"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: JEBAKAN DI RUANG TENGAH
Malam itu, hujan turun membasahi kaca jendela villa, menciptakan irama yang konstan namun terasa suram. Ghea duduk terdiam di tepi ranjangnya, menatap pintu kamar yang baru saja dikunci Adrian dari luar. Ia mendengar suara langkah kaki pria itu menjauh di koridor, disusul oleh deru mesin mobil yang perlahan menghilang di balik rimbunnya hutan pinus.
Berdasarkan pengamatannya selama tiga hari terakhir, ini adalah waktu di mana Adrian pergi untuk melakukan "misi". Pria itu akan mengenakan jaket taktis hitam, membawa tas kecil yang isinya senjata tajam atau alat pelumpuh, dan baru akan kembali menjelang subuh. Adrian menyebutnya sebagai tugas membersihkan sampah dunia, sebuah istilah yang membuat bulu kuduk Ghea meremang.
"Aku tidak bisa cuma diam menunggu ingatanku balik sendiri," bisik Ghea pada kesunyian kamar.
Ghea bangkit berdiri. Kakinya masih terasa sedikit nyeri, tapi ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda untuk jarak dekat. Ia berjalan menuju lemari besar yang berisi deretan gaun-gaun cantik pilihan Adrian. Di sana, ia mencari sebuah gaun yang memiliki korset dengan tulang penyangga yang kaku.
Dengan bantuan sebuah gunting kuku kecil yang ia curi dari kamar mandi, Ghea mulai menyilet jahitan di bagian samping gaun tersebut. Setelah bekerja keras selama lima belas menit, ia berhasil mengeluarkan selembar kawat tipis namun kuat dari balik kain satin. Kawat ini adalah satu-satunya harapannya.
Ghea berlutut di depan pintu kayu jati yang kokoh itu. Ia memasukkan kawat ke dalam lubang kunci. Sebagai seorang detektif—meskipun ia belum mengingat semuanya—jemarinya seolah memiliki memori otot sendiri. Ia memutar kawat itu perlahan, meraba gerigi di dalam mekanisme pengunci dengan penuh perasaan.
Klik.
Suara itu terdengar sangat nyaring di telinga Ghea. Ia menahan napas, menunggu apakah ada alarm yang berbunyi. Sunyi. Pintu itu terbuka sedikit. Ghea mengintip ke arah koridor. Hanya ada lampu sensor yang menyala redup, memberikan pencahayaan kuning yang minim.
Ia melangkah keluar dengan sangat hati-hati. Ghea tidak mengenakan alas kaki agar langkahnya tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu yang rawan berderit. Tujuannya hanya satu: ruang kerja Adrian. Ia yakin, di sana tersimpan jawaban tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang dilakukan Adrian di luar sana setiap malam.
Namun, saat ia sampai di ruang tengah yang luas, langkahnya terhenti.
Tiba-tiba, lampu-lampu di ruang tengah menyala secara otomatis. Ghea membeku di tengah ruangan, matanya membelalak menatap panel digital yang terpasang di dekat pintu utama. Panel itu menyala merah terang dengan tulisan: SYSTEM ARMED.
"Sial," umpat Ghea pelan.
Adrian ternyata tidak hanya mengunci pintu kamarnya. Pria itu telah memprogram seluruh sistem keamanan villa agar mengunci total setiap akses jika sensor gerak mendeteksi aktivitas di jam-jam yang tidak seharusnya. Ghea mencoba menarik gagang pintu ruang kerja Adrian, namun pintu itu tidak bergeming. Ia berlari kecil menuju dapur, berharap bisa keluar lewat pintu belakang, tapi sebuah gerbang besi kecil telah turun menutupi akses ke area servis.
Ghea terjebak. Ruang tengah itu kini terasa seperti toples kaca raksasa, dan dia adalah tikus yang terperangkap di dalamnya.
Ia menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman. Ia sempat berpikir untuk memecahkannya, namun ia teringat penjelasan Adrian tentang sensor getaran yang tertanam di setiap inci kaca. Jika ia memecahkan satu saja, alarm pusat akan langsung menghubungi ponsel Adrian dan mungkin kepolisian—atau siapa pun yang bekerja untuk pria itu.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis Ghea. Ia menatap jam dinding besar yang berdetak dengan angkuh. Sudah hampir satu jam sejak ia keluar dari kamar. Berapa lama Adrian akan pergi? Bagaimana jika pria itu kembali lebih cepat?
Ghea mulai panik. Ia mencoba memasukkan kembali kawat korsetnya ke lubang pintu kamarnya sendiri, berharap bisa masuk kembali sebelum Adrian pulang. Namun, ada masalah besar: pintu kamarnya adalah jenis pintu yang hanya bisa dikunci dari luar, dan mekanisme bagian dalamnya tidak memiliki lubang kunci yang sama. Begitu tertutup, pintu itu hanya bisa dibuka dengan kartu akses atau kunci fisik dari luar.
