NovelToon NovelToon
The Queen

The Queen

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Musim gugur di Roma membawa hawa dingin yang menusuk, namun atmosfer di Universitas Sapienza justru memanas. Kepindahan Natalie Alistair untuk melanjutkan studinya di Italia bukan sekadar kepindahan akademis, melainkan sebuah proklamasi kekuasaan. Di tanah para kaisar ini, Natalie tidak lagi bersembunyi di balik gaun pastelnya. Ia bertransformasi menjadi La Regina Rossa—Sang Queen Merah.

Setiap pagi, sebuah mobil sport kustom berwarna hitam legam akan berhenti tepat di depan gerbang kampus. Pintu terbuka, dan Giuliano de Medici akan turun dengan setelan jas Italia yang dijahit sempurna, memancarkan aura maskulin yang tak tertandingi. Selama bertahun-tahun, Giuliano adalah fantasi terliar para wanita bangsawan Italia—sosok pangeran bisnis yang tak tersentuh.

Namun kini, pemandangan itu selalu sama, Giuliano akan melangkah memutar, membukakan pintu untuk Natalie, dan memberikan kecupan lembut di punggung tangan gadis itu sebelum membiarkannya masuk ke kelas.

"Lihat itu," bisik sekelompok mahasiswi dengan nada iri yang kental. "Giuliano tidak pernah menatap wanita mana pun seperti itu. Dia benar-benar gila pada gadis Timur itu."

Ribuan hati wanita di Roma hancur setiap harinya. Foto-foto paparazzi yang menangkap momen mereka sedang makan gelato di Spanish Steps atau sekadar berjalan santai di Trastevere menjadi bukti bahwa Giuliano telah terkunci sepenuhnya. Natalie, dengan kecerdasan yang tajam dan gaya bicara yang blak-blakan, justru membuat para wanita itu semakin minder. Ia bukan hanya cantik, ia adalah satu-satunya orang yang berani mendebat pemikiran Giuliano dalam rapat-rapat ekonomi tingkat tinggi.

Di sisi lain kota, di dalam sebuah vila mewah yang kini terasa seperti penjara, Ambarvella d’Abruzzo menatap layar ponselnya dengan mata merah. Penghinaan di kastil Medici masih membekas seperti luka bakar di jiwanya. Ia kehilangan reputasi, kehilangan akses ke bank Medici, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan Giuliano di depan matanya sendiri.

"Kau pikir kau bisa hidup tenang di kotaku, Natalie?" desis Ambar sambil meremas foto Natalie.

Ambar tidak tinggal diam. Meskipun aset keluarganya dibekukan, ia masih memiliki jaringan gelap dari sisa-sisa kartel yang dulu bekerja sama dengan ayahnya. Ia merencanakan sesuatu yang lebih dari sekadar fitnah, ia menginginkan Natalie hancur secara fisik, hingga Giuliano tidak akan pernah mau menatapnya lagi.

Ambar menyewa seorang tentara bayaran ahli sabotase. Rencananya sederhana namun mematikan, sebuah serangan saat acara Gala Autumn di Palazzo Colonna, tempat di mana seluruh elit Italia akan berkumpul untuk merayakan aliansi Alistair-Medici.

Malam Gala tiba. Natalie tampil begitu mempesona dengan gaun sutra hitam rancangan desainer lokal yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang. Giuliano berdiri di sampingnya, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Natalie, seolah-olah ia sedang menjaga harta paling berharga di dunia.

"Kau sangat cantik malam ini, Natalie," bisik Giuliano di telinganya. Suaranya yang berat membuat bulu kuduk Natalie berdiri.

"Dan kau tampak sangat berbahaya dengan jas itu, Giuliano," balas Natalie dengan kerlingan nakal.

Di tengah dansa yang romantis, Natalie menyadari sesuatu yang aneh. Ia melihat seorang pelayan yang terus-menerus memperhatikannya, tangannya tampak menyembunyikan sesuatu di balik nampan. Insting bar-bar Natalie langsung bergejolak. Ia bukan lagi gadis lugu, ia adalah predator yang terlatih.

"Giuliano, ada yang tidak beres," bisik Natalie tenang.

