Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02 : Mimpi terasa nyata
Ainur berada di ruangan temaram bercahayakan lampu obor. Napasnya sesak, tempat ini lembab, pengap dan berdinding tanah.
“Dimana aku?” suaranya memantul, membuat badannya tersentak dan bulu kuduk meremang. Dia tidak berani membuka mulut, berakhir membatin.
‘Tempat apa ini? Kenapa tidak ada ventilasi udara?’ Langkah kakinya gamang, telapak tangan meraba tanah keras meninggalkan bekas pada telapak tangan.
Ainur memicingkan mata, di persimpangan lorong terdapat lampu ublik menyala redup, ada sebuah pintu terbuat dari kayu berserabut kasar.
Pelan, penuh kewaspadaan sampai dia dapat mendengar deru napas dan detak jantungnya sendiri – Ainur mendekati pintu dengan tanda silang merah.
‘Bau anyir, darah kah?’ Jari telunjuknya mencolek garis merah itu, lalu diusapkan pada ibu jari dan diciumnya. ‘Benar, ini bau amis.’
Entah kenapa, Ainur sangat berkeinginan membuka pintu tersebut, dia menempelkan telinganya pada papan, mencoba mencuri dengar sebagai petunjuk.
“Ibu tolong! Tolong ibu! Hiks hiks ….”
Ainur tersentak, seketika tubuhnya kaku, napas terhenti dan perasaannya langsung tak menentu, hati bergejolak.
Pintu tanpa handle dia dorong kuat, tapi tidak berhasil membuat celah.
“Tolong ibu! Tolong!”
Tiba-tiba air matanya menetes dengan sendirinya kala mendengar suara anak kecil merintih kesakitan. “Tunggu sebentar, nak! Ibu sedang berusaha membuka pintunya.”
Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa dia sadari. Lebih sibuk berusaha mendobrak, pikirannya tertuju pada rintihan meminta pertolongan.
“Kok ndak bisa?!” ia tak sabaran, lengan dan samping tubuh sebelah kanan dihantamkan pada daun pintu, tetap tidak berhasil.
Ainur melangkah cepat ke lorong sebelah kiri, mencari sesuatu untuk dijadikan alat membuka daun pintu.
Matanya berkilat senang saat melihat sekop berlumpur disandarkan pada dinding tanah. Tanpa ragu, tidak juga takut – alat itu dia genggam dan kembali ke tempat tadi.
“Loh … mana pintunya?” kalimatnya bergema, tubuh bergeming. Dia ingat betul jika posisinya berdiri ini berhadapan dengan pintu tadi.
Namun hanya ada dinding tanah tanpa penerangan lampu ublik, cuma bias cahaya dari obor di ujung lorong.
Netra Ainur bergetar, badannya bergerak ke segala arah tanpa berpindah posisi – tidak ada siapapun. Cuma lorong berliku-liku diterangi cahaya lampu obor pada kedua sisi dinding tanah liat.
Tubuh tanpa mengenakan baju cuma sehelai kain jarik mencapai betis itu menegang, angin lembut menerpa bulu-bulu halus pada tengkuk. Ujung mata Ainur menangkap bayangan hitam menuju ke arahnya.
Dalam satu gerakan ia berbalik cepat ….
HAH!!
Ainur terjaga, dan langsung terduduk. Ia memperhatikan tubuhnya yang masih mengenakan pakaian tidur.
"Aku cuma mimpi, tapi kenapa seperti nyata? Siapa sebenarnya bayangan hitam yang merengkuhku tadi?” gumamnya pelan, ia kembali mengingat sebuah bayangan mendekap erat, membuat dirinya terkejut bukan main.
Akhh!
Tubuh Ainur tersentak, nyaris saja dia kembali berteriak lantang. “Mbak Neneng sejak kapan disitu?”
Mbak Neneng, sering di sapa mbak Neng – menuliskan sesuatu pada kertas yang dikalungkan di leher, pena diikat tali rafia.
“Baru saja nyonya Inur.”
Ainur menghela napas panjang. Dia tidak suka kata nyonya, sudah lelah menegur, meminta dipanggil nama, tapi tak indahkan. Mbak Neneng tetap memanggil nyonya Inur.
