Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang yang Menyempit
Kusuma tidak berniat pergi ke mana pun pagi itu.
Dua hari setelah peninjauan itu, Kusuma mengendarai motornya ke Surabaya.
Bukan untuk mengurus apa pun secara resmi, hanya untuk menjauh dari Malang yang terasa terlalu sunyi ketika ia tidak lagi punya rute dan tujuan.
Ia hanya keluar rumah karena tubuhnya tidak tahan diam terlalu lama. Setelah beberapa hari menunggu tanpa kepastian, rumah kontrakan terasa seperti ruang yang makin mengecil. Dindingnya tetap sama, tapi jaraknya seolah mendekat. Udara pengap. Waktu berjalan, tapi tidak memberinya peran apa pun.
Ia mengenakan jaket tipis, menyalakan motor, lalu melaju tanpa tujuan khusus. Tidak ada aplikasi yang dibuka. Tidak ada rute yang dipilih. Ia hanya mengikuti jalan yang terasa akrab, menghindari keramaian, bergerak agar pikirannya tidak terus berputar di satu titik yang sama.
Menjelang siang, ia berhenti di sebuah gedung layanan publik di Surabaya. Bukan karena ada urusan mendesak, hanya karena tempat itu menyediakan parkiran teduh dan bangku panjang di teras depan. Ia mematikan mesin, melepas helm, lalu duduk. Mengamati orang-orang keluar masuk dengan map dan berkas di tangan.
Menunggu di sini terasa berbeda. Ada antrean. Ada nomor. Ada sistem yang terlihat.
Kusuma menyalakan rokok, lalu mematikannya setengah. Matanya mengikuti seorang pria berkacamata yang keluar dari pintu utama sambil merapikan tas selempang. Jaket bomber hijau, langkah tertib, wajah lelah tapi terjaga. Ada sesuatu yang terasa familiar.
Pria itu berhenti sejenak, menoleh, lalu rautnya berubah tipis. Bukan terkejut. Lebih seperti mengenali.
“Kusuma?” katanya, ragu.
Kusuma mengangkat kepala, menyipitkan mata. “Wijaya?”
Mereka saling menatap beberapa detik, seperti memastikan ingatan tidak keliru. Lalu tersenyum kecil, senyum yang tidak berlebihan, senyum orang-orang yang pernah duduk di bangku yang sama tapi lama tidak berbagi ruang.
“Ngapain di sini?” tanya Wijaya.
Kusuma mengangkat bahu. “Nunggu.”
Wijaya mengangguk pelan, seolah jawaban itu cukup. Ia duduk di bangku yang sama, menyisakan jarak sopan di antara mereka. Di depan, antrean bergerak lambat. Di dalam gedung, suara nomor dipanggil bergantian.
“Kamu?” tanya Kusuma.
“Urusan perpindahan unit,” jawab Wijaya singkat. “Sementara.”
Kata itu melayang di antara mereka. Kusuma menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan. Ia tahu, sementara sering kali berarti lebih lama dari yang dijanjikan.
Mereka diam beberapa menit. Bukan diam yang canggung, lebih seperti diam yang memberi waktu untuk menyesuaikan diri. Angin siang berembus pelan. Seorang petugas parkir lewat, menegur sopan.
“Aku lihat motormu,” kata Wijaya akhirnya. “Kok parkir lama?”
Kusuma tertawa kecil. “Nggak ada tempat lain.”
Wijaya mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tapi matanya turun ke tangan Kusuma, ke gerak yang sedikit gelisah, ke ponsel yang sesekali disentuh lalu diletakkan kembali tanpa dibuka.
“Kamu masih narik?” tanya Wijaya hati-hati.
Kusuma menggeleng pelan. “Lagi ditinjau.”
Wijaya menoleh cepat. “Ditinjau?”
“Katanya begitu,” jawab Kusuma. “Tanpa peringatan.”
Wijaya tidak langsung merespons. Ia menatap pintu gedung, lalu ke antrean yang bergerak seperti biasa. Wajahnya menegang sebentar, lalu kembali netral.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Belum tahu.”
Wijaya menghela napas pelan. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan map tipis berisi berkas. Map itu terlihat rapi, terlalu rapi. Kusuma memperhatikannya tanpa komentar.
