Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar mengendalikan diri
Langkah Samudera yang lebar dan berat menciptakan gema yang mengancam di sepanjang koridor. Matanya lurus menatap ke arah kantin, seolah-olah siap melahap siapa pun yang menghalangi jalannya. Namun, tepat sebelum ia mencapai pintu besar kantin, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dengan kuat.
"Sam, hentikan!"
Samudera tersentak dan menoleh dengan tatapan tajam, namun ia mendapati Amanda, pemilik yayasan sekaligus sahabat lamanya, berdiri dengan wajah cemas.
"Lepaskan, Amanda. Aku harus memberi pelajaran pada anak itu," desis Samudera dingin.
"Jangan sampai kau khilaf terhadap Farrel, Sam!" Amanda menahan posisi tubuhnya agar Samudera tidak melangkah lebih jauh. "Jika sampai amarahmu meledak-ledak di sana, mereka akan curiga padamu. Tidak ada sosok Paman yang super protektif seperti ini. Mereka akan mengira hubungan kalian lebih dari sekadar itu!"
Samudera terdiam. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan gejolak yang nyaris tak terkendali. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menata hatinya yang sudah seperti api membara. Kalimat Amanda ada benarnya, logika yang tadi sempat hilang kini perlahan kembali.
Amanda menatap Samudera lekat-lekat, suaranya melunak. "Kau mencintai Carmen... apakah benar begitu, Sam?"
Samudera tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kontak mata. Perlahan, ia mengangguk pelan. Sebuah pengakuan yang selama ini ia kunci rapat di balik label 'tanggung jawab'.
Melihat anggukan itu, Amanda tersenyum lebar. Secara refleks, ia memeluk Samudera singkat sebagai bentuk dukungan. "Selamat ya, Sam. Aku turut berbahagia. Rupanya Carmenita, putri dari Kak Rima, benar-benar bisa menaklukkan hatimu. Aku senang akhirnya kau terbebas dari masa lalumu yang kelam."
Amanda melepaskan pelukannya, lalu berbisik tepat di samping telinga Samudera, "Ya sudah, sebaiknya kita segera ke kantin sama-sama. Jaga sikapmu, Sam. Ini semua demi kebaikan Carmen, istrimu."
Di pojok kantin yang riuh, suasana terasa sangat canggung. Farrel masih berdiri di samping meja Carmen, sementara Carmen tampak memegang ujung kemeja Dara dengan erat, mencegah sahabatnya itu pergi.
"Dara, jangan pergi! Tetap di sini," bisik Carmen panik.
"Tapi Men, Kak Farrel mau bicara serius..." Dara merasa tidak enak hati.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kak Farrel. Tolong bawa kembali cokelatnya," ucap Carmen tegas, meski suaranya sedikit bergetar karena takut suaminya tiba-tiba muncul.
Tepat saat itu, suasana kantin mendadak sunyi. Aura dingin menyeruak masuk saat Samudera dan Amanda berjalan berdampingan menuju meja mereka. Samudera tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya, meski sorot matanya tetap tajam saat melihat kotak cokelat di atas meja.
"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Samudera dengan nada datar yang berwibawa.
Farrel segera menegakkan tubuhnya, memberi hormat pada sang dosen. "Eh, Pak Samudera. Maaf Pak, saya hanya ingin meminta maaf pada Carmen atas kesalahpahaman kemarin."
Samudera melirik kotak cokelat itu, lalu beralih menatap Carmen yang wajahnya sudah sepucat kertas. Ia teringat pesan Amanda untuk tetap berperan sebagai paman.
"Begitu ya?" Samudera menarik sudut bibirnya tipis, senyum yang terlihat lebih seperti peringatan. "Farrel, sebagai Ketua BEM, saya harap kamu bisa memberi contoh yang baik. Kantin adalah tempat makan, bukan tempat untuk melakukan drama yang bisa memicu gosip tidak jelas. Itu bisa mengganggu kenyamanan Carmen sebagai mahasiswi baru."
