Mahira Amalia Hamarung, tak menyangka Teddy akan meninggalkan dia saat Mahira justru telah menyerahkan kesuciannya pada pria itu. Dalam ketakutannya perbuatan mereka itu akan membuat Mahira hamil, Putri sahabat baiknya menghubungi Edmond Moreno. Pria yang dulu sangat mencintai Mahira. Edmond akhirnya bersedia menikahi Mahira sekalipun Mahira nantinya hamil. Pernikahan itu pun terjadi. Saat telah resmi menjadi istri Edmond, Mahira pun tahu masa lalu Edmond yang membuatnya terguncang. Ketika Mahira hampir menyerah, Teddy justru hadir kembali untuk mendapatkan kembali cinta Mahira. Bagaimana pernikahan itu akhirnya mendapatkan kebahagiaannya?
Ini sebuah cerita sederhana tentang memahami cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Suami
"Ikut denganmu ke Kalimantan?"
Edmond mengangguk. Ia memegang pipi Mahira. "Iya, sayang. Saat kita menikah, aku tak bisa mengajak kamu untuk ikut denganku karena ada oma. Sekarang oma sudah meninggal, tak ada sesuatu lagi yang membuatmu harus tinggal di sini."
"Tapi pekerjaan ku? Sejak dulu aku ingin kerja di bank. Dan aku sudah mendapatkan pekerjaan itu. Masa aku harus berhenti?" Mahira merasa berat untuk meninggalkan pekerjaannya.
"Sayang, aku kesal saat menerima telepon mu tadi pagi. Kamu mengancam ingin minta cerai. Aku merasa kalau itu bukanlah dirimu."
Wajah Mahira merasa malu. Ia juga tak mengerti mengapa dirinya menjadi begitu emosi tadi pagi. "Aku.....!" Mahira bangun dan duduk dengan wajah yang bingung.
Edmond ikut tersenyum. Ia pun bangun dan duduk sambil memeluk istrinya yang duduk membelakanginya. "Jangan malu. Kata teman dokterku, seorang ibu hamil biasanya akan bersikap bukan seperti dirinya. Itu bawaan bayi. Semoga saja anak kita nggak sejutek maminya saat ini, ya?"
"Ed....!" Mahira semakin malu.
Edmond mengecup bahu istrinya dengan sangat lembut. "Kamu akan ikut aku, kan?"
"Ed, haruskah aku meninggalkan pekerjaan ku?"
Edmond memegang bahu Mahira dan meminta agar istrinya itu menghadap ke arahnya. Mahira menurut dan membalikan badannya. "Istriku, aku tak mau mendengar keluhan mu lagi tentang aku yang jarang menelepon mu. Aku tak mau membuatmu merasa kesepian. Jadi kau memang harus resign dari tempat kerjamu untuk kebaikan kita bersama. Karena sekarang yang terpenting adalah kebersamaan kita sebagai satu keluarga."
Mahira tertunduk lesu. Ia sungguh menyayangi pekerjaannya. Namun ia juga tak mau kesepian dalam kehidupannya. Ia tak mungkin terus menerus menyusahkan Putri dengan memintanya untuk datang menemaninya.
"Baiklah. Senin nanti aku akan resign dari bank."
Edmond tersenyum. Ia langsung memeluk Mahira dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih atas pengorbanan mu, sayang."
"Sekarang kita tidur saja." Mahira akan melepaskan pelukan Edmond namun pria itu masih memeluknya.
"Aku kangen." bisik Edmond lalu mulai mencium leher Mahira.
"Aku....." Mahira ingin menolak namun tubuhnya bergetar menerima sentuhan Edmond. 2 bulan tak saling bersentuhan, tentu saja mereka berdua saling merindukan. Mahira pun pasrah dalam dekapan Edmond.
************
Keesokan harinya, Mahira pamit dengan keluarga om Frans. Setelah itu, Mahira pergi ke makam Oma Yohana.
Pada hari Senin, Mahira pun pamit kepada teman-temannya di bank. Semua nampak sedih jika Mahira harus resign. Apalagi Putri. Ia tak hentinya menangis.
