Nivraeth cuma menonton kok~ Kecuali kalian semua hampir mati~"

Aldus terlihat ingin protes, tapi dia tidak punya waktu. "Baiklah. Aku tidak peduli selama dia tidak bantu Varnhold." Dia menunjuk peta. "Situasi kita buruk. Gerbang luar sudah jatuh sejak pagi. Gerbang tengah masih bertahan tapi tidak lama lagi. Gerbang dalam adalah pertahanan terakhir sebelum menara komando ini."

"Berapa pasukan kita yang tersisa?" tanya Razen.

"Dari tiga ratus awal, sekarang tinggal seratus lima puluh yang bisa bertarung. Separuh terluka. Seperempat kritis." Aldus menarik napas dalam. "Varnhold punya lebih banyak. Dan mereka masih segar karena baru mulai menyerang pagi ini."

Lyra menatap peta dengan ekspresi keras. "Empat ksatria LightOrder. Siapa mereka?"

"Aku hanya kenali satu. Ser Gavriel. Salah satu dari dua belas ksatria elit. Dia yang memimpin serangan." Aldus menunjuk bagian gerbang tengah di peta. "Dia ada di sana sekarang. Tiga ksatria lainnya aku tidak kenal, tapi mereka sama kuatnya."

Ash merasakan keringatnya dingin. Salah satu dari dua belas LightOrder. Ksatria elit yang bahkan Razen dulu tidak bisa masuk ke level itu.

"Apa rencana kita?" tanya Eveline.

"Bertahan. Sampai reinforcement datang." Aldus menatap mereka semua. "Aku tahu kalian baru datang dan lelah dari perjalanan. Tapi aku butuh kalian di gerbang dalam. Sekarang."

Lyra mengangguk. "Kami akan ke sana."

"Tunggu." Aldus membuka peti di samping meja, mengeluarkan beberapa botol kaca berisi cairan merah dan biru. "Potion penyembuhan dan stamina. Pakai saat darurat. Jangan boros."

Mereka masing masing mengambil tiga botol, memasukkannya ke kantong.

"Hati-hati," ucap Aldus sambil menatap mereka dengan mata yang sudah melihat terlalu banyak kematian. "Jangan jadi pahlawan. Tetap hidup lebih penting dari membunuh musuh."

Mereka berlari keluar menara, menuju gerbang dalam.

Suara pertempuran semakin keras. Denting logam, ledakan sihir, teriakan yang tidak ada habisnya.

Gerbang dalam terlihat dari kejauhan. Pintu besi tebal dengan ukiran sihir pelindung, masih tertutup tapi sudah ada bekas pukulan dan ledakan di permukaannya.

Di depan gerbang, sekitar lima puluh tentara Lunaria membentuk formasi perisai, berhadapan dengan pasukan Varnhold yang jumlahnya tiga kali lipat.

Dan di tengah pasukan Varnhold, berdiri seorang pria dengan armor putih yang berkilau seperti cahaya matahari. Helm tertutup dengan ukiran sayap emas. Pedang panjang di tangannya memancarkan aura keemasan yang membuat udara bergetar.

Ser Gavriel.

"Penyihir Lunaria!" teriaknya dengan suara yang bergema. "Serahkan benteng ini! Kalian sudah kalah! Tidak perlu ada korban lebih banyak!"

Kapten yang memimpin formasi perisai Lunaria berteriak balik. "Kami tidak akan pernah menyerah pada Varnhold! Selama kami masih bernapas, gerbang ini tidak akan terbuka!"

Gavriel menghela napas. "Maka kalian memilih kematian."

Dia mengangkat pedangnya.

Cahaya emas meledak, menerangi seluruh halaman seperti matahari kecil.

"MAJU!"

Pasukan Varnhold menyerbu dengan teriakan perang.

Formasi perisai Lunaria langsung bentrok dengan mereka.

CRASH!

Suara benturan seperti guntur. Perisai bertemu pedang, tombak menusuk, darah mulai mengalir.

"Kita harus bantu mereka!" Ash sudah mau berlari tapi Razen menahannya.

