NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Lantai jip militer yang bergetar hebat itu terasa sangat keras di bawah alas sepatu Arlan. Tangannya yang terborgol di belakang punggung mulai terasa kaku karena posisi duduk yang sangat tidak nyaman. Dia menatap lurus ke arah kapten berseragam yang duduk di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.

[Peringatan: Protokol Keamanan Sistem Terputus Secara Paksa]

[Status: Mode Hibernasi Darurat Aktif]

{Bahkan sistem ini pun tidak bisa menembus dinding otoritas yang sedang mereka gunakan,} batin Arlan sambil mencoba menggerakkan bahunya yang pegal.

"Apa Bapak tahu kalau menahan warga sipil tanpa proses pemeriksaan awal itu melanggar aturan?" tanya Arlan dengan nada yang tetap tenang dan terkendali.

Pria berseragam itu, yang memiliki nama tag 'Kapten Bramanto' di dadanya, hanya melirik Arlan dengan tatapan dingin. "Kamu jangan mengajari saya soal aturan di wilayah ini, Arlan."

"Saya hanya bertanya, karena saya punya hak untuk didampingi pengacara," ucap Arlan sambil mencoba mencari celah dalam tatapan pria itu.

"Di sini, hakmu adalah diam sampai kita sampai di markas," sahut Kapten Bramanto sambil membetulkan letak baretnya.

"Lalu bagaimana dengan Ibu saya yang sekarang ketakutan di rumah sendirian?" tanya Arlan dengan nada yang sedikit lebih tajam.

"Ibumu akan baik-baik saja selama kamu kooperatif mengenai aset lahan tersebut," jawab Kapten Bramanto tanpa menoleh sedikit pun.

Mobil jip itu berhenti di sebuah kompleks bangunan beton yang dikelilingi pagar kawat berduri setinggi tiga meter. Arlan diturunkan dengan kasar dan digiring masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang hanya berisi satu meja dan dua kursi besi.

"Duduk di sana dan jangan mencoba melakukan hal bodoh," perintah Kapten Bramanto sebelum meninggalkan Arlan sendirian di ruangan yang sunyi itu.

Arlan menatap plafon ruangan yang memiliki satu buah kamera pengawas yang terus berkedip merah. Dia mencoba memfokuskan pikirannya, mengabaikan rasa sakit di pergelangan tangannya yang semakin menjadi-jadi.

[Sistem: Memulai Pemulihan Data Cadangan di Luar Jaringan Utama...]

[Proses: 5%... 12%... 20%...]

{Bagus, setidaknya sistem ini masih mencoba berjuang di dalam kepalaku,} batin Arlan sambil menyandarkan kepalanya ke dinding tembok yang dingin.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan suara derit besi yang sangat menyayat telinga. Bukan Kapten Bramanto yang masuk, melainkan seorang pria dengan setelan safari hitam yang wajahnya sangat familiar bagi Arlan.

"Halo, Arlan. Bagaimana rasanya mencicipi sedikit kekuatan dari hukum yang sesungguhnya?" tanya Pak Wirawan sambil menarik kursi dan duduk di depan Arlan.

"Ternyata Bapak punya pengaruh yang cukup besar sampai bisa menggerakkan pasukan berseragam," ucap Arlan dengan senyum tipis yang memancing amarah lawan bicaranya.

"Ini bukan soal pengaruh, ini soal hubungan timbal balik yang sudah saya bangun puluhan tahun," sahut Pak Wirawan sambil meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.

"Bapak ingin saya menandatangani surat pelepasan lahan itu sekarang?" tanya Arlan sambil melirik map tersebut.

"Kamu pintar juga. Tanda tangani ini, dan kamu bisa pulang ke rumah ibumu malam ini juga tanpa ada catatan kriminal," tawar Pak Wirawan dengan nada yang sangat persuasif.

"Kalau saya menolak?" tanya Arlan dengan suara yang mantap.

"Maka kamu akan dituduh sebagai penggerak separatisme ekonomi yang meresahkan warga desa, dan hukuman itu tidak akan singkat," ancam Pak Wirawan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Arlan.

Arlan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat kontras di ruangan yang mencekam itu.

"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu dari ancaman saya?" tanya Pak Wirawan dengan dahi yang berkerut.

"Saya hanya tertawa karena Bapak lupa satu hal penting dalam dunia logistik," jawab Arlan sambil menatap mata Pak Wirawan dengan berani.

"Apa itu?" tanya Pak Wirawan dengan nada yang mulai tidak sabar.

"Setiap truk yang membawa barang ke wilayah selatan sekarang sedang menggunakan sistem enkripsi Arlan Corp yang terkoneksi langsung ke server audit nasional," jelas Arlan dengan penuh percaya diri.

Pak Wirawan terdiam sejenak, wajahnya mulai menunjukkan sedikit keraguan yang berusaha dia tutupi.

"Lalu apa hubungannya dengan penahananmu sekarang?" tanya Pak Wirawan lagi.

"Jika saya tidak melakukan verifikasi masuk setiap enam jam sekali, sistem itu akan menganggap ada gangguan keamanan nasional dan otomatis mematikan semua jalur distribusi di provinsi ini," ucap Arlan sambil menunjukkan senyum kemenangannya.

