Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 32 - PERTEMUAN PERTAMA
Greenhaven terlihat seperti tempat yang tidak menyadari dirinya sendiri cantik.
Rumah-rumah kayu dengan atap jerami. Asap tipis mengepul malas dari cerobong. Ayam berlarian di jalan tanah seperti tidak punya urusan penting, padahal ayam memang tidak punya urusan penting.
Di padang rumput dekat sungai kecil, beberapa ekor sapi memakan rumput dengan ekspresi yang Ash tidak bisa bedakan apakah itu tenang atau kosong.
Damai.
Terlalu damai.
"Ini yang namanya desa terpencil," gumam Ash sambil berjalan masuk. "Atau aku yang sudah terlalu terbiasa dengan kota."
"Dua-duanya mungkin benar," jawab Razen.
Eveline tidak berkomentar. Matanya sudah sibuk membaca sekeliling, menghitung pintu keluar, menilai sudut pandang dari setiap bangunan. Kebiasaan lama yang tidak pernah bisa dia hilangkan.
Penduduk desa menatap mereka dari balik jendela dan celah pagar. Anak-anak yang sedang bermain di jalan tiba-tiba menghilang begitu melihat tiga orang asing dengan senjata di pinggang.
Kantor kepala desa lebih mudah ditemukan. Bangunannya sedikit lebih besar dengan papan kayu bertuliskan aksara sederhana. Razen mengetuk.
"Masuk!"
Seorang pria tua dengan rambut putih dan kumis tebal mendongak dari tumpukan catatan. Wajahnya langsung cerah seperti seseorang yang sudah lama menunggu. "Adventurer dari Vairlion! Akhirnya! Aku Gerald, kepala desa. Selamat datang, selamat datang!"
Razen maju. "Kami datang untuk quest investigasi reruntuhan, Kepala Desa."
"Ya ya! Reruntuhan itu!" Gerald berdiri dengan semangat yang tidak sesuai usianya. "Kami temukan beberapa minggu lalu. Awalnya kukira cuma batu tua, tapi setelah dibersihkan sedikit ternyata ada pintu masuk! Dengan ukiran-ukiran yang tidak ada yang bisa baca."
"Ada yang sudah masuk?" tanya Eveline.
"Belum. Kami takut. Siapa yang tahu apa yang ada di dalam." Gerald mengangguk-angguk. "Makanya kami kirim surat ke guild. Minta bantuan orang yang lebih... kompeten."
Mereka menerima peta sederhana dan diarahkan ke tavern kecil untuk istirahat singkat sebelum berangkat. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Hana dengan apron putih, sudah tahu kedatangan mereka bahkan sebelum mereka bilang pada siapa-siapa.
Desa kecil memang begitu. Berita menyebar lebih cepat dari angin.
Ash memesan sup dan duduk di meja dekat jendela. Makanannya datang, dan dia baru mau mengangkat sendok saat pintu tavern terbuka.
Masuklah sesesosok ogre.
Tapi bukan ogre yang Ash seperti bayangkan. Bukan makhluk besar berbau amis dengan tanduk melingkar dan mata merah. Ini... kecil. Tingginya mungkin cuma semeter setengah. Tubuh biru muda. Dua tanduk kecil di dahi yang tampak lebih lucu daripada mengancam. Matanya besar dan bulat, dan sekarang mata itu menatap sekeliling tavern dengan ekspresi seseorang yang sudah tahu dia salah tempat tapi belum menemukan alasan untuk pergi.
Dia membawa keranjang besar berisi sayuran segar.
"Gargo! Kau sudah bawa wortelnya?" seru Bu Hana.
"S-sudah, Bu Hana!" Suaranya gemetar tipis. "Yang paling segar! Aku petik tadi pagi!"
"Bagus! Taruh di dapur."
Gargo.
Ash hampir tersedak.
Dia menatap ogre kecil itu berjalan ke dapur dengan langkah hati-hati, seperti khawatir setiap langkahnya akan memecahkan sesuatu. Tangan yang menggenggam keranjang sayuran itu sedikit gemetar.
"Ada apa?" Eveline meliriknya.
