NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Penawaran Yang Dinanti

Ivory tertawa kecil. Tawa yang cepat patah. “Kalau aku bilang pria barusan adalah pria yang auranya seperti malam tanpa akhir, kau mungkin akan mengira aku gila. Tapi itulah kenyataannya,”

“Aku jarang mengira orang gila,” jawabnya santai. “Apalagi jika itu kau yang mengatakannya.”

Kalimat itu membuat bahunya mengendur sedikit saja, tapi cukup terasa. Ia mengaduk tehnya yang sudah dingin, memandangi pusaran kecil di dalam cangkir.

“Pria tadi adalah Bosku yang gila,” kata Ivory tiba-tiba, tanpa rasa curiga sama sekali terhadap Ren.

Ren mengangkat alis. “Gila yang bagaimana? Gila teriak-teriak? Gila manipulatif? Atau gila yang membuatmu mempertanyakan realitas?”

“Semua,” jawabnya tanpa ragu. “Namun, semua kegilaannya adalah nyata. Hanya saja aku yang tidak ingin mengakuinya? Aku dan kakak perempuanku bahkan ingin melarikan diri sejauh mungkin darinya.”

“Lalu kenapa kau dan kakakmu tidak keluar saja dari perusahaan itu?”

Ivory terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Kontrak. Denda pemutusan sepihaknya… jumlahnya fantastis.” Ia tersenyum miring. “Jumlah yang membuat kebebasan terasa seperti barang mewah.”

Ren tidak langsung merespons. Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit seolah menghitung sesuatu yang tak kasatmata.

“Berapa?” tanyanya akhirnya.

Ivory menyebutkan angka. Bahkan pelayan yang lewat mungkin akan menjatuhkan nampan jika mendengarnya. Namun Ren hanya berdeham pelan, seolah jumlah itu sama sekali tidak membuatnya terkejut.

“Oke,” katanya. “Itu memang… kejam.”

“Makanya,” lanjut Ivory cepat, seolah takut dihakimi, “aku tidak berharap apa-apa. Kami cuma menunggu waktu yang tepat sampai kontraknya selesai. Atau keajaiban. Yang mana jelas tidak realistis.”

Ren menatapnya lama. Bukan tatapan kasihan, bukan pula penasaran kosong. Lebih seperti seseorang yang sedang mengambil keputusan disaat kesempatan baik muncul tepat di depan matanya.

“Aku punya perusahaan,” kata Ren akhirnya, seolah membicarakan cuaca.

Ivory mengangkat kepala. “Oh?”

Ren mencondongkan badan ke depan, menyilangkan jari di atas meja. “Aku akan membayar denda kalian. Lunas. Bersih. Tanpa drama.”

“Tapi sebagai gantinya,” lanjutnya tanpa tergesa, “kau dan kakakmu pindah bekerja ke perusahaan ku.”

“Kenapa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Terlalu cepat, terlalu jujur.

Ren tersenyum tipis. “Karena orang yang bertahan di bawah bos gila biasanya punya ketahanan luar biasa.” Lalu, lebih pelan, “Dan karena aku ingin lebih dekat denganmu, Ivory”

Ivory terdiam lama. Tangannya mencengkeram cangkir teh, mencoba memastikan ini nyata. “Kau bahkan tidak tahu siapa kami sebenarnya. Kita baru mengenal beberapa hari yang lalu, ditambah kau tidak mengetahui alasanku dan kakakku ingin menghindari bos gila itu.”

“Benar,” jawabnya. “Tapi aku tahu cukup untuk melihat kalian sedang tenggelam. Dan aku kebetulan punya perahu. Aku hanya ingin membantumu dan juga kakakmu sebagai teman.”

Ivory tertawa kecil, hampir tak percaya. “Kau sadar ini terdengar seperti kesepakatan yang terlalu bagus untukku dan juga kakakku?”

“Sering kali,” kata Ren sambil bangkit berdiri, “kesepakatan terbaik justru datang saat seseorang sudah kelelahan berharap.”

