(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Gubuk Lin Xiao – Tengah Malam.
Suasana di dalam gubuk terasa panas dan menyesakkan. Di tengah ruangan, tungku hitam Bintang Jatuh bergetar pelan, memancarkan dengungan rendah.
Ye Xing duduk bersila di depannya, keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya. Tangan kanannya terulur, mengendalikan gumpalan api biru kecil yang menari di bawah tungku. Tangan kirinya membentuk segel tangan yang rumit dengan kecepatan kilat.
"Hancur... Padatkan... Buang..." gumam Ye Xing seperti mantra.
Di dalam tungku, Rumput Roh Angin, Empedu Babi Hutan, dan darah segar yang dia kumpulkan sedang mengalami penyiksaan.
Normalnya, alkemis Alam Bawah hanya membakar herbal sampai menjadi cairan. Tapi Ye Xing menggunakan Gravitasi kecil dari Mata Bintang nya untuk menghancurkan struktur herbal itu sampai ke tingkat kecil, memisahkan esensi murni dari ampas kotoran.
"Ini gila," batin Ye Xing. "Tubuh ini terlalu lemah. Qi-ku hampir habis hanya untuk memurnikan tiga butir pil tingkat rendah."
Tring!
Tiba-tiba, tungku berhenti bergetar. Api padam seketika.
Tutup tungku terbuka sedikit. Tidak ada cahaya emas menyilaukan atau awan keberuntungan seperti di legenda. Hanya ada bau logam hangus yang tajam.
Lin Xiao yang menjaga pintu menoleh penasaran. "Gagal, Xing?"
Ye Xing tidak menjawab. Dia membalikkan tungku itu.
Pluk. Pluk. Pluk.
Tiga butir pil berwarna hitam pekat, seukuran kelereng, jatuh ke telapak tangannya. Permukaannya kasar dan tidak rata, terlihat sangat jelek. Namun, pil itu terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah.
"Pil apa itu? Warnanya seperti racun tikus," komentar Lin Xiao jujur.
"Ini Pil Tulang Naga Besi," jawab Ye Xing, napasnya tersengal. "Bahan dasarnya sampah, jadi aku memadatkannya secara ekstrim. Khasiatnya bukan untuk menambah Qi, tapi untuk menghancurkan tulangmu dan menyusunnya kembali menjadi lebih keras."
Ye Xing melempar satu butir ke arah Lin Xiao.
"Makan," perintah Ye Xing.
Lin Xiao menangkapnya, menatap pil hitam itu dengan ragu. "Menghancurkan tulang? Kedengarannya menyakitkan."
"Sangat menyakitkan. Rasanya seperti digilas kereta kuda. Tapi setelah itu, kulitmu akan sekeras kulit babi hutan tadi. Kau tidak akan mempan dibacok golok biasa."
Lin Xiao menelan ludah. Dia ingat rasa sakit saat dipukuli Zhao Hu. Dia ingat rasa takut saat dirampok.
Aku tidak mau jadi lemah lagi.
Tanpa bertanya lagi, Lin Xiao menelan pil itu bulat-bulat.
Satu detik. Dua detik.
"Tidak ada ra..."
KRAK!
Mata Lin Xiao mendelik. Dia jatuh ke lantai, tubuhnya melengkung seperti udang. Suara tulang-tulangnya berderit mengerikan dari dalam.
"AAARRGGHHH!!!"
Lin Xiao membuka mulutnya untuk menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Ye Xing telah membungkam mulutnya dengan gumpalan kain kotor secepat kilat.
"Tahan," bisik Ye Xing di telinga sahabatnya, menahan tubuh Lin Xiao agar tidak membentur dinding dan membuat keributan. "Jangan berteriak. Jangan pingsan. Rasakan sakitnya. Biarkan energi itu meresap ke sumsum tulangmu. Jika kau pingsan, energinya akan bubar dan kau akan lumpuh."
Air mata dan ingus mengalir di wajah Lin Xiao. Pembuluh darah di lehernya menonjol ungu. Rasa sakitnya luar biasa seolah ada ribuan semut api yang menggerogoti tulangnya.
Ye Xing menatap sahabatnya dengan dingin namun peduli. Dunia kultivasi itu kejam, Lin Xiao. Ini baru langkah pertama.
Setelah memastikan Lin Xiao stabil (meski menderita), Ye Xing duduk kembali. Dia menatap dua pil yang tersisa di tangannya.
"Giliranmu, Tuan Muda," gumamnya pada diri sendiri.
Ye Xing menelan dua butir sekaligus.
BUM!
Rasa panas meledak di perutnya. Bukan seperti digilas kereta, tapi bagi Ye Xing—yang memiliki garis darah Phoenix yang tertidur rasanya seperti menelan lahar gunung berapi.
Segel Tian Feng di dalam tubuhnya bergetar hebat. Energi pil itu menabrak dinding segel, mencoba mencari celah.
Retak...
Segel itu terbuka sedikit lagi.
