NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kejujuran

Suara rekaman itu berhenti, namun dengingnya masih terasa memekakkan telinga di dalam kamar yang mendadak terasa sedingin es. Arya berdiri mematung di tengah ruangan, sementara Ria menatapnya dengan pandangan yang belum pernah Arya lihat sebelumnya—bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kekosongan yang amat dalam.

"Ria, dengarkan aku... audio itu, itu diambil di malam paling kelam dalam hidupku. Saat itu aku hanya mengenal benci dan ambisi," suara Arya bergetar hebat. Ia melangkah maju, namun Ria mundur satu langkah, menciptakan jarak yang terasa seperti jurang tak berdasar.

"Jangan mendekat, Mas," desis Ria. Suaranya rendah namun penuh luka. "Aku hanya ingin tahu... apakah setiap ciuman, setiap pelukan, dan setiap kata manis yang kau berikan setelah aku bangun dari koma... apakah itu semua juga bagian dari 'transaksi' untuk menebus rasa bersalah mu?"

"Bukan! Demi Tuhan, bukan!" Arya jatuh berlutut di depan Ria. Ia tidak lagi memedulikan harga dirinya sebagai seorang penguasa bisnis. "Awalnya memang benar, aku menikahi mu karena saham itu. Aku adalah pria brengsek yang tidak punya hati. Tapi Ria, saat aku melihatmu bertaruh nyawa di meja operasi... saat aku melihatmu hampir pergi selamanya karena perbuatanku... duniaku hancur."

Arya menatap Ria dengan mata yang memerah. "Aku tidak sedang menebus rasa bersalah dengan cinta. Aku mencintaimu karena aku sadar, tanpa dirimu, semua harta dan kekuasaan yang ku perjuangkan itu tidak ada harganya. Rekaman itu adalah sosok pria yang sudah ku bunuh di dalam diriku."

Ria melepaskan kalung berlian di lehernya dengan tangan gemetar. Ia menaruh perhiasan mahal itu di atas meja nakas dengan denting kecil yang terdengar menyakitkan.

"Kau bilang kau sudah membunuh pria itu, Mas. Tapi pria itu tetap ada di sana, di masa laluku. Dia adalah alasan kenapa aku harus menanggung lebam selama bertahun-tahun, alasan kenapa aku merasa tidak berharga, dan alasan kenapa aku hampir menyerah pada hidup," ucap Ria parau.

"Kau memberikan kebebasan padaku di kantor, kau memberikan dukungan padaku untuk bangkit... tapi ternyata pondasi dari semua ini adalah kebohongan yang sangat menjijikkan. Kau membeliku dari ayahku seperti membeli budak."

Ria menarik napas panjang, mencoba menghentikan isak tangis yang menyesakkan dadanya. "Tante Soraya menang, Mas. Dia berhasil menunjukkan padaku bahwa di matamu, aku pernah tidak lebih berharga dari selembar kertas saham."

Arya berusaha meraih ujung piyama Ria, memohon. "Ria, hukum aku. Benci aku sejauh yang kau mau. Tapi jangan pergi. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa pria dalam rekaman itu bukan lagi aku."

Ria menatap Arya yang bersimpuh di kakinya. Sejenak, hatinya goyah melihat pria sehebat Arya hancur sedemikian rupa. Namun, rasa sakit dari pengkhianatan ini terlalu segar.

"Aku butuh waktu, Mas. Aku tidak bisa tidur di ranjang yang sama dengan pria yang pernah berencana membuang ku seperti sampah," ujar Ria tegas.

Ria mengambil tas kecilnya, memasukkan beberapa pakaian seadanya. Ia tidak pergi ke rumah ayahnya, tentu saja. Ia juga tidak akan lari.

"Aku akan tinggal di apartemen kecil dekat kantor untuk sementara waktu. Jangan mencari ku, jangan mengirimkan supir, dan jangan mencoba membayar sewanya. Aku ingin tahu... apakah aku bisa benar-benar berdiri tanpa bayang-bayang pria yang 'membeli ku' dua tahun lalu."

Ria melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Arya tetap bersimpuh di lantai, meratapi kebodohan masa lalunya yang kini kembali menghantuinya. Ia menyadari bahwa kejujuran memiliki harga yang sangat mahal, dan ia mungkin baru saja kehilangan hal paling berharga yang pernah ia miliki.

Di luar, hujan mulai turun, membasuh jalanan kota yang dingin. Ria masuk ke dalam taksi dengan hati yang hancur, namun dengan kepala yang tetap tegak. Ia sedang menuju babak baru dalam hidupnya—sebuah kehidupan di mana ia benar-benar sendirian, tanpa perlindungan, namun juga tanpa kebohongan.

