NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #16: Terseret lebih Jauh

Matahari pagi belum sepenuhnya terbit di Kota Jeokha. Langit masih berwarna biru lebam, persis seperti warna mayat yang tergeletak di lantai kamar kelas atas Paviliun Heavenly Scents.

Geun duduk di lantai, bersandar pada kaki meja. Napasnya masih belum teratur.

Di sampingnya, tertumpuk barang bukti uang jarahan 71 tael, linggis berkarat, dan sebuah lempengan tembaga hitam bergambar bangau.

Dia tidak lari karena kakinya terlalu lemas untuk lari.

Dia tidak menyembunyikan mayat karena dia tidak tahu cara menyembunyikan dua bangkai manusia.

Dia melakukan satu-satunya hal yang terpikir oleh otak gelandangannya yang panik. Cari perlindungan.

Dia memanggil pelayan yang gemetar ketakutan di lorong.

"Panggil... panggil tiga Tuan Muda Wudang yang kemarin..." suara Geun serak, hampir menangis. "Cepat panggil mereka sebelum ada yang datang lagi!"

...****************...

Lima belas menit kemudian.

Pintu kamar terbuka kasar. Baek Mu-jin masuk lebih dulu, pedang sudah setengah terhunus, diikuti Seo Yun-gyeom dan Jang Min-seok.

Mereka bersiap menghadapi penyergapan.

Tapi yang mereka lihat hanya membuat mereka terdiam.

Bau darah amis bercampur bau muntahan sisa arak memenuhi ruangan mewah itu.

Dua mayat berbaju hitam tergeletak dalam posisi yang mengerikan dan tidak wajar.

Dan di sudut ruangan, Geun duduk memeluk lutut sambil memegang linggisnya erat-erat, wajahnya pucat pasi seperti orang yang baru melihat hantu.

"Si Kembar Ular Besi," gumam Seo Yun-gyeom kaget, mengenali mayat itu. "Pembunuh bayaran Third-Rate rendahan... tapi kenapa mereka hancur begini?"

Baek Mu-jin tidak melihat mayatnya dulu. Dia melihat Geun.

"Saudara Geun? Kau terluka?"

Geun mendongak. Matanya merah. Dia menunjuk lehernya yang terluka bekas kawat.

"Mereka mau membunuhku..." suara Geun sedikit bergetar.

Geun menendang lempengan logam di lantai ke arah Mu-jin.

Kling.

"Itu..." Geun menunjuk lempengan itu. "Mereka bawa itu. Silvercrane. Bajingan-bajingan itu mau membunuhku karena aku melihat gerobak itu!"

Baek Mu-jin memungut lempengan itu. Simbol Bangau Perak.

Wajahnya mengeras. "Mereka benar-benar mengirim pembunuh."

Sementara itu, Seo Yun-gyeom berjongkok memeriksa mayat-mayat itu. Matanya menyipit, menganalisis luka dengan ketajaman seorang penyidik.

"Astaga..." bisik Yun-gyeom ngeri.

"Kenapa, Senior?" tanya Min-seok mual melihat leher mayat yang bengkok.

"Lihat dada orang ini," tunjuk Yun-gyeom pada mayat pertama. "Tulang rusuknya remuk ke dalam. Bukan patah biasa, tapi hancur lebur seperti dihantam batu besar. Tapi kulit luarnya utuh. Seakan diserang oleh energi panas dan kasar yang sangat presisi."

Dia beralih ke mayat kedua.

"Dan leher ini... ini bukan dicekik. Ini diremas sampai hancur. Tulang rawan, jakun, semuanya jadi bubur."

Yun-gyeom berdiri perlahan, menatap Geun dengan tatapan campur aduk. Takut, hormat, dan bingung.

Di mata Yun-gyeom, Geun bukan terlihat ketakutan.

Posisi Geun yang memeluk lutut terlihat seperti posisi siaga binatang buas yang terpojok.

Salah paham terjadi.

Baginya, getaran di tubuh Geun terlihat seperti getaran kegembiraan pasca-pembunuhan atau efek samping teknik terlarang.

"Kau membunuh mereka dengan tangan kosong?" tanya Yun-gyeom. "Dalam jarak sedekat ini? Saat kau baru bangun tidur?"

Geun mengangguk patah-patah. "Aku cuma mau melepaskan kawatnya. Aku tarik tangannya, dan... lalu... bunyi krak. Terus yang satu lagi mau nusuk, aku pukul dadanya pakai linggis... aku nggak tahu kalau dia bakal mati!"

Bagi Geun, itu adalah pengakuan dosa seorang amatir yang ketakutan. Seolah mau bilang "Aku bukan pembunuh! Aku terpaksa bunuh orang demi bertahan hidup!"

Tapi bagi Baek Mu-jin dan Yun-gyeom, itu terdengar berbeda. Dimata mereka, Geun seolah bilang, "Aku bergerak berdasarkan insting murni. Tanpa sadar, seranganku langsung fatal."

"Refleks bertahan hidup yang mengerikan," bisik Mu-jin pada Yun-gyeom. "Dia tidak punya teknik membunuh, tapi tubuhnya secara otomatis menghancurkan ancaman dengan cara paling efisien dan brutal."

Mu-jin melangkah mendekati Geun, menyarungkan pedangnya untuk menurunkan ketegangan.

"Kau aman sekarang, Saudara Geun," kata Mu-jin lembut. "Wudang ada di sini."

Geun menghela napas panjang, bahunya turun.

"Kalian janji kan? Kalian janji bakal lindungi aku?"

