Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Pagi itu, Ayra akhirnya kembali ke sekolah. Tubuhnya sudah segar, meskipun Mama Aura sempat cerewet memaksanya membawa bekal air jahe hangat. Namun, baru saja ia menginjakkan kaki di koridor lantai dua yang menghadap langsung ke arah lapangan basket luar ruangan, langkah Ayra mendadak terhenti.
Di bawah sana, tim basket sedang istirahat setelah jam olahraga pertama. Di tengah lapangan, Alano sedang duduk di bangku panjang, dikelilingi oleh setidaknya lima atau enam siswi. Ada yang memberinya botol minuman dingin, ada yang menawarkan handuk kecil, dan ada yang terang-terangan sedang tertawa manja sambil menyentuh lengan Alano yang berkeringat.
Alano, dengan gaya khasnya, tampak sangat menikmati perhatian itu. Ia tertawa lepas, sesekali menyisir rambutnya yang basah ke belakang dengan jari-jari tangannya—sebuah gerakan yang membuat cewek-cewek di sekitarnya hampir histeris.
"Dasar playboy..." gumam Ayra pelan, matanya menyipit tajam. "Katanya suka sama aku, katanya 'Ayang' cuma aku, tapi masih aja tebar pesona sana-sini. Dasar mulut manis!"
Tanpa sadar, Ayra meremas tali tasnya dengan sangat kencang. Hatinya yang semalam terasa berbunga-bunga setelah melihat akun Instagram rahasia itu, kini mendadak terasa seperti disiram air cuka. Asam dan perih.
Ehem!
Suara deheman yang sangat keras di samping telinganya membuat Ayra tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati Sinta sedang berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Ayra dengan senyum penuh arti.
"Apa sih, Sin?" tanya Ayra ketus, mencoba menetralkan raut wajahnya.
"Nggak apa-apa. Cuma lagi ngeliatin sekretaris OSIS kita yang biasanya fokus ke proposal, eh sekarang kok malah fokus ke 'pemandangan' di lapangan basket," sindir Sinta. "Kenapa, Ay? Panas ya? Padahal di sini teduh lho."
"Ngaco kamu! Siapa yang liatin lapangan? Aku lagi liatin... itu, liatin ring basketnya udah agak miring, perlu diperbaiki," kilat Ayra dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
Sinta tertawa geli. "Ring basketnya atau orang yang lagi duduk di bawahnya? Lagian, Kak Alano emang gitu kan dari dulu? Raja playboy sekolah. Tapi aneh ya, katanya dia baru aja nolak Kak Siska dari tim pemandu sorak, katanya hatinya udah ada yang 'nge-tag'."
Ayra terdiam. Ia kembali melirik ke lapangan. Ia melihat Alano menerima botol minum dari salah satu siswi kelas 10 yang terkenal paling cantik di angkatannya. Alano meminumnya sambil tetap mengobrol asyik.
"Nge-tag apanya! Orang kayak gitu mah hatinya kayak terminal, siapa aja boleh mampir," gerutu Ayra lagi.
"Cieee... ada yang cemburu nih!" goda Sinta sambil mencolek dagu Ayra.
"Enggak! Siapa juga yang cemburu sama cowok kayak gitu!" Ayra langsung berjalan cepat meninggalkan koridor, menuju ruang OSIS. Ia merasa kesal, bukan hanya pada Alano, tapi juga pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus merasa sekesal ini? Bukankah ia sendiri yang selalu bilang kalau mereka cuma sepupu?
Siangnya, saat jam istirahat, Ayra sedang berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi buku ekonomi. Namun, di tikungan koridor dekat laboratorium, ia berpapasan dengan rombongan tim basket.
Alano sedang berjalan di depan, masih tertawa-tawa dengan Bima. Begitu melihat Ayra, wajah Alano langsung cerah. Ia berhenti di depan Ayra, menghalangi jalannya.
"Eh, udah sekolah? Udah sehat, Ay?" tanya Alano dengan nada yang kembali manis, seolah kejadian di lapangan tadi tidak pernah terjadi.