Dua minggu telah berlalu sejak Ria melangkah keluar dari gerbang rumah mewah Arya. Baginya, apartemen kecil dengan satu kamar di pinggiran kota itu jauh lebih luas daripada istana emas yang penuh dengan kebohongan. Di sini, Ria belajar bernapas kembali tanpa merasa harus berutang budi pada siapa pun.

Namun, bagi Arya, dua minggu ini adalah siksaan yang tak berujung. Setiap pagi, ia duduk di dalam mobil hitam dengan kaca gelap, terparkir satu blok dari apartemen Ria. Ia hanya ingin melihat istrinya keluar, berjalan menuju halte bus dengan langkah yang semakin tegak dan percaya diri.

Suatu sore, di depan lobi kantor Neo-Modelling, langkah Ria terhenti. Arya berdiri di sana, tanpa pengawal, tanpa kemewahan yang biasanya ia pamerkan. Wajah Arya tampak lebih tirus, matanya cekung karena kurang tidur.

"Ria..." panggil Arya lirih.

Ria berhenti sejenak. Saat mata mereka bertemu, Arya melihat kilatan luka yang masih basah di sana. Namun, alih-alih mendekat, Ria hanya menatapnya dengan pandangan kosong—seolah-olah Arya hanyalah orang asing yang pernah ia kenal di kehidupan sebelumnya. Ria memalingkan wajahnya dengan dingin dan masuk ke dalam busway yang sudah menunggu.

Arya mencengkeram dadanya. Rasa sakit karena diabaikan jauh lebih perih daripada tamparan fisik mana pun. Ia merasa hancur, namun ia sadar, ini adalah harga yang harus ia bayar karena pernah menganggap Ria sebagai barang dagangan.

Di tengah keretakan yang semakin lebar, Soraya melihat celah untuk memberikan pukulan terakhir. Ia tahu bahwa rasa sakit hati Ria adalah ladang subur untuk menanam keraguan baru. Melalui sebuah acara amal bergengsi, Soraya mengundang media dan menghadirkan sosok yang selama ini menjadi rahasia di lemari masa lalu Arya.

Ashleen.

Wanita itu cantik luar biasa dengan kecantikan klasik yang elegan. Ia adalah lulusan terbaik universitas ternama di Luar negeri dan merupakan cinta pertama Arya sebelum pria itu berubah menjadi sosok yang dingin. Ashleen adalah wanita yang dulu dianggap sepadan untuk bersanding dengan keluarga Arya, namun hubungan mereka kandas karena ambisi ayah Arya.

Keesokan paginya, layar ponsel Ria dipenuhi oleh berita utama di berbagai portal media:

"Mantan Terindah Kembali ke Pelukan Sang CEO? Arya Terlihat Menghabiskan Waktu Bersama Ashleen di Acara Gala!"

Foto-foto yang beredar menunjukkan Arya sedang berbincang serius dengan Ashleen. Meski dalam foto itu Arya tampak terpaksa, sudut pengambilan gambar membuatnya seolah-olah mereka sedang berbagi momen intim.

Soraya bahkan memberikan komentar anonim pada salah satu majalah fashion terkemuka: "Arya akhirnya kembali pada selera asalnya. Seorang wanita berpendidikan dan berkelas, bukan sekadar 'pembelian' dari keluarga bangkrut yang penuh drama kesehatan mental."

" Bagaimana pun kekuatan cinta pertamalah yang akan menang."

" Arya dan Ashleen bagaikan Raja dan Ratu abad ini, mereka sangat serasi."

Ria membaca berita itu di sela-sela jam istirahat kantornya. Ia merasa jantungnya seperti diremas. Selama ini, ia mengira Arya hanya menikahinya demi saham. Tapi sekarang, kehadiran Ashleen menunjukkan hal lain yang lebih menyakitkan: bahwa ia mungkin hanyalah cadangan yang digunakan Arya untuk mengisi kekosongan saat ia tidak bisa memiliki wanita yang benar-benar ia cintai.

"Gadis cantik, berpendidikan tinggi, dan cinta pertama..." bisik Ria pada dirinya sendiri.

Ria menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kantor. Ia merasa kecil. Ia merasa semua prestasinya di kantor selama dua minggu ini mendadak tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan bayang-bayang Ashleen yang begitu sempurna.

Tanpa Ria ketahui, Arya sedang mengamuk di kantor pusat, mencoba menghentikan berita itu. Namun, Soraya telah memastikan bahwa racun ini sudah mengalir ke telinga Ria.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!