"Kami janji," tegas Mu-jin. "Tapi kami butuh kejujuranmu. Kenapa Silvercrane mengirim pembunuh sekelas Si Kembar Ular Besi hanya untuk membungkammu? Apa yang sebenarnya kau lihat di White Burial Valley? Apa kau mau jujur soal melihat Jiangshi?"

Geun menelan ludah. Dia menatap mayat-mayat itu.

Dia sadar, dia tidak bisa main rahasia-rahasiaan lagi. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Nyawanya sekarang menjadi lebih berbahaya karena dia punya banyak uang sekarang yang perlu dihabiskan. Dia butuh tameng besar, dan Wudang adalah tameng terbesar yang ada.

"Mayat hidup," bisik Geun.

Ketiga murid Wudang itu menahan napas.

"Aku melihatnya," lanjut Geun, suaranya makin pelan. "Malam itu... setelah bandit mati. Si Botak membuka gerobak hitam. Di dalamnya ada makhluk pucat. Tangannya... kukunya hitam panjang."

Geun memeluk dirinya sendiri, merinding mengingat suara kunyahan itu.

"Mereka melempar mayat bandit ke dalam. Juga mayat rekan-rekan seperjalanan ku yang mati. Makhluk itu memakannya... Aku dengar suaranya. Kriuk... krak..."

"Jiangshi," desis Min-seok pucat.

"Bukan cuma satu," Geun melebih-lebihkan sedikit biar Wudang makin serius melindunginya. "Baunya busuk sekali. Dan Si Botak bilang... mereka butuh banyak makanan."

Geun menatap Mu-jin dengan mata memohon.

"Tuan Pendekar, aku sudah bilang semuanya. Dan jujur, aku bohong selama ini. Aku bukan pendekar, seniman bela diri, atau apapun. Aku nggak mau mati konyol dimakan mayat. Tolong bawa aku pergi dari sini. Aku mau pulang kampung... atau kemana kek yang aman."

Baek Mu-jin dan Yun-gyeom bertukar pandang serius. Dia menghiraukan ungkapan Geun yang terakhir.

"Ini lebih buruk dari dugaan kita," kata Mu-jin. "Silvercrane bukan cuma menyelundupkan. Mereka memberi makan monster."

"Kita harus lapor ke sekte," kata Yun-gyeom.

"Tidak sempat," potong Mu-jin. Dia menatap Geun. "Saudara Geun, kami akan melindungi mu. Tapi kau tidak bisa lari sekarang. Silvercrane pasti menjaga semua gerbang kota."

"Apa?" Geun melotot. "Terus aku harus gimana?"

"Kau harus ikut kami," kata Mu-jin. "Ke tempat paling aman sekaligus paling berbahaya."

"Maksudmu..."

"Gudang Silvercrane," kata Mu-jin dingin. "Kita harus masuk ke sana, dapatkan bukti fisik Jiangshi itu, lalu ekspos mereka ke publik. Hanya dengan begitu Silvercrane tidak berani menyentuhmu lagi secara terbuka."

"Gila!" teriak Geun. "Kau mau aku masuk ke kandang macan?"

"Kau satu-satunya saksi, dan..." Yun-gyeom melirik mayat yang dadanya hancur, "...kau cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri jika terjadi sesuatu."

"Aku nggak kuat! Itu kebetulan!" bantah Geun histeris.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk keras lagi.

Seorang murid Wudang junior, bukan dari kelompok Mu-jin, tapi tim pendukung yang berjaga di luar, masuk dengan napas terengah-engah.

"Senior Baek! Gawat!" lapor murid itu.

"Ada apa?"

"Laporan baru dari Sekte Pengemis," murid itu menyerahkan gulungan kertas kecil. "Satu karavan lagi hilang pagi ini di jalur perbatasan Henan. Tapi kali ini berbeda..."

Mu-jin membaca kertas itu. Wajahnya yang tenang berubah pucat pasi.

"Apa isinya?" tanya Yun-gyeom.

"Karavan yang hilang itu..." Mu-jin meremas kertas itu sampai lecek. "...adalah rombongan pembawa upeti obat-obatan milik Klan Namgoong. Dan pengawalnya ditemukan mati dengan kondisi tubuh kering kerontang. Tanpa setetes darah pun."

Geun merasakan darah di wajahnya surut. Kakinya lemas lagi.

Kering kerontang?

"Mereka lapar," bisik Geun horor. Matanya terbelalak menatap Mu-jin. "Jiangshi itu... mereka mulai berburu aktif. Mereka tidak menunggu makanan datang. Mereka mencari makan? Sial!"

Baek Mu-jin menatap ke arah jendela, ke arah distrik gudang di barat kota yang mulai terang disinari matahari pagi.

"Kita tidak bisa menunggu," kata Mu-jin tegas, sambil memegangi pedang di pinggangnya. "Kita bergerak sekarang. Kita sergap gudang itu sebelum matahari tenggelam."

Dia menatap Geun.

"Saudara Geun. Angkat senjatamu. Pilihanmu cuma dua, siam di sini menunggu pembunuh berikutnya, atau ikut kami dan selesaikan ini."

Geun menatap linggis berkaratnya. Dia menatap uang total uang 102 tael perak nya.

Dia ingin menangis. Dia ingin pulang.

"Sialan..." umpat Geun sambil memungut linggisnya dengan tangan gemetar. "Kenapa sih aku nggak jadi petani aja dulu..."

Geun berdiri, masih sedikit gemetar, tapi dia tahu dia tidak punya pilihan.

Dia sudah terseret arus. Dan satu-satunya cara untuk tidak tenggelam adalah berpegangan pada kayu besar bernama Wudang, meskipun kayu itu sedang menuju ke arah air terjun.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!