Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Wiranata
Pria setengah baya yang betah melajang sampai usia senja.
Telah lama kenal dengan Dominic, karena papa Dominic teman lama Wiranata.
Beda dengan keluarga Dominic yang menyukai pernikahan bisnis, tuan Wiranata tak sepaham.
Bagi Wiranata, pernikahan adalah hal yang sakral. Suami istri wajib saling menghormati ikatan suci itu, dan Dom menyetujui prinsip tuan Wiranata. Hal itu lah yang membuat keduanya dekat bak putra dan ayahnya.
Sampai saat Dominic bertemu Berlian, Dominic tak tahu alasan tuan Wiranata tak menikah.
Tuan Wiranata selalu mengelak jika pembicaraan dengan Dom mengarah ke status pernikahannya.
.
Saat ini Dominic sengaja mempertemukan tuan Wiranata dengan Berlian yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan pria yang dianggap seperti ayah kedua bagi Dom.
"Nak, kamu siapanya Dom? Hingga pria dingin ini mau bersusah payah mengajak ke sini," ulas tuan Wiranata mengurai senyum.
"Kebetulan, saya stafnya tuan Dom," jawab Berlian.
"Oh, staf?" tuan Wiranata menatap Dominic.
"Tenang uncle," Dominic meyakinkan tuan Wiranata jika tak akan terjadi apa-apa di kemudian hari, alias aman. Tuan Wiranata hafal betul dengan keluarga Alexander.
"Berlian, tinggal di mana?" tuan Wiranata menengok ke arah Berlian.
"Tak mungkin lah staf ku tinggal di kolong jembatan," sela Dominic.
'Perlu ku jawab nggak ya? Kerjaan ini nggak ada kaitan domisili,' batin Berlian.
Tuan Wiranata menepuk bahu Berlian perlahan.
"Santai aja, nggak dijawab juga nggak apa-apa. Aku yakin Dominic kasih rumah yang layak buat stafnya," kata tuan Wiranata bijak.
Berlian tersenyum sungkan.
"Oh ya Dom, aku dengar kamu akuisisi perusahaan Wijaya. Adrian tuh emang perusuh pasar. Bodoh kok dipelihara," ungkap tuan Wiranata.
Dominic melirik ke Berlian.
"Benar Uncle. Dan 'Wijaya' ku serahin Berlian," jelas Dominic.
"Oh, gitu ya?" tuan Wiranata menoleh ke arah Berlian.
"Benar tuan," jawab singkat Berlian.
"Adrian Kusuma itu ayahnya Berlian," beritahu Dominic.
"Oh ya?" tukas tuan Wiranata kaget.
'Uncle pasti tahu kan sepak terjang Adrian Kusuma?" pertanyaan Dominic tak seharusnya perlu jawaban.
Ada masa lalu terselubung antara tuan Wiranata dan tuan Adrian.
"Siapa yang tak kenal dengan pria sombong itu?" tutur tuan Wiranata jujur.
"Sorry Berlian, memang itu kenyataannya,"
Berlian diam. Yang disampaikan tuan Wiranata benar adanya.
"Saya ke toilet tuan-tuan," ijin Berlian.
.
"Dia marah?" tanya tuan Wiranata.
"Berlian nggak cocok sama ayahnya. Jadi uncle santai aja," beritahu Dominic.
"Kok bisa?" tanggap Wiranata.
"Kepo?" Dominic tergelak
Pria setengah baya itu meninju lengan Dominic.
"Ada yang uncle perlu tahu?" Dominic bicara hati-hati.
Tuan Wiranata menatap serius Dominic.
"Ada nama Wiranata di belakang nama Berlian," kata Dominic serius.
Wiranata menautkan alisnya.
"Yang jadi pertanyaan saya, kenapa nama belakang Berlian tak memakai nama Kusuma atau pun Wijaya? Atau jangan-jangan ada yang disembunyikan uncle dariku?"
'Sialan. Kenapa nggak tanya ke yang punya nama aja?" kesal tuan Wiranata.
"Uncle tidak mau cerita?"
Tuan Wiranata menghela nafas panjang.
"Panjang ceritanya," kata tuan Wiranata. Dominic menyimak serius.
