Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah paham [Visual]
Elena berlari tak tentu arah, lalu dia melihat ada jalan pintas jadi melewati jalan kecil itu tanpa pikir panjang. Tanpa di duga gaun Elena tersangkut pagar besi, dia tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Elena benar-benar terkena masalah karena tersangkut di sana seperti tikus yang terkena perangkap.
"Astaga, kenapa harus di saat seperti ini." Gumam Elena frustasi.
Elena menoleh ke sana kemari, berharap ada pelayan yang lewat dan dia akan meminta tolong. Sayangnya benar-benar tidak ada yang datang, Elena benar-benar dalam masalah saat ini.
"Ahh gawat, padahal aku sudah janji tidak akan membuat onar." Elena mendesah lelah.
Theor yang masih mencari Elena, melihat sesuatu tersangkut di pagar taman bunga. Dia mendekat, benar saja dia melihat punggung Elena yang terdapat luka sayatan dalam.
tap
tap
"Ah akhirnya ada yang datang, hei kau apa kau bisa membantuku Manarik gaunku yang tersangkut?." Elena berteriak, dia tidak bisa menoleh ke belakang karena ada pembatas pagar.
"Apa yang kau lakukan sampai bisa tersangkut disini?." Theor tak habis pikir.
"Aku pikir ini jalan pintas, sungguh kakiku sudah sangat lemas. Tolong dorong atau tarik aku keluar." Ucap Elena, dia sudah berdiri lama disana.
"Aku akan memanggil pelayan." Ucap Theor, dia berpikir seorang pria tidak seharusnya menyentuh gadis.
"Hei! mau pergi kemana kau, kau mau pergi meninggalkan ku kan? apa susahnya menarik gaunku keluar, aku sudah nyaris mati berdiri disini." Elena tidak mau kehilangan bantuan.
"Bagian mana yang harus aku tarik?." Theor kebingungan.
"Mana saja! intinya tarik." Kesal Elena, dia sudah lelah.
Sraatttttt
Akkkhhhhhhhhh
"Hei tenanglah, bagaimana aku bisa menarik jika kau menahan." Kesal Theor, posisi mereka memang ambigu karena Theor seperti sedang memeluk Elena dari belakang.
"Ahh sakit... itu sakit.. tunggu! Akhhh itu sakit bodoh, tidak bisa kah kau melakukan nya dengan pelan." Omel Elena, suaranya juga ambigu.
"Diamlah, kau pikir aku tidak kesulitan. Kau yang memintaku untuk menarik nya." Kesal Theor.
"Akkhhhhh sakiiiittttt." Pekik Elena melengking.
"Sabar lah, sebentar lagi akan keluar." Ucap Theor ngos-ngosan, terlihat semakin ambigu.
"Cepatlah keluar, aku merasa akan mati kesakitan." Rengek Elena terjepit.
"Apa yang sedang kalian lakukan?."
Deg.
Elena dan Theor reflek mendongak, melihat wajah Duke yang sudah merah padam menatap penuh amarah. Elena melan ludahnya sudah payah, bahkan Theor sendiri langsung melepaskan gaun Elena dan mengangkat tangannya.
"Ayah tunggu! ini salah paham." Ucap Elena buru-buru klarifikasi.
"Berhenti bicara Elena." Duke menatap nyalang pada Theor.
"Tunggu, sebelum kalian saling membunuh tolong keluarkan aku dari sini dulu." Ucap Elena sudah kacau balau.
"Apa?." Duke mengamati dengan seksama.
Ternyata Elena benar-benar tersangkut, wajahnya memerah karena terkena panas matahari bukannya sedang melakukan hal tidak senonoh. Duke menatap Theor yang masih memakai pakaian lengkap, bahkan celananya juga masih rapih.
"Bagaimana kau bisa tersangkut disini?." Duke mendesah lelah, hampir saja dia menghajar Theor.
"Tanyakan itu nanti Ayah, selamatkan aku dulu." Lirih Elena, susah kehilangan tenaga.
Akhirnya Duke berusaha mendorong dari depan, tapi tetap tidak bisa mengeluarkan Elena justru Elena kesakitan karena kakinya terjepit gaun dan besi.
Theor akhirnya membantu menarik dari belakang, Elena berteriak kencang karena sakitnya jadi berlipat ganda. Karena kesal Duke dan Theor akhirnya mendorong dan menarik dengan kuat sampai gaun Elena robek dan besi pembatas roboh.
