NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: JEJAK DARAH DI GAUN MERAH

Cairan merah pekat itu merambat cepat di serat kain sutra mahal milik Arunika. Di bawah lampu kristal ruang makan yang megah, noda anggur itu tidak terlihat seperti minuman yang tumpah—ia terlihat seperti luka menganga yang mengeluarkan darah segar tepat di dadanya.

Sandra, dengan wajah yang dipalsukan sedemikian rupa agar tampak panik, menutup mulutnya dengan tangan. "Oh, astaga! Nyonya, saya benar-benar minta maaf. Tangan saya tiba-tiba saja licin."

Arunika berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gaunnya rusak, tapi karena ia bisa merasakan tatapan Adrian yang tidak lepas dari tubuhnya. Tatapan itu tidak mengandung kemarahan, justru ada kilatan kepuasan di sana. Adrian seolah menikmati bagaimana harga diri Arunika diinjak-injak oleh sekretarisnya sendiri.

"Tidak apa-apa, Sandra. Kau boleh pulang sekarang," suara Adrian terdengar sangat tenang.

"Tapi Tuan, gaun Nyonya—"

"Pulang, Sandra. Urusan ini sudah selesai," potong Adrian dengan nada rendah yang tidak menerima bantahan.

Sandra menunduk hormat, namun sebelum berbalik, ia sempat melirik Arunika. Ada seringai tipis yang hanya bisa dilihat oleh Arunika—sebuah pesan tanpa kata yang mengatakan bahwa di rumah ini, posisi Sandra jauh lebih kuat daripada Arunika.

Begitu pintu besar ruang makan ditutup, Adrian berdiri. Ia berjalan mengitari meja, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan Arunika, mengabaikan jarak pribadi hingga Arunika bisa mencium aroma maskulin bercampur aroma anggur yang tajam.

Adrian mengulurkan tangan. Jari telunjuknya mengusap noda anggur yang basah di dada Arunika, lalu menyesap jarinya sendiri dengan gerakan yang lambat.

"Merah," gumam Adrian. "Warna ini memang ditakdirkan untukmu, Arunika. Kau tahu kenapa? Karena kau tampak paling indah saat kau berada dalam posisi terjepit."

Arunika hanya bisa gemetar. Ia ingin membalas, ingin membela diri, namun ia teringat Aturan No. 17: Dilarang meninggikan suara atau mendebat di depan tamu atau saat makan malam. Ia hanya bisa menelan semua kehinaan itu bulat-bulat.

"Masuk ke kamar dan bersihkan dirimu," perintah Adrian. "Aku akan menyusul dalam sepuluh menit. Dan Arunika... jangan coba-coba mengunci pintunya."

Arunika berjalan menaiki tangga dengan perasaan hancur. Saat ia melewati lorong lantai dua yang remang-remang, ia melihat Bi Marta, Kepala Pelayan, sedang berdiri diam di kegelapan.

Tangan Arunika meremas saku gaunnya—merasakan benda kecil keras di sana. Chip memori. Bi Marta menatap saku itu, lalu memberikan isyarat kecil dengan matanya. Sebuah peringatan bisu agar Arunika berhati-hati.

Begitu sampai di dalam kamar, Arunika segera menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower hingga volumenya maksimal untuk menyamarkan suara gerak-geriknya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil chip memori itu dan menyembunyikannya di dalam sebuah lipatan kecil di balik handuk bersih yang disediakan pelayan.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka tanpa ketukan.

Arunika tersentak dan segera meraih jubah mandi untuk menutupi tubuhnya. Adrian sudah berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang mencekam.

"Kenapa airnya dinyalakan begitu keras? Kau tidak sedang mencoba menyembunyikan isak tangismu, kan?" tanya Adrian sambil melangkah masuk ke area yang lembap oleh uap panas.

"A-aku hanya ingin mandi air hangat untuk menenangkan diri," jawab Arunika gagap.

Adrian mendekat, uap air mulai membasahi kemejanya, namun ia tidak peduli. Ia mencengkeram rahang Arunika, memaksanya untuk menatap langsung ke matanya yang dingin.

"Dengar, Arunika. Aku tahu kau mencoba mencari bantuan di luar sana. Tapi biarkan aku memperjelas satu hal," bisik Adrian. "Aku sudah mengurus pelayan di butik tadi siang. Dia tidak akan pernah bisa bekerja di tempat lain lagi setelah memberikan 'bantuan' padamu."

Arunika membelalak. Jantungnya seakan berhenti detak. Adrian tahu soal pelayan butik itu? Apakah Adrian mengawasinya bahkan saat dia berada di ruang ganti?

"Kau tidak butuh siapa pun, Arunika. Kau hanya butuh aku," Adrian menekankan jempolnya pada bibir Arunika. "Jangan membuatku harus memberikan hukuman yang lebih berat dari sekadar melihat gaunmu rusak. Fokuslah menjadi istri yang patuh, dan kau akan selamat."

Arunika terdiam seribu bahasa. Air matanya jatuh bercampur dengan uap air shower. Adrian sedang menghancurkan dunianya secara sistematis. Dia memutus semua kemungkinan Arunika mendapatkan sekutu, mengisolasinya secara mental hingga Arunika merasa bahwa satu-satunya orang yang dia miliki hanyalah sang predator itu sendiri.

"Anak pintar," puji Adrian saat melihat ketidakberdayaan di mata istrinya. Ia mengecup kening Arunika dengan dingin sebelum melepaskannya. "Cepat selesaikan mandimu. Aku menunggumu di tempat tidur."

Setelah Adrian keluar, Arunika jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Tubuhnya gemetar hebat. Ternyata Adrian jauh lebih berbahaya dari yang dia duga.

Arunika menoleh ke arah handuk tempat dia menyembunyikan chip memori. Dia menyadari satu hal: Chip ini adalah satu-satunya harapan untuk membongkar kegilaan Adrian, namun benda kecil ini juga bisa menjadi tiket kematiannya jika dia salah langkah sedikit saja.

Malam itu, di bawah dekapan Adrian yang posesif, Arunika mulai menyusun rencana. Jika Adrian ingin dia menjadi boneka, maka dia akan menjadi boneka yang paling sempurna—sembari diam-diam mencari celah untuk menghancurkan sang tuan dari dalam.

Isolasi sosial telah dimulai. Adrian telah menunjukkan bahwa dia mengawasi setiap gerak-gerik Arunika, bahkan di luar rumah. Apa yang akan dilakukan Arunika selanjutnya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!