NovelToon NovelToon
Lady Rose, His Lover

Lady Rose, His Lover

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Mafia / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:216.2k
Nilai: 5
Nama Author: ade eka

Disarankan untuk membaca "Hey, You! I Love You!" terlebih dahulu supaya tidak bingung saat membaca novel ini.

Ini adalah cerita tentang perubahan seorang wanita biasa bernama Rose Benneth yang merupakan kekasih dari seorang ketua geng mafia terkenal, Benny Callary.

Rose ingin menjadi kuat dan pantas sebelum ia bersanding dengan kekasihnya itu nanti. Hal itu merupakan alasan mengapa dia menolak lamaran Ben. Bukan karena tidak mencintainya, tapi karena Rose ingin menjadi pantas dan layak untuk disandingkan dengan lelaki hebat seperti Ben.

Ikatan cinta mereka diuji berkali-kali. Hingga suatu ketika mereka terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dan Ben pun menghilang. Padahal saat itu Rose sudah mengandung buah hati cinta mereka.

Beberapa tahun kemudian mereka dipertemukan kembali oleh takdir. Sayang Ben tidak mengenalinya. Bahkan sudah ada wanita bergelar tunangannya di samping pria itu. Hati Rose sudah pasti sangat hancur mengetahui hal ini.

Akankah mereka menemukan jalan untuk mereka bersama kembali? Ataukah memilih berpisah dan menempuh jalan mereka masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang pertemuan kedua

“Ben!” pekik Rose seraya menutupi kedua daun telinganya. Ia dibalut oleh rasa terkejut juga ketakutan.

Seorang bawahan yang membawa koper miliknya pun melakukan hal yang sama di belakang punggungnya. Jantungnya seperti akan melompat dari tempatnya bernaung saat ini. Matanya terpejam ketakutan. Teman-temannya benar-benar cari mati!

Ketika Rose membuka matanya yang tadi tertutup rapat, ia melihat sebuah asap mengepul di tengah lapangan di hadapan mereka. Anggota Harimau Putih yang sedang berlatih di sana terlihat sudah menyingkir dengan cepat. Mereka meringkuk bersamaan dalam satu koloni.

Begitu asap terbawa angin, nampak sebuah lubang kecil di sana. Beruntung orang-orang itu memiliki refleks yang tinggi, sehingga masih bisa menghindar dari tembakan yang Ben layangkan.

Mereka bergumam-gumam, mensyukuri bahwa nyawa mereka masih terselamatkan. Akan tetapi karena hal itu, mereka pun semakin bertanya-tanya penyebab dari marahnya bos mereka.

Apa karena wanita itu? Apakah wanita itu begitu penting bagi bos mereka sehingga bos mereka terlihat sangat marah? Mereka bermain teka-teki dengan pikiran mereka sendiri.

Pria bertopi koboi itu masih menundukkan kepalanya. Aura suram yang dikeluarkannya membuat orang, bahkan Rose sendiri canggung untuk bertanya. Jadi saat ini, ia memilih untuk diam sebentar sambil menunggu ekspresi apa yang akan kekasihnya itu tunjukkan.

Petinggi Harimau Putih yang tadi menyambut Ben dan Rose di halaman parkir pun mendengar suara keras itu. Mereka segera membalikkan badan untuk meninjau situasi, termasuk Zayn dan Anggie.

Melihat awan gelap dan guntur menyambar di atas kepala Ben, mereka mencoba memahami situasi dengan cepat.

Relly yang menyaksikan hal ini di belakang pun segera mengambil langkah lebih dulu. Sepertinya hal ini terjadi dengan sebab yang sama dengan yang di halaman parkir tadi.

Dia mengetahui temperamen bosnya begitu baik. Menurut penilaiannya, jika ia tidak segera turun tangan, mungkin mata semua anak buahnya yang berada di sana hanya akan tinggal sebelah saja.