“Ada apa, mbak?”
Pena kembali menari diatas kertas, lalu ditunjukkan pada sang majikan muda. “Diluar ada orang tua nyonya Inur, mereka datang berkunjung.”
“Terima kasih nggeh, mbak. Aku tak cuci muka lanjut salin (ganti) baju.”
Wanita mengenakan kemeja kancing samping lengan sesiku polos, longgar, bawahan jarik sebetis tanpa memakai alas kaki itu mengangguk sopan, lalu keluar dari dalam kamar.
Ainur memperhatikan gerakan luwes sang pelayan yang katanya sudah bekerja selama sepuluh tahun, sebelum dia menjadi menantu keluarga Tukiran.
Mba Neneng melebihi standar umum pelayan yang rata-rata dari kalangan rakyat kasta bawah – kulitnya bersih, gesture tubuh halus, gerakan anggun, dan memiliki kecantikan khas wanita Jawa – manis, berkulit eksotis kadang cenderung kuning langsat kalau dia tidak sedang bekerja menjemur gabah di halaman lumbung padi belakang rumah.
Terkadang Ainur merasa ada yang aneh pada pelayan tidak bisa berbicara itu – sorot mata mba Neng selalu sama, datar. Pernah beberapa kali dia kejutkan, tetap tidak berubah. Seperti raga kosong tanpa jiwa kehidupan.
Heuheuu ….
Ainur menghela napas panjang, dia menggelengkan kepala guna mengembalikan fokusnya.
Kemudian beranjak dari pembaringan, pergi ke kamar mandi yang masih satu ruangan.
***
“Bagaimana kabarmu, nduk?” sapa wanita anggun bernama Warti, ibunya Ainur. Dia mengenakan kebaya polos bawahan kain jarik berwarna kuning telur, rambut disanggul rapi, ada kuncup bunga Melati pada sisir konde menahan gelungan.
“Sae (baik), bu.” Inur mencium punggung tangan sang ibu yang duduk di sofa ruang tamu luas, lalu dia memilih duduk diseberangnya.
Warti mengangguk, tersenyum lembut. Gerakan tangannya begitu anggun saat meraih tangkai cangkir porselen, sebelum meneguk teh, terlebih dahulu mencium aromanya, bunga melati.
“Tadi suamimu datang ke rumah, mengatakan kalau kamu berhalusinasi lagi. Mau sampai kapan dirimu mempercayai jika sedang mengandung, Inur?” suaranya lembut, tapi terdapat nada menegur dibalik ekspresi tenang.
Inur menunduk, tidak berani memandang sang ibu, kakak kandungnya, dan ibu mertuanya. Kedua tangan saling meremas. “Maaf, Bu.”
Semua terdiam, sama-sama menghela napas pelan. Memandang prihatin pada wanita yang perlahan bobot tubuhnya menyusut.
“Ayo mbak periksa, Inur.” Dayanti, kakak kandungnya Inur mengajak sang adik ke kamar tamu. Dia seorang bidan, bertugas di puskesmas kelurahan Tugu Ireng, satu profesi dengan kakak iparnya Ainur.
Ainur menurut, mengikuti langkah kakaknya. Saat sudah masuk ke dalam kamar cukup luas, lengkap dengan satu set tempat tidur – Inur berbaring di atas ranjang bertilam empuk.
Dayanti mengeluarkan tas kerjanya. Mengambil alat tensimeter manual, lalu mulai mengukur tekanan darah sang adik.
“Kurangi berpikiran berat, dek! Tensi darahmu rendah. Pola tidur dijaga – jangan seperti Kalong, malam begadang siang hari terlelap. Meskipun keluarga mertuamu baik, tak lantas dirimu bisa bersikap sesuka hati. Ingat, sekarang statusmu seorang istri, sudah memiliki kewajiban melayani suami, bukan malah sebaliknya.” Yanti menegur lembut sang adik sembari melepas alat tensi darah.
“Nggeh, mbak.” Inur berusaha mau duduk, tapi dicegah.
“Tunggu sebentar. Mbak suntik hormon dulu biar kamu segera menstruasi lagi!”
“Tapi, mbak ….”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??