Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Motor besar Nicholas berhenti dengan mulus tepat di depan pagar rumah. Amara segera turun, melepas helm dengan gerakan sedikit terburu-buru, berusaha menyembunyikan rona merah yang masih tersisa di pipinya akibat kejadian di restoran ramen tadi.
Nicholas tetap di atas motornya, mematikan mesin, lalu menatap Amara yang tampak sibuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm.
"Kak, makasih ya udah dianter," ucap Amara tanpa berani menatap mata Nicholas langsung. "Dan... soal di mall tadi, nggak usah dengerin omongan Bunda ya. Bunda emang gitu orangnya, suka berlebihan kalau liat temen Bang Ryan yang sopan dikit. Anggap aja angin lalu."
Nicholas menaikkan sebelah alisnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan makna. "Angin lalu? Tapi gue nggak merasa itu berlebihan, Ra. Gue rasa Bunda lo cuma punya insting yang bagus."
"Kak Nick!" Amara melotot, memberikan tatapan peringatan yang justru terlihat menggemaskan di mata Nick.
Serangan Tak Terduga dari Sang Abang
Belum sempat Nicholas membalas, pintu depan rumah terbuka lebar. Ryan muncul dengan kaos oblong dan celana pendek, memegang sebuah stik PS di tangannya. Begitu melihat adiknya turun dari motor Nicholas, seringai jahil langsung terbit di wajahnya.
"Wih, wih, wih! Angin apa nih yang bawa Tuan Putri pulang bareng Pengawal Teknik?" seru Ryan dengan nada yang dibuat-buat. "Bukannya kemarin ada yang bilang 'Jangan muncul di depan aku buat beberapa hari ini', ya?"
Amara tersentak. Ia menoleh ke arah Ryan dengan wajah yang kini benar-benar panas. "Apaan sih, Abang! Tadi itu ketemu Bunda di mall, terus Bunda yang minta Kak Nick anterin aku pulang karena Bunda mau mampir ke rumah Tante Sari!"
Ryan melangkah turun ke teras, bersandar pada pilar sambil melipat tangan di dada. Matanya melirik Nicholas yang hanya diam dengan wajah datar andalannya. "Oh, jadi udah dapet restu dari Kanjeng Ratu, nih? Gercep juga lo, Nick. Pake jurus apa lo di mall tadi?"
Nicholas hanya terkekeh rendah. "Nggak pake jurus apa-apa. Cuma jagain adek lo biar nggak belepotan pas makan ramen."
Mendengar kata 'belepotan', Amara merasa ingin menghilang dari muka bumi. Kejadian Nicholas mengelap bibirnya tadi kembali terbayang dengan sangat jelas.
"Abang sama Bunda itu sama! Sama-sama nggak jelas!" teriak Amara frustrasi. Ia menyambar tasnya dari tangan Nicholas, memberikan satu lirikan tajam pada kedua pria itu, lalu berlari masuk ke dalam rumah. "Dah, Kak Nick! Makasih!"
Brak!
Suara pintu depan yang tertutup keras menandakan Amara sudah mengunci diri di zona amannya.
Ryan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi adiknya. Ia kemudian berjalan mendekati pagar, berdiri di samping motor Nicholas.
"Sori ya, adek gue emang lagi sensi. Efek stres UTBK kayaknya," ucap Ryan sambil menawarkan rokok pada Nick, yang ditolak Nick dengan isyarat tangan.
"Nggak apa-apa. Gue malah seneng liat dia bisa marah lagi. Kemarin pas dia diem, rasanya dunia jadi horor," sahut Nick jujur.
Ryan terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu dengan serius. "Nick, gue serius tanya. Lo beneran mau berubah buat dia? Gue liat tadi lo nggak maksa dia, lo bahkan manggil dia Amara, bukan Ifa."
Nicholas menghela napas, menatap pintu rumah yang tertutup rapat. "Gue nggak punya pilihan, Yan. Gue hampir kehilangan dia karena ego gue sendiri. Sekarang gue sadar, ngejagain dia nggak harus dengan cara ngurung dia. Gue cuma mau dia tahu, kalau dia butuh sandaran, gue orang pertama yang dia liat."
Ryan menepuk bahu Nicholas kuat-kuat. "Bagus kalau lo sadar. Tapi inget, jangan bikin dia nangis lagi. Kalau dia nangis gara-gara lo lagi, bukan cuma dia yang bakal ngejauh, tapi gue juga yang bakal tendang lo dari tongkrongan Teknik."
"Gue pegang kata-kata lo," jawab Nick mantap.
Di dalam kamarnya, Amara menyandarkan punggungnya di balik pintu yang terkunci. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia memegang dadanya, mencoba menenangkan diri.
"Aneh... kenapa rasanya beda?" bisiknya pada diri sendiri.
Biasanya, kalau Nicholas bersikap posesif, Amara akan merasa marah dan tercekik. Tapi hari ini, saat Nicholas mengusap bibirnya di depan Bunda, atau saat Nicholas memanggilnya 'Amara' dengan nada yang sangat lembut, ia justru merasakan sesuatu yang hangat merayap di hatinya.
Ia berjalan menuju meja belajarnya, menatap tumpukan buku UTBK yang menanti untuk dipelajari. Namun, pandangannya justru tertuju pada sebuah foto kecil yang ia selipkan di sudut meja—foto dirinya saat kelas 10, memakai seragam yang sama dengan saat ia menolong seorang pria di halte dua tahun lalu.
Amara mengambil foto itu. Ia mulai membayangkan kembali malam yang gelap itu. Suara rintihan pria itu, tangannya yang gemetar saat menyetop mobil... dan sorot mata pria itu saat di rumah sakit.
"Jadi itu beneran kamu, Kak Nick?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba, ada notifikasi masuk di ponselnya.
Nicholas: Jangan begadang belajarnya. Kalo pusing, minum air putih yang banyak. Besok pagi gue jemput jam setengah tujuh. Jangan lewat gerbang belakang lagi, atau gue beneran bakal masuk ke kamar lo buat seret lo keluar.
Amara mendengus, namun kali ini ia tidak bisa menahan senyumnya. "Tetep aja ada ancamannya. Dasar red flag gagal insyaf."
Ia mengetik balasan singkat.
Amara: Jam tujuh kurang sepuluh. Jangan telat, atau aku berangkat bareng Daffa.
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai balasan masuk.
Nicholas: Berani bareng dia, gue beli motornya terus gue loakin. Jam setengah tujuh gue udah ada di depan pagar. Titik.
Amara tertawa kecil, membenamkan wajahnya di atas buku pelajaran. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa persiapan UTBK-nya tidak akan terasa membosankan karena ada "gangguan" yang mulai ia nikmati keberadaannya.