"Kamu akan pergi jauh. Kenapa nggak bilang ke aku sejak dari kemarin? Kamu jahat sekali, Ra."
Mahira tersenyum. "Aku masih ada di Indonesia. Hanya di Kalimantan Timur juga. Sesekali kau boleh pergi ke sana atau aku yang akan datang ke sini."
Putri memegang perut Mahira. "Aku tak akan bisa melihat proses kelahirannya."
Mahira memeluk sahabat nya itu. Sejak dari TK mereka m mang sudah bersahabat. Rasanya memang berat harus melupakan. Namun Mahira juga sadar kalau ia kini sudah punya kehidupannya sendiri. Takdir telah membuatnya bersama Edmond dan ia memang harus ikut dengan Edmond kemana saja suaminya itu pergi.
Akhirnya, setelah acara pamitan yang membuat air mata jatuh, Mahira pun langsung pergi ke bandara bersama Edmond. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya surat-surat pentingnya saja dan beberapa pakaian.
Selama perjalanan dari Manado menuju ke Samarinda, Edmond menunjukkan perhatiannya yang sangat besar bagi Mahira. Ia bahkan dengan senang hati mengatakan pada pramugari kalau istrinya itu sedang mengandung. Mahira merasa sangat diistimewakan dan disayang.
"Ed, mengapa kita menginap di hotel? Memangnya kamu nggak punya tempat tinggal di sini?" tanya Mahira saat mereka tiba di salah satu hotel.
"Sayang, tempat kerjaku masih jauh dari sini. Kita akan naik mobil 2 jam lagi. Aku nggak mau kamu terlalu capek. Lagi pula, di lokasi perusahaan, tempatnya sunyi. Aku tinggal di sebuah mess. Tempatnya nggak terlalu besar dan memiliki 2 kamar. Karena kondisi kamu yang sedang hamil, jadi aku akan mencari rumah untuk dikontrak saja di kota ini."
"Jadi setiap hari kamu akan menempuh perjalanan selama 4 jam untuk pulang dan pergi?" tanya Mahira.
Edmond tersenyum. Ia berlutut di hadapan Mahira lalu memegang kedua tangan istrinya itu. "Apapun akan kulakukan untuk kamu."
"Jadi kalau kamu pergi kerja, aku sendirian di hotel?"
"Untuk sementara, sayang. Jika rumahnya sudah aku dapat, tentu saja aku akan menyediakan orang untuk menemanimu."
"Mengapa kita tak tinggal di mess mu saja?"
"Tempatnya jauh di pedalaman. Itu adalah lokasi perusahaan kelapa sawit dan juga produksi minyak goreng. Namun kerjaku bukan hanya di perusahaan itu saja, aku juga menangani tambang batu bara yang lokasinya satu jam jauhnya dari mess itu."
Mahira diam sejenak. Apakah keputusannya untuk resign dari tempat kerjanya sudah tepat? Ataukah justru ia akan semakin merasa kesepian di sini?
"Sayang, jangan sedih, dong. Aku yakin kamu pasti akan terbiasa."
Kepala Mahira akhirnya mengangguk. Ia memaksakan sebuah senyum walaupun hatinya menjadi galau. Mampukah ia menjalani kehidupan seperti ini?
***********
Masih pagi-pagi sekali, Edmond sudah berangkat ke tempat kerjanya. Ia memberikan ciuman pada Mahira dan berpesan agar istrinya itu jangan lupa sarapan dan makan siang. Ia akan berusaha sebelum makan malam akan kembali berada di hotel.
Mahira pun bangun pagi, mandi dan sarapan. Ia sarapan di restoran sambil menikmati suasana di sekitar hotel yang memberikan pemandangan yang indah.
"Nyonya Moreno?" Seorang wanita menggunakan celana hitam dan kemeja hitam mendekatinya. Wanita berusia sekitar 30-an itu nampak rapi dengan rambut yang digulung.
"Ya."
