Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26
Juned memeriksa kameranya untuk kesekian kalinya. Ia menekan tombol power lebih lama dari biasanya, terlalu lama untuk disebut normal, seperti seseorang yang percaya bahwa tekanan jari bisa mengubah takdir elektronik. Jempolnya bahkan sedikit gemetar, namun kamera itu tetap tidak bereaksi. Tidak ada lampu indikator, tidak ada bunyi khas mesin yang hidup. Tidak ada apa-apa selain layar hitam yang memantulkan wajahnya sendiri dalam bayangan samar.
Sunyi. Kamera itu, yang selama ini jadi perpanjangan jiwanya. Saksi bisu setiap kejadian aneh, lucu, memalukan, dan “katanya mistis” kini memilih mogok tepat di saat nalurinya berteriak bahwa sesuatu penting sedang terjadi. Juned menelan ludahnya, ini pertama kalinya sejak KKN dimulai ia merasa buta.
Di sudut ruangan, Wati sudah tertidur.
Bukan tidur pura-pura, bukan pula tidur setengah sadar. Tetapi benar-benar tidur dengan nyaman. Kepalanya miring, mulut sedikit terbuka, dengkurnya pelan tapi konsisten dan stabil, seperti metronom yang salah genre. Dalam situasi di mana semua orang duduk kaku seperti patung museum bertema “Manusia Ketakutan Abad 21”, suara dengkuran Wati justru jadi elemen paling tidak masuk akal. Dan karena itu, paling mengganggu, Juned sempat meliriknya dengan campuran kagum dan iri. Ada orang yang ketika dunia terasa seperti mau runtuh, justru memilih tidur nyenyak.
TOK.
Suara itu tidak keras, seperti benda kecil yang jatuh dari ketinggian pendek. Semua tubuh menegang hampir bersamaan. Bahkan jam dinding yang sejak tadi berdetak tidak konsisten, seolah ikut ragu untuk lanjut.
“Dengar nggak?” bisik Aluh.
Suaranya tipis seperti takut kalau volumenya naik sedikit saja, suara itu akan merasa terpanggil untuk menjawab.
“Angin,” jawab Udin cepat.
Nada suaranya datar, tapi kecepatan responnya justru mencurigakan. Itu jawaban orang yang ingin menutup pembahasan sebelum otaknya sendiri sempat mengejar logika.
“ANGIN NGGAK JATUH,” sahut Bodat tanpa basa-basi. “Angin itu lewat. Yang jatuh itu barang.”
Kalimat itu jatuh ke lantai percakapan. Tidak dengan nada keras, tapi cukup untuk membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan ekspresi “tolong jangan jujur sekarang”.
TOK.
Kali ini suara itu lebih jelas dari arah dapur. Anang berhenti mengunyah. Sumpitnya menggantung di udara, mie setengah masuk mulut, setengah belum. Ia membeku dalam pose yang kalau difoto, bisa jadi meme bertema “ketika logika dan insting bertabrakan”.
“…itu bukan kompor, kan?” tanyanya pelan.
Tidak ada yang langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu, tapi karena semua tahu bahwa jawaban apa pun, iya atau tidak, sama-sama tidak menenangkan. Lalu terdengar bunyi lain,
KREEEET…
Suara kayu yang digeser dengan pelan. Bukan suara benda jatuh, ini suara sesuatu yang dipindahkan dengan sengaja. Diseret di lantai dengan tidak terburu-buru seolah pelakunya punya waktu dan tidak merasa perlu sembunyi. Susi langsung berdiri.
“Oke,” katanya tegas, meski suaranya sedikit bergetar di ujung lidah. “Ini udah nggak lucu.”
Kalimat itu bukan protes. Lebih seperti deklarasi batas mental.
“Aku setuju,” sahut Juleha sambil merapatkan kerudungnya, tangannya mencengkeram ujung kain seperti pegangan darurat. “Kalau ini prank, aku marah.”
Surya menelan ludah. Adam’s apple-nya naik turun jelas terlihat.
“Dari… dari mana itu?”
Tidak ada yang menunjuk. Tidak ada yang berani memastikan. Moren justru bergerak, Ia membuka tasnya dengan cepat tapi tidak panik. Gerakannya rapi, seperti orang yang sudah menyiapkan skenario ini di kepalanya sejak sore, walau mungkin hanya sebagai latihan mental, bukan kenyataan. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan alat rakitan yang entah bagaimana bisa disebut alat. Senter bekas, kabel kusut, tutup botol air mineral yang dilubangi, sebuah sakelar kecil dan power bank yang bodinya penyok di satu sudut, bukti hidup keras di tas KKN.
“Tenang,” kata Moren, mencoba terdengar profesional. “Kalau ini beneran, alat ini bakal bunyi.”
Semua mata tertuju padanya.
“Kalau bunyi?” tanya Palui cepat. Terlalu cepat. Nadanya naik satu oktaf.
Moren berhenti sejenak, menimbang kata.
“Berarti...”
“BERARTI APA??”
“Berarti alatnya hidup.”
Tidak ada yang tertawa. Bukan karena tidak lucu, tapi karena otak semua orang sedang sibuk menghitung kemungkinan terburuk, dan humor tidak masuk prioritas.
BEEP.
Alat itu menyala, Lampu kecil berkedip hijau. Semua menahan napas, refleks, seperti sedang nonton adegan final film yang tidak mereka pilih tapi terpaksa tonton.
BEEP. BEEP.
Lampunya berkedip lebih cepat.
“Itu… bagus atau nggak?” tanya Ani.
