Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELUM PULANG?!
Aku yang melihat siluet bayangan yang mirip sekali dengan Farhan, langsung mengusap kedua mataku. Bisa jadi aku hanya salah lihat. Bisa jadi karena aku tadi khawatir saat Farhan memutuskan untuk lanjut pulang ke rumahnya sendiri.
"Blarrr!!!" suara petir kembali menyambar. Dan semakin jelas di pandanganku, itu adalah Farhan.
Aku segera beranjak berdiri. Mencoba memastikan lagi. Berharap aku salah lihat saja. Berharap itu benar-benar bukan Farhan.
Tapi... Sejurus kemudian... Sosok siluet itu memanggilku...
"Buuu! Aku takut Buuu!"
Suara yang sama persis dengan suara Farhan, muridku.
"Astaghfirulloh, Farhan?! Kamu ngapain di sana Nak?!" teriakku masih berdiri di teras pos pemakaman, berseberangan dengannya.
"Buuu! Aku takuuut!" kembali dia mengatakan hal yang sama.
"Ya Alloh! Tunggu Ibu, Ibu ke sana Han!" ucapku.
Aku langsung bergegas menghampirinya. Namun... Ketika baru sampai di tengah jalan, kilatan cahaya petir menyala di langit.
Dan seketika itu juga... Farhan menghilang...
"Loh?!" ucapku kaget.
Aku berdiri mematung di tengah jalan. Sendirian. Di tengah guyuran hujan yang masih deras. Aku seakan tak percaya dengan apa yang kulihat barusan.
"Astaghfirulloh... Astaghfirulloh..."
Ucapku dalam hati. Seakan merasakan sebuah firasat buruk.
Akhirnya, kuputuskan saja untuk segera pulang. Kuambil lagi sepedaku. Dan segera kugowes meski dengan kedua kaki yang gemetar kedinginan. Kupaksakan saja untuk menerjang derasnya hujan.
Singkat cerita, sesampainya aku di depan rumah, ternyata masih ada Mas Padi di teras. Sendirian.
"Assalamu'alaikum... Hemm... Hemm..." suaraku mengucap salam sambil merasakan kedinginan di sekujur tubuhku yang basah kuyup.
"Wa'alaikumsalam... Ya Alloh Nis... Kemana dulu tadi? Bapakmu nungguin loh..." ucapnya dengan raut wajah yang khawatir.
"Anu... Tadi... Hemm... Hemm... Saya neduh dulu Mas... Hemm... Hemm..." jawabku sambil menggigil.
"Ya Alloh, neduh tapi kok tetep basah kuyup gini Nis? Ya udah, buruan masuk, ganti baju, mandi. Kebetulan tadi saya bantu masak air buat Bapakmu. Kayaknya masih panas. Kamu pakek aja buat mandi, biar gak masuk angin." jelasnya dengan tegas.
"I-iya... Hemm... Iya Mas..."
Aku segera masuk ke dalam rumah. Dan Bapak ternyata menungguku di ruang tamu.
"Ya Alloh Nak, basah kuyup bagitu. Sana buruan mandi." perintah bapakku sama seperti Mas Padi.
Aku langsung bergegas menuju dapur. Lantai menjadi basah terkena tetesan air hujan dari baju gamisku.
"Nis, handuknya ada di dalam kamar mandi." teriak bapak dari ruang tamu.
"Iya Pak." jawabku.
Aku segera meletakkan tasku di atas kursi dapur. Dan segera mengangkat panci air panas yang Mas Padi maksud.
Alhamdulillah... Aku akhirnya bisa mandi dengan air hangat. Supaya tidak masuk angin atau bahkan sakit setelah kehujanan.
Singkat cerita, aku selesai mandi dan selesai sholat maghrib. Bapak juga sudah selesai sholat maghrib dengan posisi duduk di ruang tamu. Sebagai keringanan sholat bagi orang yang sedang sakit dan tak bisa melaksanakan sholat dengan normal. Mas padi pun sudah pulang, tak lama ketika aku sudah sampai rumah tadi.
Aku beranjak mengajak bapak untuk makan. Tapi ternyata bapak sudah makan duluan bersama Mas Padi sebelum aku sampai.
Akhirnya aku makan sendirian ditemani bapak di ruang tamu.
Selama aku mengunyah makanan di hadapanku, aku teringat lagi dengan kejadian saat aku berteduh.
Sosok siluet Farhan, muridku. Sangat jelas di mataku bahwa itu sosoknya. Bahkan suaranya yang memanggilku pun sangat mirip. Hampir tak ada beda.
