Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Little Garden
Dua hari berlayar setelah meninggalkan Whiskey Peak, kami akhirnya melihat pulau berikutnya di cakrawala.
Dan bukan pulau biasa.
"ITU... DINOSAURUS?!" Usopp berteriak sambil menunjuk dengan jari gemetar.
Di pulau yang menjulang di depan kami, aku bisa melihat siluet makhluk raksasa—dinosaurus—berjalan di antara pepohonan yang tingginya mencapai ratusan meter.
"Little Garden," kata Nami sambil memeriksa peta dan Log Pose. "Pulau purba yang masih mempertahankan ekosistem zaman dinosaurus."
"SUGOI!" Luffy berteriak dengan mata berbinar. "DINOSAURUS! AKU MAU LIHAT! AKU MAU TANGKAP! AKU MAU MAKAN!"
"Tentu saja reaksinya itu," gumam Zoro sambil tersenyum geli.
Vivi yang masih berduka atas kehilangan Igaram mencoba tersenyum tipis melihat antusiasme Luffy. Setidaknya semangat Luffy bisa sedikit menghiburnya.
Going Merry berlabuh di pantai Little Garden. Hutan di depan kami terlihat sangat lebat—pohon-pohon raksasa, tumbuhan purba yang tidak pernah kulihat sebelumnya, dan suara-suara aneh dari dalam hutan.
"Log Pose butuh waktu satu tahun untuk merekam pulau ini," kata Nami sambil mengecek Log Pose-nya dengan wajah pucat.
"SATU TAHUN?!" semua orang berteriak bersamaan.
"Mustahil!" kata Sanji. "Kita tidak punya waktu satu tahun! Vivi harus sampai di Alabasta secepatnya!"
Vivi mengangguk dengan serius. "Alabasta tidak bisa menunggu satu tahun. Perang sipil sudah di ambang pintu. Kalau kita terlambat, ribuan orang akan mati."
"Kalau begitu kita harus cari cara lain," kata Robin dengan tenang. "Eternal Pose."
"Eternal Pose?" tanyaku.
"Log Pose yang sudah permanen merekam satu pulau tertentu," jelas Robin. "Tidak seperti Log Pose biasa yang harus merekam ulang setiap pulau, Eternal Pose selalu menunjuk ke satu pulau yang sama selamanya. Kalau kita bisa mendapatkan Eternal Pose ke Alabasta, kita bisa langsung ke sana tanpa harus menunggu Log Pose merekam pulau-pulau di antaranya."
"Tapi di mana kita bisa mendapatkan Eternal Pose ke Alabasta?" tanya Nami.
"Biasanya dimiliki oleh pedagang atau penduduk pulau yang sering berdagang dengan Alabasta," jawab Robin. "Atau... oleh agent Baroque Works."
Semuanya terdiam.
"Baroque Works," gumam Zoro. "Tentu saja mereka punya Eternal Pose ke Alabasta. Itu basis operasi boss mereka."
Spider Sense ku tiba-tiba berdering pelan.
"Ada seseorang di pulau ini," kataku sambil menatap hutan. "Aku merasakan kehadiran... tidak, dua kehadiran yang sangat besar. Dan beberapa kehadiran yang lebih kecil."
"Dua kehadiran besar?" Zoro menyipitkan mata. "Musuh?"
"Tidak tahu," jawabku. "Spider Sense ku tidak berdering bahaya. Tapi mereka... sangat kuat. Lebih kuat dari siapapun yang pernah kurasakan sebelumnya."
GROOOAAARRR!
Raungan dahsyat menggema dari dalam hutan!
"DINOSAURUS!" Luffy langsung melompat dari kapal dengan semangat. "AKU MAU LIHAT!"
"LUFFY, TUNGGU!" Nami berteriak tapi sudah terlambat.
"Dasar kapten yang tidak bisa diam," gumam Sanji sambil menyalakan rokok. "Baiklah, kita harus mengikutinya sebelum dia dimakan dinosaurus."
Kami semua turun dari kapal—kecuali Nami yang memutuskan tinggal di kapal untuk menjaga Going Merry. Vivi dan Karoo ikut bersama kami, begitu juga Robin.
Hutan Little Garden luar biasa. Pohon-pohonnya setinggi gedung pencakar langit, tumbuhan-tumbuhannya sebesar rumah. Dan yang paling menakjubkan—dinosaurus betulan berjalan di sekitar kami.
"Ini... ini seperti Jurassic Park," gumamku kagum sambil menatap seekor Brachiosaurus melewati kami.