Suaranya bergetar, tapi matanya justru berbinar. Bukan karena berani. Tapi karena rasa penasaran yang lebih besar dari rasa takut, tipe orang yang kalau lihat pintu bertuliskan DILARANG MASUK, justru ingin tahu kenapa.
“Harusnya… normal,” jawab Moren dengan nada ragu.
BEEEEEP.
Lampu berubah merah.
“KENAPA MERAH?” teriak Surya.
“MERAH ITU BAHAYA!” sahut Bodat refleks.
“MERAH ITU JUGA WARNA CABE!” balas Anang panik. “CABENYA PEDAS!”
Belum sempat mereka sepakat arti warna merah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dari belakang arah dapur.
DUARR.
Pintu belakang terbanting, Bukan terbuka perlahan atau didorong pelan. Angin dingin menyapu ruangan. Lampu berkedip sekali beberapa kali. Bau tanah masuk bersama udara malam. Ada aroma lain yang juga ikut masuk, seperti gudang lama yang jarang dibuka.
Semua terdiam, tidak ada teriakan lanjutan. Tidak ada penampakan. Tidak ada suara langkah kaki misterius. Hanya pintu yang kini terbuka setengah, berayun pelan, kreeek… kreeek… Juned refleks mengangkat kamera, lalu ingat bahwa kameranya mati. Rasa frustrasi menumpuk, tangannya mengepal.
“Ini bukan angin,” gumamnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, semua orang setuju tanpa perlu debat. Tidak ada yang langsung bergerak. Dalam situasi seperti itu, diam adalah bentuk pertahanan. Bergerak berarti mengakui bahwa sesuatu memang terjadi. Dan mengakui itu berarti harus siap dengan konsekuensinya.
“Siapa… yang terakhir ke dapur?” tanya Udin akhirnya.
Semua saling beradu pandang. Anang mengangkat tangan pelan. “Aku. Tapi kompor udah mati. Pintu juga aku tutup.”
“Yakin?” tanya Susi.
“Yakin. Aku takut gas. Aku miskin. Aku nggak mau mati muda karena tabung LPG.”
Argumen itu terlalu logis untuk dibantah. Moren mendekati alatnya, mengetuk-ngetuk casing senter. Lampunya masih merah. Berkedip pelan, seperti detak jantung orang yang mencoba tenang tapi gagal.
“Alat ini sensitif gerakan,” katanya. “Bukan deteksi hantu. Jangan lebay. Lebih ke… perubahan medan.”
“Medan apa?” tanya Palui.
“Medan… ya medan,” jawab Moren, sadar bahwa penjelasan teknis justru akan memperpanjang kecemasan.
Bodat mendekat ke pintu belakang. Langkahnya pelan, tapi tidak ragu. Ia berhenti sekitar satu meter dari pintu.
“Kalau ada apa-apa,” katanya tanpa menoleh, “ingat jasa saya.”
“JANGAN,” serentak beberapa suara menyahut.
“Kalau kamu mati, kita repot ngurus laporan,” tambah Ani cepat.
Bodat mendengus.
“Tenang. Aku nggak niat mati. Aku masih punya utang.”
Ia mencondongkan badan, mengintip ke luar. Namun disana tidak terlihat ada siapa-siapa. Hanya halaman belakang yang sunyi. Daun pisang bergerak pelan tertiup angin. Tidak ada jejak kaki atau bayangan mencurigakan. Bahkan tidak ada mata merah menyala. Tidak ada apa pun yang biasanya dijanjikan cerita horor.
“Kosong,” lapor Bodat.
Kalimat itu tidak melegakan. Justru sebaliknya. Kosong berarti tidak ada penjelasan. Udin menghembuskan napas panjang.
“Oke. Oke. Kita evaluasi. Bisa jadi… kucing. Atau ayam. Atau...”
“AYAM NGGAK BUKA PINTU,” potong Surya.
“Bisa jadi pintunya nggak terkunci sempurna,” tambah Juleha cepat. “Angin masuk, dorong...”
“Angin desa ini lemah lembut,” kata Ani. “Kayak mantan yang masih mikirin kamu tapi nggak berani chat.”
Argumen itu memang begitu sulit dibantah oleh mereka. Wati tiba-tiba mendengus lebih keras. Beberapa orang hampir lompat, tapi Wati hanya berguling, menarik selimut, dan melanjutkan dengkuran dengan nada sedikit lebih tinggi. Seolah mimpi sedang masuk fase klimaks.
“Dia… aman banget ya,” bisik Palui.
“Dia tidur di zona damai,” jawab Susi. “Kita di zona konflik.”
Juned akhirnya duduk. Punggungnya bersandar ke dinding. Kamera masih di tangannya. Ia menatap benda itu dengan campuran kesal dan pasrah.
“Biasanya,” katanya pelan, “kalau kamera mati gini, ada dua kemungkinan.”
“Jangan,” kata Udin cepat.
“Satu,” lanjut Juned, mengabaikan, “baterainya habis.”
“Yang kedua?” tanya Ani, setengah takut, setengah penasaran.
“Yang kedua… tempatnya bermasalah.” Jawab Juned.
Tidak ada yang minta penjelasan lanjutan lebih jauh. Karena semua tahu, dalam cerita horor, penjelasan lanjutan jarang berakhir menyenangkan. Lampu kembali berkedip pelan seperti orang yang ragu untuk tetap terjaga. Jam dinding berdetak seperti biasa, malam belum selesai. Dan entah kenapa, semua merasa, ini baru bagian ketika malam mulai bergerak.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....