Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Gugatan dan Strategi "Daster Beracun"
Kabar dari Bima soal gugatan saham itu bener-bener kayak petir di siang bolong. Rian langsung ngumpulin tim pengacara paling mahal di Jakarta di ruang kerjanya. Suasananya udah kayak mau perang dunia ketiga.
"Jadi, siapa dalangnya, Bim?" tanya Rian sambil ngetuk-ngetuk meja, suaranya dingin banget sampai es di gelas kopinya kayak takut mau mencair.
Bima buka map cokelat tebal. "Namanya Hendra Wijaya. Dia pengacara spesialis sengketa tanah dan saham yang terkenal licin kayak belut. Dia dapet kuasa dari firma hukum luar negeri yang ngaku-ngaku punya surat wasiat tandingan dari almarhum Pak Surya, ayah Nara."
"Hah?! Surat wasiat tandingan?!" Nara yang harusnya istirahat di kamar malah nongol di pintu sambil megang piring rujak duren. "Ayah saya itu orang jujur, nggak mungkin dia bikin surat wasiat aneh-aneh ke orang selain saya dan Ibu!"
Rian berdiri, nyamperin Nara terus nuntun dia duduk di sofa empuk. "Sayang, kamu jangan emosi dulu. Inget dedek bayinya."
"Gimana nggak emosi, Mas! Itu saham kan buat modal pabrik daster masa depan anak kita! Enak aja mau diambil belut licin!" Nara ngunyah durennya dengan penuh emosi. Nyam nyam nyam!
Besok paginya, Rian dan Nara harus dateng ke pengadilan buat mediasi pertama. Rian udah nyiapin pengawalan super ketat. Satya bahkan bawa tim tambahan yang nyamar jadi pengunjung biasa.
Pas sampai di sana, Hendra Wijaya si pengacara licin itu udah nunggu dengan senyum sinisnya. Dia pake jas yang harganya mungkin seharga satu unit apartemen, tapi mukanya minta ditabok banget, Bro.
"Selamat pagi, Pak Rian. Dan... Mbak Nara," sapa Hendra dengan nada ngeremehin. "Sayang sekali ya, harta yang baru didapat harus segera dikembalikan kepada yang berhak."
Nara maju selangkah, dia pake daster formal warna navy yang dikombinasiin sama blazer putih. "Heh, Pak Belut! Maksud Bapak 'yang berhak' itu siapa? Orang luar negeri yang nggak pernah ketemu Ayah saya? Atau Bapak sendiri yang mau nyatut?"
Hendra ketawa ngeremehin. "Kita lihat saja di dalam, Mbak Nara. Fakta hukum tidak peduli pada air mata atau daster."
Di dalem ruang mediasi, Hendra ngeluarin sebuah kertas tua yang kelihatannya asli. Di sana tertulis kalau Pak Surya menyerahkan saham 10% itu kepada sebuah yayasan di Singapura sebagai jaminan utang lama.
Rian ngerutin dahi. Dia ngelihat dokumen itu dengan teliti. "Ini tanda tangan Pak Surya?"
"Secara visual, iya. Hasil lab awal juga menyatakan ini tinta dari era yang sama," ucap Bima dengan nada khawatir.
Nara yang dari tadi diem, tiba-tiba minta izin buat liat dokumen itu dari deket. Dia ngeluarin kaca pembesar kecil dari tasnya—kebiasaan desainer kalau lagi ngecek detail printing.
"Bentar... bentar..." Nara fokus banget. Dia ngendus-ngendus kertas itu.
"Nara, kamu ngapain? Kertas itu bukan makanan," bisik Rian bingung.
Nara mendadak berdiri dan ketawa kenceng banget. "BWAHAHAHA! Mas! Bima! Pak Belut! Kalian semua ketipu!"
Hakim mediator ngerutin dahi. "Maksud Anda apa, Ibu Nara?"
"Pak Hendra, Bapak bilang ini dokumen dari tahun 20 tahun lalu kan? Dari era Ayah saya masih hidup?" tanya Nara sambil nunjuk kertas itu.
"Benar. Kenapa?" jawab Hendra pede.
"Bapak pinter hukum, tapi Bapak payah soal desain dan percetakan!" Nara gebrak meja. "Lihat jenis font yang dipake di bagian bawah ini. Ini namanya font 'Montserrat'. Mas Rian, Mas tahu nggak font Montserrat itu baru dirilis tahun berapa?"
Rian yang emang melek teknologi langsung ngecek di HP-nya. "Rilis tahun 2011 oleh desainer Julieta Ulanovsky."
Nara melotot ke arah Hendra. "Nah! Ayah saya meninggal tahun 2005! Gimana caranya Ayah saya bisa pake font yang baru diciptain enam tahun setelah dia meninggal?! Pakai mesin waktu?! Atau Ayah saya desainer visioner dari masa depan?!"
Ruangan langsung hening. Muka Hendra Wijaya yang tadi merah sombong langsung berubah jadi pucat kayak mayat.
