NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Dari Orang Jahat

Di dalam mobil, hening menekan dada.

Lampu kota berkelebat di kaca jendela, sementara Ririn duduk kaku, napasnya belum juga kembali normal. Bibirnya masih terasa panas, pikirannya kacau, dadanya naik turun tak beraturan.

Tiba-tiba Plak!

Tamparan itu mendarat begitu saja di pipi Baskara.

“Kurang ajar!” teriak Ririn, suaranya pecah antara marah dan gemetar.

Baskara hanya sedikit menoleh, tangannya tetap stabil di setir tidak marah tidak kaget hanya menarik napas pelan.

“Nanti kita bicarakan di apartemen,” katanya tenang, seolah baru saja membahas urusan kantor.

Ririn ingin berteriak lagi, tapi tenggorokannya terkunci. Mobil terus melaju, membawa mereka ke tempat yang kini terasa asing dan menakutkan.

Begitu pintu apartemen tertutup, Baskara langsung bicara, tanpa basa-basi tanpa nada lembut.

“Kamu mau rumah orang tua mu kembali?”

Ririn menoleh cepat, matanya membelalak.

“Apa maksud anda?”

“Ini tawaran,” kata Baskara santai dia melepas jasnya, menggantungnya rapi, seolah situasi ini benar-benar bisnis.

“Nikah sama aku selama satu tahun, rumah itu aku pastikan kembali jadi milik kamu,”

Ririn mundur satu langkah dia semakin ngeri melihat Baskara.

“Untuk apa semua ini?” suaranya lirih, bingung, takut.

“Balas dendam,” jawab Baskara ringan, tapi matanya dingin. “Ke nenekku.”

Ririn bergidik tatapan itu bukan tatapan Baskara yang dia kenal.

“Ini nggak perlu, Pak,” katanya cepat, hampir memohon.

“Perlu,” potong Baskara. “Ini caraku mengingatkan, dulu anaknya diusir karena menikahi gadis miskin. Sekarang cucunya melakukan hal yang sama.”

Ririn menelan ludah masih tak mengerti dengan jalan pikiran Baskara.

“Tapi, aku nggak butuh itu pak,” ungkap Ririn tegas.

"Kamu butuh, kamu nggak punya siapa-siapa,"

Ririn menatapnya tak percaya.

"Aku nggak memang miskin pak, tapi aku nggak jual harga diri ku,"

"Ayo lah Ririn, kamu nggak usah naif kamu itu miskin,"

"Aku nggak miskin, aku cuman bangkrut," Ririn berteriak memukul dada Baskara berkali-kali.

“Itu sama aja,” lanjut Baskara dingin.

Hening kembali Baskara mendekap tubuh Ririn.

“Jadi,” kata Baskara akhirnya, wajahnya semakin mendekat, “kamu mau nggak nikah sama aku?”

Ririn memalingkan wajahnya air matanya terus mengalir.

“Aku, aku bingung, aku nggak tau.”

Alis Baskara terangkat.

“Emang kamu nggak tertarik sama sekali sama aku, ya? Sampai harus dipikir-pikir segala?”

Ririn mendengus pendek, berusaha menahan gemetar.

“Kamu orang yang jahat. Saya harus mikirin keselamatan nyawa saya.”

Baskara tertawa kecil, tapi tak ada hangat di sana.

“Hah? Saya orang jahat menurut kamu?”

Ririn mengangguk mantap.

“Iya.”

Tatapan mereka saling terkunci untuk pertama kalinya malam itu,Baskara terdiam.

Baskara Mendekatkan wajahnya Ririn coba menghindar namun, ciuman itu mendarat tepat di bibirnya.

Tubuh Ririn menegang namun, berlahan Ririn mulai pasrah menyerahkan seluruh kendali pada Baskara.

Ciuman itu mengalir penuh hasrat.

------------‐------------------------------------------------

Setelah kejadian malam itu, kantor berubah seperti sarang lebah yang terus berdengung.

Ririn baru melangkah masuk saja sudah bisa merasakan tatapan orang yang penasaran, ada yang sinis, ada yang terang-terangan menilai. Bisik-bisik tidak lagi disembunyikan.

“Itu dia ya,”

“Asistennya Pak Baskara,”

“Pantesan,”

Ririn menunduk, berjalan cepat ke mejanya. Tangannya dingin, perutnya melilit.

Belum sempat menyalakan komputer, Dewi sudah berdiri di sampingnya dengan wajah tegang. Tiba-tiba Anggie ada di kontor itu, melipat tangan di dada.

“Rin,” kata Dewi, suaranya ditekan tapi tajam. “Kamu itu jahat, lho.”

Ririn mendongak, kaget menatap mereka berdua secara bergantian.

“Hah?”

“Itu acara pertunangan,” lanjut Dewi. “Cara yang kamu dan Pak Baskara lakuin itu kejam. Neneknya sampai masuk ICU.”

Ririn tercekat semua itu di luar kendalinya, dia juga sebetulnya korba.

“Masuk ICU?”

Anggie mendecak. “Lu katanya nggak mau, tapi tetep aja embat tunangan orang.”

Ririn langsung berdiri.

“Bukan begitu! Itu ulah bos gue! Gue juga kaget, gue nggak tau apa-apa!” Ririn coba meyakinkan Anggie agar percaya ucapannya.

Dewi menggeleng pelan.

“Rin, kamu pikir kita bodoh?” Ucap Anggie nadanya makin dingin.

“Mana ada bos mau bayarin apartemen semahal itu kalau nggak ada imbalan apa-apa.” sambung Dewi Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan siapa pun Ririn menatap Anggie lama dadanya sesak.

“Jadi, kalian juga mikir gitu?” suara Ririn bergetar.

Hening tak ada yang menyangkal Ririn tertawa kecil, getir.

“Gue kerja setahun, lembur, ngurusin hidup dia, ngurus kantor, ngurus apartemen, tapi di mata kalian gue cewek murahan, gitu?”

Anggie menarik napas.

“Kita cuma," kata-kata Anggie menggantung.

“Cuma apa?” potong Ririn suaranya bergetar. “Cuma nyalahin gue karena paling lemah,”

Anggie mengalihkan pandangan.

“Faktanya kamu merusak acara pertunangan orang Rin,"

"Ooh cuman aku, Kak Dewi berani nggak ngomong kaya gini ke bos kak Dewi," Kata-kata itu menutup semua percakapan itu. Ririn duduk kembali perlahan, tangannya gemetar di atas meja.

“Oke,” katanya pelan. “Kalau gitu anggap aja gue yamg jahat.”

Tak ada yang mempercayainya, saat dia menunduk tak ada yang menepuk bahunya tak ada yang berkata gue percaya sama lu untuk pertama kalinya sejak bekerja di sana,

Ririn benar-benar merasa sendirian bukan karena gosip bukan karena Baskara tapi karena bahkan orang-orang yang dia anggap rumah

memilih percaya pada cerita dibanding dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!