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu," jawab Farrel menciut.
"Ambil coklat mu. Jika ingin meminta maaf, cukup dengan kata-kata yang sopan. Carmen, habiskan makananmu dan segera kembali ke kelas," ujar Samudera dingin namun terkendali.
Carmen mengangguk cepat, tidak berani mendongak. Di bawah meja, tangannya masih gemetar. Ia tahu betul, ketenangan Samudera saat ini adalah ketenangan sebelum badai besar melanda saat mereka sampai di rumah nanti.
Carmen tidak menunggu dua kali. Ia segera menyambar tasnya dan bergegas pergi meninggalkan kantin tanpa menoleh lagi pada Farrel. Dara, meski bingung dengan ketegangan yang terjadi, langsung berlari menyusul sahabatnya itu.
Samudera berdiri tegak, memperhatikan punggung Carmen yang menjauh. Ada embusan napas lega yang keluar dari dadanya. Setidaknya untuk saat ini, Carmen berada dalam radius aman dari pengaruh pemuda itu.
Di sisi lain, Farrel masih mematung. Ia menatap kotak cokelatnya yang kini terasa tidak berharga. Hatinya mencelos, merasakan perih yang tak biasa akibat sikap dingin Carmen. Namun, di balik rasa sakit itu, otaknya mulai bekerja. Ia teringat betapa Carmen gemetar hebat saat Samudera datang tadi. Itu bukan getaran cinta, melainkan ketakutan.
Beberapa saat kemudian, di dalam ruang BEM yang sepi, Farrel menggebrak meja dengan tinjunya.
"Aku yakin Pak Samudera lah yang melarang Carmen dekat denganku. Sialan!" gumamnya dengan rahang mengeras. "Maunya apa sih Om nya Carmen itu? Protektifnya tidak masuk akal. Sungguh mencurigakan!"
.
.
Menjelang sore, suasana kampus sudah mulai lengang. Samudera membawa Carmen ke sebuah rumah sakit swasta untuk menemui Dokter Ridwan, spesialis kandungan kepercayaan keluarga. Carmen terus meremas jemarinya, merasa gugup setiap kali melirik perutnya yang masih rata.
Di dalam ruang periksa, aroma antiseptik yang khas menyambut mereka. Saat alat USG mulai menyentuh kulit perutnya yang dingin, Carmen menahan napas. Di layar monitor yang buram, muncul siluet kecil.
"Nah, lihat itu. Itu adalah janin Anda. Masih sebesar ibu jari, tapi detak jantungnya sangat kuat," ujar Dokter Ridwan ramah.
Samudera mendekat ke layar, matanya berkaca-kaca melihat kehidupan kecil yang merupakan darah dagingnya sendiri. Namun, kecemasan segera membayangi wajahnya. Ia teringat kejadian dua malam lalu, malam yang begitu intim namun mungkin berisiko.
"Dok, bagaimana kondisi ibu dan janinnya? Apakah... semuanya benar-benar aman?" tanya Samudera dengan nada yang sangat serius.
Dokter Ridwan tertawa kecil. "Janin dan ibunya baik-baik saja, Tuan. Memangnya kenapa? Sepertinya Anda begitu cemas sampai berkeringat dingin begini."
Samudera sedikit membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga dokter. Seketika, Dokter Ridwan tersenyum renyah dan mengangguk paham.
"Tidak jadi masalah jika di trimester pertama melakukan hubungan suami istri!" seru Dokter Ridwan dengan suara normal.
Carmen yang mendengar itu rasanya ingin menghilang dari muka bumi. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, menelan ludah dengan susah payah karena malu yang luar biasa.
"Yang terpenting, lakukan secara lembut dan hati-hati. Usahakan sel sp*rma tidak dikeluarkan di dalam rahim, karena itu bisa memicu kontraksi," lanjut Dokter Ridwan memberikan instruksi medis.
