Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Baby Arkan
Enam bulan berlalu bayi yang dilahirkan oleh Intan tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan. Dia juga tampan dan juga imut. Tentu saja Intan sebagai ibu muda sangat bahagia melihat pertumbuhan sang buat hati. Walaupun dalam hati Intan masih ada yang mengganjal karena hingga detik ini Aldy juga belum menikahinya.
Apalagi tes DNA pada bayi yang diberi nama Arkan Hafiz Zaid yang artinya pilar yang kuat, pemelihara Alquran dan yang tumbuh subur, sudah dilakukan . Dan hasilnya positif, baby Arkan adalah anak biologis Aldy.
Iya, awalnya Aldy menolak untuk melakukan tes DNA tersebut karena dia yakin bahwa Arkan adalah anak biologisnya. Namun tentu saja umi Fatimah terus mendesak Aldy untuk melakukan tes tersebut. Katanya dia tidak akan percaya, bayi itu anaknya Aldy sebelum tes DNA dilakukan.
Dan nyatanya setelah tes DNA dilakukan pun umi Fatimah tetap keberatan jika Aldy menikahi Intan. Dan alasan umi Fatimah masih sama, dia bilang Aldy tidak berkewajiban menikahi Intan dan cukup menafkahi anaknya saja walaupun secara agama itu bukan kewajiban Aldy. Karena anak yang lahir di luar nikah nasabnya ada pada ibunya, bukan ayahnya. Jadi ibunyalah yang seharusnya bertanggung jawab.
Dan ada alasan satunya lagi yang membuat umi Fatimah tetap tidak setuju Aldy menikahi Intan. Yaitu karena dia takut Aldy tertular HIV, karena menurut keyakinan umi Fatimah, Intan adalah seorang pel*cur yang sudah tidur dengan banyak laki- laki hidung belang.
Sebenarnya Intan ingin menanyakan pada Aldy apakah dia akan menikahinya atau tidak. Biar bagaimana pun juga Intan butuh kepastian dari Aldy. Karena dulu Aldy sudah janji padanya, jika baby Arkan beneran anak biologisnya maka dia akan menikahi Intan. Namun nyatanya hingga baby Arkan berumur enam bulan belum ada tanda- tanda Aldy akan menikahinya.
"Intan... Sebenarnya si Aldy mau menikahimu atau tidak sih, kok sampai sekarang status kamu masih digantung seperti ini...?'' tanya bu Yuyun yang kebetulan hari ini sedang menjenguk Intan dan baby Arkan.
Intan menghela nafas mendengar pertanyaan sang ibu. Iya, sebenarnya Intan juga penasaran kenapa Aldy masih belum juga menikahinya. Tapi Intan tidak berani untuk menanyakannya. Apalagi Intan tahu kalau keluarga besar Aldy terutama umi Fatimah memang tidak menyukai Intan.
Itu terbukti karena sejak baby Arkan lahir, umi Fatimah hanya menjenguknya satu kali saja saat Intan baru melahirkan. Itu pun di rumah sakit. Sejak itu sampai detik ini umi Fatimah tidak mau menjenguknya lagi. Sedangkan abi Abdul rutin menjenguk Intan dan baby Arkan walaupun hanya sebulan sekali. Dan setiap menjenguk, abi Abdul selalu membawakan baju ataupun sesuatu buat baby Arkan.
Adik perempuan Aldy yaitu Wulan juga hanya sekali menjenguknya, begitu juga dengan kakak laki- laki Aldy yaitu Dirga. Mereka hanya sekali menjenguk Intan dan baby Arkan. Mungkin hal itu mereka lakukan karena merasa tidak enak pada Aldy. Biar bagaimana pun juga baby Arkan tetaplah darah daging Aldy.
"Intan juga belum tahu bu... Mas Aldy belum membicaraan soal pernikahan dengan Intan..." jawab Intan sambil menyusui baby Arkan.
"Ya kamu tanyakan dong sama Aldy...! Memangnya kamu mau begini terus...? Tidak punya status yang jelas...! Apa kamu tidak memikirkan nasib anakmu ke depan...!'' bu Yuyun nampak kesal karena Intan selalu saja jadi orang yang pasrah dengan keadaan.