Ren kemudian menyodorkan kartu nama dan meletakkannya di atas meja. “Tidak perlu menjawab sekarang. Bicarakan dengan kakakmu. Jika kalian menolak, aku tetap akan menghormatinya.”

Ivory menatap kartu itu lama, lalu mengangkat pandangannya. “Dan jika kami menerima?”

Senyumnya sedikit melebar. “Maka kalian bebas dari bos gila itu, bukan?”

Kemudian Ren melangkah pergi, meninggalkan aroma kopi dan kemungkinan. Ivory masih duduk terpaku, jantungnya berdebar bukan karena kegelapan, bukan karena takdir lama yang membayang, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa depan tidak terasa seperti jebakan. Dan mungkin, ini akan menjadi jalan terbaik untuknya untuk memutuskan takdir dengan kehidupan masa lalunya.

“Sebenarnya ada apa denganku? Seharusnya aku merasa lega, senang dan bahagia karena akhirnya bisa terlepas darinya. Tapi mengapa….” Sungguh Ivory sendiri tidak tahu dengan dirinya sendiri.

Kesempatan untuk menjauh dan memutus takdir di kehidupan masa lalunya sudah berada dalam genggaman tangan. Namun, entah mengapa hati Ivory masih merasa berat dan ragu dengan keputusannya sendiri. Seolah ia telah salah memilih, telah salah jalan dan tidak seharusnya ia menipu Ragnar seperti ini.

...****************...

Ditempat lain, ....

Hujan mulai turun ketika perdebatan itu dilanjutkan seolah langit pun ikut memilih pihak. Kilat menyambar di balik jendela kaca, membelah aula menjadi dua warna, putih pucat dan hitam pekat.

“Kau tidak bisa terus menyangkalnya,” kata Denzel, suaranya bergetar namun mantap. Cahaya sihir putih berdenyut lembut di telapak tangannya, kontras dengan bayangan yang merayap di sudut ruangan. “Setiap tanda sudah ada. Baik kau maupun Ivory tidak bisa menyangkal takdir yang sudah ditentukan. Sebaiknya kalian akui sekarang, karena cepat atau lambat apa yang coba kalian sembunyikan akan segera terungkap kebenarannya.”

Elena di hadapannya mengepalkan tangan. “Cukup.” Matanya memerah, bukan karena sihir, tapi amarah. “Aku lelah mendengar omong kosongmu. Kau menyebutku reinkarnasi pemilik murni sihir hitam dan juga adikku sebagai reinkarnasi ratu vampir seolah itu kebenaran mutlak.”

“Memang itu kenyataannya. Itulah faktanya,” balasnya cepat. “Kau memang reinkarnasi Pemilik Murni Sihir Hitam dan adikmu adalah reinkarnasi dari ratu vampire. Dan itu tidak bisa kalian sembunyikan ataupun pungkiri selamanya.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

“Itu hanya asumsimu saja?” Elena tertawa pahit tetap menyangkal dan mengelak. “Kenyataannya, kami berdua bukan orang yang kalian maksud itu.”

Denzel melangkah mendekat, mengikis jarak diantara keduanya. “Bedanya adalah pilihan. Kau belum memilih apa pun—tapi kekuatan itu memilihmu. Dan sekarang kau harus tahu yang sepenuhnya.” Ia menarik napas, seolah menyiapkan diri untuk luka yang akan ia sebabkan. “Adik perempuanmu… dia adalah reinkarnasi Ratu Vampir.”

Elena terdiam. Hujan di luar terdengar lebih keras. Sampai bayangan di sudut ruangan mulai bergerak. Dari celah antara pilar, muncul sosok berjubah hitam legam, kainnya panjang hingga menyapu lantai. Wajahnya tertutup tudung, hanya menyisakan kegelapan yang tak memantulkan cahaya.

“Perdebatan yang cukup menyentuh,” suara itu parau, seperti diseret dari liang kubur. “Sayang sekali… harus berakhir di sini.”