Sraakkkkk
pranggg
Aakkkkkkkhhhhhh
Elena langsung jatuh terduduk, pinggang nya benar-benar sakit. Dia akan mengutuk tempat ini selamanya, dia bahkan tidak punya tenaga untuk menangis.
"Kau sudah berjanji tidak akan membuat onar kan? Ayah tidak akan membawamu kesini lagi." Ucap Duke tegas.
"Ini kan tidak sengaja, aku tidak sengaja tersangkut disini karena mengira ini jalan pintas Ayah." Rengek Elena.
"Berhenti merengek, lagipula kau sudah mendapatkan apa yang kau mau." Ucap Duke, membantu Elena berdiri meskipun gaun nya robek.
Elena menoleh ke belakang untuk berterimakasih pada pria baik yang mau menolong nya. Tapi begitu menoleh, Elena terkejut bukan main karena yang menolongnya adalah Theor.
"T-terimakasih sudah menolongku, pemuda baik." Ucap Elena kikuk.
"Berhati-hati lah lain kali." Ucap Theor, lalu pergi dari sana.
Elena merasa salting hingga wajahnya memerah. Duke yang melihat itu merasa heran, dirinya pikir Elena dan Theor sudah berkenalan tapi ternyata mereka belum saling kenal? anak muda memang sulit di mengerti.
"Ayo kembali, Ayah tidak akan mengizinkan mu ikut lagi." Ucap Duke tegas.
"Iyaiya, maaf Ayah." Ucap Elena letih lesu.
Duke memakaikan jubah kebesaran nya untuk menutup gaun Elena yang acak adul. Elena cukup puas karena sudah bertemu dengan Theor, bahkan mereka sempat bicara sebentar tadi. Ini awal yang cukup baik daripada tidak bertemu sama sekali.
"Ayah, aku tadi terkejut karena bertemu putra mahkota, theor dan seorang gadis. Aku lupa memberi salam dan langsung berlari begitu saja, saking fokusnya lari aku sampai tersangkut. Ini sangat memalukan, aku sendiri juga tidak mau datang kesini lagi Ayah." Elena baru merasa malu.
"Syukurlah kau masih memiliki malu Elena." Duke bersyukur.
"Ayah!!!." Pekik Elena kesal.
Elena kembali ke mansion Duke, dia langsung rebahan dan mendapatkan luka lebam di pinggang karena terjepit. Lagi-lagi Elena harus memulihkan diri, tapi Elena menikmati nya.
Elena menikmati masa pemulihan sambil mengingat plot cerita. Di cerita Elena baru bertemu Isabella saat pesta pertunangan, sekaligus fakta bahwa Isabella sudah hamil anak Daniel di luar ikatan pernikahan.
"Jadi Isabella emang udah sering datang ke istana ya? artinya Theor udah kenal Isabella dari lama dong?. Jangan-jangan dia juga udah ngira Isabella itu aku, tapi kan rambut kita beda masa dia lupa sih." Gumam Elena.
tok..tok..tok..
ceklak~
"Nona, penjahit gaun anda sudah datang. Apa anda akan menemuinya sekarang?." Tanya pelayan.
"Penjahit?." Heran Elena.
"Pesta ulang tahun putra mahkota sudah hampir tiba, anda harus segera mempersiapkan gaun yang akan anda kenakan. Ini juga bisa menjadi hari debutante anda, apa anda melupakan nya?." Ujar si pelayan.
"Ah karena terlalu santai aku jadi lupa, aku akan menemuinya sekarang." Elena mengerti.
Elena mengukur gaun dan membuat gaun sesuai keinginan nya sendiri. Tidak mau menyesuaikan zaman, dia akan membuat gaun sendiri yang lebih nyaman dan mewah dari siapapun.
Di sisi Theor, dia sudah sampai di castle Grand Duke yang sangat mencekam, sunyi, berkabut, terlihat sangat horor sekali. Di balik meja kerjanya, dia termenung teringat dengan tanda di sayatan di pinggung Elena.
"Aku yakin, meskipun tertutup tatto itu benar-benar bekas luka sayatan pedang yang dalam. Sama persis dengan yang ada di ingatanku dulu, apa mungkin dia orangnya?.". Gumam Theor.
"Jadi dia putri Duke Denilen? tapi kenapa saat itu dia anak panti asuhan?." Gumam Theor sedikit janggal.
"Sam, cari tau semua hal tentang putri Duke Denilen. Cari tau se-detil mungkin dan laporkan padaku secepatnya." Ucap Theor pada tangan kanannya.
"Baik, yang mulia." Jawab Sam, pemuda jangkung berambut coklat.
Visual Theor George Van Delon
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