Bima langsung nyaut, "Izin Pak Hakim, ini adalah bukti pemalsuan dokumen yang sangat amatir secara teknis namun rapi secara visual. Kami akan ajukan tuntutan balik atas pemalsuan dan penipuan!"
Keluar dari ruang sidang, Hendra Wijaya langsung lari menghindari wartawan. Tapi Satya sudah stand-by di parkiran buat "ngajak ngobrol" bentar sebelum dia dibawa polisi.
Nara jalan dengan gaya bos besar, sambil gandeng tangan Rian. "Gimana Mas? Istri Mas ini GACOR kan?"
Rian meluk Nara kenceng banget di depan semua orang. "Kamu bukan cuma gacor, Nara. Kamu itu jenius! Saya bahkan nggak kepikiran ngecek jenis hurufnya."
"Itulah gunanya nikah sama desainer, Mas! Kita nggak bisa ditipu soal visual!" tawa Nara pecah.
Tapi pas mereka mau masuk mobil, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan mereka. Pintunya kebuka, dan yang keluar adalah seorang pria tua yang sangat berwibawa, jauh lebih berwibawa dari Pak Gunawan.
Pak Gunawan yang baru dateng buat nyusul pun langsung kaget. "Papa?! Kenapa Papa ada di sini?!"
Rian juga mematung. "Kakek?!"
Ternyata itu adalah Kakek Wijaya Ardiansyah, pendiri Ardiansyah Group yang selama ini tinggal di Swiss dan dikabarkan sudah nggak mau ikut campur urusan duniawi.
Si Kakek jalan pake tongkat emasnya, nyamperin Nara. Matanya tajem banget, tapi ada binar kagum di sana. "Jadi... kamu perempuan dasteran yang bikin heboh keluarga saya? Yang barusan ngebongkar pemalsuan dokumen cuma pake pengetahuan soal huruf?"
Nara yang biasanya berisik, mendadak jadi kalem. "I-iya, Kek. Eh, Opa... eh, Tuan Besar."
Kakek Wijaya ketawa kenceng banget sampai batuk-batuk dikit. "Panggil Kakek saja. Rian, pilihan kamu kali ini... luar biasa. Jauh lebih baik dari perempuan plastik yang dulu kamu bawa."
Nara langsung nyengir lebar. "Makasih, Kek! Mau rujak duren nggak? Tadi saya bawa di mobil."
Rian cuma bisa nepuk jidat. Istrinya ini bener-bener nggak ada sopan-sopannya sama pendiri dinasti bisnis paling disegani di Asia. Tapi anehnya, Kakek Wijaya malah mau!
Sore harinya, mereka semua kumpul di rumah utama. Kakek Wijaya ternyata pulang karena dia denger soal sengketa saham itu. Dia mau pastiin kalau cucu menantunya itu orang yang bener.
"Nara, saham 10 persen itu bukan cuma soal uang," ucap Kakek Wijaya sambil makan rujak duren bareng Nara di teras. "Itu adalah simbol kesetiaan. Ayah kamu adalah orang paling setia yang pernah saya kenal. Dan hari ini, kamu membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu harus dibungkus oleh jas mahal, tapi bisa dibungkus oleh... apa ini namanya? Daster?"
"Iya Kek, daster buah naga edisi terbatas," jawab Nara sambil nyodorin potongan duren lagi.
"Bagus. Rian, besok saya mau kamu resmikan divisi baru di perusahaan. Nama divisinya: Ardiansyah Creative House. Dan saya mau Nara yang jadi CEO-nya."
Nara langsung keselek biji duren. "APA?! SAYA JADI CEO?!"
Rian senyum bangga. "Kenapa nggak? Kamu barusan menang perang hukum cuma dalam waktu lima menit, Nara."
"Tapi Mas... kalau saya jadi CEO, boleh nggak seragam kantornya diganti jadi daster santai?" tanya Nara polos.
Kakek Wijaya ketawa lagi. "Terserah kamu! Asalkan perusahaannya untung!"
Malam itu, Nara tidur dengan sangat nyenyak di pelukan Rian. Masalah hukum beres, dapet restu dari Kakek buyut, dan sekarang dia punya jabatan baru. Tapi di sela tidurnya, Nara tiba-tiba bangun.
"Mas... Mas bangun!"
Rian yang udah mau masuk ke alam mimpi langsung kaget. "Kenapa, Nara? Ada musuh lagi? Ada laser lagi?"
"Bukan, Mas... saya mendadak pengen denger Satya nyanyi lagu 'Balonku Ada Lima' pake gaya rock metal. Sekarang, Mas!"
Rian merem lagi, dia narik selimut. "Nara... besok saja ya."
"Nggak mau! Nanti anak kita kalau lahir mukanya kayak Satya yang kaku gimana?!"
Rian pasrah. Dia ngambil HP-nya. "Satya... maafkan saya. Kamu ada waktu sebentar?"