"Tidak. Cuma..." Ash mengamati punggung Gargo yang sudah menghilang ke balik pintu dapur. "Ogre itu terlihat sangat tidak seperti ogre."
"Memang," ucap Razen sambil minum air. "Biasanya mereka besar, agresif, dan tidak terlalu menyenangkan untuk diajak berbicara."
Bu Hana yang mendengar kembali ke meja mereka. "Oh, kalian lihat Gargo? Dia memang... Sedikit spesial." Dia tersenyum hangat. "Ogre yatim piatu. Keluarganya dibunuh hunter saat dia masih kecil. Kami temukan dia di hutan, sendirian dan kelaparan. Awalnya kami takut, tapi dia tidak agresif sama sekali. Malah torgolong penakut."
"Lalu kalian terima dia?" tanya Ash.
"Hatinya terlalu baik untuk kami tinggalkan begitu saja." Bu Hana mengangkat bahu dengan senyum. "Dia bantu banyak hal di desa. Dan masak. Oh, soal masak, dia punya bakat yang tidak masuk akal. Sup yang kalian makan ini, resepnya Gargo."
Ash menatap mangkuk supnya.
Lalu mememakan nya sekali lagi dengan lebih seksama.
Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya enak. Tapi seperti... hangat dari dalam, meski dia sendiri tidak tahu cara menjelaskan perbedaan itu.
Gargo keluar dari dapur dan langsung membeku begitu melihat tiga adventurer menatapnya.
"S-selamat datang di Greenhaven..." bisiknya sambil membungkuk sangat rendah.
"Aku Ash." Ash tersenyum. "Sup ini enak sekali."
Mata besar itu membulat. "A-Ash... suka masakannya?"
"Sangat."
Gargo menatap lantai dengan pipi yang entah bisa merah atau tidak di balik warna biru kulitnya. "T-terima kasih... Gargo senang..."
---
Reruntuhan itu terletak persis seperti yang Gerald gambarkan. Tiga puluh menit masuk hutan ke utara, di sebuah cekungan yang tertutup rapat oleh pohon-pohon tua. Batu-batu besar yang sebagian tertanam tanah, ukiran-ukiran di dinding yang sudah terhapus tapi masih bisa terbaca, dan di tengah semuanya, pintu batu dengan simbol yang membuat bulu kuduk Ash sedikit berdiri.
Simbol lingkaran. Dan di sampingnya, simbol ular yang melahap ekornya sendiri.
Razen mendorong pintu batu. Berat, tapi bergerak dengan bunyi gemeretak panjang. Udara dingin keluar dari dalamnya, membawa bau debu dan sesuatu yang sudah lama sekali tidak tersentuh.
Mereka masuk.
---
Lorong di dalam gelap dan sempit. Obor Razen jadi satu-satunya cahaya. Ash mengaktifkan deteksi mana seperti yang Violet ajarkan. Ada residual sihir lama di dinding, tidak aktif tapi cukup untuk membuat rambut tangannya sedikit berdiri.
"Tetap hati-hati," kata Razen. "Sihir tua kadang lebih berbahaya karena tidak stabil."
Mereka bergerak perlahan. Eveline di depan mengecek jebakan fisik, Ash di tengah merasakan mana, Razen menjaga belakang.
Lalu Eveline mengangkat tangan. Signal berhenti.
Mereka dengarkan.
Tap. Tap. Tap.
Langkah dari depan.
Razen angkat pedang. Eveline siap dengan belatinya.
Dari kegelapan muncul sosok kecil dengan lentera minyak hampir mati dan keranjang kecil di tangan.
Gargo.
Ogre kecil itu melompat kaget ketika begitu melihat mereka. Matanya membulat lebih besar dari yang Ash pikir memungkinkan secara fisik.
"G-Gargo tidak bermaksud ikut! Gargo cuma mau ambil jamur! Jamur langka yang tumbuh di dinding reruntuhan ini! Gargo tidak tahu kalian sudah masuk!" Dia membungkuk sampai hampir menyentuh lantai. "M-maaf! Maaf! Gargo akan pergi sekarang!"
"Tunggu."
Gargo membeku dengan posisi setengah berbalik.
Ash menatapnya. "Kau tahu jalan di dalam sini?"
