Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 ~ Penjara Pernikahan Marvin
Rumah ini seperti akan menjadi penjara baru bagi Raina. Mengikuti langkah pria yang sekarang menjadi suaminya, berjalan dengan sedikit kesulitan karena gaun pengantin yang belum di lepas. Marvin tidak membiarkannya berganti pakaian dulu, dan Mama sudah menyiapkan semua barang-barangnya di dalam koper, seolah sudah ingin Raina pergi dari rumahnya.
"Sini kau!"
Tangan Raina di tarik kasar dan tubuhnya di hempaskan ke atas sofa di ruang tengah ini. Raina menatap penuh takut pada Marvin yang mendekat padanya.
"Kak Marvin mau apa?"
Plak.. Satu tamparan begitu keras mendarat tepat di pipinya hingga terasa panas dan memerah. Mata Raina sudah berkaca-kaca, bukan hanya rasa sakit di pipinya, tapi juga di hatinya.
Marvin mencengkram kuat dagu istrinya, menatapnya dengan penuh kebencian. "Selamat datang di Penjara Pernikahan ini, Raina! Akan aku buat kau tahu, bagaimana sebenarnya dunia pernikahan ini"
"Kak ... sakit"
"Sakit ya?" Marvin tersenyum meremehkan, wajahnya terlihat sangat mengerikan bagi Raina. "Ini tidak seberapa dengan rasa sakitku kehilangan wanitaku!"
Air mata Raina akhirnya lolos juga, melihat tatapan Marvin yang begitu tajam dan penuh kebencian. Raina bisa tahu jika memang Marvin akan membencinya atas apa yang sudah terjadi.
"Maaf" lirih Raina dengan terisak pelan.
Marvin hanya tersenyum sinis, cengkraman di dagu Raina semakin kuat, seolah ingin menghancurkan dagu gadis itu. "Kata maafmu sama sekali tidak berguna. Kau tidak akan bisa mengembalikan Amira. Ternyata benar kata Ibumu, jika kau hanya pembawa sial!"
Tes.. Air mata kembali mengalir, kata 'pembawa sial' sudah sering dia dengar dari keluarganya sendiri. Dan, sekarang dia harus mendengarnya juga dari pria yang menjadi suaminya. Seperti menjadi sebuah sebutan yang pantas untuk Raina.
"Akan aku tunjukan bagaimana malam pertama kita"
Marvin meraih rambut Raina dan menariknya kuat. Membuat Raina menjerit kesakitan saat Marvin menarik rambutnya dan membawanya ke sebuah kamar. Raina hanya terus mencoba melepaskan cengkraman tangan Marvin di rambutnya, tubuhnya benar-benar terseret di atas lantai.
"Sakit Kak.. Sakit... Hiks"
Marvin menariknya paksa untuk berdiri, Raina masih menangis dengan wajah memerah karena rasa sakit di kepalanya. Tangan Marvin masih belum melepaskan cengkramannya di rambut Raina.
Marvin tersenyum miring, benar-benar begitu menakutkan. "Akan aku perlihatkan bagaimana pernikahan ini"
Marvin membanting tubuh Raina ke atas ranjang, lalu dia membuka jas dan kemejanya dengan kasar. Menatap Raina dengan senyum licik.
"Kau ingin jadi istriku 'kan? Bahkan rela merebut cincin milik Amira" Marvin mengukung tubuh Raina, tatapan matanya benar-benar menakutkan. "Dan sekarang aku akan menjadikanmu istriku yang sesungguhnya. Selamat datang di penjara pernikahanku, Raina"
Ketika tangan Marvin menelusuri setiap inchi wajah Raina, dia hanya bisa memejamkan mata dengan penuh rasa takut. Tubuhnya sudah bergetar sebelum Marvin benar-benar melakukannya.
"Kak, tolong jangan ... hiks.. aku minta maaf atas semuanya, jika soal cincin ini, aku akan lepaskan dan berikan pada Kak Marvin.. hiks.. Tolong Kak, jangan lakukan itu"
Marvin tersenyum miring, sama sekali tidak menghiraukan tangisan Raina yang terdengar begitu memilukan. Marvin merobek gaun yang di pakai Raina, melepaskannya dan melemparnya begitu saja.
Tidak ada aba-aba, Marvin langsung melakukannya dengan kasar. Membuat Raina menjerit kesakitan. Ini adalah yang pertama baginya, dan Marvin melakukanya dengan begitu kasar, tentu itu sangat menyakitinya.