Perempuan itu tersenyum. "Perkenalkan nama saya Alika. Saya karyawan di hotel ini. Tuan Moreno meminta saya untuk mengantarkan nyonya untuk jalan-jalan keliling kota Samarinda hari ini."
"Kamu sopir di hotel ini?" tanya Mahira sedikit heran karena biasanya yang menjadi sopir hotel adalah laki-laki.
"Sebenarnya saya buka sopir hotel. Namun karena tuan Moreno ingin sopirnya seorang perempuan, maka manager hotel menunjuk saya untuk mendampingi nyonya. Kebetulan saya punya SIM." Ujar Alika dengan senyum ramahnya.
Dasar posesif! Sopirnya saja harus perempuan. Ah, Edmond, apakah kau sangat takut kalau ada lelaki yang mendekatiku? Batin Mahira sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Setengah jam lagi kita akan pergi." Ujar Mahira lalu segera meninggalkan restoran untuk ganti pakaian.
*************
Alika ternyata orangnya sangat asyik. Mahira merasa nyaman saat berjalan bersamanya. Ia membawa Mahira keliling kota Samarinda. Dan yang paling membuat Mahira senang adalah Alika ternyata berasal dari suku Dayak juga.
"Papaku juga dari Kalimantan. Ia suku Dayak. Marga ku Hamarung. Papa ketemu dengan mama di dalam pesawat. Waktu itu papa ada tugas ke Manado dan mama adalah seorang pramugari. Katanya mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan dari pertemuan itu, mereka seakan tak mau saling lepas. Hanya 2 bulan dari pernikahan itu, mereka akhirnya menikah."
Mahira dan Alika sedang menikmati makan siang di sebuah restoran.
"Oh, ya? Kisah cinta yang unik. Seperti juga nyonya dan tuan Moreno kan? Kalian pasti ketemunya belum lama. Soalnya beberapa bulan yang lalu, aku masih melihat tuan Moreno dengan nona Monalisa."
"Monalisa?"
Alika nampak terkejut. "Maaf. Tak seharusnya aku menceritakan tentang tuan Moreno."
"Aku tahu Monalisa." Mahira memilih berbohong. "Mereka juga sering menginap di hotel tempatmu bekerja?"
"Selalu. Tuan Moreno dan nona Monalisa adalah salah satu pemilik saham dari hotel itu."
"Edmond memang bilang kalau dia punya saham di salah satu hotel. Nggak tahunya hotel yang ini." Mahira berusaha bersikap biasa walaupun dia penasaran dengan gadis yang bernama Monalisa.
"Iya. Hotel kami ini baru 2 tahun yang lalu dibuka namun menjadi salah satu hotel yang paling banyak dibooking oleh pengunjung."
"Aku senang jika hotel ini bisa sukses." Mahira sebenarnya penasaran ingin bertanya lagi tentang Monalisa namun ia tak mau Akira curiga. Makanya ia pun memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan. Bagaimana pun Monica ada mantan pacar Edmond, apa dan bagaimana hubungan mereka, seharusnya Mahira tak mengusiknya sebagaimana Edmond yang tak mengusik masa lalunya.
Makanya, Edmond tiba di hotel saat menjelang malam. Mahira sedang muntah di kamar mandi begitu Edmond masuk.
"Sayang....., kamu muntah? Aku masuk ya?" ujar Edmond sambil mengetuk pintu kamar mandi. Karena tak ada sahutan dari Mahira, ia pun membuka pintu. Di lihatnya Mahira sedang berlutut di samping kloset dengan wajah yang berkeringat dingin.
"Keluarlah, Ed. Aku sedang muntah. Ini menjijikan." Kata Mahira lalu mengeluarkan kembali isi perutnya.
Edmond tak menghiraukan perkataan Mahira. Ia mendekat dan berjongkok di belakang istrinya. Secara pelan ia mengurut tengkuk Mahira.
"Kau sudah merasa enakan?" tanya Edmond saat dilihatnya Mahira sudah tak muntah lagi.
"Sudah agak baikan. Aku mau berbaring sebentar." Mahira berdiri dibantu oleh Edmond. Keduanya keluar dari kamar mandi.
