Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri Karma Kakek Sapu
Matahari semakin tinggi, memanggang ribuan calon murid yang berdesak-desakan di lapangan batu giok putih. Bau keringat bercampur dengan parfum mahal dari para tuan muda menciptakan aroma yang menyesakkan. Ketegangan menggantung di udara, setebal kabut yang baru saja menghilang.
Han Luo berdiri tegak di pinggiran lapangan, tangan kanannya bersandar santai pada gagang pedang besinya. Wajahnya datar, topeng sempurna seorang murid luar yang patuh. Namun, matanya yang tersembunyi di balik poni rambut terus bergerak, membedah setiap sudut lapangan seperti seorang arsitek yang mencari retakan pada bangunan.
Dia tidak peduli pada pidato pembukaan Tetua Sekte yang membosankan tentang "Keadilan" dan "Kerja Keras". Han Luo tahu, di dunia ini, keadilan hanyalah dongeng untuk meninabobokan yang lemah.
Mata Han Luo berhenti pada satu titik di dekat gerbang samping, jauh dari kerumunan utama.
Di sana, seorang kakek tua bungkuk dengan pakaian kain kasar yang penuh tambalan sedang menyapu debu di tangga batu. Sapu lidinya bergerak lambat, srak, srak, seolah-olah dia sedang menghitung setiap butir debu. Para calon murid yang lewat mengabaikannya, beberapa bahkan meludah ke arahnya atau menendang debu yang sudah dikumpulkannya dengan sengaja.
Han Luo menyeringai tipis.
Itu dia.
Dalam Bab novel asli, Long Tian—dengan hati emasnya yang klise—akan melihat kakek tua ini terjatuh saat disenggol oleh seorang murid sombong. Long Tian akan membantunya berdiri, membersihkan jubahnya, dan memberinya sebotol air.
Ternyata, kakek itu adalah Tetua Agung Feng, salah satu dari tiga pilar Sekte Pedang Awan yang sedang bosan dan menyamar untuk mencari murid dengan "Hati Dao" yang murni. Berkat kejadian itu, Long Tian mendapatkan token pelindung rahasia yang menyelamatkannya dari hukuman mati di masa depan.
"Maaf, Long Tian," batin Han Luo. "Hati Daomu mungkin murni, tapi Hati Daoku lapar."
Han Luo meninggalkan posnya. Dia tidak berjalan terburu-buru, melainkan dengan langkah tegap dan berwibawa layaknya petugas keamanan yang sedang melakukan inspeksi.
Saat dia mendekati tangga itu, dia melihat momen pemicu akan segera terjadi. Seorang pemuda gendut dengan pakaian sutra—anak seorang pedagang kaya—sedang berjalan angkuh menuju tangga, tidak melihat si penyapu jalan.
Di novel asli, pemuda gendut ini akan menabrak si kakek.
Han Luo mempercepat langkahnya. Tepat sebelum bahu si gendut menyentuh punggung bungkuk kakek itu, Han Luo mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram bahu pemuda itu dengan kuat.
"Berhenti," ucap Han Luo dingin.
Pemuda gendut itu tersentak, lemak di wajahnya bergetar kaget. "Apa?! Kau murid luar rendahan, berani menyentuhku?!"
"Di depanmu ada anggota sekte yang sedang bekerja," kata Han Luo, suaranya cukup keras untuk didengar orang di sekitar, tapi cukup tenang untuk terdengar profesional. "Tugas pertama seorang kultivator adalah mengamati lingkungan. Jika kau bahkan tidak bisa melihat orang hidup di depan matamu, bagaimana kau bisa melihat jebakan musuh di masa depan?"
Pemuda itu terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah, tapi dia tidak berani membantah seorang murid resmi sekte, meskipun hanya murid luar. Dia mendengus, lalu melipir pergi.
Han Luo kemudian berbalik menghadap kakek tua itu. Dia tidak tersenyum ramah. Dia tidak menawarkan air. Dia tidak berakting sebagai "Orang Baik". Tetua Agung Feng sudah hidup 400 tahun; dia bisa mencium kepalsuan dari jarak satu mil.
Sebaliknya, Han Luo membungkuk hormat dengan gaya militer sekte.
"Maaf mengganggu pekerjaan Anda, Paman," kata Han Luo datar. "Ujian akan segera dimulai. Gelombang energi dari Batu Penguji Roh nanti cukup kuat. Sebaiknya Paman menyapu di area timur paviliun agar tidak terkena dampak debu yang beterbangan."
