cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23 — RETAKAN DI PIHAK KUAT
Mereka berjalan lagi.
Tidak ada yang menoleh ke belakang kembali.
Tubuh yang ditinggalkan perlahan tertelan hutan, seolah memang tidak pernah ada. Seperti semua yang mati malam itu—hilang tanpa saksi, tanpa doa.
Raka berjalan paling belakang sekarang.
Bukan karena disuruh. Tapi karena kakinya terasa kosong. Setiap langkah seperti menginjak sesuatu yang rapuh di dalam dadanya.
Nenek tua itu berjalan di depan, bahunya dibalut kain yang sudah berubah warna. Darah masih merembes, meski pelan. Setiap beberapa langkah, ia berhenti sebentar, menarik napas dalam, lalu berjalan lagi.
Ia tidak mengeluh.
Justru itu yang membuat Raka takut.
Malam turun perlahan. Tidak gelap tiba-tiba, tapi merayap. Hutan berubah warna—hijau jadi hitam, cokelat jadi abu. Suara serangga mulai muncul, satu per satu, seperti penonton yang datang sebelum pertunjukan.
“Berhenti,” kata nenek itu akhirnya.
Mereka berkumpul di cekungan kecil di antara akar-akar besar. Tanahnya kering, agak tinggi. Tempat singgah sementara—bukan perlindungan.
Jumlah mereka kini tinggal sedikit.
Raka diam-diam menghitung. Tangannya gemetar.
Satu dua tiga. Hanya tiga orang dewasa yang tersisa, selain dirinya.
“Yang luka-luka diperiksa kembali, bersihkan dan obati,” kata nenek itu singkat.
Seorang lelaki berjongkok, membuka kain di pahanya. Luka sayat panjang, daging terbuka. Ia menggigit kain lain, menahan suara saat perempuan di sebelahnya membersihkan luka dengan air seadanya.
Raka memalingkan wajah.
Ia tidak kuat melihatnya lama-lama.
“Raka,” panggil nenek itu.
Raka mendekat. Lututnya terasa lemas.
“Kamu dengar tadi,” kata nenek itu. “Mereka bertambah.”
Raka mengangguk.
“Artinya kita tidak bisa lagi jalan seperti ini,” lanjutnya. “Kalau terus bergerak berkelompok, orang kita telah habis.”
“Lalu?” tanya Raka lirih.
Nenek itu menatapnya lama. Tatapan yang membuat Raka ingin menunduk, tapi ia memaksa diri bertahan.
“Kamu dengarkan Raka. Kamu bukan anak-anak lagi,” katanya pelan. “Kamu harus bertahan hidup.”
Raka menelan ludah.
“Kita akan jaga jarak.....,” lanjut nenek itu. “Tidak berpisah. Tapi tidak rapat.”
“Supaya?” tanya lelaki yang pahanya terluka.
“Supaya kalau mereka menyerang,” jawab nenek itu, “tidak semua jatuh bersamaan.”
Kalimat itu jatuh berat.
”Apah ndak malah tambah muda dieksekusi para pembunuh?” tetapi suara untuk hanya terdegar dikupingnya saja, lidahnya kelu.
Mereka berangkat lagi, kali ini dengan jarak. Sepuluh langkah. Dua puluh. Kadang hilang dari pandangan, lalu muncul lagi di balik pohon.
Raka berjalan sendirian untuk pertama kalinya.
Sunyi terasa berbeda ketika sendirian.
Setiap suara jadi ancaman. Setiap bayangan seperti bergerak.
Ia teringat wajah orang yang mati tadi. Darah yang menyembur. Mata yang terbuka.
“Dia mati bukan karena salahmu,” katanya pada dirinya sendiri. Tapi suaranya terdengar kosong.
Tiba-tiba—plak!
Tanah di depan Raka amblas.
Ia refleks mundur. Sebuah lubang jebakan terbuka setengah—dangkal, tapi penuh duri runcing.
“Nek!” teriak Raka.
Suara langkah cepat mendekat.
“Jangan sentuh itu!” seru nenek itu. “Ini masih baru.” Lanjut Nenek.
Ia berjongkok, mengamati lubang. Mengendus. Matanya menyapu sekitar.
“Mereka sudah berada di depan,” gumamnya. “Bukan hanya ngikutin.”
Seolah menjawab, dari sisi kiri terdengar desir cepat. Terlalu cepat untuk binatang.
Nenek itu berdiri. Tangannya terangkat, memberi isyarat.
Diam.
Raka menahan napas.
Dari balik pepohonan, sebuah bayangan melintas. Rendah. Cepat. Tidak menyerang.
Mengintai.
“Dia sendirian,” bisik perempuan di belakang.
“Tidak,” jawab nenek itu pelan. “Dia umpan.”
Belum selesai kata itu—
Wuuut!
Anak panah melesat dari arah lain.
Nenek tua itu bergerak cepat, mendorong Raka ke tanah. Anak panah itu melewati kepala Raka, menancap di pohon.
“Habisi mereka!” teriak seseorang.
Dari segala arah, bayangan muncul.
Lima.
Tidak sekaligus. Bergelombang. Menguji.
Pertarungan pecah tanpa aba-aba.
Salah satu dari kelompok nenek menerjang lebih dulu, menghantam musuh dengan bahu. Tubuh beradu. Mereka jatuh ke tanah, berguling, saling menghantam tanpa senjata.
Di sisi lain, nenek tua itu menghadapi dua orang sekaligus.
Gerakannya berubah.
Bukan lagi hemat. Bukan lagi menunggu.
Ia maju.