Meskipun terkadang konyol, lelaki itu masih bisa diandalkan dan dihormati. Dia mengangkat dagunya kepada rekannya yang lain, juga pada Anggie dan Zayn. Memberi instruksi dengan matanya.

Sebelum maju, dia juga menatap Rose. Kekasih bosnya itu lantas menganggukkan kepalanya setelah mengerti situasi. Rose ulas senyumnya yang tak berdaya ketika memandangi kekasihnya yang begitu posesif.

“Semuanya!” Ketika mengeluarkan suaranya yang keras, anggota Harimau Putih yang masih berada di sana dan tengah kebingungan pun menatap ke arah Relly.

“Berkumpul di lapangan tembak sekarang!” perintahnya sambil berlalu dan diikuti oleh petinggi Harimau Putih yang lain.

Tak lepas dari kebingungan, anggota yang lain pun mengekori Relly dan yang lainnya. Mereka bergegas sambil bertanya-tanya.

“Lapangan tembak?” Rose bertanya sendiri dengan suara teramat pelan.

Di depan matanya sudah nampak lapangan yang begitu luas dan berbagai alat untuk berlatih bela diri berbaris di pinggir garis.

Jadi masih ada lapangan yang lainnya lagi? Sebenarnya seberapa besar markas Harimau Putih ini? Matanya menampakkan jejak kekaguman. Dia semakin menantikan masa dimana dia dibawa mengelilingi tempat ini. Sepertinya sangat menarik!

"Sayang!” Rose mendesah manja sambil memeluk lengan lelaki di sampingnya.

Rose masih ingat tugas yang harus dia lakukan saat ini. Dia menyandarkan kepalanya ke lengan atas kokoh pria itu. Lantaran tinggi badannya hanya mencapai sebatas itu. Dia menggesek-gesekkan kepalanya di sana, bertingkah semakin manja. Seperti anak kucing kecil yang merindukan belaian induknya.

Orang yang membawa kopernya pun menganga melihat perubahan di wajah bos besarnya itu begitu cepat. Dia melihat bos besarnya itu segera mengangkat wajahnya dan menatap nona Rose dengan kelembutan. Meskipun belum hilang amarahnya yang sebelumnya.

Ia mengatupkan mulutnya dengan rapat-rapat, kemudian menelan ludahnya dengan kesusahan ketika melihat adegan selanjutnya.

“Pakai ini!” Ben melepas topi kebangsaannya dan meletakkannya di kepala Rose. Bahkan Ben sengaja menurunkan pinggiran topinya yang lebar, guna menutupi wajah cantik Rose.

Ia tidak rela berbagi wajah cantik itu dengan orang lain. Bahkan jika hanya mengagumi saja pun tidak boleh. Jangan harap!

“Ayo!” ajaknya masih dengan suara dingin yang kental. Kesalnya belum sepenuhnya hilang lantaran kekasihnya itu dipandangi oleh para anak buahnya secara berjamaah.

Rose membenarkan posisi topi itu agar terasa nyaman di kepalanya. Tapi dia tidak mengubah tata letaknya, Rose biarkan saja keinginan Ben seperti ini, agar lelaki itu puas. Kemudian dia ikut melangkah sambil menaikkan kurva di bibirnya.

Anak buah Ben yang membawa koper Rose pun mengikuti sambil merengek dalam hati. Sepertinya sekarang ia disiksa oleh adegan romantis yang terus berlanjut ini.

Dia sekarang mengerti, bahwa posisi Relly selama ini, yang selalu berada di sisi bos besarnya tidaklah mudah. Terlalu banyak siksaan yang mesti diterima.

***

Ben membawa Rose ke ruangannya. Ruangan yang biasa ia jadikan tempatnya bekerja, juga terdapat sebuah kamar di sana. Walau terkadang lelaki itu memilih untuk tidur di sofa panjang yang terdapat di ruang kerjanya itu.

Anak buahnya yang membawa koper milik Rose segera menghilang setelah mengetahui bahwa bos besarnya tak memberikan titah padanya lagi.