Kakek tua itu berhenti menyapu. Dia mengangkat kepalanya perlahan, menatap Han Luo dengan mata yang keruh namun tajam.
"Kau melidungi orang tua ini karena kasihan, Anak Muda?" tanya kakek itu dengan suara serak.
"Tidak," jawab Han Luo jujur. "Saya melindungi aturan sekte. Setiap orang di sini punya tugas. Tugas Anda menyapu, tugas saya menjaga ketertiban. Jika Anda terluka, itu berarti saya gagal menjaga ketertiban area saya. Itu akan menjadi noda dalam catatan kinerja saya."
Hening sejenak.
Jawaban itu sangat pragmatis. Dingin. Tidak ada sedikitpun kehangatan. Tapi di telinga Tetua Agung Feng yang sudah muak dengan penjilat, jawaban itu terdengar... segar.
"Melindungi kinerja, ya..." Kakek tua itu terkekeh pelan, menampakkan gigi kuningnya. "Jarang ada anak muda yang jujur dengan ambisinya. Siapa namamu, Nak?"
"Han Luo. Murid Luar Divisi 7."
"Han Luo..." Kakek itu mengangguk-angguk, lalu merogoh saku bajunya yang kotor. Dia mengeluarkan sebuah koin tembaga tua yang sudah berkarat hijau. Bukan token emas, bukan giok. Hanya sampah.
"Ini bayaran karena sudah mengusir lalat tadi. Ambillah."
Han Luo menerimanya dengan dua tangan, membungkuk lagi tanpa melihat nilai benda itu, lalu kembali ke posnya tanpa menoleh lagi.
Dari kejauhan, Han Luo merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Berhasil.
Dia tahu koin berkarat itu bukan sampah. Itu adalah Koin Resonansi Pedang. Benda itu tidak memberikan kekebalan hukum seperti token emas yang didapat Long Tian di novel asli, tapi benda itu memiliki fungsi yang lebih berguna bagi Han Luo saat ini: Akses masuk ke "Paviliun Kitab Kuno" lantai dasar tanpa biaya, satu kali pakai.
Han Luo melirik ke arah gerbang. Long Tian baru saja tiba di dekat tangga itu. Dia melihat kakek tua itu, tersenyum ramah, dan hendak menyapa.
Tapi kakek itu sudah membalikkan badan dan berjalan pergi ke arah timur, mengikuti "saran" Han Luo, meninggalkan Long Tian yang berdiri bingung dengan tangan terulur memegang botol air.
Satu benang takdir lagi telah diputus.
"PENGUJIAN DIMULAI!"
Teriakan Tetua Penguji memecahkan lamunan Han Luo.
Di tengah lapangan, sebuah pilar kristal setinggi tiga meter mulai berdengung. Ini adalah Pilar Pengukur Akar Roh.
Satu per satu calon murid maju. Mereka meletakkan tangan di pilar itu.
"Wang Ba, Akar Roh Logam, Kualitas Rendah. GAGAL!" "Li Si, Akar Roh Air dan Tanah, Kualitas Menengah. LULUS - MURID LUAR!" "Zhao Wu, Tanpa Akar Roh. PULANG!"
Suasana menjadi brutal. Tangisan mereka yang gagal memenuhi udara, sementara sorak sorai mereka yang lulus terdengar pongah.
Han Luo memperhatikan dengan bosan. Dia menunggu momen utama.
Tiba-tiba, kerumunan terbelah. Liu Ming—murid dalam yang Han Luo lihat di pasar gelap semalam—berjalan mengawal seorang remaja angkuh berbaju emas.
"Itu Tuan Muda Liu Feng! Adik dari Kakak Senior Liu Ming!" bisik murid di sebelah Han Luo.
Liu Feng maju ke depan pilar dengan dagu terangkat. Dia meletakkan tangannya.
BOOM!
Cahaya emas menyilaukan meledak dari pilar, naik hingga mencapai ketinggian tujuh puluh persen pilar.
"Akar Roh Emas Murni! Kualitas Tinggi!" teriak Tetua Penguji, suaranya bergetar karena gembira. "LULUS! LANGSUNG MENJADI MURID DALAM!"
