Evander Aldebaran, seorang anak konglomerat kaya raya yang memiliki berbagai macam perusahaan dengan beraneka jenis bisnis.
Evander dipercaya mengemban tugas istimewa sebagai Wakil Presiden Direktur dari Aludra Entertaiment yang merupakan perusahaan agency artis.
Namun sayangnya dimasa kepemimpinan Evander justru Aludra mengalami kemunduran dan membuat Ayah Evander meragukan kapabilitas putra tunggalnya itu.
Bahkan banyak anggota direksi yang mengajukan mosi pemecatan bagi Evander yang tidak kompeten itu.
Hingga pada akhirnya Evander dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkan keterpurukannya dimasa - masa suram itu.
Sampai pada akhirnya Evander bangkit dan dapat menguasai segalanya, namun harus dengan bayaran yang setimpal.
Bagaimana kisahnya? Dan siapakah orang yang melepaskan Evander dari keterpurukan?
Akan kah Evander mampu melawan segala godaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KANTOR ALUDRA ENTERTAIMENT
Sejak makan malam dan pertemuan dengan Tarso Aldebaran, Agnetha memang sengaja membatasi dirinya dan menghindari perjumpaan dengan Evander. Bahkan kemarin seharian ia menghabiskan waktunya untuk menemani Neneknya di rumah sakit, atas izin dari Evander dan dipantau oleh Jason tentunya.
Pagi itu Agnetha sudah siap untuk pergi ke kampus dan mengerjakan tugas kelompok yang sebelumnya diberikan oleh seorang dosen. Ia dan teman – teman satu kelompoknya sudah berjanji bertemu di bangku samping lapangan sepak bola.
“ Hentikan saja mobilnya disini Jason. “ Perintah Agnetha pada Jason sebelum mobil itu masuk ke halaman kampus. Segera Jason mengikuti perintah Agnetha dan menepikan mobil itu tepat sebelum pintu masuk.
“ Nona, kabari jika minta dijemput hari ini saya harus menemani Pak Evander mengikuti meeting. “ Ucap Evander saat ia membuka pintu mobil untuk Agnetha, sementara perempuan itu hanya tersenyum mengiyakan.
“ Agnetha! “ Seseorang memanggilnya dari kejauhan, gadis itu menegok mencari sumber suara dan didapatinya Ema sedang berjalan ke arahnya bersama Nael.
“ Cepat pergilah dari sini. “ Agnetha mengusir Jason agar segera meninggalkannya karena ia sedang tertangkap basah oleh dua sahabatnya turun dari mobil mewah yang tidak mungkin bisa dimiliki oleh sembarang orang.
“ Wuah? Kamu naik Maserati ke kampus Neth? Dia siapa? “ Nael tampak ingin tahu.
“ Nanti aku ceritakan pada kalian, ayo kita kerjakan tugas dahulu. “ Agnetha mengalihkan pembicaraan kemudian menautkan lengannya pada kedua lengan sahabatnya itu kemudian masuk kedalam kampus dan menjumpai dua anggota lain yang sudah menunggu mereka di tepi lapangan.
“ Hai? Jadi bagaimana dengan surat pengantar yang kau kirim? “ Tanya Nael saat sudah duduk dibangku yang masih kosong didekat kedua pria itu.
“ Hari ini kita mendapat undangan wawancara pukul sebelas siang, jadi apakah kita mau kesana sekarang? “ Tukas teman Nael sambil melirik jam tangan nya.
“ Oke tapi sepertinya kita perlu siapkan daftar pertanyaannya dulu. “ Agnetha kini bersuara, ia sebenarnya enggan mengerjakan tugas kali ini karena harus berurusan dengan Aludra Entertaiment perusahaan milik calon suaminya itu.
***
Setelah rampung dengan daftar pertanyaan mereka berlima segera menuju ke perusahaan yang bersedia menjadi nara sumber wawancara tugas mereka. Kelima orang itu duduk berdesakan di mobil teman Nael dan langsung menuju kantor Aludra Entertaiment.
“ Permisi, kami mahasiswa ilmu komunikasi yang sudah memiliki janji temu dengan Ibu Dona dari bagian Humas pukul sebelas siang untuk keperluan wawancara. Apakah kami sudah bisa menemui beliau? “ Sapa Ema dengan sopan saat mendekati meja resepsionis.
“ Tunggu saya hubungi ruangan Ibu Dona dahulu Nona. “ Sekilas resepsionis itu meraih gagang telpon yang ada didekatnya dan menekan beberapa tombol kemudian berbicara sekilas dengan seseorang ditelepon kemudian menutupnya kembali.
“ Maaf Nona, Ibu Dona masih mengikuti meeting dengan Dewan Direksi. Pesan beliau agar teman – teman mahasiswa bisa menunggu di lobby hingga meeting selesai. Kemungkinan pukul dua belas siang atau sebelum pukul dua belas sudah selesai. “ Ucap resepionis itu kemudian pada Ema.
Ema segera mendekati teman – temannya yang masih duduk pada sofa yang disediakan di lobby perusahaan agensi itu. Wajah Agnetha berubah semakin masam dan tampak begitu tidak nyaman berada disana. Agnetha takut jika tiba – tiba saja ia bertemu dengan Evander karena memang ia tidak mengatakan pada laki – laki itu perihal tugas kuliahnya.
