Misya Alexandra, polisi wanita yang ditugaskan mencari seorang artis populer yang menghilang dari rumah setelah asisten pribadinya gantung diri.
Dalam masa pencarian Misya menemukan sebuah catatan kematian dari seorang yang bernama Jara. Pesan itu memberitahukan bahwa jara mampu membunuh sesuka hati menggunakan catatan yang didapatkannya dari iblis.
Tidak ada yang percaya akan hal itu. Akan tetapi…
Sejak pesan tersebut diterimanya. Pembunuhan berantai terus terjadi, semua terjadi di sekitarnya.
Menariknya setiap mayat-mayat yang terbunuh meninggalkan catatan bagaimana mereka semua mati.
Sebuah kriminal yang sangat sulit dimengerti.
NAMAKU MISYA BANTU AKU MENEMUKAN NYA.
Hai pembaca...
Kalau suka jangan lupa suport ya...
Saran dan kritik juga boleh...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QUSAIRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FRUSTASI
Jarum jam terus merangkak berpindah dari angka ke angka lainnya seolah memberi tanda kepada kami bahwa akan ada masalah yang jauh lebih aneh dan sukar dipercaya yang akan kami hadapi.
Aku dan tim sudah menyiapkan asumsi masing-masing terhadap kasus catatan yang mengerikan ini, yang mungkin saja, Jara akan membunuh nyawa setiap orang yang mencoba untuk menghalanginya.
Itu semua bisa saja terjadi kalau darah ibu penjaga panti itu sesuai dengan darah yang ada di bagian tengah catatan neraka itu.
Akan sangat mudah mengungkap sosok yang ingin disebut Jara ini. Apabila dua benda yang dibawa Andi ke ruang forensik itu sesuai.
Tapi…
Setelah aku memperingatkan mereka bahwa nyawa masing-masing bisa terancam kapan saja dan dimana saja dalam menelusuri kasus ini. Mereka mengatakan tetap siap apapun resikonya. Terlihat dari raut wajah mereka masih menganggap ceritaku ini hanyalah sekedar bualan.
Semua sontak terkejut ketika melihat sosok yang membuka pintu, wajah Andi terlihat murung, sekujur tubuhnya menggigil hebat di cuaca yang panas ini. Aku bisa mendengar suara giginya bergemeretak didalam mulutnya. Berusaha berdiri kokoh seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku yang duduk menengadah ke langit-langit ruangan berharap bahwa dugaan ku semuanya tidak benar. Namun…melihat Andi yang berdiri ketakutan seperti itu, instingku memberi sinyal pasti…, dilihat dari raut wajahnya menunjukkan kematian kita sudah dekat.
“Bagaimana hasilnya?’’ Cetus ku.
Setelah mendengar penjelasan singkat Andi yang mengatakan bahwa kedua darah yang kubawa dari panti asuhan itu sesuai dengan milik ibu Kirana, Komandan dan orang-orang yang di ruangan terdiam sepi.
“Lalu apa yang akan kita lakukan, Komandan?” Tanyaku lugas membuat semua orang melihatku.
“ Tentu kita harus menangkapnya, karena itu tugas kita”
“ Teman-teman yang lain akankah siap melanjutkannya?” Tanyaku kepada tim.
“Misya.., kau bagaimana?” Hana bertanya dengan wajah sedikit pucat.
“Aku…, kalau aku, seandainya semua orang mengundurkan diri sekalipun. Aku akan tetap pergi sendiri mencarinya.
“Ya, itu sudah pasti kau kan rada gila” Ucap Riko tertawa sendiri.
Melihat seisi ruangan yang frustasi membuatku tertawa terbahak-bahak.
“Misya, Apa yang lucu?” Sahut Hana dengan sorot mata yang tajam.