Iya, bu Yuyun sadar dia pernah ada di posisi Intan. Dia dulu hamil dan melahirkan Intan dari laki- laki yang bukan suaminya. Bu Yuyun sampai bosan mendengar nyinyiran para tetangga yang menyebutnya perempuan tukang selingkuh dan Intan sebagai anak haram.
Namun bu Yuyun bersyukur karena pak Wito sang suami masih mempertahankan dia sebagai istrinya. Walaupun sejak saat pak Wito tahu bahwa sang istri hamil dari laki- laki lain pak Wito sudah tidak mau lagi menyentuh bu Yuyun tanpa memberikan alasan apapun pada bu Yuyun.
Mungkin pak Wito jijik karena istrinya bekas laki- laki lain. Dan hingga pada akhirnya pak Wito mengalami kecelakaan kerja dan sakit hingga bertahun- tahun, mereka tidak melakukan hubungan sebagaimana selayaknya suami istri. Dan akhirnya bu Yuyun menjajakan tubuhnya menjadi seorang pekerja s*ks komersial.
Dan kini bu Yuyun khawatir dengan masa depan Intan jika tidak segera dinikahi oleh Aldy. Pasti hidup Intan akan susah.
"Kalau kamu tidak berani bicara sama Aldy, biar ibu yang bicara padanya..." ucap bu Yuyun.
"Jangan bu... Intan nggak enak, ibu kan kalau ngomong suka emosian. Biar Intan saja nanti yang bicara sama mas Aldy..." sahut Intan yang tidak mau jika sang ibu ikut campur urusannya dengan Aldy. Karena ditakutnya akan menimbulkan masalah ke depannya.
"Ya sudah, kamu telpon Aldy sekarang, dan minta dia untuk datang ke sini. Kamu bicara sama Aldy di hadapan ibu. Ibu ingin tahu langsung apa jawaban Aldy..." jawab bu Yuyun.
Intan menghela nafas. Lalu dia memindahkan baby Arkan yang sudah tidur ke ranjang bayi. Setelah itu Intan kembali duduk di sofa dengan bu Yuyun.
"Bu, ibu yang sabar dong bu, nanti Intan bicara sama mas Aldy, tapi Intan harus cari waktu yang tepat untuk bicara..." ucap Intan yang tidak mau terburu- buru.
"Eh Intan.. apa kamu lupa, anak kamu itu sudah berusai enam bulan. Kamu jangan terlalu sabar dan lemah seperti ini dong..." sahut bu Yuyun.
"Apa kamu nggak mikir, nanti kalau kamu tidak segera minta dinikahi dan Aldy lebih memilih menikahi perempuan lain, baru tahu rasa kamu...!'' sambung bu Yuyun dengan ketus.
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang Ibu, tentu saja Intan menjadi cemas dan khawatir. Iya, bisa saja kan Aldy memilih perempuan lain dibanding menikahi Intan. Apalagi Aldy tampan, pekerja kantoran dan dari segi finansial Aldy tidak kekurangan. Begitu juga dengan kedua orang tuannya yang merupakan orang berada. Tentu tidak sedikit perempuan yang suka pada Aldy.
Intan pun terdiam merasa bingung apakah dia harus segera bicara pada Aldy dan minta untuk dinikahinya. Namun di sisi lain Intan cemas kalau Aldy ternyata tidak mau menikahinya.
Dan bersamaan dengan itu terdengar mobil masuk ke halaman rumahnya dan berhenti di garasi. Iya, itu adalah suara mobil Aldy.
"Bu, itu mas Aldy datang..." ucap Intan.
"Baguslah... Kamu harus bicara sama dia sekarang..." sahut bu Yuyun.
Intan segera membuka pintu dan menyambut kedatangan Aldy. Setelah berbasa - basi, dengan Intan dan bu Yuyun, Aldy masuk ke kamar untuk melihat baby Arkan. Iya, sudah tiga hari Aldy tidak melihat Arkan karena kesibukannya di kantor. Akhirnya hari ini setelah pulang kantor Aldy menyempatkan diri untuk menemui putranya.