Kelima mahasiswa itu tampak masih berbincang – bincang sambil menunggu informasi lanjutan dari resepsionis mengenai Ibu Dona. Sesekali mereka tertawa kecil karena gurauan – gurauan yang terlontar dalam obrolan ringan mereka hari itu.
Namun Agnetha tetap tidak dapat menyembunyikan kegelisahan juga rasa takut nya jika tiba – tiba saja bertemu dengan Evander. Berkali – kali ia melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kalau – kalau Evander tiba – tiba muncul disana.
Pukul dua belas lebih lima menit Ema kembali mengampiri meja resepsionis untuk menanyakan kesiapan Ibu Dona. Tetapi masih saja mereka diminta menunggu sepuluh menit lagi karena Ibu Dona sedang mempersiapkan diri dan baru saja usai mengikuti rapat.
“ Agnetha? Apa yang kau lakukan disini? “ Suara Evander terdengar menggema ditelinga Agnetha yang saat itu sedang berdiskusi dengan Nael dan dua teman prianya.
“ Ah? Evander? “ Wajah Agnetha berubah pias karena melihat mimik muka Evander yang tidak bersahabat. Agnetha segera menyambar surat pengantar yang ada diatas laptop kemudian bangkit berdiri mendekati Evander yang terlihat baru saja akan keluar dari kantor.
“ Kami sedang mengerjakan tugas dari dosen, ini kami ada tugas melakukan wawancara dengan Ibu Dona. “ Sedikit gemetar Agnetha menyodorkan kertas putih itu ke arah Evander dan lelaki itu membacanya sekilas.
Evander kemudian mengalihkan pandangan matanya pada teman – teman Agnetha yang melihat kearahnya dengan tatapan bingung. Ia kembali menatap ketiga teman pria Agnetha dengan tatapan tidak suka, bukan karena ia cemburu tapi karena perjanjiannya dengan Astaroth ia takut Agnetha disentuh oleh pria lain. Lebih tepatnya ia takut Agnetha didekati dan jatuh cinta pada laki – laki lain.
" Bagiaman ini Deandra? " Evander kini menatap wajah Deandra yang tampak seperti kecolongan tidak mengetahui Jadwal Agnetha hari itu.
“ Kenapa Nona tidak memberitahu saya atau Jason jika ada tugas seperti ini? “ Ujar Deandra sambil melirik wajah Evander yang terlihat marah.
“ Maafkan aku Nona Deandra, aku lupa. “ Agnetha menundukkan kepalanya dan merasa menyesal.
“ Selesaikan tugasmu, jangan lupa janji temu dengan Dokter Robby, aku jemput jam dua siang. “ Evander menatap tajam wajah Agnetha kemudian berlalu meninggalkan calon istrinya disana dan keluar menuju mobil bersama Deandra.
“ Hah. “ Agnetha menghela nafasnya panjang, ia melihat Ema sedang menatapnya tajam penuh kecurigaan, begitu juga Nael yang wajahnya diselimuti rasa penasaran.
“ Ayo kita naik, resepsionis sudah meminta kita naik. “ Ema menarik tangan Agnetha yang ternyata sedikit gemetar dan basah oleh keringat, ia mengajak Agnetha masuk mengikutinya.
***
Satu jam lebih mereka berlima berbincang – bincang dengan Ibu Dona yang menjadi narasumber mereka. Banyak hal baru dan ilmu – ilmu luar biasa yang mereka peroleh hari itu setelah obrolan luar biasa mereka.
“ Terima kasih atas bantuan dan kesediaan Ibu melakukan wawancara, ini akan sangat membantu kami. “ Ucap Nael dengan tegas seraya mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Ibu Dona.
“ Tentu saja, semoga sharing kita hari memberikan manfaat untuk teman – teman. “ Ibu Dona meraih tangan Nael dan tersenyum dengan sangat tulus.
Kelima mahasiswa itu segera kembali ke kampus untuk membuat rangkuman tugas mereka agar dapat dikumpulkan tepat waktu. Belum sampai selesai membuat rangkuman ponsel baru Agnetha sudah meraung – raung dengan nyaring.
Evander sudah menelponnya mungkin ia memberitahunya jika sudah dalam perjalanan menjemputnya. Agnetha menghela nafasnya dengan panjang lalu mengangkat panggilan telepon yang sedang masuk itu dan sedikit menjauh dari teman – temannya.
“ Oke, tidak masalah. Aku juga masih mengerjakan tugas ku dengan teman – teman. “ Ujar Agnetha setelah mendengar ucapan Evander yang memundurkan janji temu dengan Dokter Robby.
Agnetha kembali mendekati teman – temannya yang masih sibuk mengerjakan tugas mereka. Perempuan itu juga segera melanjutkan apa yang sudah ditugaskan oleh Nael padanya, Agnetha tergolong mahasiswa yang cerdas ia selalu mendapatkan beasiswa karena prestasinya. Tidak heran jika ia selalu rajin dan tertib mengerjakan tugas, meski kadang ia harus terlambat mengikuti kelas karena pekerjaan paruh waktunya.
keren 👍
suka banget sama ceritanya thor ❤️