NovelToon NovelToon
Greta Oto: Glasswing Butterfly

Greta Oto: Glasswing Butterfly

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Greta Ela

Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.

Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.

Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Cairan Ungu Itu Lagi

Sepanjang malam Thaddeus tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, warna ungu itu muncul kembali di benaknya. Ungu pekat, tidak seperti ramuan biasa yang pernah ia lihat di ruang tabib.

Dan bau itu adalah bau yang sama seperti di lorong bawah tanah. Bau logam yang lembap, bercampur sesuatu yang manis namun menusuk. Ia yakin, Ia tidak salah mengingatnya.

Ayahnya tidak mau mendengar. Arion semakin tertutup, semakin keras. Seolah setiap pertanyaan dari dirinya adalah tuduhan. Seolah ia bukan lagi putra, melainkan ancaman.

"Baiklah. Kalau ayahnya tidak mau mencari jawaban, maka aku akan bergerak sendiri." batinnya

...****************...

Pagi hari, tanpa memberi tahu siapa pun, Thaddeus meninggalkan castle. Ia memilih pergi ke rumah Hugo.

Diperjalanan, ada dua ekor kupu-kupu kaca yang berterbangan mengikuti Thaddeus. Ia tidak mengusirnya, hanya memperhatikan dan sedikit bingung.

"Kenapa kupu-kupu kaca ini mengikutiku?" gumamnya.

Udara pagi masih dingin ketika ia sampai di rumah Hugo. Setelah Thaddeus sampai, kupu-kupu kaca itu lalu pergi, seolah melindungi Thaddeus sama seperti perlindungan terhadap Greta.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Yang membukakan pintu adalah Hugo sendiri. Rambutnya masih berantakan, wajahnya sedikit heran melihat Thaddeus berdiri sepagi itu.

"Pangeran?" tanya Hugo heran

"Aku datang bukan sebagai pangeran," jawab Thaddeus pelan.

"Kita sudah terbiasa memanggil nama masing-masing." lanjutnya

Hugo mengangguk dan mempersilakannya masuk. Rumah itu sepi, Grace sudah pergi ke castle.

Thaddeus duduk, tapi tangannya terasa kaku. Ia tidak ingin menuduh, tidak ingin merusak persahabatan mereka. Sebenarnya Thaddeus tidak membenci Hugo. Ia hanya membenci apa yang mungkin dilakukan ibunya.

"Hugo," katanya memberanikan diri, menatap lurus ke arah Hugo

"Sejak ibumu merawat Ratu, ada sesuatu yang terasa janggal."

Hugo mengernyit. "Janggal bagaimana?"

"Ada ramuan tambahan yang dicampurkan. Cairan ungu, tapi tabib tidak pernah menyebutkannya."

Hugo terdiam.

"Aku tidak tahu apa itu," lanjut Thaddeus. "Aku tidak mau menuduh tanpa bukti. Tapi batuk Ibu seharusnya membaik. Tabib bilang begitu, bukan semakin parah."

Hugo menelan ludah. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya kebingungan.

"Apakah Ratu pernah marah pada ibumu?" tanya Thaddeus pelan.

"Aku... tidak tahu." Suara Hugo jujur

Hening sekejap.

Hugo menunduk. "Kalau ibuku membuatmu kesal, aku minta maaf. Tapi kalau memang salah, tetap salah. Meski itu ibuku."

Kalimat itu membuat dada Thaddeus terasa sesak. Ia datang dengan tuduhan, tapi yang ia terima justru kejujuran.

Semakin banyak masalah, semakin banyak kebingungan.

Ibunya sakit, ayahnya menyimpan rahasia, Greta dianggap pembawa sial oleh bisikan-bisikan pelayan.

Dan sekarang ini, Thaddeus merasa bingung.

"Kapan semua ini selesai..." gumamnya tanpa sadar.

Hugo menatapnya.

"Kau sudah bertanya pada raja tentang buku itu? Buku heterocromia itu?"

Thaddeus menggeleng. "Belum. Aku menunggu waktu yang tepat."

Waktu yang tepat. Entah kapan itu akan datang.

Setelah beberapa lama berbincang, suasana perlahan mencair. Mereka tertawa kecil mengingat latihan memanah dulu, persahabatan yang sudah bertahun-tahun terjalin. Untuk sesaat, dunia terasa normal.

"Ayo ke istana," ajak Thaddeus. "Sudah lama kau tidak ke sana."

Hugo langsung menggeleng.

"Aku tidak ingin bertemu ibuku di sana. Ia tidak suka aku terlalu dekat denganmu akhir-akhir ini."

Itu membuat hati Thaddeus makin tidak tenang. Mengapa Grace menjauhkan putranya? Apakah hanya karena ia curiga? Atau ada sesuatu yang lebih besar?

Namun Hugo bukan tipe anak yang pandai berbohong. Wajahnya terlalu jujur untuk menyembunyikan rencana jahat.

Thaddeus akhirnya pamit.

"Terima kasih sudah mau mampir." ujar Hugo

Thaddeus mengangguk dan melambaikan tangannya pada Hugo

Sepanjang perjalanan kembali ke istana, pikirannya semakin banyak.

...****************...

Di dalam istana, Chelyne berusaha bangkit dari ranjang.

Tubuhnya masih lemah, tapi ia memaksa diri duduk. Ia tidak ingin terlihat rapuh di depan anak-anaknya.

Arion berdiri di sampingnya, cemas.

"Kau tidak perlu memaksakan diri," ujar Arion

"Aku bosan terbaring," jawab Chelyne pelan. "Aku ingin melihat ke luar."

Akhirnya Arion membantu istrinya berdiri. Greta melompat-lompat kecil dengan wajah ceria ketika mendengar mereka akan keluar sebentar.