"Kak.. sakit... hiks... tolong hentikan" lirihnya yang sama sekali tidak di dengar oleh pria yang sedang menggagahinya saat ini. "Sakit... tolong hentikan... Kak, sakit"
Marvin sama sekali tidak menghiraukan lirih suara Raina yang memilukan itu. Dia terus berlaku kasar padanya. Membalik tubuh Raina dengan kasar, dan mengambil ikat pinggang dan memukul punggung Riana dengan kasar. Bekas memerah dan luka dari cambukan itu membuat Marvin tertawa puas.
"Sakit... Hiks.. Kak sakit.."
"Sakit ya" Bugh... Bugh.. Marvin terus memukul punggung Raina dengan ikat pinggang. "Ini baru permulaan Sayang, kau akan lebih merasakan lebih dari ini"
Darah yang menetes di seprei putih itu sama sekali tidak membuat Marvin sedikit saja iba. Dia malah semakin menjadi dan merasa bahagia melihat penderitaan wanita yang menjadi istrinya ini.
"Aaa... Kak sakit"
Teriakan terakhir sebelum Raina akhirnya tidak sadarkan diri. Tubuhnya jatuh lemas ke atas tempat tidur, membuat Marvin tersenyum sinis melihatnya.
"Kau yang menghancurkan kebahagiaanku dan Amira, sekarang kau yang harus menerima semua kesakitan itu"
*
Marvin keluar kamar dengan hanya memakai celana panjangnya saja. Bagian tubuhnya di biarkan polos begitu saja.
"Jika dia bangun, berikan makan. Jangan sampai dia mati kelaparan dan obati lukanya"
Perintahnya pada seorang pelayan perempuan, sebelum dia berlalu pergi.
"Baik Tuan"
Pintu kamar terbuka, pelayan itu sudah melihat apa yang terjadi. Saat Marvin menarik rambut Raina dan menyeretnya ke dalam kamar. Namun, dia juga tidak berani membantu atau melakukan apapun.
Ketika masuk ke dalam kamar, situasi kamar yang begitu berantakan, gaun pengantin dan jas juga kemeja milik Marvin berserak di lantai. Yang lebih mengenaskan, adalah seorang gadis yang tidur terngkurap dengan punggung penuh luka cambukan. Seprei dan selimut putih itu penuh darah.
"Ya Tuhan, malang sekali nasibnya"
Dia segera pergi ke kamar mandi, mengambil air hangat dan handuk. Membersihkan luka di punggung Raina dengan perlahan.
"Sshhtt"
"Nona, Nona sudah sadar"
Raina tersadar karena rasa perih di punggungnya. Seluruh tubuhnya terasa hancur. "Ka-kamu siapa?"
"Saya Mbak Eni, pelayan disini yang di minta Tuan Marvin untuk membantu Nona bersih-bersih. Nona diam saja, biar saya mengobati luka-lukanya ya"
Raina mengangguk kecil, dia kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Rasa perih di seluruh punggungnya, membuat dia meneteskan air mata mengingat tentang apa yang terjadi beberapa saat lalu.
Aku benar-benar masuk dalam penjara pernikahan Kak Marvin.
Raina terisak, bukan hanya karena rasa sakit di punggungnya dan seluruh tubuhnya. Tapi rasa sakit dan perih di hatinya lebih besar.
Dia memperlakukan aku bagaikan seorang hewan tak berguna. Dan aku akan menjalani kehidupan pernikahan ini bersamanya.
"Nona yang kuat ya, saya juga tidak menyangka jika Tuan Marvin akan sekejam ini"
Tatapan mata Raina begitu kosong, merasakan Mbak Eni yang mengoleskan obat di setiap luka.
"Semuanya juga karena kesalahanku, sejak awal kehadiranku di dunia ini sudah salah, Mbak. Jadi, biarkan saja Kak Marvin menyiksaku sampai puas, atau mungkin sampai Tuhan mengambil nyawaku"
"Hiks... Nona, pasti kuat melewatinya" Mbak Eni sampai tidak bisa menahan tangis melihat keadaan Raina.
Bersambung
Langsung Dibaca ya, awas pada nunggu bab banyak dulu.. Hargailah gue nulis sampe kleyengan nih..
👍
pergi dari rumah Marvin,,