"Intan... Cepat kamu ajak Aldy bicara..." bisik bu Yuyun.
"Sabar dong bu, mas Aldy kan lagi main sama baby Arkan..." sahut Intan yang masih duduk di sofa bersama sang ibu.
"Ah... Kelamaan...." bu Yuyun langsung menghampiri Aldy dan baby Arkan di kamar.
"Bu...ibu mau apa..." Intan mengikuti sang ibu.
"Diam kamu...!" sahut bu Yuyun sambil melototi Intan kemudian dia langsung masuk ke kamar menemui Aldy yang sedang mengajak main baby Arkan.
" Aldy..." ucap bu Yuyun.
"Iya bu..." Aldy menoleh ke belakang di mana bu Yuyun sedang berdiri menghadapnya.
"Kapan kamu mau menikahi Intan...?'' tanya bu Yuyun tanpa basa- basi.
"Bu..." sahut Intan merasa tidak enak pada Aldy.
Bu Yuyun melirik ke arah Intan lalu melototinya agar Intan diam. Kemudian bu Yuyun kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aldy.
"Kamu kan dulu pernah sama Intan setelah melakukan tes DNA dan hasilnya positif, kamu akan menikahi Intan. Mana...? Sampai sekarang Intan belum juga kamu nikahi... Mau nunggu sampai kapan...?'' tanya bu Yuyun.
Aldy menghela nafas.
"Iya bu... Saya memang bicara seperti itu pada Intan. Tapi saya harap ibu dan juga Intan bisa bersabar..." jawab Aldy lalu berdiri berhadapan dengan bu Yuyun.
"Sabar sampai kapan...? Baby Arkan saja sudah usia enam bulan lho..." sahut bu Yuyun.
"Iya bu, tapi saya harus bicara dulu sama umi dan abi..." jawab Aldy.
"Astaga... Aldy... Memangnya sampai sekarang kamu belum bicara sama kedua orang tua kamu kalau kamu mau menikahi Intan...?'' tanya bu Yuyun.
"Sudah bu tapi...
"Tapi apa...? Kedua orang tuamu tidak setuju kamu menikahi Intan...?" sahut bu Yuyun dengan ketus.
"Bu..bukan...
"Hei Aldy... Kamu ini laki- laki, harusnya kamu punya pendirian. Apa yang sudah kamu katakan harus kamu buktikan..." sahut bu Yuyun.
"Kalau kamu tidak mau menikahi Intan, buat apa kamu dulu meminta Intan untuk melahirkan anak itu...? Kalau tahu akhirnya seperti ini, mending dulu Intan gugurkan saja kandungannya, dari pada dia sudah susah- susah melahirkan anak kamu, tapi kamu tidak mau menikahinya..." sambung bu Yuyun mulai emosi melihat Aldy yang tidak punya pendirian yang kuat.
"Astagfirullohalazim ibu... Ibu ini bicara apa sih..." Intan nampak kesal pada sang ibu.
Iya, ini lah yang ditakutkan oleh Intan, jika ibunya ikut bicara pasti dia akan mengatakan kata- kata yang kurang pantas.
"Diam kamu Intan...! ibu ini sedang memperjuangkan nasib kamu ke depan..." ucap bu Yuyun.
"Tapi jangan bicara seperti itu sama mas Aldy dong bu..." sahut Intan.
"Ibu memang begini adanya..." sahut bu Yuyun dengan ketus.
"Sekarang kamu harus memilih Aldy... Kamu mau menikahi Intan, atau kamu ingin dipisahkan dengan anak kesayangan kamu itu untuk selamanya...?'' tanya bu Yuyun.
"Bu..." ucap Intan.
"Baiklah, saya ingin bicara pada kedua orang tuaku dan saya akan menikahi Intan secepatnya..." ucap Aldy
"Baguslah, tapi jangan cuma omongan saja. Kamu harus membuktikannya dengan tindakan..." sahut bu Yuyun.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Setelah berdiskusi, berdebat bahkan bertengkar dengan kedua orang tua serta adik dan kakaknya, Aldy akhirnya menikahi Intan.