Sorak sorai meledak. Para Tetua di panggung kehormatan mengangguk-angguk setuju. Liu Feng menyeringai, melambaikan tangan seolah dia sudah menjadi raja dunia.
"Hebat sekali..." gumam orang-orang.
Namun, Han Luo hanya melirik ke arah Long Tian. Pemuda desa itu tampak tidak terintimidasi. Dia justru terlihat... tenang. Terlalu tenang.
"Sekarang giliranmu, Anak Takdir," batin Han Luo. "Tunjukkan pada mereka bagaimana caramu menghancurkan ego Tuan Muda Liu Feng, agar dia membencimu seumur hidup."
Long Tian melangkah maju. Pakaian linennya yang sederhana terlihat kontras dengan kemewahan Liu Feng. Beberapa orang tertawa mengejek.
"Lihat orang desa itu." "Dia pasti cuma punya Akar Roh Rumput."
Long Tian mengabaikan mereka. Dia menarik napas panjang, menempelkan telapak tangannya ke kristal dingin itu.
ZING.
Hening.
Tidak ada ledakan cahaya. Tidak ada gemuruh.
Hanya seberkas cahaya merah redup yang merayap naik, sangat lambat, seperti cacing yang sekarat. Cahaya itu berhenti di angka sepuluh persen. Lalu muncul warna lain: biru, hijau, kuning, cokelat. Lima warna bercampur aduk menjadi lumpur cahaya yang menjijikkan.
"Akar Roh Lima Elemen..." gumam Tetua Penguji dengan nada jijik. "Kualitas... Sampah."
Tawa meledak di seluruh lapangan. Tawa yang menghina, menusuk, dan kejam.
"Hahaha! Sampah!" "Lima Elemen? Itu akar roh terburuk! Butuh 5 kali lipat sumber daya untuk naik tingkat!" "Pulang saja sana mencangkul!"
Wajah Long Tian memucat. Dia menatap tangannya tidak percaya. "Tidak mungkin... Guru bilang aku..." Dia menyentuh cincin di jarinya.
Han Luo, di posisinya, menyipitkan mata, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sesuai prediksi.
"Ternyata Dao Langit tidak mahakuasa," batin Han Luo sinis. "Aku sengaja membeli 'Rumput Bintang Ungu' di pasar gelap kemarin karena novel mengatakan itu adalah sumber energi darurat untuk Kakek Tua di dalam cincinmu. Aku sempat khawatir Dao Langit akan memunculkan keajaiban lain sebagai pengganti, tapi ternyata tidak."
Han Luo menepuk gagang pedangnya pelan, seolah memberi selamat pada dirinya sendiri.
"Tanpa rumput itu, Kakek Tuamu tidak punya energi untuk memalsukan hasil tesmu, Long Tian. Kau telanjang sekarang. Tidak ada status palsu 'Akar Roh Api Mutlak'. Kau hanyalah sampah Lima Elemen yang jujur."
Ini adalah kemenangan strategi pertamanya. Dia tidak hanya mencuri sumber daya, dia mematahkan plot.
"Gagal," kata Tetua Penguji dingin. "Turun."
Long Tian mengepalkan tinjunya. Dia tidak bergerak. "Tunggu, Tetua! Biarkan aku mencoba tes kekuatan fisik! Aku mungkin tidak punya bakat sihir, tapi aku kuat!"
Tetua itu hendak mengusirnya, tapi tiba-tiba sebuah suara merdu terdengar dari tribun VIP.
"Biarkan dia mencoba."
Semua orang menoleh. Seorang wanita cantik dengan jubah biru muda, wajahnya sedingin es namun mempesona, sedang menatap Long Tian dengan rasa ingin tahu.
Peri Lin. Heroine Pertama.
Han Luo menghela napas panjang, tapi tidak terlihat kecewa. "Tentu saja. Jika Mekanisme A (Bakat) gagal, Mekanisme B (Wanita) akan aktif. Dao Langit selalu punya jalan belakang."
Tapi ini kesempatan. Long Tian akan masuk sebagai "Murid Pekerja" atau "Murid Luar" paling bawah, sama sepertinya. Ini akan mempermudah Han Luo untuk mengawasi dan menjebaknya dalam insiden "Pencurian Pil" nanti.
Han Luo menatap Long Tian yang kini bersiap memukul gong pengukur kekuatan.
"Selamat datang di neraka kelas bawah, Pahlawan," bisik Han Luo. "Di sini, akulah rajanya."