"Jangan langsung terjun ke tengah! Kita akan mati dalam lima detik!" Razen menatap formasi dengan mata tajam, mencari celah. "Kita serang dari samping. Eveline, kau fokus pada pemanah mereka. Ash, kau bantu Eveline namun tetap jaga jarak. Nona Lyra, ini mungkin berat.. Tapi aku ingin ada mengawasi semuanya. Aku akan coba menahan Gavriel."

"Kau gila?! Dia salah satu dari dua belas!" protes Ash.

"Aku tahu!" Razen tersenyum pahit. "Makanya aku bilang 'coba'. Aku tidak akan menang. Tapi aku bisa menahannya cukup lama."

Sebelum ada yang bisa protes lagi, Razen sudah berlari ke arah Gavriel dengan pedang menyala api merah.

"GAVRIEL!" teriaknya.

Ksatria itu menoleh, lalu matanya melebar di balik helm saat mengenali Razen.

"Razen... si Pengkhianat," ucapnya dengan nada... kecewa? "Aku dengar kau kabur. Aku awalnya tak percaya, sampai sekarang melihatmu di sisi musuh."

"Aku tidak di sisi musuh. Aku di sisi yang benar." Razen mengambil stance. "Ayo, Gavriel. Dulu kau selalu bilang aku terlalu lemah untuk jadi LightOrder sejati. Buktikan sekarang."

Gavriel terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Seperti yang kau mau, teman lama."

Mereka bentrok.

Api merah bertemu cahaya emas dalam ledakan yang membuat tanah retak.

Ash tidak punya waktu untuk menonton. Dia berlari ke samping dengan Eveline, menuju posisi pemanah Varnhold yang ada di belakang barisan infantri.

Eveline bergerak seperti bayangan, meluncur cepat, belatinya berkilat. Dia bunuh pemanah pertama dengan tusukan cepat ke leher, lalu langsung pindah ke target kedua sebelum yang pertama jatuh.

Ash membentuk bola api di tangannya, melemparkannya ke kelompok pemanah yang sedang membidik tentara Lunaria.

BOOM!

Ledakan kecil membuat mereka terpental, busur jatuh dari tangan.

Tapi lima infantri Varnhold langsung menoleh ke arah Ash, menyadari ada ancaman baru.

Mereka menyerang.

Ash menarik mana, membentuk dinding es di depannya. Pedang-pedang menghantam es, membuat retakan tapi belum tembus.

Dia gunakan waktu itu untuk membuat tombak petir di tangan kanannya.

Dinding es runtuh.

Ash menusukkan tombak petir ke depan.

CRACK!

Petir menyambar, mengenai infantri pertama. Dia jatuh kejang.

Empat lainnya masih datang.

Ash mundur sambil membentuk cambuk angin, mengayunkannya untuk menjaga jarak.

Salah satu infantri melempar tombaknya.

Ash terlambat menghindar.

Tombak mengenai bahunya, menembus daging.

Rasa sakit meledak. Ash berteriak, jatuh berlutut.

Infantri itu maju untuk serangan kedua.

Tiba-tiba Eveline muncul dari belakangnya, belati menggores tengkuk. Infantri itu jatuh.

"Berapa kali aku harus bilang, jangan lengah!" Eveline menarik tombak dari bahu Ash dengan gerakan cepat.

Ash menggigit bibir menahan sakit. Darah mengalir deras, tapi regenerasinya sudah mulai bekerja. Luka perlahan menutup.

"Terima kasih," ucap Ash sambil berdiri lagi.

"Simpan itu untuk nanti."

Mereka kembali bertarung.

Di sisi lain, Razen dan Gavriel masih bertarung intensif. Api merah dan cahaya emas saling bertabrakan berkali kali, membuat ledakan-ledakan kecil yang memaksa tentara di sekitar mereka mundur.

Tapi jelas Razen kewalahan. Gavriel lebih cepat, lebih kuat, dan lebih berpenglaman

Nafas Razen sudah mulai terengah, ada luka di lengan dan kaki.

"Kau memang jadi lebih kuat, Razen!" teriak Gavriel sambil menyerang dengan kombinasi cepat. "Tapi kau sudah kehilangan blessing! Sampai mana kau bisa menggunakan kekuatan spirits itu? "

"Cukup lama, Cukup untuk melawanmu!" Razen menangkis, tapi pedangnya mulai gemetar karena tekanan.

Gavriel mengubah sudut serangannya tiba-tiba, menipu pertahanan Razen.

