“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Sshhh... sudah ya, Lio? Lihat Kak Aya. Kalau nangis terus, nanti air matanya habis. Pahlawan itu nggak boleh kehabisan stok air mata cuma buat kertas yang sudah rusak."
Cahaya duduk di pinggir kasur Elio, memeluk erat tubuh kecil yang masih gemetar hebat karena sisa tangis.
Elio menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Cahaya, tangannya meremas kaus gadis itu kuat-kuat, seolah takut kalau pegangannya lepas, dia akan tenggelam dalam sedihnya sendiri.
"Gambar itu, Lio buatnya lama banget, Kak," isak Elio serak. "Lio pilih warna kuning yang paling cerah untuk mahkota daddy, biar daddy kelihatan hebat. Tapi daddy malah siram pakai kopi. Daddy... daddy beneran nggak mau lihat gambar Lio, ya?"
Cahaya memejamkan mata rapat-rapat, dadanya terasa nyeri seperti dihantam benda tumpul. Rasanya dia ingin sekali lari ke bawah dan melempar muka Jeremy dengan baki kalau saja dia tidak ingat Elio sedang membutuhkannya sekarang.
"Bukan nggak mau lihat, Sayang. Daddy itu... hatinya lagi sakit," bisik Cahaya sambil terus mengusap punggung Elio. "Orang kalau hatinya lagi sakit, kadang matanya jadi buta. Dia nggak bisa lihat hal-hal indah yang ada di depan hidungnya sendiri. Tapi itu bukan salah Lio. Sama sekali bukan salah Lio, oke?"
"Kenapa daddy galak banget? Apa karena Lio nakal?"
"Lio nggak nakal. Lio itu anak paling pinter dan paling baik yang pernah Kak Aya kenal." Cahaya merenggangkan pelukannya, menangkup pipi Elio yang basah dan merah dengan kedua tangannya.
"Dengarkan Kak Aya. Kertasnya boleh rusak, tapi gambar di hati Lio nggak akan pernah hilang. Dan Kak Aya sudah lihat gambarnya. Bagus banget. Buat Kak Aya, itu karya seni paling keren di dunia."
Elio menatap Cahaya dengan mata merah yang redup. "Benarkah?"
"Iya, Sayang. Nanti kita gambar lagi yang lebih gede, oke? Tapi kali ini kita simpan di kamar ini aja. Kita bikin galeri rahasia yang cuma boleh dilihat sama orang-orang yang hatinya nggak sombong," ucap Cahaya lembut, lalu mengecup kening Elio lama.
Sementara itu di lantai bawah, ruang makan terasa seperti kuburan.
Sunyi, dingin, dan menyesakkan.
Jeremy
masih duduk di kursinya, mematung menatap meja yang sudah dibersihkan Martha. Tapi Martha sengaja meninggalkan kertas gambar yang sobek dan basah itu tepat di depan Jeremy.
Jeremy meraih kertas itu dengan ujung jarinya. Warna krayonnya sudah luntur, bercampur dengan noda kopi hitam. Mahkota kuning itu, kini jadi kotor. Persis seperti bayangannya tentang dirinya sendiri saat ini.
"Tuan..." suara Martha terdengar pelan di belakangnya.
"Pergi, Martha. Aku mau sendiri," usir Jeremy.
"Tuan Muda Elio tidak mau makan. Dia bilang perutnya sakit karena kebanyakan menangis," ujar Martha berani, meski dia tahu Jeremy bisa saja memecatnya. "Dan nona Cahaya, dia sedang menemani Elio sampai tidur. Saya belum pernah lihat nona Cahaya sediam itu, Tuan. Dia tidak memaki anda lagi. Dia malah bersikap seolah-olah anda sudah tidak ada di rumah ini."
Jeremy meremas kertas itu pelan, lalu melepaskannya lagi. "Aku hanya sedang pusing, Martha. Saham itu anjlok dan—"
"Saham bisa dipikirkan besok pagi, Tuan. Tapi hati anak kecil? Kalau sudah hancur, mau pakai uang sebanyak apa pun tidak akan bisa kembali utuh. Nyonya Stella dulu pernah bilang kalau Elio itu permata paling rapuh. Sayangnya, Tuan justru orang yang paling sering membuat permata itu retak."
Setelah Martha pergi, Jeremy menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap langit-langit.
Kata-kata Cahaya tadi benar-benar menghantam telaknya: “Om nggak pantas dipanggil Daddy.”
Setitik air mata jatuh dari sudut mata pria yang biasanya tak punya rasa itu. Dia bangun, melangkah gontai menuju kamar Elio.
Dia berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam, lampu kamar sudah redup. Jeremy melihat Cahaya duduk bersandar di kepala ranjang dengan Elio yang sudah pulas di pelukannya.
Cahaya sedang menyanyi lirih, sebuah lagu nina bobo yang nadanya terasa sangat sedih sekaligus menenangkan.
"Tidurlah sayang... ada Kak Aya di sini..."
Jeremy ingin masuk. Dia ingin duduk di pinggir kasur itu, memegang tangan kecil Elio, dan minta maaf sampai pagi.
Tapi, begitu dia melihat tatapan Cahaya yang kosong dan dingin ke arah jendela, Jeremy sadar dia sudah kehilangan tempatnya malam ini.
"Ngapain dia kesini! Dasar manusia berhati batu!" maki Cahaya dalam hati. Cahaya tahu ada orang di pintu. Dia melirik sekilas, melihat bayangan Jeremy. Tapi dia tidak bereaksi apa-apa.
Tidak ada kalimat makian, tidak ada teriakan. Cahaya hanya menatap Jeremy dengan tatapan datar, seolah pria itu hanyalah benda mati yang tidak penting.
Dia kembali memalingkan wajah, memeluk Elio lebih erat, dan lanjut menyanyi.
Jeremy mundur pelan-pelan, menutup pintu itu dengan rasa sesak yang luar biasa.
Malam itu, Monster Milan itu sadar, kekayaan dan kekuasaannya ternyata tidak bisa beli satu kata maaf dari anak dan gadis yang sekarang justru jadi dunia Elio.
"Maafin Kak Aya ya, Lio. Kak Aya belum bisa buat papa kamu jadi papa yang baik. Tapi Kak Aya janji, Kak Aya nggak akan biarin kamu merasa sendirian lagi."
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