Elena segera menoleh, meski masih tetap terlambat menyadari lingkaran sihir yang terbentuk di bawah kakinya dan sebuah rune hitam menyala, berdenyut dengan niat membunuh.

“Menjauh!” teriak Denzel, begitu menyadari Elena dalam bahaya.

Namun sepertinya sudah terlambat. Sebuah tombak bayangan melesat, padat dan tajam, mengoyak udara dengan jeritan sihir hitam murni. Serangan itu sempurna seolah arahnya lurus tertuju ke jantung Elena, tak memberi ruang untuk menghindar.

Namun cahaya meledak seketika, sebelum menyentuh tubuh Elena. Denzel bergerak tanpa berpikir. Ia berdiri di depan Elena, mengangkat kedua tangan. Sihir putihnya mengalir deras, membentuk perisai bercahaya yang berlapis-lapis. Tombak bayangan menghantamnya, hingga retakan menjalar seperti kaca pecah, cahaya dan kegelapan saling menggeram.

“Tunggu apalagi? Cepat pergi dari sini, karena aku tidak bisa menahannya terlalu lama!” bentaknya.

Bersambung….

1
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Iya Kak, selamat menunaikan ibadah puasa juga.. 🙏🙏🙏
Desyi Alawiyah
Ayolah, kenapa kalian ngga berdamai aja sih... Kalian kan berselisih hanya karena salah paham... 🤨

Jangan sampe ada pertumpahan darah. Ya, meskipun kaum Vampir memang identik dengan hal itu... 😩
Desyi Alawiyah
Mirip. Tapi jiwa sang Ratu Vampir, Ivory Esmeralda, ada di dalam tubuh Ivory Asteria... ☺
Fahmi Ardiansyah
ivori keras kepala sok jual mahal entar klu udh kejadian baru nyesel n cari2 Ragnar.
Desyi Alawiyah
Kasihan lihat Ivory dan Elena.. Terutama Elena..

Tubuhnya masih belum menerima kekuatan sihirnya... Sehingga Denzel harus turun tangan untuk mengendalikan sihir hitam milik Elena...

Ivory yang sabar yah, aku yakin kakakmu akan baik-baik saja.. Benar kata Ragnar, sebaiknya kamu tinggal di Istana dulu.. Karena kaum Werewolf masih berkeliaran... 😩
Desyi Alawiyah
Nah, itu kata yang tepat... "Raja Vampir gila yang memaksa ingin menemukan reinkarnasi Ratu nya. " 🤣🙏
Desyi Alawiyah
Wah, ada lanjutan kisah Xavier Kak...
Desyi Alawiyah
Pada akhirnya, Ivory ngga bisa menghindar lagi... Dia memang udah ditakdirkan menjadi Ratu Vampir...

Dan sekarang, Ivory udah pulang ke rumahnya, ke Istana nya bersama Ragnar...

Kabar Elena gimana yah? Apa dia udah baik-baik saja?
Desyi Alawiyah
Karena memang itu rumahmu, Ivory.. Rumahmu dan Ragnar... Istana Agharon..
Sri Yatun
di mana KA kisah selanjutnya Kay dan yg lain ko g ada di novel toon
Fahmi Ardiansyah
akhirnya ivory ketemu juga Ama Ragnar.
Desyi Alawiyah
Masih kurang Kak, ayo update lagi..
Desyi Alawiyah
Aduh, ikut deg-degan deh aku... Semoga Dorian bisa membawa Ivory dengan selamat...

Karena kalo ngga, nyawa Dorian sendiri yang jadi taruhannya 🤣
Desyi Alawiyah
🤣🤣🤣 Nanti kalo Ragnar memarahimu, kamu salahin aja Denzel, Dorian.. 😋
Fahmi Ardiansyah
kak kelanjutannya kisah key n axlin mana kok gak di lanjutin LG.
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
iya pasti ivory akan terkejut klu tau Denzel ngasih ciuman buatan.
Desyi Alawiyah
Makasih kak udah update.. 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!