"S-sedikit... bagian atas saja... Gargo tidak pernah turun terlalu dalam..."
Razen berbisik pada Ash. "Berbahaya membawa orang luar."
"Dia tahu strukturnya. Dia bisa jadi pemandu," bisik Ash balik.
Razen menghela napas panjang dengan ekspresi seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berdebat.
"Gargo," panggil Ash. "Mau bantu kami? Tunjukkan jalur yang aman. Kalau ada monster, kau bisa sembunyi di belakang kami."
Gargo memandanginya dengan ekspresi ragu yang sangat kompleks untuk seprang ogre. "T-tapi Gargo tidak bisa bertarung... Gargo cuma... cuma bisa masak..."
"Kami tidak butuh kau bertarung. Kami butuh kau yang depan supaya kami tidak jatuh ke jebakan."
"Oh." Gargo memikirkan ini dengan serius. "Itu... Gargo bisa."
Eveline menatap Ash dengan tatapan yang artinya kurang lebih 'ini tanggung jawabmu kalau ada masalah'. Ash menerimanya dengan anggukan.
Dan seperti itu, Gargo menjadi pemandu mereka.
---
Ogre kecil itu ternyata sangat berguna.
Dia ingat persis lantai mana yang rapuh, lorong mana yang temboknya miring, dan batu mana yang kalau diinjak akan membuat tiga batu lain di atasnya jatuh. Dia menunjuk semuanya sambil mengucap peringatan kecil dengan suara yang masih gemetar.
"Di sini hati-hati... Gargo pernah hampir jatuh ke lubang di bawah... itu dalam sekali..."
Mereka melewati beberapa ruangan sebelum sampai di aula utama. Ruangan besar dengan pilar-pilar tinggi dan ukiran di seluruh dinding. Gambar sosok-sosok berjubah dengan tangan terangkat, dikelilingi simbol-simbol yang tidak bisa Ash baca tapi bisa dia rasakan.
Tangannya tiba-tiba terasa berat.
Sesuatu di ruangan ini seperti bereaksi padanya.
Ash mendekati salah satu dinding. Tangannya hampir menyentuh ukiran.
Dan ukiran itu bersinar.
Cahaya emas pucat, tipis, tapi jelas. Seperti sesuatu yang lama tertidur bereaksi terhadap sentuhan yang dikenalinya.
Ash menarik tangannya cepat.
"Ash?" Eveline sudah di sampingnya. "Apa yang terjadi?"
"Aku yang membuatnya bersinar," ucap Ash pelan. Bukan pertanyaan.
Di dinding itu, simbol yang bersinar adalah simbol yang sama dengan yang ada di tubuhnya. Di balik segel yang sudah pecah, di balik mimpi-mimpi yang datang tanpa diundang.
Simbol penyegelan.
Sesuatu di dalam dadanya bergerak. Sangat lambat. Seperti sesuatu yang tidur dan baru saja membalik posisinya.
"Kita pergi," ucap Eveline
Razen tidak bertanya. Ash tidak bertanya. Mereka sudah cukup lama bersama untuk mengerti kapan harus tidak bertanya.
---
Mereka keluar dari reruntuhan saat matahari sudah condong ke barat. Gargo berjalan di samping Ash dengan langkah yang sedikit lebih percaya diri dari sebelumnya, meski masih tetap sembunyi di balik Ash setiap kali Razen membuat gerakan tiba-tiba.
"Terima kasih bantuannya, Gargo," ucap Ash.
"Gargo yang harus berterima kasih... ini pertama kalinya ada yang minta bantuan Gargo untuk sesuatu yang penting..." Ogre kecil itu menatap kakinya sendiri. "Biasanya Gargo cuma disuruh angkat barang atau petik sayuran..."
Ash memandanginya sebentar.
Ada sesuatu di mata Gargo yang tidak asing. Kesepian yang sudah lama dipelihara sampai terasa seperti teman. Ketakutan yang sudah jadi kebiasaan.
"Gargo," panggil Ash. "Kau pernah keluar dari desa ini?"
Ogre kecil itu menggeleng pelan. "Tidak pernah... Gargo takut..."
"Takut apa?"