Ayra menatap Alano dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan dingin. "Udah. Minggir, aku mau lewat."
Alano mengernyitkan dahi. "Lho, kok galak lagi? Perasaan semalem di DM udah agak jinak. Masih pusing ya?"
"Nggak usah tanya-tanya. Tanya aja sama cewek-cewek yang tadi ngasih minum di lapangan. Mereka pasti lebih seneng kamu tanya-tanyain," sahut Ayra tajam, lalu ia sengaja menyenggol bahu Alano saat melewatinya.
Alano mematung di tempatnya. Bima dan teman-teman tim basket lainnya langsung bersiul-siul heboh.
"Waduh, Lan! Bau-baunya ada yang kebakar nih, tapi bukan sampah!" goda Bima sambil tertawa. "Cemburu tuh si Ayra!"
Alano perlahan-lahan menyunggingkan senyum lebar. Alih-alih marah karena disenggol, ia justru merasa menang. "Dia liat ya tadi?"
"Liat banget, Bro! Dia berdiri di koridor atas lama banget tadi pas kita istirahat," jawab Bima.
Alano terkekeh, ia merasa hatinya sangat lega. "Bagus deh. Berarti strategi 'tebar pesona' gue berhasil bikin dia sadar kalau gue ini barang berharga yang banyak peminatnya."
Ayra sedang duduk di pojok perpustakaan yang paling sepi, mencoba fokus membaca buku sejarah ekonomi dunia. Namun, bayangan Alano yang tertawa bersama cewek-cewek itu terus muncul di kepalanya.
Puk!
Sebuah kotak susu cokelat dingin tiba-tiba mendarat di atas mejanya, tepat di samping bukunya. Ayra mendongak dan mendapati Alano sudah duduk di kursi depannya, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatapnya jahil.
"Apa lagi?" tanya Ayra ketus.
"Minum dulu. Biar otaknya nggak panas gara-gara mikirin gue terus," ucap Alano santai.
"Narsis banget sih kamu! Siapa juga yang mikirin kamu?"
"Oh, jadi tadi yang liatin gue dari koridor atas itu bukan lo? Mungkin kembaran lo ya? Namanya Ayruni?"
Wajah Ayra kembali memerah. Ia merasa tertangkap basah. "Aku tadi cuma liatin ring basketnya! Udah rusak!"
Alano tertawa pelan, suara tawanya yang rendah terdengar sangat merdu di keheningan perpustakaan. Ia condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Ayra hingga Ayra bisa mencium aroma sabun dari tubuh Alano yang sudah mandi setelah olahraga.
"Ay," panggil Alano pelan.
Ayra menelan ludah. "A... apa?"
"Cewek-cewek tadi itu cuma temen. Mereka yang nyamperin, masa gue usir? Kan gue cowok sopan," bisik Alano. "Tapi lo tau kan, gue nggak bakal buatin akun Instagram khusus buat mereka. Gue cuma punya satu akun fans, dan itu cuma buat satu orang."
Ayra terdiam, ia merasa dadanya bergejolak lagi. "Terserah kamu lah, Lano. Aku nggak peduli."
"Masa nggak peduli? Tadi mukanya udah kayak kepiting rebus gitu pas lewat depan gue," goda Alano lagi. Ia mengacak rambut Ayra dengan gemas sebelum berdiri. "Minum susunya. Nanti sore gue tunggu di parkiran. Kita pulang bareng, nggak ada penolakan, nggak ada alasan rapat OSIS. Gue udah izin sama Rendy tadi."
Ayra melongo. "Kamu izin sama Kak Rendy? Bilang apa?!"
Alano menyeringai nakal di pintu perpustakaan. "Gue bilang, 'Waktunya Ayang gue istirahat, Pak Ketua. Cari sekretaris lain aja buat hari ini'."
"ALANO!!!" teriak Ayra tertahan karena sadar sedang di perpustakaan.
Alano menghilang di balik pintu sambil melambaikan tangan. Ayra menatap kotak susu cokelat itu, lalu tanpa sadar ia tersenyum tipis. "Dasar cowok aneh. Tapi... kok aku seneng ya?"