Tapi... Kenapa muncul pandangan itu? Kenapa sosok Farhan memanggilku dengan mengatakan dirinya takut?
Semua itu berputar di kepalaku. Sampai-sampai aku termenung sebentar. Dan bapak menyadarkanku.
"Heh?! Nis?! Makan kok sambil bengong sih?!"
"Eh! Em... Gak kok Pak, gak bengong."
"Apaan gak bengong? Kamu diem aja gitu."
"Gak Pak, gak apa-apa kok."
"Makan dulu yang bener, habis itu buruan sholat isya, terus istirahat. Bapak juga udah mulai ngantuk ini."
"I-iya Pak."
Aku pun kembali fokus makan. Dan segera kurapikan piring dan gelas di dapur. Kucuci semua sampai bersih, termasuk piring dan gelas bekas makan bapakku dan Mas Padi.
Lalu aku laksanakan sholat Isya saat sudah terdengar suara adzan berkumandang. Bapak pun sholat Isya di kursi ruang tamu.
Setelah itu, aku membantu memegangi bapak berjalan menuju kamarnya. Meski sudah ada bantuan tongkat untuk berjalan, namun masih harus dipapah.
Aku menyelimuti bapak, menutup pintu kamarnya, dan bergegas mengunci pintu depan, segera setelah itu aku masuk ke dalam kamarku.
Tanpa banyak berpikir aneh-aneh tentang kejadian tadi di pos pemakaman, aku segera bisa terlelap tidur.
Di tengah lelapnya tidurku itu, Dayang Putri datang dalam mimpiku, dan berkata...
"Nisa... Dia tak pulang ke rumahnya..."
Sontak aku terbangun dari tidurku.
"Astaghfirulloh... Astaghfirulloh... Dayang Putri..." ucapku sambil terduduk di atas kasur.
Aku mencoba memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Mencoba untuk segera memanggil Dayang Putri.
Tapi Dayang Putri tak kunjung datang. Justru kembali suaranya saja yang terdengar jelas olehku.
"Dia tak pulang ke rumahnya..."
Aku membuka kedua mataku. Segera beristighfar lagi dalam hatiku. Lantas, aku berpikir sejenak, apa maksudnya? Siapa yang tak pulang ke rumahnya?
Aku kembali menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan pikiranku. Sampai tiba-tiba...
TOK TOK TOK TOK...
Ada yang mengetuk pintu depan rumahku. Siapa yang datang malam-malam begini? Aku langsung melihat jam dinding. Sudah jam setengah satu malam.
TOK TOK TOK TOK...
Kembali terdengar suara ketukan itu. Kali ini lebih cepat.
Aku segera beranjak bangun dari kasurku. Memakai jilbabku. Sambil penasaran siapa yang datang.
Aku keluar kamar, kembali suara ketukan cepat terdengar. Aku menuju ke jendela, menyingkap gorden, dan ternyata...
Di luar sana sudah ada kedua orang tua Farhan! Aku segera membukakan pintu.
"Ya Alloh... Pak? Bu? Ada apa tengah malam begini datang?"
Wajah mereka berdua tampak khawatir, dan juga tampak cemas yang sangat.
"Maaf Bu Nisa, saya udah ganggu istirahatnya." kata si bapak.
"Enggak apa-apa kok, silahkan masuk dulu." jawabku.
"Gak usah Bu, di sini aja." kata si ibu.
"Ada apa ya? Tumben banget jam segini---"
Belum sempat kuselesaikan kalimatku, ibu Farhan itu langsung menyela,
"Bu, Farhan belum pulang!"
Sontak aku kaget mendengarnya.
"Hah? Belum pulang?" kataku.
"Iya Bu Nisa, belum pulang dari ngaji tadi sore!" jawab si bapak.
"Astaghfirulloh... Kok bisa?!" ucapku.
"Ibu tadi lihat anak kami pulang gak Bu?" tanya si ibu dengan wajah yang semakin cemas.
Aku langsung tercekat. Seolah tak percaya. Sungguh sangat ingat diriku. Tadi aku mengantarkan Farhan untuk pulang.
"Bu, tadi sore sebelum hujan deras, saya anterin Farhan pulang loh Bu." jawabku.
"Ya Alloh, beneran Bu?!" tanya si bapak.
"Iya Pak, saya yang anterin dia pulang. Pakek sepeda saya. Soalnya saya khawatir dia kehujanan juga tadi itu." jelasku.
"Tapi Farhan gak pulang Bu Nisa... Dia belum pulang sampe sekarang..." ucap ibunya sambil mulai nampak berkaca-kaca matanya.