Iya, tentu saja lebih banyak yang menentang. Dan yang ada di pihak Aldy hanya abi Abdul saja. Abi Abdul mendukung apapun yang menjadi keputusan terbaik bagi Aldy. Lagi pula itu demi baby Arkan. Menurut abi Abdul, baby Arkan akan lebih bahagia jika mempunyai keluarga yang utuh dan normal.
Aldy dan Intan akan lebih leluasa dalam menjaga dan mendidik Arkan ke depannya karena mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Mas... Makasih ya... " ucap Intan setelah beberapa jam yang lalu mereka melangsungkan akad nikah.
Iya, malam ini adalah malam pertama mereka setelah menjadi suami istri.
"Makasih untuk apa Intan...?" tanya Aldy.
"Makasih karena mas Aldy sudah menikahi Intan. Sekarang kita bisa bersama- sama menjaga Arkan, tanpa ada penghalang apapun lagi..." jawab Intan.
Aldy tersenyum. Iya, memang benar apa yang dikatakan oleh Intan. Saat Aldy belum menikahi Intan, Aldy tidak bebas menemui Arkan. Paling beberapa jam saja. Setelah itu dia harus pulang karena tidak mungkin dia menginap mengingat dia dan Intan tidak terikat pernikahan. Takutnya akan menjadi fitnah dan gunjingan warga. Tentu saja hal itu akan menambah masalah lagi buatnya dan juga Intan.
Dan sekarang Aldy bisa bersama dengan Arkan kapan pun dia mau tanpa khawatir apapun. Iya, walaupun Aldy harus bersitegang dengan umi, dan juga adiknya Wulan. Karena mereka tidak sudi jika Intan masuk ke dalam keluarga besar mereka. Sedangkan Dirga tidak terlalu banyak bicara. Dia mungkin tidak setuju dengan pernikahan Aldy dan Intan. Namun Dirga sadar dia tidak berhak melarang. Aldy berhak menentukan apa yang ingin dia lakukan.
"Maafkan aku Intan karena telah menunggumu terlalu lama. Maafkan aku juga karena telah meragukanmu..." ucap Aldy.
Intan menghela nafas. Iya, Intan memang tidak begitu saja menyalahkan Aldy. Intan sadar dengan keadaannya saat itu. Siapapun pasti akan berpikiran jelek tentangnya karena hamil di luar nikah,ditambah lagi dia bekerja di tempat hiburan malam yang penuh dengan maksiat.
"Nggak papa kok mas... Aku paham pada situasiku saat itu. Tapi sekarang kamu sudah percaya padaku kan mas, kalau aku tidak seperti yang orang pikirkan...?'' sahut Intan sambil menatap wajah tampan Aldy.
Aldy tersenyum sambil menggenggam tangan Intan. Lalu Aldy mencium kening Intan.
"Intan ... Apakah malam ini saya boleh meminta hakku sebagai suamimu...?'' tanya Aldy sambil menatap intens wajah cantik Intan.
"Tentu saja mas..." jawab Intan dengan senyum bahagia.
Dan malam ini menjadi malam pertama bagi mereka untuk memulai menjadi sepasang suami istri. Namun sebelumnya Aldy mengeluarkan sebuah benda yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Iya, karena baby Arkan masih kecil, tentu saja Aldy tidak mau jika Intan hamil lagi.Maka dari itu Aldy memakai alat kontrasepsi supaya mereka bisa melakukan malam pertamanya dengan aman tanpa khawatir Intan hamil di saat dia masih menyusui baby Arkan.
Tubuh mereka bertemu dalam gairah untuk memperdalam ikatan emosional dan fisik. Iya, mereka melakukannya dengan suka rela walaupun mereka tidak tahu apakah di dalam hati mereka sudah tumbuh bunga cinta atau belum. Yang jelas, mereka melakukannya karena hak dan kewajiban sebagai suami istri.
Bersambung....