Pedang emas mengenai rusuk Razen.

CLANG!

Armornya retak. Razen terlempar ke samping, darah keluar dari mulutnya.

"RAZEN!" Ash berteriak dari kejauhan.

Gavriel berdiri di atas Razen yang tergeletak, pedang teracung.

"Aku tidak ingin membunuhmu, teman lama. Menyerahlah. Kembali ke Varnhold. Kau mungkin masih bisa dimaafkan"

Razen tertawa pahit, darah mengalir di dagunya. "Dimaafkan? Oleh siapa? Untuk apa? Cuci otak lagi?"

"Untuk keselamatan jiwamu."

"Jiwaku sudah hilang sejak lama, Gavriel. Walaupun aku mati sekarang, itu karna tanganku sendiri yang memilih."

Gavriel terdiam. Lalu dia mengangkat pedangnya.

"Maka aku akan berikan kematian yang terhormat."

Pedang itu turun.

CLANG!

Tapi bukan darah yang terciprat.

Morgana berdiri di antara mereka, menangkap pedang Gavriel dengan tangan kosong. Bola matanya berubah membuat garis lurus seperti mata kucing.

"Nivraeth rasa ini sudah masuk kategori 'hampir mati'~," ucapnya dengan nada yang tidak main main lagi.

Gavriel mencoba menarik pedangnya tapi tidak bisa. Cengkeraman Morgana seperti besi.

"Siapa kau?!" teriaknya.

Morgana tersenyum lebar. "Seseorang yang lebih kuat darimu~"

Dia lempar Gavriel ke belakang dengan satu gerakan. Ksatria itu terpental puluhan meter, menghantam dinding benteng dengan suara keras.

Semua orang di sekitar berhenti bertarung, menatap dengan mulut terbuka.

Morgana membantu Razen berdiri. "Kau baik-baik saja~?"

"Ah.. Ya.. " jawab Razen sambil batuk darah. "Terima.. kasih."

"Sama-sama~ Sekarang minum potion dan istirahat~" Morgana menoleh ke arah Gavriel yang sudah bangkit lagi, armornya penyok tapi dia masih bisa berdiri.

Ksatria itu menatap Morgana dengan waspada. "Kau bukan penyihir biasa."

"Nivraeth memang bukan~" Morgana melangkah maju. "Dan Nivraeth bosan dengan permainan ini~ Jadi ayo akhiri dengan cepat~"

Gavriel ragu. Untuk pertama kalinya, dia terlihat... takut.

Tapi sebelum mereka bisa bentrok, terompet terdengar dari kejauhan.

Semua orang menoleh.

Dari gerbang luar, pasukan Varnhold yang masih di luar benteng mulai mundur teratur.

Gavriel mendengar terompet itu dan tampak menerima sinyal.

"Mundur!" teriaknya ke pasukannya. "Kita mundur sekarang!"

Tentara Varnhold langsung patuh, mundur dengan formasi rapat, melindungi satu sama lain.

Tertara Lunaria yang tersisa masih memcoba menyerang. Namun

Dalam lima menit, semua pasukan Varnhold sudah keluar dari benteng.

Hening.

Pertempuran berhenti tiba-tiba.

Tentara Lunaria yang masih hidup terduduk lemas, terlalu lelah untuk bersorak.

Ash berdiri di sana dengan napas terengah, tubuh penuh luka kecil yang perlahan menutup. Eveline di sampingnya, belati masih tergenggam erat, mata menatap kosong ke depan.

Razen ditopang oleh dua tentara lunaria ke arah healer, lukanya serius tapi tidak cukup fatal.

Lyra berlari mendekat. "Mereka mundur. Kita selamat."

"Untuk sekarang," ucap Morgana sambil menatap ke arah gerbang luar. "Tapi mereka akan kembali~"

Komandan Aldus keluar dari menara dengan wajah lega tapi lelah. "Kalian semua... terima kasih. Gerbang dalam bertahan. Kita menang."

Tapi saat Ash melihat sekeliling, dia tidak merasa seperti menang.

Mayat berserakan. Darah mengalir seperti sungai. Tentara yang selamat lebih banyak menangis daripada tersenyum.

Ini adalah kemenangan.

Tapi dengan harga yang sangat mahal.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!