Istana terasa lebih hidup ketika mereka pergi bersama.

Namun di ruang belakang tempat Grace membuat ramuan, Grace mendengar kabar itu dengan wajah menegang.

"Ratu keluar?" tanyanya tajam.

"Iya, Grace." jawab pelayan. "Raja dan Putri Greta juga ikut."

Grace mengepalkan tangan.

Ramuan itu harus diminum hangat. Jika dingin, cairan ungu yang ia campurkan akan menguap baunya dan kehilangan daya kerjanya.

Ia menatap mangkuk obat yang sudah mulai mendingin.

Kesempatan itu hilang.

Dengan kesal, ia membuang ramuan itu begitu saja di belakang ruang penyimpanan, tidak terlalu peduli di mana cairan itu tumpah.

Seharusnya... satu kali lagi.

Satu kali lagi, dan semuanya selesai.

...****************...

Sore hari, Thaddeus kembali ke istana. Sama seperti tadi pagi, saat Thaddeus berjalan menuju ke Castle Castavia, kupu-kupu kaca berterbangan kembali mengikuti Thaddeus

"Kenapa mereka mengikuti aku lagi?" gumamnya.

Memang kebingungan itu selalu menjalar dipikiran Thaddeus. Dia pikir serangga itu hanya akan mengikuti adiknya, ternyata dia juga.

Tapi Thaddeus tidak ingin menyakiti serangga itu, bagaimana pun serangga juga makhluk hidup.

Seketika, langkahnya melambat ketika ia melewati lorong belakang. Hidungnya menangkap sesuatu.

Bau itu lebih tajam dari sebelumnya.

Ia mengikuti sumbernya hingga ke dekat ruang penyimpanan. Di lantai batu, ada bekas cairan yang sudah meresap. Ungu pekat, masih menyisakan kilap aneh.

Jantungnya berdetak keras. Ia berlutut, mencium bau itu lebih dekat. Bau yang sama persis seperti yang Ia rasakan kemarin.

Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu ruang ramuan.

Suara seorang perempuan.

"Seharusnya setelah satu kali lagi..." suara itu bergetar penuh amarah.

Dunia seperti berhenti. Thaddeus menegang.

Itu suara Grace.

"Semua ini sudah terlalu lama," lanjutnya lirih tapi penuh kebencian. "Ia tidak pantas hidup."

Tangan Thaddeus gemetar. Ibu dari sahabatnya sendiri. Ingin membunuh Ratu? Untuk apa? Demi siapa?

Dalam kebingungan itu, sikunya tak sengaja menyenggol gelas kaca yang terletak di meja dekat pintu.

Brak!

Gelas itu jatuh dan pecah. Suara itu memecah keheningan. Pintu terbuka dengan cepat. Grace berdiri di ambang, matanya tajam seperti pisau.

Dan Thaddeus melihatnya. Wajah mereka saling berhadapan.

Hanya keheningan yang berat.

Thaddeus tahu bahwa ia baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.

Dan Grace tahu bahwa rahasianya mungkin tidak lagi aman. Untuk beberapa detik, tak satu pun bergerak.

Lalu Grace tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti kemarin. Namun kini Thaddeus tahu, itu bukan senyum kebaikan. Itu senyum seseorang yang terpojok dan seseorang yang mungkin akan melakukan apa pun untuk melindungi rahasianya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Thaddeus akan menuduh Grace lagi secara terang-terangan? Atau Grace akan kembali memasang wajah sandiwaranya?

1
Wida_Ast Jcy
jahat ya grace thor pasti diletak racun lagi
Wida_Ast Jcy
wah.... selamat ya hugoo
Wida_Ast Jcy
semoga kamu lulus ya hugoo
Serena Khanza
hayoloh grace ketahuan kan sama greta dan kupu kupu dan kumbang nya 🤭
CACASTAR
mmmm begitu,,
MARDONI
Hugo lulus harusnya jadi momen bahagia, tapi kok malah deg-degan ya bacanya 😭 pas Grace ambil botol ungu itu langsung sadar badai bakal datang… tenang sebelum hancur banget ini rasanya 💔
izmie kim
sebenarnya kasihan juga tapi niat orang tuanya mau melindungi greta
izmie kim
untung orang yang menemukan greta itu Grace buka orang jahat ataupun orang dari luar istana
Wida_Ast Jcy
benar coba saja dulu gpp lho semoga berhasil
Wida_Ast Jcy
sudah dewasa 15 tahun lho. pasti sudah balig kan
Serena Khanza
🤣🤣 hewan aja tau mana yang baik mana yg kek iblis 🤣🤣
Ebit S
walaupun hanya sekedar capung.. itu namanya menghargai pemberian dan bentuk kasih sayang😓😓🙏🙏💪💪
izmie kim
bisa jadi gak sih hugo itu jodoh putri
izmie kim
emang beda dari segi pendirian juga udah terarah dari masih kecil tidak bisa semaunya
izmie kim
jadi pengen liat wajah visual mereka deh
izmie kim
udah 2 tahun, kita semua se novel toon menemani greta
MARDONI
Greta yang cuma pengen main sama kakaknya tuh bikin scene ini makin nyesek 😭 sementara Thaddeus dan Hugo mulai melangkah ke masa depan, Grace malah terjebak sama masa lalu… serius penasaran banget apakah Hugo akhirnya diizinkan ikut ujian atau nggak 💔✨
Wida_Ast Jcy
siapa ya kira kira ini thor 🤔🤔🤔
Wida_Ast Jcy
Greta bukan pembawa masalah lho😩😩😩
sang senja
ya memang begitu, putra ku juga begitu, dia sangat lengket pada ku. dan jarang mau sama ayahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!