Bersyukur malah dia dalam hati, sebab akhirnya bisa melarikan diri!

“Jadi ini ruanganmu, hem?” Rose bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan yang cukup besar itu.

Terlihat seperti kantor seorang pengusaha. Namun kesannya segera berubah ketika matanya disajikan deretan senjata api terpajang di salah satu sudut ruangan. Mereka bertahta di dinding sana dengan jumawa.

Ben membiarkan Rose memindai seisi ruangan. Memperhatikan wanita itu menyentuh beberapa barang yang menarik perhatian dari kursi kerjanya yang besar dan nyaman.

Bibirnya tersenyum kecil. Siapa sangka jika pada akhirnya ia akan membawa seorang wanita ke dalam ruangannya yang kaku ini.

Meskipun beberapa kali dia pernah memanggil wanita bayaran, tidak pernah sekali pun ada yang menginjak ruangan pribadinya ini. Relly pasti akan menyiapkan untuknya satu ruangan lain. Atau paling-paling mereka berakhir di sebuah hotel.

“Kau akan belajar menggunakannya nanti!" seru Ben dari belakang meja kerjanya ketika melihat Rose menyentuh salah satu pistol yang menempel di dinding.

Ia lupakan perihal wanita-wanita itu. Itu adalah masa lalu. Rose tidak boleh mengetahuinya. Atau paling tidak, tidak sekarang!

“Benarkah?” Rose menoleh dengan kejutan di matanya.

“Aku sungguh menantikannya!” Suaranya terdengar senang dan antusias. Rose segera berjalan ke arah kekasihnya berada.

“Tapi sebelum itu, kau harus belajar bela diri lebih dulu!” Ben mengangguk di wajah tenangnya. Dia membenarkan hal itu, tapi tubuh Rose harus siap dulu untuk mempelajari hal yang lebih banyak lagi.

Menilai tubuh kekasihnya itu, Ben yakin jika Rose tidak memiliki dasar ilmu bela diri sama sekali. Makanya wanita itu sampai memiliki pengalaman pahit seperti itu. Tapi paling tidak, pada dasarnya Rose memiliki tekad yang kuat. Ben harap tekad itu akan Rose jaga dalam pengembangan dirinya nanti.

“Kau juga menyukai bunga?” jemari lentik Rose membelai kelopak bunga lili putih yang selalu hadir di atas meja kerja lelaki itu.

Ben tertegun sebentar.

Benar! Setelah bertemu dengan Rose untuk yang kedua kalinya kala itu, ia memang memerintahkan seseorang untuk selalu meletakkan setangkai lili putih segar di atas meja kerjanya. Ben melupakan hal ini!

“Iya!” jawab Ben sekenanya dengan suara lemah.

Ia masih malu untuk mengungkapkan hal ini kepada Rose. Sesekali pria itu melirik ke samping di saat Rose sibuk memperhatikan bunga lili putih yang terasa menyejukkan matanya di antara semua kekakuan ruangan monokrom itu.

“Aku jadi ingat pertemuan kedua kita!” Rose belum menoleh ketika mengucapkan kata-katanya. Dia masih sibuk memperhatikan setangkai bunga segar itu.

Dia malahan menceritakan bagaimana kala itu ia bertemu dengan Ben. Karena sudah bersedia membawanya untuk bertemu dengan Victor, kakaknya, maka dari itu Rose merasa harus berterima kasih kepada Ben.

Ia tak mempunyai apa-apa saat itu. Maka ketika melihat rangkaian bunga di meja, dia mendapatkan ide. Sebenarnya bunga lili yang Rose berikan hanya bunga acak yang ia ambil dari vas bunga yang terdapat di ruang tamu villa tempat mereka bertemu kala itu.

Uhuk! Uhuk!

Mendengar hal ini, Ben tiba-tiba tersedak di tenggorokannya. Ia pikir bunga itu bermakna spesial bagi Rose. Ternyata hanya bunga acak semata yang wanita itu raih dengan tangannya.