Belum sempat Giuliano menjawab, pelayan itu melemparkan sebuah wadah kecil berisi cairan asam ke arah wajah Natalie. Namun, dengan kecepatan yang luar biasa, Natalie menarik taplak meja panjang, mengibaskannya seperti perisai, dan menangkis cairan itu hingga jatuh ke lantai marmer yang langsung berasap.

Kekacauan pecah. Giuliano dengan sigap menarik Natalie ke belakang tubuhnya, sementara para pengawal Medici langsung meringkus pelayan tersebut.

Pelayan itu mengaku dalam hitungan menit di bawah tekanan interogasi Giuliano. Semuanya mengarah pada satu nama, Ambar.

Malam itu juga, tanpa menunggu polisi, Giuliano dan Natalie mendatangi vila Ambar. Kali ini, Giuliano tidak lagi menjadi pria yang sabar. Ia menendang pintu depan hingga hancur.

Ambar ditemukan sedang duduk di ruang tengah dengan segelas wiski, tampak tenang namun gila. "Oh, kalian selamat? Sayang sekali. Aku ingin melihat wajah cantikmu meleleh, Natalie."

Natalie melangkah maju, mendorong Giuliano ke samping. Ini adalah urusannya. Ia menjambak rambut Ambar dan menariknya hingga berdiri, lalu mendaratkan tamparan keras yang membuat Ambar tersungkur.

"Dengarkan aku, Ambar," suara Natalie terdengar seperti desis ular. "Aku sudah membiarkanmu sekali. Tapi kau menyentuh keselamatanku di depan Giuliano? Itu kesalahan terakhirmu. Aku sudah meretas seluruh sistem pribadi keluargamu. Besok pagi, sisa harta d’Abruzzo yang kau banggakan akan dialihkan untuk mendanai panti asuhan di seluruh Indonesia. Kau tidak akan punya apa-apa lagi. Bahkan untuk membeli lipstik murahan pun kau tidak akan sanggup."

Ambar berteriak histeris, mencoba menyerang Natalie, namun Giuliano menangkap tangannya dan memelintirnya dengan dingin. "Sentuh dia lagi, Ambar, dan aku sendiri yang akan memastikan kau menghilang dari peta Italia tanpa jejak."

Setelah drama tersebut berakhir, Giuliano membawa Natalie kembali ke kediaman mereka. Adrenalin dan emosi yang meluap membuat atmosfer di antara mereka menjadi sangat panas.

Begitu pintu kamar tertutup, Giuliano langsung mencium Natalie dengan penuh gairah, sebuah ciuman yang memproklamasikan kepemilikan dan rasa syukur karena Natalie baik-baik saja. Natalie membalasnya dengan intensitas yang sama, tangannya menarik kerah baju Giuliano hingga beberapa kancingnya lepas.

Mereka terjatuh ke sofa kulit yang besar. Giuliano mencumbui setiap inci wajah Natalie, turun ke leher dan bahunya, meninggalkan jejak-jejak merah yang panas. Natalie mendesah, jarinya meremas rambut Giuliano. Gairah itu hampir mencapai titik yang tak terkendali.

"Giuliano..." Natalie berbisik dengan napas terengah, matanya sayu menatap pria di atasnya.

Giuliano berhenti tepat saat tangannya mulai membuka resleting gaun Natalie. Ia menarik napas dalam-dalam, dahi mereka bersentuhan. Keringat mengucur di pelipis Giuliano. Ia sangat menginginkan Natalie, namun ia mengingat janjinya pada Adrian dan pada kehormatan hubungan mereka.

"Hampir saja," bisik Giuliano parau. Ia mencium kening Natalie dengan lembut, lalu bangkit dan merapikan pakaian Natalie. "Setiap hari menahan diri darimu adalah siksaan terindah dalam hidupku, Natalie. Tapi aku tidak akan merusak kesucian ini sebelum kau memakai marga Medici di belakang namamu."

Natalie tersenyum kagum. Kesabaran Giuliano adalah bukti cinta yang paling nyata. Ia tahu banyak pria akan memanfaatkan situasi ini, tapi Giuliano justru menjaganya seperti permata paling suci.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!