Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pagi Pertama di La Vie Sucrée
Jam menunjukkan 04.00 dini hari, tapi Yura masih melek.
Di dapur “La Vie Sucrée,” meja penuh tepung, mangkuk, loyang, dan adonan yang belum selesai. Tangannya bergerak cekatan, meskipun lelah. Ia mencoba satu resep demi satu resep croissant, éclair, macarons, tart buah semua dicoba berulang kali.
Percobaan pertama gagal, kedua gagal… bahkan beberapa kali adonan pecah atau tidak mengembang.
Namun Yura tak menyerah. Setiap kegagalan ia catat, setiap kesalahan ia perbaiki.
Waktu terus bergulir. Malam makin larut, tapi Yura tidak peduli.
Ia tahu mimpi ayahnya tidak menunggu, dan malam ini adalah awal dari semua yang mereka impikan bersama. Akhirnya, menjelang pukul 06.00, semua kue yang ia buat malam itu matang sempurna. Croissant mengembang dengan baik, macarons renyah di luar dan lembut di dalam, tart buah berwarna cerah dan harum semerbak.
Yura menarik napas dalam. Ia tersenyum, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena lega, bahagia, dan bangga. Tanpa sadar, tubuhnya kelelahan. Ia menutup mata sebentar di kursi, lalu menunduk ke meja dapur. Pipi dan bajunya dipenuhi tepung. Tangannya masih memegang spatula. Dalam kelelahan yang amat sangat itu, Yura tertidur lelap. Malam panjangnya berakhir dengan damai, dikelilingi aroma kue, kenangan ayahnya, dan mimpi yang perlahan menjadi nyata. Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal: Ini baru permulaan. Perjalanan panjang membangun toko kue impian baru saja dimulai.
Cahaya matahari pertama menembus jendela kaca “La Vie Sucrée.”
Yura menarik napas panjang, menyapu sisa tepung di meja dapur, dan merapikan etalase dengan hati-hati. Setiap kue ia letakkan dengan rapi, aroma manis memenuhi seluruh ruangan.
Meja kayu di tengah toko tampak hangat, siap menyambut siapa pun yang masuk. Jam dinding menunjukkan 08.00. Yura menarik gagang pintu, membuka toko untuk pertama kalinya. Di luar, beberapa orang sudah menunggu. Mereka tersenyum ketika pintu dibuka, menatap kue-kue yang tertata cantik di etalase.
“Akhirnya buka juga!” seru salah satu pelanggan wanita sambil menepuk tangan kecil.
“Kami selalu lewat sini dan penasaran, tapi selalu tutup,” tambah pria di sampingnya.
Yura tersenyum malu-malu, pipinya memerah.
“Selamat datang… terima kasih sudah menunggu,” ucapnya pelan, tetapi tulus.
Seorang pelanggan laki-laki mencoba kue croissant pertama, matanya berbinar.
“Rasanya… persis seperti yang ada di kafe Prancis!”
Yura merasa hatinya hangat.
Ia menatap rak kue, menyadari bahwa malam panjangnya, kegagalan, dan air mata semalam terbayar dengan senyum pelanggan pertama ini.
Setiap sapaan hangat, setiap decak kagum atas rasanya, membuatnya yakin: mimpi ayahku, mimpi kita, kini mulai menjadi nyata. Di luar, kota pagi yang sibuk berjalan seperti biasa, tetapi di dalam toko kecil ini, ada kehangatan yang baru saja dimulai. Yura menata kue berikutnya di etalase dengan hati-hati, matanya berkilau, dan senyumnya semakin lebar. Hari pertama ini bukan hanya tentang kue. Ini adalah awal baru.
Arkan sudah kehilangan kesabaran.
Yura menolak bertemu, dan itu cukup untuk membuatnya bertindak. Ia tiba di gedung perusahaan ritel tempat Yura bekerja tapi kali ini tidak sendirian. Di sisinya, seorang asisten profesional dan dua bodyguard mengikuti langkahnya, siap menangani apapun. Begitu masuk ke lobi, suasana langsung berubah.
Beberapa pegawai menatap dengan kagum dan sedikit takut. Arkan hanya menatap lurus ke depan, wajahnya dingin, tak ada senyum.
Asistennya melangkah maju.
“Selamat pagi. Kami mencari Yura, manajer di sini. Pak Arkan menginstruksikan agar dia segera ditemui.”
Atasan Yura, yang sedang Meeting langsung dikabari bahwa ada pak Arkan ke perusahaan Ia langsung menuju ke ruang lobi, terkejut. Pasti nya “Pak… Arkan? Datang langsung ke perusahaan kami…?”
Asisten Arkan menatap serius. “Ya, Pak. Yura tidak merespon telepon sebelumnya. Pak Arkan meminta kami memastikan dia segera hadir untuk pertemuan.”
Arkan tetap berdiri di belakang, tangannya disilangkan, mengamati seluruh ruangan dengan mata yang tajam dan penuh tekanan. Ia tidak perlu berbicara. Suara dingin asistennya saja sudah cukup untuk membuat atasan Yura merasa ketakutan sekaligus terpaksa jujur.
“Dia sedang tidak bisa dihubungi,” kata atasan Yura. “Kami sudah mencoba menelpon berkali-kali, tapi tidak ada jawaban.”
Asisten Arkan mengangguk pelan, lalu menatap atasan Yura dengan serius.
“Kalau begitu, tolong pastikan Yura menemui Pak Arkan sekarang. Tidak ada alasan untuk menunda.”
Arkan menatap tanpa berkata sepatah kata pun. Hanya tatapan tajam ke arah atasan Yura, yang seakan berkata: “Ini bukan permintaan. Ini instruksi.”
Di luar sana, Yura mungkin sedang fokus pada toko kue dan mimpinya…
Namun Arkan sudah memutuskan tidak ada yang akan membuatnya menunggu lebih lama.