Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Darah di Atas Sutra Putih
Bab 16: Darah di Atas Sutra Putih
Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang tidak biasa—seolah langit pun sedang mempersiapkan diri untuk sebuah tragedi. Di dalam griya tawang mewah Dirgantara, suasana terasa menyesakkan. Arini berdiri di balkon lantai tiga, menatap lampu-lampu kota yang buram di balik kaca yang basah. Di dalam lehernya, ia merasakan denyut jantung yang tak beraturan. Bukan hanya karena bayi yang kini berusia empat bulan di rahimnya, tetapi karena ia tahu bahwa malam ini, Bima akan melepaskan "bom" digital yang ia berikan.
Reihan masuk ke kamar dengan langkah yang berat. Jasnya dilempar sembarangan ke sofa kulit. Ia tampak kacau. Rambutnya yang biasa rapi kini berantakan, dan matanya merah karena amarah yang tertahan. Sejak sore tadi, saham Dirgantara Group terjun bebas setelah sebuah situs investigasi anonim merilis bukti-bukti akuisisi paksa dan pencucian uang yang melibatkan nama Reihan secara langsung.
"Kau tampak gelisah, Sayang," suara Arini terdengar sangat tenang, hampir seperti desisan ular.
Reihan berbalik perlahan. Ia menatap Arini dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Itu bukan lagi tatapan seorang suami yang terobsesi, melainkan tatapan seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsa di dalam kandangnya memiliki taring.
"Bagaimana mereka bisa tahu tentang akun di Cayman Islands, Arini?" tanya Reihan, suaranya rendah dan serak, membawa ancaman maut. "Hanya ada dua orang di dunia ini yang memiliki kode akses itu. Aku... dan kau."
Arini berjalan mendekat, tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dan menyerahkannya pada Reihan. "Mungkin kau ceroboh, Reihan. Sama seperti kau ceroboh saat mengira aku akan selamanya menjadi boneka pajanganmu."
Reihan menepis gelas itu hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer. Ia maju dan mencengkeram leher Arini, menekannya ke dinding kaca balkon. Suara kaca yang berderit karena tekanan tubuh mereka beradu dengan suara guntur di luar.
"KAU!" Reihan berteriak tepat di depan wajah Arini. "Kau memberikan data itu pada Bima, bukan? Di pemakaman itu! Aku seharusnya membunuh bajingan itu saat aku punya kesempatan!"
"Kau tidak bisa membunuh kebenaran, Reihan!" Arini membalas, meski napasnya mulai tersengal. "Kau pikir kau menang karena punya uang? Kau hanya salinan buruk dari ayahku! Kau monster yang lebih menjijikkan karena kau memakai topeng korban!"
Reihan melepaskan cengkeramannya hanya untuk mendaratkan tamparan keras di pipi Arini. PLAK! Tubuh Arini terhempas ke samping, menabrak meja nakas. Perutnya menghantam sudut tajam meja kayu itu.
"Akh!" Arini mengerang, memegangi perutnya. Rasa sakit yang tajam dan panas menjalar dari rahimnya.
Reihan tidak peduli. Amarah telah membutakannya. Ia menarik rambut Arini, memaksanya berdiri. "Kau pikir kau bisa menghancurkanku dan pergi begitu saja? Kau membawa ahli warisku! Kau akan tetap di sini sampai kau melahirkan anak itu, dan setelah itu, aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di tempat yang lebih gelap dari sel ayahmu!"
Reihan menyeret Arini menuju tempat tidur, melemparkannya ke atas sprei sutra putih yang harganya setara dengan rumah rakyat jelata. Ia mulai menanggalkan ikat pinggangnya, matanya berkilat penuh kegilaan dan nafsu yang gelap. Ia ingin menghukum Arini dengan cara yang paling primitif, merampas martabatnya sekali lagi sebelum dunia merampas kekuasaannya.
"Lepaskan aku, Reihan... perutku sakit..." isak Arini, wajahnya mulai pucat pasi.
"Diam!" Reihan menindihnya, mencium leher Arini dengan kasar, meninggalkan bekas merah yang berdarah. Ia tidak lagi memedulikan kelembutan. Setiap sentuhannya adalah serangan. Ia merobek piyama Arini, memaksakan kehendaknya di tengah badai amarah yang meledak.
Namun, di tengah pergulatan yang penuh kekerasan dan gairah yang sakit itu, Arini merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir di sela pahanya. Ia melihat ke bawah, dan matanya membelalak ngeri.
Di atas sprei sutra putih bersih itu, noda merah mulai menyebar. Darah segar.
"Reihan... darah..." bisik Arini dengan suara yang hampir habis.
Reihan terhenti. Ia melihat ke bawah, ke arah tangannya yang kini berlumuran darah merah pekat yang berasal dari tubuh istrinya. Bau amis darah memenuhi kamar mewah yang harum lavender itu. Kesadarannya kembali sejenak, wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah menjadi horor yang murni.