Saat itu Berlian masuk, "Apa saya menganggu?" melihat dua orang yang serius bicara membuat Berlian segan.
"Duduk sini," Dominic menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Suatu saat pasti aku akan cerita semua Dom," tuan Wiranata kembali menghela nafas panjang. Dominic mengangguk tanpa suara.
Dominic sudah dianggap seperti putranya sendiri.
Selama ini, tanpa disuruh pun Dominic melakukan penyelidikan. Tapi semua buram, saat Dominic mencari hubungan Berlian dengan tuan Wiranata.
Tuan Wiranata tak sengaja melihat cincin yang dipakai Berlian.
"Cincin kamu bagus nak," puji tuan Wiranata.
Berlian melihat ke jari manis nya, "Oh, ini cincin pemberian almarhum ibu saya tuan," beritahu Berlian.
"Siapa tadi nama ibu kamu? Indah Wijaya?" Berlian mengangguk membenarkan.
Cincin yang dipakai Berlian itu costume, hanya satu yang pernah dibuat. Dan Wiranata lah yang memesan nya.
"Apa ini ibu kamu?" tanya Wiranata setelah meraih ponselnya.
Berlian melihatnya.
"Bu... Bukan tuan," wajahnya memang tak mirip dengan almarhum ibu Berlian.
"Oh ya sudahlah. Mungkin aku yang terlalu berharap di sini," tukas tuan Wiranata pasrah.
Dominic diam dan mengamati.
.
Asisten Brian langsung melajukan mobil setelah memastikan Berlian turun di lobi perusahaan Wijaya.
Berlian berjalan dengan suara heel yang teratur. Seperti biasa ingin langsung ke ruang kerjanya.
"Nyonya Berlian," sapa seseorang yang sepertinya sengaja menunggu kedatangan Berlian.
"Ya," Berlian menautkan alis, merasa tak kenal dengan wanita yang mungkin usianya hampir sama dengan almarhum ibunya.
Tamparan manis mendarat di pipi Berlian, meninggalkan jejak kemerahan. Berlian sempoyongan, tak siap dengan serangan tiba-tiba.
"Ada yang salah nyonya?" respon sopan Berlian.
Wanita itu menyilangkan lengannya di dada.
"Ingat statusmu. Kamu tak layak berdiri di samping anakku," serunya.
Sampai di sini Berlian tak tahu siapa yang dihadapannya saat ini.
"Nyonya, saya bisa mengusir anda saat ini. Anda tak berlaku sopan pada saya,"
"Tak perlu kesopanan untuk menghadapi wanita macam kamu," sarkas nya.
Berlian ikutan melipat kedua tangannya.
" Saya bisa melaporkan anda nyonya," ucap Berlian.
Tak ada angin tak ada hujan, datang- datang main tampar aja. Dasar gila, umpat Berlian dalam hati.
"Silahkan saja kalau berani. Anakku pasti akan membelaku," katanya penuh keyakinan.
"Nyonya, saya tak mengenal anda. Silahkan pergi, arah exit di sebelah sana," tunjuk Berlian.
"Sial, berani mengusirku," aura kemarahan nampak jelas di kedua netranya.
Berlian hendak pergi, kalau diladenin bisa panjang urusannya.
Kedua lengan Berlian dicekal, "Mau kemana? Aku belum selesai bicara," hardiknya.
"Maaf saya sibuk nyonya, jika ada hal penting petugas front office akan mencatatnya. Makasih," Berlian menepis kuat tangan yang mencekalnya itu.
Berlian pergi meninggalkan wanita setengah baya.
"Ada-ada saja," gumam Berlian memegang pipi yang terasa perih itu.
.
"Tuam Dom, ada tragedi?" asisten Brian menyodorkan ponsel ke sang bos.
"Sialan," umpat Dominic.
"Kita ke 'Wijaya'! perintah Dominic.
"Kita mau sampai di perusahaan pusat Tuan Dom," beritahu asisten Brian.
"Putar balik,"
Asisten Brian tak membantah perintah sang bos
.
.
Apakah ada kaitan tuan Wiranata dan Berlian Putri Wiranata?