"Jurassic apa?" tanya Usopp bingung.
"Ah, tidak ada," aku menggeleng. "Maksudku, ini luar biasa."
THUD! THUD! THUD!
Suara langkah kaki yang sangat berat mendekat.
"Ada yang datang," kata Zoro sambil meletakkan tangan di pedangnya.
Dan kemudian kami melihatnya.
Seorang raksasa—tingginya mungkin 20 meter—dengan janggut panjang dan memegang pedang besar, keluar dari balik pohon.
"RAKSASA!" Usopp berteriak.
Raksasa itu menatap kami dengan mata tajam. Lalu... dia tertawa.
"GABABABABABA! Tamunya kecil-kecil!" raksasa itu tertawa keras. "Lama sekali tidak ada manusia yang datang ke pulau ini!"
"Siapa kau?" tanya Zoro dengan waspada.
"Namaku Brogy!" jawab raksasa itu sambil menancapkan pedangnya ke tanah. "Aku adalah warrior dari Elbaf! Sudah 100 tahun aku bertarung di pulau ini!"
"100 tahun?!" Usopp terkejut.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat lainnya datang dari arah berlawanan.
"GEGYAGYAGYAGYA! Brogy! Apa kau sedang bicara dengan tamumu tanpa mengajakku?!"
Raksasa lain muncul—tingginya sama dengan Brogy, tapi rambutnya lebih panjang dan dia memegang kapak besar.
"Dorry!" Brogy tertawa. "Kau cemburu karena aku yang ketemu tamu duluan?"
"Tentu saja!" Dorry tertawa balik. "GEGYAGYAGYAGYA!"
Aku tersenyum. Dorry dan Brogy—dua warrior raksasa yang sudah bertarung selama 100 tahun di pulau ini karena mereka lupa alasan mereka bertarung, tapi tetap melanjutkannya karena pride sebagai warrior.
"Mereka... kuat," gumam Zoro dengan mata berbinar. "Sangat kuat. Aku bisa merasakannya."
"Warrior sejati," aku mengangguk. "Mereka berdua adalah legenda dari Elbaf—negara para raksasa."
Dorry dan Brogy menatap kami—terutama menatap Luffy yang tersenyum lebar.
"Bocah kecil!" kata Brogy. "Kau tidak takut pada kami?"
"Kenapa aku harus takut?" tanya Luffy dengan polos. "Kalian terlihat menyenangkan!"
Kedua raksasa itu terdiam sejenak... lalu tertawa terbahak-bahak!
"GABABABABABA!"
"GEGYAGYAGYAGYA!"
"Bocah ini menarik!" kata Dorry sambil menepuk tanah—getarannya hampir membuat kami terjatuh. "Ayo kita berpesta! Aku akan berburu dinosaurus untuk kalian!"
"Aku juga!" Brogy ikut semangat. "Siapa yang berburu lebih banyak menang!"
"Kau menantangku?!" Dorry menatap Brogy.
"Tentu saja!" Brogy menatap balik.
"KALAU BEGITU AYO BERTARUNG!"
"BERTARUNG!"
Mereka berdua langsung mengangkat senjata dan berlari saling berhadapan—tabrakan mereka menciptakan gelombang udara yang membuat pohon-pohon bergoyang!
CLANG! CLANG! CLANG!
Pedang dan kapak bertabrakan dengan kekuatan yang luar biasa. Setiap benturan menciptakan gelombang kejut yang terasa sampai ke tulang.
"Kuat..." gumamku sambil menatap kagum. "Mereka berdua sangat kuat. Bahkan Zoro mungkin kesulitan melawan salah satu dari mereka."
"Aku tidak akan kalah," kata Zoro dengan seringai. Tapi aku bisa melihat keringat di dahinya—dia juga tahu betapa kuatnya mereka.
Pertarungan Dorry dan Brogy berakhir dengan hasil seri—seperti biasa. Mereka berdua tertawa dan memutuskan untuk berburu dinosaurus sebagai gantinya.
Beberapa jam kemudian, kami semua berkumpul di gubuk Brogy—atau lebih tepatnya, gua besar yang dijadikan rumah. Ada api unggun raksasa dan daging dinosaurus yang sedang dipanggang.
"KANPAI!" teriak Luffy sambil mengangkat mug bir raksasa—yang untuknya sebesar ember.
"KANPAI!" Dorry dan Brogy mengangkat barrel bir mereka.
Pesta dimulai dengan meriah. Luffy, Usopp, dan bahkan Zoro menikmati makanan dan minuman. Sanji memasak beberapa daging dinosaurus dengan style-nya sendiri.
