(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Hutan Kematian – Perbatasan Rawa Kabut Beracun.
Udara di sini berat, lembab, dan berbau telur busuk. Kabut berwarna ungu tipis melayang di atas permukaan air keruh yang dipenuhi lumut. Pohon-pohon di sekitar rawa ini tidak memiliki daun, dahan-dahannya bengkok seperti jari tangan mayat yang mencoba menggapai langit.
"Pakai ini," Ye Xing melempar secarik kain yang sudah direndam dalam ramuan herbal khusus ke arah Lin Xiao. "Tutup hidung dan mulutmu. Kabut ini mengandung Ilusi. Jika kau menghirupnya terlalu banyak, kau akan melihat nenek moyangmu menari hula-hula."
Lin Xiao buru-buru mengikat kain itu ke wajahnya. "Rawa ini... sunyi sekali, Xing. Tidak ada suara burung."
"Karena burung yang terbang di atas sini sudah mati keracunan," jawab Ye Xing santai sambil melangkah masuk ke dalam lumpur setinggi mata kaki. "Hati-hati melangkah. Jangan injak gelembung air."
Mereka berjalan hati-hati selama satu jam. Mata kanan Ye Xing (Mata Bintang) terus aktif, memindai tanda-tanda kehidupan dan jebakan alam.
Tiba-tiba, Ye Xing berhenti. Dia mengangkat tangan kanannya.
"Ada apa?" bisik Lin Xiao tegang.
Ye Xing menunjuk ke sebuah pulau kecil di tengah rawa, sekitar 50 meter di depan mereka. Di tengah pulau itu, tumbuh sebuah bunga merah darah yang kelopaknya bersinar redup.
Bunga Teratai Darah. Target misi mereka.
"Itu dia! Kita berhasil!" seru Lin Xiao lega. "Ternyata tidak sulit."
Lin Xiao hendak melangkah maju, tapi Ye Xing mencengkeram bahunya kuat-kuat.
"Lihat lagi, Bodoh," desis Ye Xing. "Lihat apa yang melingkar di bawah bunga itu."
Lin Xiao menyipitkan mata. Apa yang dia kira sebagai batu hitam besar tempat bunga itu tumbuh... tiba-tiba bergerak. "Batu" itu bernapas. Sisik-sisik hitam legam bergesekan satu sama lain, menghasilkan suara krek yang ngilu.
Itu bukan batu. Itu adalah Ular Titan Rawa (Swamp Titan Boa). Panjangnya setidaknya 15 meter, dengan lingkar badan sebesar tong arak.
Tapi ada yang salah.
Mata ular itu tidak kuning reptil seperti biasanya. Matanya hitam pekat tanpa pupil, dan dari sela-sela sisiknya keluar asap hitam tipis yang membuat tanaman di sekitarnya layu seketika.
"Qi Korupsi..." batin Ye Xing. "Binatang ini sudah terinfeksi Void. Pantas saja tidak ada monster lain di sini. Dia memakan semuanya."
Ini bukan lagi Binatang Roh Tingkat 2 biasa. Infeksi Void telah meningkatkan kekuatannya setara dengan Qi Condensation Tingkat 9 Puncak hampir masuk ke Foundation Establishment.
"Lin Xiao," bisik Ye Xing. "Kau percaya padaku?"
"T-tidak terlalu kalau kau pasang wajah itu," jawab Lin Xiao jujur, kakinya gemetar.
"Bagus. Rencananya begini: Kau jadi umpan."
"APA?!"
"Kulitmu sudah diperkuat Pil Tulang Besi. Kau tidak akan mati digigit sekali. Tugasmu adalah lari ke arah kiri, tarik perhatiannya. Buat dia mengejarmu ke area berlumpur di sana."
"Dan kau?"
"Aku akan menyiapkan kembang api."
Sebelum Lin Xiao sempat protes, Ye Xing menendang pantat sahabatnya itu hingga terdorong keluar dari semak-semak.
BYUR!
Lin Xiao jatuh ke air.
Kepala ular raksasa itu langsung terangkat. Lidah hitamnya menjulur. Mata kosongnya menatap Lin Xiao.
"SSSRAAAHH!"
Ular itu menjerit suaranya bukan desisan, tapi jeritan melengking yang menyakitkan telinga.