Samudera mengangguk dengan wajah sangat serius, seolah sedang mendengarkan kuliah paling krusial dalam hidupnya. Sementara Carmen membatin kesal, 'Ish... apa-apaan sih Mas Sam! Tanya-tanya soal begituan sama Dokter, kurang kerjaan sekali! Aku kan jadi malu!'
Setelah selesai dan mendapatkan vitamin yang dibutuhkan, Samudera membawa Carmen pulang. Hari sudah mulai gelap, dan lampu-lampu kota mulai menyala. Di dalam mobil yang sunyi, Carmen akhirnya tidak tahan untuk tidak memprotes.
"Om... ops... maksudku Mas Sam, kenapa tadi bertanya seperti itu sama Dokter?"
"Bertanya apa, Carmen? Aku tidak paham," jawab Samudera tenang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Ish, Mas jangan pura-pura tidak mengerti! Soal... itu!"
Mendengar nada kesal istrinya, Samudera perlahan mengarahkan mobilnya ke bahu jalan yang sepi dan menghentikan lajunya. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Carmen.
"Soal hubungan suami istri? Memangnya salah kalau aku bertanya seperti itu?" tanya Samudera dengan suara berat yang memenuhi ruang mobil.
"Eeehh... tidak sih, tapi... tapi kan memalukan!"
Tanpa aba-aba, Samudera mengulurkan tangan, mencangkup kedua pipi Carmen dengan lembut namun posesif. Sebelum Carmen sempat bereaksi, bibir Samudera sudah membungkam miliknya. Sebuah ciuman dalam yang menuntut dan penuh perasaan, membuat Carmen terkejut bukan main hingga jemarinya mencengkeram sabuk pengaman.
Saat tautan itu terlepas, napas Samudera tersengal di depan wajah Carmen. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata istrinya.
"Kau adalah istriku, wanita yang aku cintai. Dan sudah menjadi kewajibanmu melayaniku sebagai seorang istri," ucap Samudera dengan nada rendah yang mengintimidasi sekaligus menggoda. "Aku adalah pria normal dan sudah lama tidak pernah menjamah seorang wanita. Kau paham kan sampai di sini?"
Carmen hanya bisa menelan ludah, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia baru menyadari sepenuhnya risiko yang ia ambil. Menikah dengan pria yang sudah terlalu lama menduda, pria yang haus akan kasih sayang dan kini menaruh seluruh fokusnya hanya pada dirinya.
Bersambung...
thankyou thor /Pray//Pray//Pray//Heart//Heart//Heart/
ternyata diam diam mencintai Samudra
makasih kaka cerita nya, smoga sehat selalu dn tetap berkaya 🤗🥰😍❤️❤️❤️❤️
makasih ka El cerita nyaa, walaupun sempet esmosih tp om Sam berhasil bwt aq happy 🤭...meskipun bab nya pendek tp tidak mengurangi keindahan cerita nya kaa, aq suka buanngeeet 👍👍😍❤️❤️
novel ini membuktikan pikiran picik wanita pemuja pebinor
author dan reader sama saja
lihat pelakor dilaknat habis habisan sedangkan pebinor diperlakukan lembut
para pelakor dibinasakan dan pebinor bebas begitu saja (pikiran picik author tidak tega menghukum pebinor)
koment reader2 membuktikan wanita2 munafik
*ketika ada pelakor mereka akan koment laknat habis habisan giliran pebinor Farrel mereka tidak berani koment pedas, bahkan mereka membela kelakuan Farrel
lelaki pemuja pelakor itu lelaki munafik
wanita pemuka pebinor itu wanita munafik
dan novel karya author ini sangat membuktikan author nya pemuja pebinor
*pelakor dilaknat dan dibinasakan
*sedangkan Farrel jelas ikut andil dalam kejahatan itu bebas begitu saja
Thor selama kau melaknat pelakor tapi kau begitu lembut pada pebinor itu saja kau menunjukan sifat aslimu pemuja pebinor
dan pemuja pebinor dan pemuja pelamor itu adalah wanita atau lelaki jablay yang kesetiaan diragukan