“ Tidak ada…, padahal kalian tadi habis-habisan menertawakan ku tapi sekaran…”
“Saya juga sudah memutuskan untuk tetap melanjutkan penangkapan Jara ini, seperti kesepakatan kita bahwa kasus ini sepertinya bukanlah kasus biasa untuk itu saya mengizinkan kalian untuk meninggalkan tim. karena saya ingin tim saya adalah orang-orang berani menghadapi apapun itu. Termasuk menyerahkan nyawanya. Tentukan! Saya tunggu lima menit. Pikirkan dengan bijak ini menyangkut nyawa kalian.’’ Jelas komandan memotong kalimatku.
Sungguh, yang disampaikannya itu bukanlah kalimat motivasi tapi itu kalimat bunuh diri. Komandan ini sungguh berlebihan, siapa juga yang akan mau ikut dalam penyelidikan kalau dia mengatakan seperti itu.
“Saya akan ikut komandan” Ucap Riko.
“Saya juga…” Cetus Hana berdiri.
“Saya juga komandan.” Ucap Andi gemetaran.
“Misya, kamu…?” Tanya komandan memastikan.
“Aku? Sudah jelas komandan.” Aku tersenyum tipis padanya.
Belum sempat lima menit semua orang sudah membuat keputusannya. Satu persatu senyuman kembali terpancar di wajah tim.
“Baik, kalau semua semua sudah menyatakan tekadnya. Saya ingin kalian mengeluarkan seluruh kemampuan, seperti yang sudah kalian lihat, ini bukan kasus biasa, kita harus mengeluarkan semua yang kita bisa dan Kita akan menyeretnya ke ruang ini! Lalu menanyakan langsung kepadanya bagaimana cara dia melakukannya!” Teriak komandan percaya diri.
“Siap!'' Suara kami seketika menggelegar memenuhi isi ruangan.
“Baiklah, karena semuanya sudah siap apakah kalia…’’
“Ehemmm..,” komandan berdehem dari tempat duduknya.
Aku tersenyum santai melihatnya geram menatap ku. Kemudian perlahan aku menundukkan kepala karena malu sebab mengambil peran yang seharusnya diisi oleh komandan.
“Maaf komandan.'' Pintaku.
“Saya sudah selalu meminta anda agar menghilangkan sifat itu, itu sangat menjengkelkan”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu, ada yang sudah memiliki rencana?. Silahkan!” pintanya.
Semua pandangan mengarah kompak kepadaku.
“Ada apa? Apakah ada hantu di belakangku? kenapa kalian menatapku seperti itu?”
“Senior, sudahlah kenapa kau masih bisa bersantai dalam keadaan seperti ini. Aku sudah tahu pasti di kepalamu itu sudah menyiapkannya!’’
“Wow, Andi…, sepertinya sifat mu hari ini sudah sedikit berubah. Biasanya kau tidak akan berani mengatakan itu kepadaku.” Cetus Ku tersenyum lebar.
“Misya…, Jelaskan saja!” Teriak komandan.
“Baik, Apa kau ingin mati terlebih dahulu?” Telunjuk ku mengarah kepada Andi.
Semua tercengang mendengar pernyataan ku. “ Apa maksudmu?” Cetus Hana gusar.
“Misya!...” Teriak komandan. “ Bukankah tadi sudah kukatakan untuk membuang sifat buruk mu itu” Lanjutnya.
“Baik lah, yang ingin kukatakan adalah… Kita harus benar-benar berhati-hati, karena begitu ada darah menetes, ini sangat penting." Aku menghela nafas sejenak. "Kalau salah satu dari kita tidak ingin menjadi korbannya, Pastikan jangan sampai darah kita keluar sekalipun itu setetes! Da...”
“Tentu, kami sudah tahu itu.” Hana gusar memotong penjelasan ku.
“Hana, Aku belum selesai menjelaskan! Kenapa cara bicara mu seperti itu, apakah kau marah kepadaku…?’’
Dia hanya diam tak menjawab.
“Ok, aku akan menyingkat penjelasannya. Aku sudah mengetahui lokasi Jara dimana.” Jelas ku singkat.
“Senior! Apakah ini serius?” Tutur Andi sedikit kesal.