"Takut... banyak hal." Suaranya pelan. "Takut yang ada di luar hutan. Takut sendirian. Takut..." dia berhenti. "Takut tidak berguna."
Ash tidak langsung menjawab. Mereka berjalan dalam diam beberapa langkah.
"Kami akan di Vairlion beberapa waktu ke depan," ucap Ash akhirnya. "Kalau kau mau, kau boleh berkunjung. Kita bisa ngobrol lebih banyak."
Gargo menatapnya. "Ash... serius?"
"Kenapa juga harus berbohong?"
Ogre kecil itu tidak menjawab. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang berubah. Sesuatu yang sangat kecil tapi terasa besar.
Seperti seseorang yang baru pertama kali diundang ke suatu tempat.
---
Malam itu, di penginapan, Ash duduk di balkon dan menatap langit Vairlion yang penuh bintang.
Kamar Eveline disebelahnya. Pintu balkon mereka terhubung dengan pagar rendah yang hampir tidak berguna sebagai pagar.
Langkah kaki Eveline terdengar dari dalam, lalu bayangan tubuhnya muncul di ambang pintu.
"Tidak bisa tidur?" tanyanya.
"Ya..."
Eveline duduk di sampingnya tanpa diundang, membawa selimut yang dia lempar setengahnya ke pangkuan Ash.
Mereka terdiam dalam keheningan yang sudah terasa familiar. Bukan keheningan canggung, tapi keheningan orang yang sudah sering duduk berdampingan tanpa perlu mengisi setiap detiknya dengan kata-kata.
"Ruangan tadi," ucap Eveline akhirnya. "Cahaya emas itu."
"Ya."
"Kau baik-baik saja?"
Ash menatap tangannya sendiri. "Entah. Sepertinya sesuatu di dalam sana mengenaliku. Dan itu tidak terasa tidak mengenakan."
Eveline tidak berkata apa-apa. Tapi tangannya bergerak, menggenggam tangan Ash tanpa drama dan tanpa penjelasan.
Mereka duduk seperti itu sampai bintang-bintang bergeser sedikit di langit.
"Kau pikir Gargo akan datang?" tanya Eveline tiba-tiba.
Ash tersenyum tipis. "Entah. Tapi aku rasa dia butuh waktu untuk percaya dirinya sendiri dulu. Dia penakut."
"Kita semua penakut. Bedanya cuma ada yang berhasil menyembunyikannya."
Eveline menoleh padanya. Sesuatu di matanya bergerak, sambil mengangguk kecil dan kembali menatap langit.
"Tadi aku melihat Morgana."
Ash mendongak. "Di mana?"
"Di sudut jalan, saat kita pulang dari reruntuhan. Sedetik saja. Tapi dia menatap ke arah kita." Eveline berhenti sebentar. "Lalu seseorang datang menghampirinya. Lelaki tua. Aku tidak bisa lihat wajahnya. Tapi... cara Morgana meresponsnya aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Seperti seseorang yang tidak menyukai orang yang datang itu, tapi tidak bisa mengabaikannya juga." Eveline mengerutkan dahi. "Mereka bicara sebentar. Lalu Morgana pergi mengikutinya."
Ash diam memikirkan ini. Morgana pergi?
Ini memang bukan hal baru, Morgana datang dan pergi sesuka hatinya, namun seperti itulah Morgana, kadang terasa dekat, kadang terasa sangat jauh.
Tapi..
Dia tidak pernah membayangkan ada hal yang bisa membuat Morgana bergerak karena orang lain. Wanita itu terlalu... Morgana untuk melakukan sesuatu karena diminta orang lain.?
"Aku sudah tak mengerti apa yang di pikiran?"
"Tak ada yang mengerti."
"Hah.. Padahal aku masih ingin belajar darinya, tapi entah mengapa semenjak kita kembali ke Vairlion, dia selalu hilang entah kemana."
"Mungkin dia punya urusan sendiri."
"Mungkin.. "
Dua bintang jatuh bersamaan di langit selatan.
"Semoga dia baik-baik saja," gumam Ash.
Eveline menyipitkan mata. "Aku lebih khawatir soal kekacauan seperti apa yang bisa ia buat."
kalau bisa crazy up thor🤭🤭🤭