Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Anjing Dari Awan Hitam
Malam itu,
atmosfer neraka terasa berbeda. Lidah api yang biasanya menjilat angkasa dengan ganas kini merunduk, seolah memberi ruang bagi sebuah presensi baru yang asing.
Di sana, di tengah remang bara yang abadi, sesuatu telah lahir. sebuah anugerah yang sekaligus menjadi anomali, sesuatu yang bahkan hukum alam bawah tanah pun belum sempat pelajari.
Di dekapan hangat Jover, Cloudet kecil tampak begitu ringkih. Tubuhnya seolah-olah hanya susunan cahaya dan debu yang bisa tertiup angin kapan saja. Ia bukan sekadar anak, ia adalah jembatan antara dua dunia yang terus bergejolak di dalam darahnya.
Kadang, ia tampak seperti anak kecil berumur sekitar enam sampai 7 tahun dengan rambut hitam halus panjang sepunggung tubuhnya. Rambutnya menutupi wajahnya yang mungil, namun sedetik kemudian, ketakutan mengubahnya menjadi seekor anak hellhound kecil dengan telinga jatuh dan cakar yang masih lunak.
Jover, pria dengan karisma yang menakutkan namun tatapan yang penuh duka, berdiri mematung. Jubah cokelatnya berkibar pelan, kontras dengan pakaian serba hitam yang ia kenakan. Matanya yang kuning keemasan menatap nanar pada jasad seekor hellhound putih raksasa yang terbaring kaku di kejauhan. Itu adalah sebuah perpisahan yang bisu, sebuah harga mahal yang harus dibayar demi nyawa kecil di pelukannya.
Ketakutan di Ambang Pintu Obsidian
Setiap dentuman energi di kejauhan atau deru angin neraka membuat Cloudet tersentak. Tubuhnya terus berubah-ubah wujud, sebuah mekanisme pertahanan yang belum sempurna. Suara-suara kecil keluar dari tenggorokannya—ringkihan yang begitu menyayat hati, murni merupakan ekspresi dari jiwa yang tersesat.
"Ayah di sini," bisik Jover.
Suaranya yang biasanya memerintah kini melembut drastis. Ia mendekap Cloudet lebih erat, seolah-olah tangannya yang penuh bekas luka bisa menjadi benteng yang tak tertembus.
Namun bagi Cloudet, konsep 'aman' adalah teka-teki. Yang ia kenal hanyalah bau amis darah yang mengering dan sisa-sisa aroma ibunya yang telah sirna—aroma yang tak pernah ia lihat wajahnya, namun denyut jantungnya masih terekam di ingatan seluler sang anak.
Beberapa saat kemudian,
Mereka berhenti di depan gerbang obsidian yang megah. Ini adalah wilayah Calona, istri Jover yang lain. Aura di tempat ini berbeda, lebih padat, lebih gelap, dan sedikit mengintimidasi bagi makhluk sekecil Cloudet.
Pintu terbuka dengan suara berat. Calona berdiri di sana, anggun sekaligus tajam. Sebagai ratu di wilayahnya, matanya langsung mengenali ketidakmurnian di depan matanya
“Dia—" kalimatnya menggantung, penuh penilaian.
"Ibunya tidak selamat," Jover memotong dengan nada yang tak menerima bantahan.
“Ini Cloudet."
Di belakang Calona, sebuah bayangan besar bergerak maju. Calix. Putra Jover yang sudah tumbuh menjadi pria tampan yang sempurna. Sosoknya tinggi, dengan aura dingin yang mampu membekukan api. Saat mata kuning Calix tertuju pada Cloudet, sang bayi merasakan guncangan hebat.
Cloudet berubah seketika. Rambut manusianya hilang, berganti menjadi bulu hitam pekat yang halus. Ia meringkuk menjadi bola bulu kecil di dada ayahnya, ekor pendeknya terjepit di antara kaki belakangnya.
“Whiiiing”
Suara itu kecil, namun bergema di lorong sunyi tersebut. Cloudet membenamkan moncong kecilnya ke pakaian Jover, berusaha menghilang dari pandangan Calix yang mengintimidasi.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Calix tidak menunjukkan kemarahan. Ia melihat getaran hebat pada tubuh kecil itu, sebuah kerapuhan yang belum pernah ia lihat di tempat kejam seperti ini.
Calix melangkah maju, namun kali ini ia merendahkan tubuhnya, berusaha menyamakan tinggi matanya dengan Cloudet agar tidak terlihat mengancam. Aura dinginnya perlahan menipis.
"Ayah," suara Calix yang biasanya parau kini terdengar lebih terkontrol,
“Dia gemetar."
Cloudet, dengan satu mata kuning kecil yang mengintip malu-malu, menatap Calix. Ada rasa takut yang luar biasa, namun terselip rasa ingin tahu yang polos. Calix mengulurkan jemarinya—jari yang biasanya memegang senjata—dan berhenti tepat beberapa inci di depan Cloudet. Ia tidak menyentuh, hanya memberikan ruang bagi Cloudet untuk mengenalinya.
"Aku tidak akan menyakitimu," bisik Calix.
Kata-kata itu mungkin belum dipahami oleh Cloudet secara bahasa, namun getaran tulus di baliknya berhasil menembus ketakutannya.
Bersambung