NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIA 21

Tiba-tiba Nadia tertawa sinis.

“Kamu memang licik, Miranda,” sindir wanita berjilbab itu sambil memandang Miranda.

“Tidak ada pembekuan perusahaan, Miranda. Kasus jalan terus, tapi usaha tetap akan jalan. Kalau memakai logika kamu, maka seharusnya banyak BUMN yang gulung tikar. Masalah hukum diselesaikan di pengadilan. Selagi perusahaan tidak melakukan aktivitas-aktivitas melanggar Undang-Undang Perindustrian, maka akan jalan terus,” ujar Nadia dengan nada sinis.

Nadia tahu Miranda hanya berspekulasi tanpa dasar, dan Nadia juga sama-sama berspekulasi, karena hal sebenarnya haruslah diselesaikan di pengadilan, tapi di sini hanya adu argumen dan nyali, siapa yang nyalinya ciut maka akan dengan sukarela menyerahkan uang.

“Lihatlah, Rizki,” tutur Anton, “pilihan Ayah tidak akan salah. Nadia ternyata mengambil kelas malam untuk magister, dia perempuan hebat.”

Rizki menatap sekilas. Dari segi penampilan tentu saja Nadia akan membawa citra dirinya akan lebih baik. Nadia wanita sempurna, cantik, terlihat solehah, tepat untuk branding dirinya.

Rizki ingin segera menolak, tapi ayahnya pasti akan marah dan ayahnya juga tidak melarang dia berhubungan dengan Melisa. “Punya dua wanita bukannya bagus,” pikir Rizki.

Untuk menyenangkan hati ayahnya, Rizki berkata, “pilihan Ayah memang terbaik.”

Seketika Saras memerah dan Miranda merasa jijik. Nadia sungguh musuh yang tak dia perhitungkan. Dia benar-benar serigala berbulu domba.

“Kamu itu dibuang keluarga Sukmana dan kamu tidak punya kekayaan. Kalau memang harus melalui jalur pengadilan, ya marilah kita lewat jalur pengadilan. Kita juga mengelola beberapa proyek pemerintah. Pemerintah tidak mungkin memberhentikan perusahaan Sanjaya Grup,” tegas Anton penuh percaya diri.

Anton merasa menyesal kenapa bisa takut dengan gertakan Miranda.

Selama dua tahun ini hal yang paling Miranda sesalkan adalah berusaha diakui jadi keluarga Sukmana, berharap mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandung hingga mau menikah dengan Rizki, lelaki di ujung bangkrut. Semua tabungannya sudah habis untuk menyelamatkan perusahaan Rizki dan tidak pernah terpikir untuk memperbanyak aset selama menikah dengan Rizki.

Dan kalau melaju ke meja pengadilan tentu itu harus mengeluarkan dana yang tak sedikit.

“Bagaimana, Miranda, kamu pasti takut, kan?” tanya Anton memecahkan keheningan.

Untung saja Miranda punya teman setia seperti Nabil. CCTV dia memang tidak berfungsi, tapi ada satu CCTV lagi dipasang oleh orang-orang Nabil berfungsi, CCTV yang dipasang oleh teknisi listrik saat listrik konslet.

Miranda mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan video ke Anton. Ukurannya besar, agak lama diunduhnya.

“Takut,” gumam Miranda sambil memasukkan ponselnya ke sakunya.

“Aku takut sekali, Ayah mertua,” ucap Miranda dengan nada seperti benar-benar ketakutan.

“Kirain aku kamu punya kelebihan, Miranda, ternyata kemampuan kamu hanya segini,” ejek Rizki sambil menyunggingkan senyum licik.

“Aku benar-benar takut kalau Ayah Anton kena serangan jantung setelah melihat video yang aku kirim,” tutur Miranda.

“Video apa, ha?” tanya Anton dengan bibir gemetar.

“Lihatlah ponsel kamu, Ayah mertua.”

Anton meraih ponselnya. Dia adalah orang yang sangat hati-hati. Dia mengedarkan pandangan. “Kalian menjauh atau pejamkan mata,” perintah Anton.

Tentu saja hal ini mengundang rasa curiga semua orang.

Tidak ada yang merespons serius ucapan Anton. Mereka tidak ada yang pergi dan tidak ada yang memejamkan mata.

“Sepertinya mereka memang budek, Ayah mertua,” ledek Miranda.

“Cepat pejamkan mata,” hardik Anton.

Barulah semua memejamkan mata dan perlahan Anton membuka pesan dari Miranda.

Mata Anton terbelalak, dadanya berdesir, pikirannya kacau.

“Bagaimana, bagaimana, bagaimana mungkin kamu mendapatkan hal ini,” ucap Anton.

Itu adalah video rekaman CCTV di kamar Saras, di mana kemarin malam dia sedang bermain dengan Saras dengan berbagai gaya.

“Apa itu, Ayah?” tanya Rizki.

“Diam kalian,” bentak Anton.

Semua terdiam.

Miranda menyunggingkan senyum licik.

“Bagaimana, bandot tua,” ucap Miranda sambil tersenyum menyeringai.

Anton melihat dua pria besar. Dua pria besar itu menghampiri Miranda. Tubuh Miranda yang kecil tentu akan mudah ditangani oleh dua pria kekar itu.

“Anda mau menakuti saya dengan dua ondel-ondel ini?” ejek Miranda tanpa takut sedikit pun.