"Bodoh... aku benar-benar ceroboh," desis Ghea sambil memukul pelan keningnya.
Ia terduduk di lantai, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Pikirannya berputar liar. Jika Adrian menemukannya di sini, semua kepura-puraannya sebagai "korban yang penurut" akan hancur. Adrian akan tahu bahwa insting detektifnya belum mati. Adrian mungkin akan merantai kakinya, atau lebih buruk lagi, memindahkannya ke tempat yang lebih gelap.
Di tengah keputusasaannya, mata Ghea tertuju pada sofa besar di sudut ruangan. Di sana ada sebuah selimut tebal dan beberapa buku tebal yang sengaja diletakkan Adrian di atas meja kopi.
Ghea mendapat sebuah ide nekat. Ia tidak punya pilihan lain selain berjudi dengan nasib.
Ia segera mengambil salah satu buku—tentang sejarah seni yang sangat membosankan. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa, mengatur posisi tubuhnya senyaman mungkin, lalu menyelimuti dirinya hingga ke dada. Ia meletakkan buku itu di atas perutnya dalam posisi terbuka, seolah-olah ia baru saja tertidur saat sedang membaca.
Ghea memejamkan mata, namun seluruh indranya tetap waspada. Ia mencoba memperlambat detak jantungnya. Menit-menit berlalu terasa seperti jam. Keheningan villa itu justru membuatnya semakin tertekan.
Hingga akhirnya, suara yang ia takuti itu terdengar.
Deru mesin mobil masuk ke area garasi. Ghea menahan napas. Ia mendengar pintu garasi tertutup, disusul oleh suara pintu utama yang terbuka setelah bunyi bip dari pemindai sidik jari.
Langkah kaki Adrian terdengar berat. Pria itu tidak langsung menuju kamar, melainkan berhenti di ruang tengah. Ghea bisa merasakan kehadiran pria itu. Ia mencium bau yang sangat tajam menyengat—bau karat, bau logam, bau amis yang tak salah lagi adalah bau darah segar.
Langkah kaki itu mendekat ke arah sofa. Ghea bisa merasakan panas dari tubuh Adrian yang berdiri tepat di atasnya. Ia mati-matian menahan kelopak matanya agar tidak bergetar.
"Ghea?" suara Adrian terdengar serak, ada nada kelelahan di sana.
Ghea tidak bergerak. Ia tetap mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang sedang tidur nyenyak. Ia merasakan tangan Adrian yang dingin menyentuh pipinya. Tangan itu terasa sedikit lengket dan lembap. Ghea tahu itu adalah darah, namun ia tetap diam, membiarkan Adrian melakukan apa pun.
"Kau menungguku sampai ketiduran di sini, Sayang?" gumam Adrian lirih. Ghea mendengar suara desahan panjang, seolah pria itu merasa tersentuh dengan "kesetiaan" palsu yang ditunjukkan Ghea.
Adrian kemudian meletakkan jaketnya yang basah di lantai—suara jatuhnya jaket itu terdengar cukup berat. Ghea merasakan tangan Adrian menyusup di bawah lutut dan punggungnya. Pria itu mengangkatnya dengan mudah, menggendongnya dalam posisi bridal style.
Selama perjalanan kembali ke kamar, Ghea harus menahan mual yang luar biasa. Bau darah dari baju Adrian menempel di hidungnya, sangat kontras dengan ucapan manis yang terus dibisikkan pria itu di telinganya.
"Maafkan aku karena pulang terlambat," bisik Adrian saat ia merebahkan Ghea kembali ke atas ranjang kamarnya. "Dunia luar sangat kotor, Ghea. Tapi kau tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah membereskan satu lagi sampah yang pernah menyakitimu."
Adrian menarik selimut untuk Ghea, mengecup keningnya dengan lembut, lalu keluar dan mengunci pintu kembali.
Begitu suara kunci berputar, Ghea langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia duduk di kegelapan, tangannya gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat tersentuh oleh tangan Adrian. Ada noda kemerahan kecil di sana. Darah.
"Dia bukan pahlawan..." bisik Ghea dengan air mata yang mulai menggenang. "Dia monster yang sedang bermain menjadi Tuhan."
Ghea mencengkeram kain sprei dengan kuat. Kegagalan malam ini memberinya satu pelajaran penting: villa ini bukan hanya penjara fisik, tapi juga laboratorium psikologis di mana Adrian sedang membentuknya menjadi pendamping seorang pembunuh.
Ia menatap pintu yang terkunci itu dengan tatapan tajam. Ia memang gagal keluar malam ini, tapi ia tahu satu hal yang tidak diketahui Adrian: ia sudah berhasil menyimpan kawat korset itu di bawah kasurnya untuk rencana berikutnya.
Permainan ini baru saja dimulai.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....