“Bukankah kau ahli dalam melihat raut wajah? lalu apakah aku terlihat bercanda?” ucapku kepadanya.
“Misya, kalau kau sudah tahu lokasinya kenapa tidak kau katakan saja” sergah komandan.
“Misya, Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan?, otak ku tidak sanggup mencernanya” pungkas Riko.
“Hahaha, lokasi Jara sekarang itu belum bisa ku pastikan. Kira-kira 60%. Aku bisa memastikan 100% besok.”
“Besok…?, kenapa..?” Ucap Hana.
“Hana…, biar aku beritahu satu kalimat yang bagus untukmu. Jangan hitung ayammu yang belum menetas.
“Aku tahu itu.., jangan menganggap dirimu sukses sebelum hasilnya terlihat” jelasnya. “ Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?.” Sambungnya.
“Aku sudah menduga, pasti kau mengetahuinya, Baiklah, untuk mengetahuinya 100% lokasi Jara dimana, aku akan jelaskan rencananya!.”
Aku menghela nafas sejenak. “Besok komandan akan diundang di acara tv untuk menjelaskan kronologis kematian LN, bukankah begitu komandan?”
“Ya” Komandan mengangguk.
“Aku berencana mengungkap posisi aslinya disana.”
“Bagaimana caranya?” Sahut Riko.
“Mudah saja, tapi resikonya sangat besar” Jelas ku menatap tajam Riko.
“Apa itu?”
“Tentu kematian! Sebenarnya pertanyaan yang ku ajukan kepada Andi tadi, apakah dia bersedia mati lebih dahulu, sebetulnya ingin aku sampaikan kepada orang yang menghadiri acara tv besok,” jelas ku menatap kearah komandan. “Tapi aku tidak mungkin mengatakan langsung kepada komandan. Jadi bagaimana komandan?”
“Kalau begitu aku saja yang menghadiri wawancara besok” Sergah Andi cepat.
“Tentu, aku sudah memastikan dari awal, jawaban itu akan kau ucapkan, itulah sebabnya aku memintamu dari tadi. Tapi entah mengapa Hana begitu kesal apabila kau yang menjadi bahan uji coba…”
“Misya…” Bentak Komandan terlihat marah.
“Tentu karena kau juga junior yang paling ku sayangi. Aku sudah menyiapkan rencana paling aman. Aku saja yang di acara itu.
“Aku saja!,” celetuk Andi. “ Sedari awal aku sudah memutuskan siap mati untuk kasus ini” Timpalnya.
“ Ow, seperti itukah?” gumam ku melihat kearah Hana.
Hana membalas dengan tatapan menikam.
“Dalam kasus ini aku akan pastikan, tidak satupun diantara kita yang akan mati. Tentu saja kita semua akan melihat bersama-sama sosok Jara ini.” papar ku.
“Sepertinya baut di kepalanya sudah kembali terpasang komandan” kekeh Riko tertawa.
“Saya sudah menduganya” imbuh komandan. “ Hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi padanya, saya harap kalian berdua bisa memakluminya” Sambung komandan menjelaskan keunikan psikologis ku ketika sudah sangat frustasi kepada Hana dan Andi.
Mereka berdua mengangguk kebingungan.
“Baiklah, Belum pernah sepanjang hidupku memikirkan rencana untuk kasus serumit ini. Komandan supaya kamu tahu saja aku tidak tidur semalaman untuk menyiapkan rencana ini.” Lontar ku.
“Saya tahu itu, biasanya kau hanya butuh beberapa menit saja untuk menyiapkannya. Puji komandan. “Kalau begitu jelaskan dengan singkat.”
mungkin amelia mengetahui sesuatu tentang nayla,makanya amelia tidak mengizinkan nayla keluar dari panti,kayanya nayla itu memiliki semacam ilmu sihir yang membahayakan orang lain.
lanjottt bang 💪🌹
makasih udah update bang
semangat menulis
lanjut bang 💪💪💪