Tangannya menghantam dada lawan pertama—bukan pukulan keras, tapi dorongan pendek, tepat di bawah tulang rusuk. Bunyi krek terdengar. Lawan itu terbatuk, darah muncrat dari mulutnya.
Lawan kedua menyerang dari samping. Bilah pendek mengarah ke leher.
Nenek itu memutar tubuh, membiarkan bilah itu lewat sejengkal, lalu menghantam pergelangan tangan lawan dengan siku.
Tak!
Pisau terlepas.
Ia tidak memberi waktu. Tumitnya menghantam lutut lawan itu dari samping.
Grrak!
Lawan itu jatuh menjerit—jeritan pendek yang segera terputus saat bilah nenek itu menancap di tenggorokannya.
Raka menutup mulutnya.
Darah mengalir deras, membasahi tanah.
“Raka!” teriak seseorang.
Raka menoleh.
Seorang dari kelompok nenek terdesak. Dua lawan mengepungnya. Ia terluka parah di lengan. Gerakannya melambat.
Raka ingin bergerak. Kakinya tidak mau.
“Sekarang!” teriak nenek itu.
Raka tidak tahu kenapa—atau bagaimana—tapi tubuhnya bergerak.
Ia mengambil batu dari tanah. Tidak besar. Tidak tajam.
Ia melemparkannya.
Batu itu tidak mengenai kepala.
Ia menghantam punggung salah satu lawan.
Cukup untuk membuatnya menoleh.
Cukup untuk membuatnya lengah.
Detik itu dimanfaatkan. Lawan yang terluka menghantamkan bilahnya ke perut musuh.
Hup.
Darah keluar.
Orang itu jatuh.
Raka membeku.
Ia baru saja… membantu membunuh.
Dadanya sesak. Tangannya dingin.
“Bagus,” kata seseorang cepat. Bukan pujian—lebih seperti konfirmasi.
Tapi keberuntungan tidak lama.
Dari balik pohon, satu bayangan lain muncul. Lebih tinggi. Gerakannya lebih tenang.
Ia menyerang langsung ke arah nenek tua itu.
Mereka beradu.
Tidak cepat. Tidak kasar.
Seperti dua orang yang tahu persis apa yang dilakukan lawannya.
Bilah beradu. Pukulan dibalas. Setiap gerakan dibaca.
Lalu—kesalahan kecil.
Nenek tua itu sedikit terlambat mengangkat tangan kirinya.
Bilah lawan menggores sisi perutnya.
Darah keluar banyak.
“Nek!” Raka berteriak.
Nenek itu mundur setengah langkah. Napasnya berat.
Lawan di depannya tersenyum.
“Capek.........” katanya pelan. “Akhirnya.........”
Nenek itu tidak menjawab.
Ia menyerang lagi—lebih lambat, lebih berat.
Raka melihatnya jelas sekarang.
Nenek itu… kelelahan.
Sementara itu, di sisi lain, satu dari kelompok nenek jatuh. Kali ini tidak bangkit.
Satu jatuh lagi.
Jumlah mereka kini—
Raka tidak berani menghitung.
Nenek tua itu terdorong mundur. Hampir jatuh.
Raka melihat tanah di belakangnya—jurang kecil, penuh akar dan batu tajam.
“Nek!” teriaknya.
Terlambat.
Lawan itu menyerang lagi. Bilah mengarah ke dada.
Nenek itu mengangkat tangannya—terlambat setengah detik.
Raka berlari.
Ia tidak tahu kenapa. Ia tidak berpikir.
Ia hanya berlari.
“Raka, jangan—!”
Teriakan itu terputus.
Raka menabrak lawan nenek itu dari samping.
Tubuh kecilnya menghantam pinggang orang dewasa itu.
Tidak kuat.
Tidak efektif.
Tapi cukup untuk mengubah arah bilah.
Pisau itu tidak menembus dada nenek.
Ia menancap di bahu Raka.
Rasa panas meledak.
Raka menjerit.
Dunia berputar.
Ia jatuh.
Darah mengalir dari bahunya, cepat, hangat.
Nenek tua itu menggeram—bukan teriakan, tapi suara rendah, penuh amarah.
Dalam satu gerakan, ia menghantam tenggorokan lawan itu dengan seluruh berat tubuhnya.
Krakk.
Tubuh itu jatuh tanpa suara.
Raka tergeletak. Pandangannya kabur. Suara jadi jauh.
“Nek…” bisiknya.
Nenek itu berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar saat menekan luka di bahu Raka.
“Bodoh,” katanya pelan. “Kamu bodoh.”
Tapi tangannya tidak berhenti menekan. Menahan darah.
Di sekeliling mereka, hutan kembali sunyi.
Terlalu sunyi.
Nenek itu mendongak.
Wajahnya berubah.
“Belum selesai,” gumamnya.
Dari balik pepohonan, terdengar langkah lain.
Lebih dari sebelumnya.
Dan dari kegelapan, suara seseorang terdengar—tenang, dingin.
“Kita kehilangan dua,” katanya. “Tapi kalian hampir habis.”
Nenek tua itu berdiri perlahan, darah menetes dari perut dan bahunya.
Raka berusaha bangkit. Gagal.
Sosok itu melangkah maju.
Bukan satu.
Dua.
Dan di belakang mereka—bayangan lain mulai bermunculan.
Lima.
Masih ada lima.
Raka menatap mereka, darah mengalir dari bahunya, dunia berputar.
Ia sadar sepenuhnya sekarang.
Ia tidak lagi sekadar ikut.
Ia sudah masuk terlalu dalam.
Dan jika ini berakhir—
ia tidak tahu siapa yang akan tersisa.