“Aku juga nunggu,” kata Wijaya. “Bukan ditinjau. Tapi dibatasi.”
Kusuma menoleh. “Bedanya apa?”
Wijaya tersenyum tipis. “Kalau ditinjau, kamu dihentikan. Kalau dibatasi, kamu tetap jalan, tapi pelan, dan tanpa konteks.”
Kusuma mengangguk. Kalimat itu terasa pas. Ia merasakan sesuatu mengendap di dadanya, bukan kemarahan, lebih seperti pengakuan bahwa apa yang ia alami bukan kebetulan tunggal.
Di depan mereka, seorang ibu keluar dari pintu utama dengan wajah lega. Seorang pria muda masuk sambil mengecek ponsel. Sistem bekerja, memanggil nomor, memberi ilusi keteraturan.
“Kamu ke sini mau ngapa?” tanya Wijaya.
“Awalnya cuma numpang duduk,” jawab Kusuma. “Sekarang nggak tahu.”
Wijaya mengangguk. “Tempat seperti ini bikin kita ngerasa masalah kita sah, tapi kecil.”
Kusuma tersenyum. “Atau sah karena kecil.”
Mereka terdiam lagi. Beberapa menit berlalu. Kusuma merasakan kelelahan yang berbeda dari kelelahan di jalan. Ini bukan soal jarak atau waktu tempuh. Ini kelelahan karena tidak dipanggil, tidak diproses, tidak dianggap.
“Kamu yakin ini nggak nyambung?” tanya Kusuma tiba-tiba.
Wijaya menoleh. “Apa?”
“Yang kamu alami sama yang aku alami,” kata Kusuma. “Aku di jalan. Kamu di arsip. Tapi rasanya mirip.”
Wijaya berpikir sejenak. “Aku juga kepikiran begitu,” katanya. “Bedanya, kamu kehilangan gerak. Aku kehilangan penjelasan.”
Kusuma mengangguk. “Dua-duanya bikin orang nunggu.”
Wijaya tersenyum kecil. “Dan menunggu itu bukan keadaan netral.”
Nomor dipanggil dari dalam. Bukan nomor mereka. Antrean bergerak satu langkah. Waktu berjalan, tapi tidak ke arah mereka.
Wijaya berdiri sebentar, meregangkan kaki, lalu duduk kembali. “Aku harus balik sebentar lagi,” katanya. “Ada jadwal.”
Kusuma mengangguk. “Aku nggak ke mana-mana.”
Wijaya menatapnya. “Kalau butuh apa-apa, kabari.”
Kusuma tersenyum tipis. “Yang bisa kamu bantu?”
Wijaya tidak menjawab langsung. “Kadang bukan bantuan,” katanya. “Kadang cuma memastikan ini bukan salahmu.”
Kusuma menunduk, menatap tangannya sendiri. Kalimat itu mengenai tepat di tempat yang selama ini ia hindari.
Mereka duduk lagi, berdampingan, menunggu hal yang berbeda di ruang yang sama. Dua orang dari dunia yang berbeda, disatukan oleh jeda yang tidak mereka pilih.
Di pintu utama, suara nomor kembali dipanggil. Antrean bergerak. Kusuma dan Wijaya tetap di bangku itu, merasakan ruang yang pelan-pelan menyempit, bukan karena temboknya bergeser, tapi karena waktu berhenti memberi mereka peran.
Wijaya akhirnya berdiri lebih dulu.
Bukan karena nomornya dipanggil, tapi karena jam di pergelangan tangannya menunjukkan batas yang tidak bisa ia lewati. Ia merapikan map di tas, memastikan ritsleting tertutup rapi, lalu menoleh ke Kusuma yang masih duduk dengan bahu sedikit merunduk.
“Aku harus ke dalam,” katanya. “Kalau nggak, dianggap nggak hadir.”
Kusuma mengangguk. “Masuk aja.”
Wijaya melangkah dua langkah, lalu berhenti. Ia berbalik lagi, seolah ada sesuatu yang tertinggal.
“Kamu masih ke Malang minggu ini?” tanyanya.
Kusuma mengangkat bahu. “Kalau ada biaya.”
Wijaya mengangguk pelan. Ia tahu jawaban itu bukan candaan. Ia ragu sejenak, lalu duduk kembali, meski hanya sebentar.