Ye Xing menggigit bibirnya sampai berdarah. Dia tidak berteriak. Dia menyalurkan rasa sakit itu menjadi fokus. Dia mengarahkan energi liar itu untuk menempa ulang otot-otot manusianya yang lemah.
Malam itu, di gubuk kecil yang sunyi, dua remaja berjuang melawan neraka kecil mereka sendiri demi melihat fajar yang lebih cerah.
Pagi Harinya.
Matahari terbit, membawa kehangatan ke Sekte Awan Rusak.
Di dalam gubuk, Lin Xiao terbangun. Dia merasa tubuhnya lengket oleh kotoran hitam berbau busuk (kotoran tubuh yang dikeluarkan).
"Ugh... bau sekali," keluh Lin Xiao.
Dia mencoba bangkit, tapi gerakannya terlalu kuat. Tangannya menekan lantai kayu.
Krak!
Papan kayu lantai itu patah berlubang.
Lin Xiao terbelalak. Dia melihat tangannya. Kulitnya terlihat lebih putih dan bersih, tapi saat dia mengetukkan kukunya ke lantai, suaranya seperti batu beradu.
"Qi Condensation... Tingkat 4?!" seru Lin Xiao kaget, merasakan aliran energinya. Dia melompat dua tingkat dalam satu malam!
"Berisik," suara Ye Xing terdengar dari sudut ruangan.
Ye Xing sedang berdiri, melakukan peregangan. Setiap sendinya berbunyi pop yang nyaring. Auranya telah stabil di Qi Condensation Tingkat 8.
Tubuhnya tidak lagi terlihat kurus kering. Otot-ototnya padat dan proporsional. Kulitnya memancarkan kilau tembaga samar.
"Bersihkan dirimu," perintah Ye Xing. "Bau kita seperti bangkai."
Namun, belum sempat mereka bergerak ke sungai, suara gedoran keras terdengar di sisa pintu gubuk yang sudah rusak.
DOK! DOK! DOK!
"Ye Xing! Lin Xiao! Keluar!"
Itu suara Diaken Ma. Dan kali ini, suaranya tidak sendiri. Ada banyak langkah kaki di belakangnya.
Ye Xing dan Lin Xiao saling pandang.
"Waktunya ujian hasil latihan," Ye Xing menyeringai tipis, matanya berkilat dingin.
Mereka melangkah keluar.
Di halaman, Diaken Ma berdiri dengan wajah puas. Di belakangnya ada dua Murid Penegak Hukum berjubah hitam (Tingkat 9) dan... Zhao Hu yang wajahnya bengkak dan ompong.
"Itu mereka!" tunjuk Zhao Hu dengan suara pelat. "Mereka yang mencuri tanaman herbal dan memukulku! Diaken Ma, lihat wajahku! Ini bukti kekejaman mereka!"
Diaken Ma mengelus jenggot kambingnya. "Mencuri aset sekte dan menganiaya senior... Ye Xing, Lin Xiao, kalian tahu hukumannya?"
Ye Xing melipat tangan di dada, bersandar santai di tiang pintu. "Hukuman? Aku tidak mencuri apapun. Tanaman itu tumbuh karena tanganku. Dan babi ompong itu? Dia tersandung kakinya sendiri."
"Lancang!" bentak salah satu Penegak Hukum. "Berlutut saat bicara dengan Diaken!"
Penegak Hukum itu mengibaskan tangannya. Rantai besi meluncur dari lengan bajunya, mengarah ke kaki Ye Xing.
Ye Xing tidak menghindar. Dia diam saja.
Lin Xiao yang bergerak.
Dengan kecepatan yang mengejutkan dirinya sendiri, Lin Xiao melangkah maju dan menangkap rantai besi itu dengan tangan kosong.
TANG!
Suara logam beradu. Tangan Lin Xiao tidak terluka. Kulit Tulang Besi-nya menahan gesekan rantai itu.
"Apa?!" Penegak Hukum itu terbelalak. Seorang murid pekerja menahan rantai murid inti?
Ye Xing tersenyum. "Lihat, Diaken? Temanku hanya ingin bersalaman. Jangan kasar begitu."
Wajah Diaken Ma berubah dari sombong menjadi waspada. Dia menyadari ada yang berbeda dari aura kedua bocah ini.
"Baiklah," kata Diaken Ma licik. "Karena kalian punya bakat... aku akan memberi kalian kesempatan menebus dosa. Ketua Sekte butuh bahan khusus untuk persiapan Turnamen."
Diaken Ma melempar sebuah gulungan misi berwarna merah darah ke kaki Ye Xing.
"Ambil Bunga Teratai Darah di Rawa Kabut Beracun. Bawa kembali dalam 3 hari, dan tuduhan ini dihapus. Jika gagal... kalian akan dieksekusi."
Ye Xing mengambil gulungan itu. Rawa Kabut Beracun? Itu adalah zona kematian bagi murid tingkat rendah. Tempat di mana banyak murid hilang tanpa jejak.
"Misi bunuh diri, ya?" batin Ye Xing. "Tepat sekali. Aku butuh tempat sepi untuk mencoba kekuatan baruku."
"Kami terima," kata Ye Xing lantang.