Aku duduk sedikit jauh dari keramaian, mengamati sekeliling dengan waspada. Spider Sense ku masih berdering pelan—ada bahaya di pulau ini. Tapi bukan dari Dorry atau Brogy.
"Dari mana bahayanya?" pikirku sambil memindai hutan dengan mata.
Robin tiba-tiba duduk di sampingku. "Kau gelisah, Kenji-kun."
"Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres," jawabku sambil tetap menatap hutan. "Spider Sense ku memperingatkanku. Ada bahaya di pulau ini."
"Kau benar," kata Robin dengan tenang. "Baroque Works sudah ada di pulau ini."
Aku menoleh ke arahnya dengan terkejut. "Kau tahu?"
Robin tersenyum tipis. "Aku punya cara untuk mengetahui hal-hal seperti ini. Dan ya, Mr. 3 dan partnernya Miss Goldenweek sudah ada di pulau ini. Mereka sedang merencanakan sesuatu."
"Mr. 3..." aku mengerutkan kening. Mr. 3 dengan Doru Doru no Mi—Buah Iblis yang membuat dia bisa mengontrol lilin. Dalam cerita asli, dia hampir membunuh Dorry, Brogy, dan bahkan sebagian Kru Topi Jerami dengan taktik liciknya.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanyaku sambil menatap Robin dengan curiga. "Kau... kau seharusnya di pihak Baroque Works, kan?"
Robin menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca. "Aku punya alasanku sendiri. Dan untuk sekarang, alasanku sejalan dengan kalian—melindungi Princess Vivi dan menggagalkan rencana Mr. 3."
"Aku tidak percaya begitu saja," kataku dengan tegas. "Tapi untuk sekarang, aku akan percaya padamu. Apa rencana Mr. 3?"
"Dia ingin membunuh Dorry dan Brogy," jawab Robin. "Dua raksasa ini adalah target besar dengan bounty yang tinggi. Mr. 3 ingin mendapatkan bounty mereka dan sekaligus menyingkirkan kalian—Kru Topi Jerami—yang sudah menjadi gangguan bagi Baroque Works."
"Sial," gumamku sambil berdiri. "Aku harus memberitahu yang lain—"
BOOM!
Ledakan tiba-tiba terjadi di tengah pesta!
"APA ITU?!" Usopp berteriak.
Dari asap ledakan, muncul sosok yang aneh—seorang pria dengan rambut seperti angka tiga, memakai kacamata, dan tersenyum sombong.
"Selamat sore, semuanya," katanya dengan suara yang dibuat-buat sopan. "Namaku Mr. 3. Dan aku di sini untuk mengeksekusi kalian semua."
Di sampingnya, seorang gadis kecil dengan cat di wajahnya—Miss Goldenweek—duduk santai sambil melukis.
"Mr. 3!" Vivi berteriak dengan marah. "Baroque Works!"
"Ah, Princess Vivi," Mr. 3 tersenyum jahat. "Atau haruskah kukatakan, Miss Wednesday? Boss sudah tahu identitasmu. Dan dia memerintahkan kami untuk membunuhmu... bersama dengan Kru Topi Jerami yang melindungimu."
Luffy berdiri, ekspresinya serius. "Kalau kau ingin Vivi, kau harus melewatiku dulu."
"Oh, aku tahu," Mr. 3 tertawa. "Makanya aku sudah menyiapkan rencana khusus. Candle Lock!"
Tiba-tiba, lilin muncul dari tanah dan mencengkeram kaki Luffy, Zoro, Vivi, dan bahkan Brogy yang duduk paling dekat!
"APA?!" mereka semua berteriak terkejut.
"Lilin ku sangat keras—keras seperti baja!" Mr. 3 tertawa. "Kalian tidak bisa kabur! Dan sekarang... Candle Service Set!"
Lilin mulai merangkak naik ke tubuh mereka, perlahan membungkus mereka seperti patung lilin!
"SIAL!" Zoro mencoba memotong lilin dengan pedangnya tapi lilinnya terlalu keras!
"Ini buruk!" gumamku sambil menembakkan jaring ke lilin, mencoba menarik Luffy keluar. Tapi lilinnya tidak bergerak!
Mr. 3 tertawa sombong. "Percuma! Tidak ada yang bisa kabur dari Candle Lock ku! Dalam lima menit, kalian semua akan menjadi patung lilin yang mati!"
Spider Sense ku berdering sangat keras!
Ini bahaya level maksimal!
Aku harus melakukan sesuatu—dan cepat!