Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Suami Istri SIRI
"Apa, Hazel tahu tentang pernikahan siri Bryant?" tanya Angkasa serius.
"Tidak. Hanya saja cepat atau lambat pasti akan tahu kebenaran ini, dan untuk itu perceraian harus segera terjadi." jawab Alkan, membuat Bella dan Angkasa bernafas lega.
"Jadi, sekarang apa rencanamu?" tanya Angkasa menghadirkan smirk diwajah Alkan.
Alkan menjelaskan semua rencananya secara rinci pada kakak dan kakak iparnya. Sementara Bryant, Araa dan Muel baru saja memasuki pintu utama villa. Ruangan tamu bertema laut menyambut kedatangan tuan rumahnya.
"Bro, aku ke kamar dulu. Oh iya, sebaiknya kita ke rumah sakit nanti malam saja." pamit Muel melenggang kan kakinya menjauhi Bryant, membuat pria sang sahabat yang sibuk memeriksa ponsel seraya berhenti di tengah ruangan hanya mengacungkan jempol.
Sedangkan, Ara yang berdiri di belakang Bryant terdiam di tempat dengan kedua tangannya saling meremaz. Ingin rasanya bertanya dimana kamar mandi berada, tapi melihat kesibukan sang suami siri. Menciutkan nyali, dan niat hati wanita itu.
Ara mengangkat tangan bersiap menyentuh pundak Bryant. Di saat bersamaan, pria itu berbalik, membuat Araa terkejut dan spontan melangkah mundur. Akan tetapi berakhir tersandung kakinya sendiri. Alhasil tubuhnya limbung ke belakang.
Melihat itu, Bryant langsung menangkap tangan Ara seraya menarik sang istri siri. Hingga tubuh wanita itu menabrak dada bidangnya dengan pelukan erat.
"Are you okay?" bisik Bryant, membuat Ara melepaskan pelukannya.
"Tuan, dimana kamar mandi?" tanya Ara pelan dengan wajah menunduk, dan tangan merem@s gaunnya.
Bryant tersenyum tipis karena sikap Ara masih polos, dan menggemaskan. Wajah manis wanita itu seperti anak kecil. Ntah kenapa tiba-tiba saja hatinya tergugah untuk melindungi. Hanya saja kesadaran seorang Bryant masih ada yaitu Hazel adalah istri sah dan pemilik separuh hatinya.
"Ayo, aku antar ke kamarmu!" ajak Bryant seraya berbalik, lalu melangkahkan kakinya menuju tangga tengah di depan sana yang berjarak lima belas meter dari ruangan tamu.
Ara hanya mengikuti jejak langkah Bryant dengan pandangan menunduk. Sesekali melirik ke depan menatap punggung sang suami siri. Tanpa keduanya sadari. Dari arah taman, Muel mengawasi interaksi sang sahabat bersama istri sirinya agar memahami situasi saat ini.
"Aku harap kamu bahagia, Bry. Entah kenapa melihat kalian berdua. Rasanya aku tenang, dan jika boleh jujur. Ara lebih baik dibandingkan istri sahmu Hazel." Muel menggeser pintu kaca di depannya, lalu masuk ke dalam rumah.
Bryant memutar knop pintu kamar sisi utara, lalu mendorong perlahan-lahan. "Masuklah! Ini kamarmu, dan itu kamarku. Datanglah kepadaku jika kamu membutuhkan apapun! Paham 'kan?"
Ara mendongak menatap Bryant tidak percaya. Bagaimana bisa pria yang mengharapkan anak darinya. Justru memberikan kamar terpisah. Bukankah lebih baik tinggal dalam satu kamar?
Seakan mengerti dengan isi pikiran Ara, membuat Bryant menarik nafas dalam seraya mengangkat tangannya mengusap kepala sang istri siri. "Tenanglah! Aku janji tidak akan menyentuhmu tanpa seizin mu. Maafkan aku karena merenggut mahkota kehormatanmu. Andai waktu bisa ku ulang, aku memilih tidak mabuk malam itu....,"
"Tuan, apapun yang terjadi pada malam itu, aku sudah ikhlas. Mungkin ini takdir hidupku, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?" Araa menatap Bryant lebih dalam, dan anggukan Bryant memberikan izin dirinya untuk melanjutkan ucapannya. "Siapa itu Hazel? Apakah dia kekasih Anda?"
Pertanyaan Ara mengubah ekspresi wajah Bryant menjadi datar. Tatapan menyelidiki dilayangkan pria itu, membuat Ara memutuskan kontak mata keduanya dengan menundukkan kepala. Namun, sebuah tangan meraih dagu Ara. Hingga tatapan mata kembali terpaut satu sama lain.
"Darimana kamu tahu tentang Hazel?" tanya balik Bryant dingin.
Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengatakan jika malam pertama kami atas nama wanita lain, bukannya cinta. Apakah aku harus jujur? Tidak! Lebih baik aku simpan kebenaran ini hingga nafas terakhir ku. Mungkin saja Hazel adalah kekasih Tuan Bryant. ~ batin Ara.
"Maaf, Tuan. Aku hanya....,"
Sukses bwt karyanya