NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Setahun setelah pertemuan tak terduga di SMA Garuda, hari yang paling dinanti pun tiba. Sebuah taman mewah di pinggiran kota telah disulap menjadi altar terbuka yang sangat indah. Dekorasi didominasi oleh mawar putih dan sentuhan warna merah kesukaan Jenny—melambangkan keberanian dan cinta yang membara.

Jenny berdiri di depan cermin besar di ruang rias pengantin. Ia mengenakan gaun putih panjang yang elegan dengan detail payet yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambutnya disanggul rapi, disisipi sebuah bros kecil berwarna merah yang berkilau.

"Gila, Jen... lo beneran jadi pengantin paling cantik yang pernah gue liat," ucap Lisa yang masuk ke ruangan, mengenakan seragam bridesmaid berwarna merah marun. Matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya.

"Makasih, Lis. Gue masih nggak percaya hari ini bakal dateng," jawab Jenny dengan suara sedikit bergetar karena gugup.

"Angga udah siap di depan. Dia ganteng banget, Jen. Tapi tetep aja, muka tegangnya nggak bisa ditutupin," Lisa tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

Di barisan kursi tamu, suasana mulai riuh. Banyak teman-teman lama dari SMA Garuda yang hadir. Di pojok kiri, Romeo tampak gagah dengan setelan jas hitam, berdiri di samping barisan groomsmen.

Namun, perhatian beberapa tamu tertuju pada seorang pria yang baru saja masuk dengan langkah tenang. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, membawa sebuah kado kecil berbungkus kertas kado mewah. Ia adalah Jonathan.

Kehadirannya sempat membuat beberapa alumni berbisik, namun Jonathan hanya memberikan senyum tipis yang tulus. Ia berjalan menuju buku tamu, menuliskan namanya, lalu duduk di barisan tengah—bukan di barisan depan, namun tetap bisa melihat altar dengan jelas.

Jenny memang sengaja mengundangnya. Baginya, Jonathan adalah bagian dari sejarah hidupnya yang membuatnya menjadi wanita sekuat sekarang. Mengundangnya adalah cara Jenny menunjukkan bahwa ia sudah sepenuhnya damai dengan masa lalu.

Musik klasik mulai mengalun merdu. Semua tamu berdiri saat Jenny mulai berjalan menyusuri aisle ditemani oleh ayahnya. Di ujung sana, Angga berdiri dengan setelan tuksedo hitam. Saat matanya bertemu dengan mata Jenny, Angga tidak bisa menahan air matanya. Ia menangis haru melihat wanita yang ia cintai sejak masa SMA kini akan resmi menjadi miliknya.

Saat mereka berhadapan di depan pendeta, suasana menjadi sangat hening.

"Jennifer, apakah engkau bersedia menerima Angga sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

"Gue bersedia," jawab Jenny dengan mantap, membuat beberapa tamu tersenyum mendengar gaya bicara "aku-kamu" mereka yang kini berubah menjadi janji formal namun penuh perasaan.

"Angga, apakah engkau bersedia menerima Jennifer sebagai istrimu?"

"Gue bersedia," jawab Angga dengan suara lantang yang mantap.

Saat mereka bertukar cincin, sorak-sorai dan tepuk tangan pecah. Angga menarik Jenny ke dalam pelukan hangat dan mengecup kening istrinya dengan penuh hormat.

Saat acara resepsi berlangsung, Jonathan memberanikan diri menghampiri pelaminan. Angga yang melihat Jonathan mendekat langsung memberikan senyum ramah, tidak ada lagi tatapan dingin seperti di lapangan voli dulu.

"Selamat, Ngga. Selamat, Jen," ucap Jonathan sambil menjabat tangan mereka berdua secara bergantian. "Kalian terlihat sangat bahagia. Terima kasih sudah mengizinkanku menjadi saksi kebahagiaan kalian."

"Makasih sudah datang, Jo," jawab Jenny tulus. "Gimana kuliah di luar negeri? Gue denger lo dapet beasiswa penuh?"

"Iya, bulan depan berangkat. Ini hadiah kecil dariku, semoga kalian suka," Jonathan menyerahkan kadonya. "Dan Jen... terima kasih sudah mengajarkanku arti memaafkan. Tanpa itu, aku mungkin nggak akan pernah bisa bangkit."

Angga menepuk pundak Jonathan. "Sukses terus di sana, Jo. Jaga diri lo baik-baik."

Jonathan mengangguk, lalu berpamitan. Saat ia berjalan pergi, ia sempat berpapasan dengan Romeo yang sedang asyik makan zuppa soup.

"Woi, Robot! Jangan nangis di pojokan ya!" teriak Romeo sambil tertawa.

Jonathan hanya membalas dengan lambaian tangan tanpa menoleh. Ia berjalan keluar dari area pesta dengan langkah yang terasa ringan. Ia melihat ke langit senja dan tersenyum—ia akhirnya bebas dari belenggu masa lalunya sendiri.

Malam harinya, di bawah lampu-lampu taman yang hangat, Angga dan Jenny melakukan dansa pertama mereka sebagai suami istri. Lagu lembut mengalun, dan Angga membisikkan sesuatu di telinga Jenny.

"Jen, lo inget nggak dulu pas gue bilang gue bakal pastiin lo bahagia?"

Jenny mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Angga. "Inget banget. Lo cowok paling sombong yang pernah gue kenal saat itu."

"Sombong karena gue tau, cuma gue yang bisa jagain lo kayak gini," bisik Angga sambil mengeratkan pelukannya. "I love you, My Queen."

"I love you too, My King," jawab Jenny lembut.

Di kejauhan, Lisa dan Romeo menonton mereka sambil bergandengan tangan. "Kapan ya giliran kita, Rom?" tanya Lisa manja.

"Nunggu gue lulus S2 dulu. Sabar ya, Bawel," jawab Romeo sambil merangkul Lisa lebih erat.

Kisah cinta SMA Garuda yang penuh drama, air mata, dan pengkhianatan itu akhirnya ditutup dengan sebuah pesta kebahagiaan yang abadi. Jenny tidak lagi membutuhkan bando merah untuk terlihat berani, karena kini ia memiliki cinta Angga yang selalu menguatkannya setiap hari.

THE END - HAPPY EVER AFTER

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!