“Kau ... kau baik-baik saja?” tanya Rose khawatir sambil membantu mengusap punggung lebar kekasihnya.

“Tidak apa-apa! Aku tidak apa-apa!” Ditanggalkan segelas air putih yang selalu tersedia di sisi meja kerjanya.

Baiklah! Meskipun bunga lili putih itu tidak memiliki kesan spesial untuk Rose. Tapi baginya, baru kali itu ia mau menerima pemberian dari seorang wanita. Ben menekan sedikit rasa kecewanya.

“Jadi, bunga apa yang kau sukai?” Kemudian ia bertanya dengan penuh minat pada wanita yang kini tengah berdiri di sebelahnya.

“Sesuai namaku! Rose! Aku suka bunga mawar” jawab Rose cepat. Matanya menatap lurus sambil membayangkan dirinya memeluk sebuah buket besar bunga mawar merah.

“Oke!” balas Ben singkat.

Mulai besok dia akan memerintahkan seseorang untuk mengganti lili putih itu dengan beberapa mawar merah. Sepertinya akan terlihat lebih segar ruangannya itu dengan nuansa merah.

Melihat ekspresi aneh kekasihnya, Rose hendak bertanya. Namun ia urungkan sebab Rose merasa hal itu tidak terlalu penting untuk ia pertanyakan.

“Jadi ... kenapa kau marah tadi? Apakah karena cemburu pada bawahanmu sendiri?” tanya Rose setelah mengingat hal ini. Suasana hati Ben sudah bagus, makanya dia bertanya.

1
Anik Ekawati
lagipula ngapain nemuin zayn mending zayn suruh ke markas yg temuin ben langsung udah jelas pasti jebakan ngapain nyuruh ben temuan di villa
Anik Ekawati
aku udah baca novel leon nadine tapi sampe hari ini ga ada lanjutan nya knpa thor jangan bikin kecewa yg baca dong thor lanjutin cerita nya
Anik Ekawati
ajak.baz dan victor beserta pasukan harimau putih untuk antisipasi karna lawan mu bukan orang sembarangan
Anik Ekawati
belum siap nikah,? tapi siap kawin? hadeh rose
Anik Ekawati
hey....victor ngapain kau ganggu aja kayak ga pernah muda aja jangan ganggu hey...
Anik Ekawati
ken ana kangen mereka apalagi sam yg konyol itu gimana anaknya ya
Anik Ekawati
waduh rose saingan nya serem kali
Anik Ekawati
tamu nya wanita mengerikan itu mulai nongol
Anik Ekawati
zayn mau rampas kekuasaan ben
Anik Ekawati
duit yg masuk ke markas cukup besar bisa untuk beli senjata yg di ambil di gudang logistik
Anik Ekawati
halah rose laki mu itu lagi serius ga usah diganggu knpa udah tau lakl lo baik baik saja yaudah biarin ngapain lo panggil bikin mecah konsentrasi ben greget juga rose ini mending langsung makan aja ben ga usah mikir lain lagi emang wanitamu selalu buat ulah ga liat situasi genting gini
Kus Hartiyah
Luar biasa
Herni Marianty
sangat suka ceritanya..good job
Mareew
bagus
Nurull_ •
Omoooooo ben
Nurull_ •
Sudah kuduga mereka brsaudara
MENTARI SENJA
si Victor bisa ngelawak juga😅😅🤣🤭
MENTARI SENJA
Anna🥰 jadi kangen ken dan ana🥺🥺
MENTARI SENJA: alhamdulillah udah q masukin daftar favorit thor cuma belum sempat ngintip 😅🤭 soalnya masih sibuk 😊
total 2 replies
Wati_esha
Apapun keputusanmu, tetap semangat selalu ya thor. 💪💪💪
Wati_esha
Bisa lanjut cerita thor, Relly - Anggie dan pencarian ibunya Benny Callary yang masih belum ditemukan. ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!