Edmond membantu Mahira berbaring. Setelah itu ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Mahira. "Sayang, maafkan aku ya?"
"Maaf untuk apa?"
"Pasti selama dua bulan di Manado, kau tersiksa karena harus menahan ini semua sejak awal. Seharusnya aku lebih cepat membawamu ke sini."
"Ini sudah agak berkurang muntahnya. Hari ini saja aku menikmati makan pagi dan makan siang tanpa ada gangguan rasa mual. Terima kasih ya, kau sudah mengirim sopir untuk menemaniku jalan-jalan."
"Agar kau tak bosan saja. Sopirnya bagus kan?'
"Kenapa harus perempuan?"
Edmond terkekeh. "Seperti yang kukatakan padamu, bahwa aku orangnya terlalu posesif. Kau cantik. Aku tak rela ada pria lain yang dekat denganmu." Edmond membelai wajah Mahira. "Kau hanya milikku."
Wajah Mahira menjadi merona. "Aku mengantuk." Ia pura-pura memejamkan matanya.
"Aku mandi dulu, ya? Satu jam lagi kita akan makan malam bersama." Edmond mengecup pipi Mahira lalu segera menuju ke kamar mandi.
Saat mendengar pintu kamar ditutup, Mahira membuka matanya. Rasa penasarannya tentang Monalisa membuat hatinya ingin tahu siapa gadis itu.
Mata Mahira tertuju pada ponsel Edmond yang ditinggalkannya di atas nakas. Mahira mengambil ponsel itu. Secara perlahan ia membukanya dan ternyata menggunakan password. Mahira mencoba tanggal lahir Edmond. Ternyata salah. lalu secara iseng ia mengetik tanggal ulang tahunnya. Mahira hampir saja melompat karena kaget password ponsel itu adalah tanggal lahirnya. Ia mencari nama Monalisa di daftar kontak tak ada. Mahira membuka galeri foto yang kebanyakan adalah foto mereka berdua. Tak ada foto lain yang mencurigakan. Akhirnya Mahira meletakan kembali ponsel itu dan kembali membaringkan tubuhnya. Ah, aku nggak akan mencari tahu lagi tentang gadis bernama Monalisa itu. Edmond mungkin sudah membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan Monalisa.
Mahira pun memejamkan matanya.
**************†
Hallo guys.....
Penasaran dengan Monalisa?
Dukung emak terus ya
emang ratu setan si muna.....😤👻
good Ed 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
1*istri tidak percaya suami, suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
*suami tidak percaya istri, suami tetap salah karena hubungan harus dilandasi kepercayaan
2*PEBINOR, lelaki lain yang menyukai istri, cintanya tulus, tidak boleh dihukum apapun kesalahannya, harus berakhir bahagia
*PELAKOR, wanita lain yang menyukai suami, cinta obsesi, jalang, harus dibinasakan
3*istri buat salah, jangan dibesarkan, harus langsung dimaafkan
*suami buat salah, tidak boleh langsung dimaafkan, suami harus dibuat mengemis dan berjuang dulu
4*intraksi istri dengan lelaki lain, tidak masalah, itu hanya intraksi biasa
*intraksi suami dengan wanita lain, menjijikan, laknat
5*istri tidak Terima masa lalu suami, itu wajar, suami harus membuktikan diri
*suami tidak Terima masa lalu istri, kesalahan besar, hubungan harus saling menerima keadaan masing2
6*istri berbohong pada suami, biasa saja jangan terlalu dimasalahkan
*suami berbohong pada istri, kesalahan besar, hubungan harus saling jujur
dan ini semua ada dinovel ini dan mirisnya author selalu membela mahira dan selalu membiarkan kesalahan mahira dan selalu membiarkan kesalahan teddy (PEBINOR) tapi author membesar2kan kesalahan edmond dan edmond selalu salah dan dibuat menebus kesalahannya, mengemis cinta dan berjuang, dan pelakor dilalnat dan dibinasakan
dimana keadilan kalau sudah begini????? miris