"Tidak... tidak mungkin..." Reihan mundur, gemetar.
Arini mengerang kesakitan, tubuhnya melengkung menahan kram yang luar biasa. "Anak kita... kau membunuh anakmu sendiri, Reihan!"
Tepat saat itu, pintu kamar didobrak dari luar. Bima masuk bersama tim kepolisian bersenjata lengkap. Mereka telah melacak sinyal ponsel Arini yang sempat ia aktifkan melalui tombol darurat di liontinnya.
"Jangan bergerak, Reihan!" teriak Bima. Namun saat melihat kondisi Arini yang bersimbah darah di atas ranjang, Bima menjerit pilu. "ARINI!"
Bima menerjang Reihan, mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke wajah pria yang telah menghancurkan wanita yang dicintainya. Darah Reihan dan darah bayi yang belum lahir itu bercampur di lantai marmer. Polisi harus menyeret Bima agar tidak membunuh Reihan di tempat.
Reihan tidak melawan. Ia hanya menatap tangannya yang berdarah, lalu menatap Arini yang mulai kehilangan kesadaran. "Ibu... maafkan aku..." gumam Reihan, jiwanya tampak retak sepenuhnya.
Petugas medis segera mengangkat Arini ke tandu. Darah masih terus menetes, meninggalkan jejak merah yang panjang di sepanjang koridor griya tawang menuju lift. Reihan diborgol, dipaksa berjalan melewati jejak darah istrinya sendiri di bawah sorotan kamera media yang sudah menunggu di lobi—sebuah kejatuhan yang paling memalukan dan berdarah dalam sejarah korporasi.
Tiga jam kemudian di rumah sakit.
Arini terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen. Wajahnya separut mayat. Bima duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin.
"Bayinya..." bisik Arini saat matanya perlahan terbuka.
Bima hanya terdiam, air mata jatuh di pipinya. Ia menggeleng perlahan. "Maafkan aku, Arini. Kita terlambat."
Arini memejamkan mata. Tidak ada air mata yang keluar. Rasa sakitnya sudah terlalu dalam hingga ia tidak bisa lagi menangis. Ia telah kehilangan segalanya—ayahnya, harga dirinya, suaminya, dan sekarang anaknya. Ia merasa seperti tanah yang telah dibakar habis hingga tak ada lagi yang bisa tumbuh di sana.
Namun, saat ia membuka mata kembali, ada kilatan yang berbeda. Kilatan yang sangat dingin.
"Reihan?" tanyanya datar.
"Dia di tahanan militer," jawab Bima. "Dia akan menghadapi hukuman mati atau seumur hidup atas pembunuhan berencana, pencucian uang, dan sekarang... kekerasan yang menyebabkan kematian janin."
Arini menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang membawa aroma obat-obatan dan kematian. "Bawa aku ke sana, Bima. Setelah aku sembuh, aku ingin melihat wajahnya di balik jeruji besi. Aku ingin melihat tuhan yang jatuh itu merangkak di kakiku."
Satu bulan kemudian.
Arini mendatangi sel isolasi Reihan. Pria itu tampak seperti mayat hidup. Rambutnya dicukur habis, tubuhnya kurus, dan matanya kosong. Saat melihat Arini yang datang dengan kursi roda—karena tubuhnya masih terlalu lemah—Reihan mendekat ke jeruji besi.
"Arini... tolong aku... aku mencintaimu..." rintih Reihan, air mata mengalir di pipinya yang kotor.
Arini hanya menatapnya dengan pandangan tanpa emosi. Ia berdiri dari kursi rodanya dengan susah payah, mendekatkan wajahnya ke jeruji besi. Ia mengeluarkan sebuah foto hasil USG bayi mereka yang terakhir kali diambil sebelum malam berdarah itu.
"Ini adalah satu-satunya hal yang tersisa darimu, Reihan," Arini merobek foto itu menjadi kepingan kecil di depan mata Reihan. "Dan sekarang, kau tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada harta, tidak ada keturunan, tidak ada cinta. Kau akan mati sendirian dalam kegelapan, sama seperti ayahku."
Arini berbalik, berjalan pergi dengan langkah yang semakin kuat di setiap pijakannya. Di belakangnya, suara teriakan dan isak tangis Reihan menggema di lorong penjara yang dingin, namun Arini tidak menoleh.
Darah di atas sutra putih itu telah dicuci, namun bekasnya akan tetap ada di jiwa Arini selamanya. Ia telah memenangkan peperangan, namun ia harus berdiri di atas tanah yang tandus. Tapi baginya, itu lebih baik daripada hidup dalam pelukan tiran yang berlumuran kepalsuan.
"Sekarang," bisik Arini pada dirinya sendiri saat ia keluar menuju sinar matahari yang cerah, "saatnya membangun duniaku sendiri. Tanpa laki-laki manapun."
Sebuah akhir yang sangat tragis namun penuh kekuatan bagi Arini