Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
CERITA KEPADA TEMAN-TEMAN
Khatulistiwa masuk ke ruang kelas dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Wajahnya masih menyimpan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan, meskipun tubuhnya sedikit capek setelah mengikuti ekstrakurikuler pramuka kemarin sore. Tugas akhir sejarahnya sudah selesai dan bahkan mendapatkan nilai baik dari gurunya – hal yang tidak dia duga sebelumnya.
Khatu! Kamu kok senyum-senyum sendiri aja tuh?" tanya Safira, teman sekelasnya yang sudah duduk di mejanya.
"Ada apa nih? Jangan bilang kamu dapat nilai bagus untuk tugas sejarah yang membuat kita semua pusing itu?"
Khatulistiwa duduk perlahan di kursinya dan menaruh tas di bawah meja. "Betul sekali! Bu Dewi bahkan memuji catatan ku karena sangat rinci dan jelas. Katanya bisa jadi contoh untuk teman-teman lain di kelas."
"Wow, hebat banget! Kamu pasti belajar sangat keras ya?" tambah Rina yang datang mendekat bersama Siti.
"Kita aja bingung cari buku referensi yang tepat, apalagi yang khusus tentang kerajaan Gowa-Tallo."
Khatulistiwa menggeleng perlahan sambil tersenyum. "Aku sebenarnya hampir tidak bisa menyelesaikannya lho. Untungnya, aku bertemu seseorang yang sangat membantu di toko buku Gramedia kemarin."
"Teman baru? Pria atau wanita?" tanya Safira dengan mata yang bersinar rasa penasaran. Ketiga teman sekelasnya langsung mengelilingi mejanya, siap mendengar cerita menarik.
"Pria, namanya Tenggara," jawab Khatulistiwa sambil sedikit memerah di pipinya. "Aku sedang mencari buku yang sama dengan dia di rak sejarah daerah, dan ternyata itu satu-satunya eksemplar yang tersedia."
Cerita Khatulistiwa mulai mengalir dengan sendirinya. Dia menceritakan bagaimana awalnya mereka berdua sama-sama ingin mengambil buku itu, bagaimana Tenggara menawarkan untuk membacanya bersama di ruang baca, dan bagaimana pria itu menjelaskan setiap bagian dengan sangat jelas. Dia tidak lupa juga menyebutkan bahwa Tenggara berasal dari keluarga yang memiliki hubungan dengan daerah Gowa dan sering bercerita tentang tradisi serta cerita rakyat dari sana.
"Dia benar-benar paham banget tentang sejarah itu, Fira," ucap Khatulistiwa dengan mata yang bersinar.
"Kalau ada bagian yang aku tidak mengerti, dia bisa menjelaskannya dengan cara yang mudah dimengerti. Bahkan dia menemukan beberapa informasi penting yang aku tidak perhatikan sendiri."
"Kok kayak adegan film aja ya?" canda Siti sambil menepuk bahu Khatulistiwa.
"Bertemu orang baik hati di tempat yang tepat, bantu kamu menyelesaikan tugas, dan ternyata orangnya juga pintar. Mungkinkah ini adalah awal dari cerita cinta yang indah?"
Khatulistiwa langsung menggebrak tangan Siti dengan nada tidak senang namun penuh tawa.
"Jangan salah paham dong! Kita baru saja bertemu sekali dan hanya membicarakan sejarah. Tapi memang, dia sangat baik hati dan ramah sekali."
"Apalagi kamu sudah bertukar nomor kan?" tebak Rina dengan senyum licik. "Jangan bilang kamu tidak akan menghubunginya lagi ya!"
"Kita sudah sepakat untuk bertemu lagi minggu depan di Gramedia," akui Khatulistiwa dengan suara yang sedikit lebih pelan.
"Dia bilang punya beberapa buku lain tentang sejarah Sulawesi yang mungkin aku suka. Selain itu, mungkin aku bisa membantu dia juga dengan beberapa mata pelajaran yang ku kuasai, seperti Matematika atau Bahasa Indonesia."
Safira mengangguk dengan senyum mendukung. "Itu bagus banget, Khatu. Siapa tahu kalian bisa jadi teman baik atau bahkan lebih dari itu nantinya. Yang penting, kamu menemukan orang yang bisa membantu kamu belajar dan saling mendukung."
Khatulistiwa tersenyum lagi saat memikirkan pertemuan dengan Tenggara kemarin. Dia tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi di masa depan, namun satu hal yang dia tahu – pertemuan tidak sengaja itu telah membawa sesuatu yang baru dan menyenangkan ke dalam hidupnyaa