“Asal Anda tahu, bandot tua,” ujar Miranda, “rekaman itu sudah aku salin. Aku sudah menyuruh anak buahku, jika aku besok mati atau bonyok, maka dia akan menyebarkannya ke berbagai media sosial, dan nama baik kamu...”

“Kurang ajar!” hardik Anton kesal. “Cepat hapus rekaman itu dan perintahkan anak buah kamu untuk menghapusnya juga.”

Muka Anton memerah, dadanya terasa sesak. Sebenarnya jantung dia baik-baik saja, hanya saja semenjak bangkrut dia malas bekerja. Dia sudah mempunyai dua anak lelaki, jadi buat apa lagi bekerja. Anton hanya ingin menikmati masa tuanya dengan senang-senang, dan saat ini benar-benar terasa nyeri di dadanya. “Apakah aku benar-benar sakit?” pikirnya.

“Ya, menghapus video itu hal yang gampang, penuhi dulu permintaanku,” tutur Miranda.

“Ayah,” panggil Rizki, “sebenarnya itu video apa?”

“DiaM kamu, ini urusan orang dewasa,” balas Miranda sambil menahan tawa.

Rizki hendak marah, namun Anton melotot ke arahnya. “Diamlah kalian.”

“Katakan apa yang kamu inginkan?” tanya Anton tertahan.

“Kembalikan uangku sembilan miliar,” pinta Miranda.

“Perampok,” geram Anton.

“Dasar tidak tahu diri, rakus,” umpat Saras.

“Kamu benar-benar serakah, Miranda. Selama ini kamu hidup enak, mendapatkan fasilitas dari keluarga Sanjaya, dan sekarang kamu malah memeras keluarga yang mengangkat kamu dari jalan hina,” cercah Saras.

“Diamlah,” sela Miranda. “Lebih baik kamu pikirkan gaya apa untuk nanti malam.”

Deg. Hati Saras terasa sesak, dadanya semakin menekan. Dia melihat wajah Anton, tangannya mengepal, giginya gemeretak, dalam hati bertanya, “Apa jangan-jangan Miranda sudah tahu hubunganku dengan Paman Anton?”

“Aku akan kembalikan uang tiga miliar milik kamu, sedangkan untuk dividen tentu saja aku tidak bisa memutuskan,” ucap Anton, tentu saja dia harus mengulur hal ini.

“Oke, baiklah, aku kasih waktu seminggu. Sekarang transfer dana tiga miliar padaku. Lebih dari seminggu aku akan melipatgandakan jumlahnya,” ujar Miranda.

“Ayah, kenapa Ayah mau memberikan uang itu?” protes Rizki. “Aku tidak rela.”

“Diamlah, biar ini jadi urusanku,” bentak Anton kesal.

Rizki, Saras, Raka, dan Nadia tentu saja bingung dengan keputusan Anton ini.

Rizki tahu betul kalau ayahnya itu orang yang perhitungan dan tidak gampang mengeluarkan uang, tapi Anton adalah pemegang keputusan tertinggi, jadi Rizki hanya bisa patuh dengan segala pertanyaan dalam diri, “Sebenarnya apa yang dikirimkan Miranda?”

“Cepat suruh asisten kamu untuk transfer ke rekening Miranda,” perintah Anton dengan nada dingin.

Anton menatap Miranda tajam dan untuk pertama kalinya dia menyimpulkan, “Dia benar-benar wanita licik, tidak sepolos yang aku kira.”

Dengan berat hati Rizki memerintah asistennya memindahkan uang perusahaan ke Miranda sebanyak tiga miliar. Butuh waktu sepuluh menit untuk melakukan pemindahan dana, dan selama itu Miranda hanya sibuk melihat aplikasi TikTok. Sesekali dia tertawa, benar-benar tidak terlihat sedih atau tertekan, padahal sebentar lagi dia akan jadi janda dan dibuang oleh keluarga Sanjaya.

Dalam hati Anton membuat rencana, malam ini Miranda harus keluar dari rumah Sanjaya. Setelah di luar rumah Sanjaya, tinggal menyuruh orang untuk menculiknya dan membuangnya jauh-jauh. “Bukankah Miranda masih jadi istri Rizki, jadi kalau Miranda mati tentu saja uang tiga miliar itu akan jadi milik Rizki.”

Anton sedikit lega setelah memikirkan rencana itu.

“Uang sudah masuk,” lapor Miranda sambil melihat ponselnya.

Miranda bangkit lalu masuk ke kamar dan menyeret koper, dan Miranda memang sudah mempersiapkan semuanya.

Miranda menatap Anton. “Kekurangannya enam miliar, lebih dari seminggu jadi dua belas miliar.”

Anton menggertakkan gigi lalu berteriak keras, “Pergi!”

Miranda tersenyum sinis kemudian melangkah pergi.

Anton memandang dua pria kekar lalu berkata tegas, “Kalian selesaikan dia,” perintah Anton.

Dua pria kekar itu pergi melaksanakan perintah Anton.

1
partini
beguna lah banyak video itu
partini
wow bisa bela diri teryata Very good 👍👍👍👍
partini
OMG mau eksekusi
Ma Em
Miranda makanya kamu hrs pintar dan cerdas jgn mau di manfaatkan .
partini
good story
partini
OMG kadal semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!