NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Aku menatap tumpukan sketsa wajahku itu sekali lagi, lalu mendongak menatap matanya yang biru jernih. Di ruangan yang tenang ini, hanya ada aku dan dia. Rasa ingin tahuku tiba-tiba memuncak, mengalahkan rasa pusing yang tadi melanda.

"Kael," panggilku pelan. "Boleh aku bertanya sesuatu yang serius?"

Kaelen menyesuaikan pelukannya, jemarinya mengusap lenganku lembut. "Apa pun, Sayang."

"Kenapa kamu sangat mencintaiku? Maksudku... dari semua orang di dua dunia ini, kenapa harus aku yang kamu pilih untuk kamu jaga habis-habisan?"

Kaelen terdiam sejenak. Ia memutar tubuhku agar aku menghadapnya sepenuhnya. Ia menatapku dengan tatapan yang begitu intens, seolah sedang membaca setiap inci jiwaku.

"Pertanyaan yang sulit," gumamnya dengan senyum tipis yang mematikan. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telingaku. "Tapi jawabannya sebenarnya sederhana."

Ia menarik napas dalam, matanya mengunci mataku. "Pertama, karena kamu rapuh, Kazumi. Sejak dulu aku selalu merasa kamu butuh perlindungan, dan aku merasa hanya akulah yang ditakdirkan untuk menjadi perisaimu. Aku tidak bisa membiarkan dunia yang kasar ini menyentuhmu tanpa seizinku."

Aku tertegun, merasakan ketulusan dalam suaranya. Namun sebelum aku sempat terharu lebih jauh, ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, membisikkan sesuatu dengan nada yang lebih menggoda.

"Dan alasan kedua..." Ia menjeda kalimatnya, lalu menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan memuja. "Karena kamu sangat cantik dan menawan. Aku pria normal, Kazumi. Bagaimana mungkin aku bisa berpaling dari wanita sepertimu? Keindahanmu itu seperti sihir yang bahkan lebih kuat dari apa yang pernah kita miliki di dunia lama."

Wajahku langsung memerah padam. "Kael! Kamu ini..."

Kaelen tertawa rendah, suara tawanya yang langka itu terdengar begitu merdu. Ia mengecup keningku dengan sayang. "Itu kejujuranku. Kamu adalah kombinasi dari kelembutan yang ingin kulindungi dan kecantikan yang ingin kumiliki seutuhnya. Jadi, berhenti bertanya 'kenapa', karena bagiku, mencintaimu adalah hal yang paling masuk akal di dunia ini."

Ia kemudian membimbingku kembali ke tempat tidur, mendudukkanku dengan hati-hati dan mengambil mangkuk sup yang masih mengepul. "Sekarang, berhenti berpikir berat. Buka mulutmu, aku akan menyuapimu sampai mangkuk ini kosong."

Aku tersenyum tipis, merasa sangat dimanjakan oleh perhatiannya. Efek sup hangat dan pelukan Kaelen membuat mataku mulai terasa berat. Rasa kantuk yang nyaman perlahan-lahan datang menyergap, membuatku ingin segera tenggelam ke dalam mimpi di bawah pengawasannya.

​"Kael," panggilku lirih sambil menarik ujung kemejanya saat ia hendak meletakkan mangkuk kosong ke meja.

​"Ya, Sayang? Ada yang sakit lagi?" tanyanya dengan nada siaga, langsung kembali mendekat.

​"Tidak... aku hanya merasa mengantuk. Tapi," aku menjeda kalimatku, menatapnya dengan pandangan memohon, "jangan pergi dulu. Tetaplah di sini, duduk di pinggir kasur ini dan pegang tanganku sampai aku benar-benar tertidur."

​Kaelen menatapku sejenak, lalu senyum lembut terukir di wajah tampannya. Ia melepaskan kancing pergelangan kemejanya, menggulungnya sedikit, lalu duduk di posisi yang kuminta. Ia meraih tanganku, menyatukan jemari kami dengan erat, dan mengusap punggung tanganku menggunakan ibu jarinya.

​"Aku tidak akan ke mana-mana, Kazumi. Tidurlah,"

bisiknya dengan suara bariton yang menenangkan.

​Aku merebahkan kepalaku di bantal yang harum aroma tubuhnya. "Janji? Kamu tidak akan pergi ke ruang kerja untuk mengerjakan laporan Profesor Haryo saat aku tidur?"

​"Laporan itu bisa menunggu sampai besok pagi, tapi tugas menjagamu tidak bisa ditunda sedetik pun," jawabnya mantap. Ia membungkuk, mengecup kelopak mataku yang mulai terpejam. "Tidurlah, calon istriku. Aku akan tetap di sini, memegang tanganmu, memastikan tidak ada satu pun mimpi buruk yang berani mendekatimu."

​Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan kehangatan tangannya dan keberadaannya yang begitu nyata di sisiku. Di dunia tanpa sihir ini, aku baru menyadari bahwa perlindungan paling kuat bukanlah mantra atau pedang, melainkan genggaman tangan pria yang sangat mencintaiku ini.

​Tak butuh waktu lama sampai napasku menjadi teratur dan aku terlelap sepenuhnya. Kaelen tetap pada posisinya, menatap wajah tidurku dengan tatapan memuja, sesekali menciumi jemariku seolah aku adalah harta paling berharga yang pernah ia temukan di antara dua dunia.

Perlahan, rasa kantuk yang sama mulai menjalar ke mata Kaelen. Melihat wajah damai Kazumi yang terlelap dalam balutan sprei miliknya membuat pertahanannya runtuh. Ia tidak ingin hanya sekadar duduk di pinggir kasur; ia ingin merasakan detak jantung gadis itu lebih dekat, memastikan bahwa semua ini bukan sekadar fatamorgana.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan sang pujaan hati, Kaelen menyingkirkan bantal-bantal kecil di sisi tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Kazumi, menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama.

Lengan kokohnya perlahan merayap di bawah leher Kazumi, menjadikannya bantal yang hangat, sementara tangan lainnya melingkar posesif di pinggang gadis itu. Ia menarik tubuh Kazumi hingga benar-benar merapat ke dadanya.

Dalam tidurnya, Kazumi secara naluriah mencari sumber kehangatan. Ia mengerang pelan, lalu menyandarkan wajahnya di ceruk leher Kaelen, menghirup aroma maskulin yang menenangkan itu dalam-dalam. Kaelen memejamkan mata, membenamkan wajahnya di rambut harum Kazumi, dan membisikkan janji terakhir sebelum ia sendiri terlelap.

"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Di dunia ini, tidak akan ada lagi perang atau rahasia yang memisahkan kita. Hanya ada aku, kamu, dan masa depan kita."

Kaelen pun tertidur dengan senyum tipis di bibirnya. Kamar itu menjadi saksi bisu betapa dua jiwa yang telah menyeberangi dimensi ini akhirnya menemukan peristirahatan yang paling sempurna: di pelukan satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!