"MAMAAAA!" Lin Xiao menjerit panik dan lari sekuat tenaga ke arah kiri sesuai perintah Ye Xing, menerjang lumpur.
Ular itu meluncur mengejar Lin Xiao dengan kecepatan mengerikan, tubuh besarnya membelah air rawa seperti torpedo.
Sementara itu, Ye Xing bergerak ke arah kanan, melompat dari satu akar pohon ke akar pohon lain dengan ringan. Dia tidak menyerang ular itu. Dia mengincar sesuatu yang lain.
Di area kanan rawa, ada banyak gelembung besar yang muncul dari dalam lumpur.
Gas Murni, analisis Mata Bintang Ye Xing.
Ye Xing mengambil tiga pisau lempar (yang dia ambil dari perampok kemarin) dan menempelkan Kertas Jimat Api murahan di gagangnya.
"Lin Xiao! Tiarap!" teriak Ye Xing.
Lin Xiao, yang sudah merasakan napas busuk ular itu di lehernya, langsung menjatuhkan diri ke dalam lumpur tanpa pikir panjang.
Kepala ular itu meluncur di atas tubuh Lin Xiao, meleset sedikit.
Pada saat itulah, Ye Xing melempar ketiga pisaunya.
Bukan ke arah ular. Tapi ke arah kumpulan gelembung gas rawa yang tepat berada di sekitar kepala ular tersebut.
Ye Xing menjentikkan jarinya. "Boom."
Kertas jimat terbakar. Api bertemu gas yang terkonsentrasi.
KABOOM!!!
Ledakan dahsyat mengguncang rawa itu. Bola api raksasa menelan kepala ular tersebut. Air rawa mendidih seketika.
"GYAAAAHHH!"
Ular itu meraung kesakitan. Kulit dan sisik di kepalanya hangus terbakar. Ledakan itu tidak membunuhnya, tapi membuatnya buta dan bingung.
"Sekarang!" Ye Xing melesat menembus asap.
Dia tidak lari. Dia menerjang tepat ke arah kepala ular yang sedang mengamuk buta.
Di tangan Ye Xing, dia memegang Taring Babi Hutan Besi yang sudah diasah runcing seperti belati.
Mata Bintang-nya melihat satu titik di leher ular itu yang sisiknya terkelupas akibat ledakan. Titik di mana Jantung Void berdetak.
"Kembalilah ke ketiadaan!"
Ye Xing melompat, memusatkan seluruh Qi dan gaya gravitasi berat ke ujung taring itu, lalu menghunjamkannya ke titik lemah sang ular.
CRASH!
Taring itu menembus daging, merobek organ dalam, dan menghancurkan inti jantung ular itu.
Ular raksasa itu kejang-kejang hebat, membanting ekornya ke segala arah, merobohkan pohon-pohon besar. Ye Xing terlempar mundur, mendarat di lumpur.
Perlahan, gerakan ular itu melambat... dan akhirnya berhenti mati.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Bangkai ular itu tidak mengeluarkan darah merah. Darahnya hitam pekat seperti tinta. Dan perlahan, tubuh ular itu mulai mencair, berubah menjadi genangan lumpur hitam yang berbau busuk.
Ye Xing mendekat, napasnya tersengal. Dia melihat sesuatu berkilau di sisa bangkai yang mencair itu.
Sebuah kristal ungu kecil seukuran beras.
Ye Xing memungutnya dengan hati-hati menggunakan kain.
"Kristal Void..." desis Ye Xing. "Ini bukan kebetulan. Ada celah dimensi yang bocor di dekat sini."
"Xing..." suara lemah terdengar.
Lin Xiao merangkak keluar dari lumpur, wajahnya pucat tapi utuh. "Kita... kita membunuh monster itu?"
"Kita membunuhnya," Ye Xing tersenyum, menyembunyikan kristal itu ke dalam sakunya. "Dan lihat apa yang selamat."
Dia menunjuk ke pulau kecil itu. Meski ada ledakan, Bunga Teratai Darah masih berdiri tegak, tak tersentuh.
Ye Xing berjalan ke sana, memetik bunga itu dengan hati-hati.
"Misi selesai," kata Ye Xing. "Sekarang, kita pulang dan menampar wajah Diaken Ma dengan bunga ini."