Wajah Pak Wirawan mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi mendengarkan penjelasan teknis tersebut.

"Kamu menggertak saya! Kamu tidak mungkin punya akses ke protokol keamanan nasional!" teriak Pak Wirawan sambil menggebrak meja dengan sangat keras.

"Silakan cek sendiri melalui koneksi Bapak di pusat. Sisa waktu saya tinggal empat puluh lima menit sebelum seluruh jalur distribusi mati total," sahut Arlan sambil melirik jam dinding di ruangan itu.

Pak Wirawan segera berdiri dan keluar dari ruangan dengan langkah yang terburu-buru, meninggalkan Arlan dalam kesunyian lagi.

[Sistem: Pemulihan Protokol 85%... Mode Intervensi Aktif]

[Tindakan: Mengirimkan Pesan Terenkripsi ke Pak Pratama]

Arlan menunggu dalam diam, dia tahu bahwa dia sedang mempertaruhkan segalanya pada satu langkah berani ini. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, hingga akhirnya Kapten Bramanto masuk kembali dengan wajah yang tampak sangat bingung.

"Siapa sebenarnya kamu, Arlan? Kenapa kantor pusat memerintahkan saya untuk segera membebaskanmu?" tanya Kapten Bramanto sambil membuka borgol di tangan Arlan.

"Saya hanya seorang analis data yang suka mencari kebenaran, Kapten," jawab Arlan sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.

"Pergilah dari sini sekarang sebelum saya berubah pikiran karena rasa kesal saya," ucap Kapten Bramanto sambil menunjuk ke arah pintu keluar.

Arlan keluar dari kompleks militer itu dan mendapati sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu di depan gerbang utama. Siska berdiri di samping mobil itu dengan wajah yang terlihat sangat lega namun matanya masih sembab.

"Arlan! Kamu beneran dilepaskan!" teriak Siska sambil berlari memeluk Arlan dengan sangat erat.

"Siska, tenang dulu. Bagaimana keadaan di rumah?" tanya Arlan sambil mencoba melepaskan pelukan Siska secara perlahan.

"Rumahmu sudah dijaga oleh tim keamanan dari Pak Pratama, Lan. Ibumu sudah tenang," jawab Siska sambil mengusap air matanya.

"Pak Pratama? Bukankah beliau yang mematikan sistem kotak logam itu tadi?" tanya Arlan dengan nada yang penuh selidik.

"Beliau terpaksa melakukan itu untuk memancing Wirawan keluar dari lubang persembunyiannya, Lan," jelas Siska sambil membukakan pintu mobil untuk Arlan.

"Jadi saya benar-benar dijadikan umpan oleh beliau?" tanya Arlan sambil masuk ke dalam mobil.

"Bukan sekadar umpan, Lan, tapi Bapak ingin melihat apakah kamu bisa menangani krisis level tinggi sendirian atau tidak," sahut sebuah suara dari kursi belakang mobil.

Arlan terkejut melihat Pak Pratama sudah duduk di sana dengan sebuah laptop yang menyala di pangkuannya.

"Selamat, Arlan. Kamu baru saja membuktikan bahwa otakmu jauh lebih cepat daripada amunisi mereka," ucap Pak Pratama sambil menutup laptopnya.

"Terima kasih, Pak, tapi saya tidak suka dijadikan percobaan seperti ini," jawab Arlan dengan nada yang sangat dingin.

"Dunia bisnis logistik memang kejam, Arlan. Tapi sekarang kamu punya satu bukti baru yang akan membuat Wirawan tidak bisa berkutik lagi," ucap Pak Pratama sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah Arlan.

Di layar tersebut, terdapat rekaman suara Wirawan saat mencoba melakukan penyuapan kepada Kapten Bramanto di ruangan tadi.

"Rekaman ini asli?" tanya Arlan dengan mata yang berbinar.

"Sangat asli dan sudah terunggah ke server internal komisi etik mereka," jawab Pak Pratama dengan senyum yang penuh kemenangan.

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi mobil, merasa sangat lelah namun puas dengan hasil perjuangannya. Namun, saat mobil baru saja melaju beberapa meter, sebuah ledakan besar terdengar dari arah kantor Mitra Desa yang baru saja mereka tinggalkan tadi sore.

"Itu... itu kan arah kantor kita, Arlan!" teriak Siska sambil menunjuk ke arah kepulan asap hitam di kejauhan.

Arlan segera melihat ke arah sistem di matanya yang kini sudah menyala kembali dengan warna merah menyala.

[Peringatan: Server Pusat Mitra Desa Hancur Total]

[Status: Maya_Analis Tidak Memberikan Respon Sinyal]

Arlan merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa Maya mungkin masih berada di dalam bangunan yang meledak itu.

"Wirawan... dia tidak mau menyerah dengan cara yang halus," desis Arlan dengan kepalan tangan yang sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.

"Sopir, putar balik ke kantor sekarang juga!" perintah Arlan dengan suara yang penuh dengan kemarahan yang meluap-luap.

Perang ini ternyata belum berakhir, dan harga yang harus dibayar Arlan baru saja menjadi jauh lebih mahal dari yang pernah dia bayangkan.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!