“Aku mau cerita satu hal,” katanya, suaranya diturunkan. “Bukan buat nyambungin semuanya. Cuma biar kamu tahu.”
Kusuma menoleh. “Tentang apa?”
“Arsip,” jawab Wijaya. “Beberapa dokumen yang harusnya bisa diakses publik sekarang cuma bisa dibaca judulnya. Isinya ada, tapi konteksnya hilang.”
Kusuma menyipitkan mata. “Buat apa begitu?”
“Biar orang berhenti nanya,” jawab Wijaya datar. “Atau kalau nanya, nggak punya pegangan.”
Kusuma menghela napas. Ia mengangguk pelan. “Mirip sama akun gue,” katanya. “Ada, tapi nggak bisa dipakai.”
Wijaya tersenyum tipis. “Iya.”
Mereka terdiam lagi. Angin bertiup, membawa suara kendaraan dari jalan besar. Seorang petugas keluar, memanggil nomor berikutnya. Bukan nomor Wijaya. Bukan nomor Kusuma.
“Aku sempat mikir ini kebetulan,” lanjut Wijaya. “Tapi setelah dengar ceritamu, aku nggak yakin.”
“Terus?” tanya Kusuma.
“Terus aku sadar, kalau pun ini saling nyambung, kita nggak akan dikasih bukti yang rapi,” jawab Wijaya. “Yang ada cuma gejala.”
Kusuma tertawa kecil. “Dan kita disuruh nerima gejala tanpa boleh nyimpulin.”
“Persis.”
Wijaya berdiri lagi. Kali ini lebih mantap. “Aku nggak bisa bantu banyak,” katanya. “Tapi aku bisa simpan beberapa konteks. Biar kalau suatu hari kamu ditanya, kamu nggak sendirian.”
Kusuma menatapnya. “Konteks nggak bikin akun gue aktif.”
“Nggak,” kata Wijaya. “Tapi bikin kamu tahu ini bukan salahmu.”
Kalimat itu kembali mengenai Kusuma dengan cara yang tidak ia duga. Ia mengangguk, menelan ludah, lalu mengalihkan pandangan ke antrean.
“Kadang gue mikir,” katanya pelan, “yang bikin capek bukan nggak kerja. Tapi nunggu sambil disuruh percaya.”
Wijaya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah masuk ke gedung. Pintu kaca menutup di belakangnya dengan bunyi pelan.
Kusuma kembali sendirian di bangku panjang itu.
Ia membuka ponsel, bukan untuk mengecek aplikasi, tapi untuk membuka grup Random. Jarinya melayang beberapa detik di atas layar, lalu mengetik singkat.
Kusuma:
Gue ketemu Wijaya.
Ternyata nunggu itu beda-beda bentuknya.
Pesan terkirim. Ia tidak menunggu balasan.
Ia menatap gedung di depannya. Di balik tembok itu, orang-orang dipanggil satu per satu, urusan mereka diproses, diberi cap, diberi status. Di luar, ia tetap menunggu, tanpa nomor, tanpa jadwal.
Beberapa menit kemudian, Wijaya keluar lagi. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyimpan kelelahan yang sama.
“Belum,” katanya singkat, seolah menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Kusuma tersenyum tipis. “Aku juga.”
Mereka berdiri bersamaan. Tidak ada rencana lanjutan. Tidak ada janji bertemu lagi. Hanya kesadaran baru yang dibagi tanpa seremoni.
Wijaya melangkah ke arah parkiran. Kusuma menuju motornya. Arah mereka berbeda, tapi jaraknya terasa lebih dekat daripada sebelum mereka duduk di bangku yang sama.
Sebelum menyalakan mesin, Kusuma menoleh sekali lagi ke gedung itu. Ia tidak marah. Tidak juga berharap terlalu banyak. Ia hanya mencatat, seperti yang lain telah lakukan dengan cara masing-masing.
Bahwa ruang memang tidak selalu ditutup.
Kadang ia dipersempit, sampai orang berhenti bergerak sendiri.
Kusuma mengenakan helm, menyalakan motor, lalu melaju pelan. Bukan ke tujuan tertentu. Hanya menjauh dari tempat menunggu itu, membawa satu hal kecil yang tidak bisa disita sistem.
Kepastian bahwa apa yang ia alami bukan peristiwa tunggal.