"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Seni Penyembuhan Tinta
"Kau berjanji di taman tadi," Yue Chuntao membuka matanya sedikit, suaranya nyaris seperti bisikan yang tersapu angin. "Kau bilang, kau akan membiarkanku melihatmu melukis. Tapi aku tidak menyangka kau akan membawaku ke tempat semacam ini untuk menagih janji itu."
Guiren berhenti menggerus sejenak. Ia tidak menoleh. "Apa yang Nona lihat di taman adalah lukisan untuk dunia. Apa yang akan aku buat sekarang adalah lukisan untuk jiwamu."
Yue Chuntao memberikan senyum tipis yang sarat akan kepasrahan. "Aku sudah melihat banyak pelukis jenius, Guiren. Mereka melukis gunung yang megah, tapi mereka tidak pernah bisa melukis jalan keluar dari rasa sakit ini."
"Itu karena mereka melukis permukaannya," jawab Guiren datar. Ia mengangkat Kuas Bulu Serigala Rohnya. "Ini akan terasa seperti air mendidih yang merayap di bawah kulitmu. Nona bilang Nona ingin melihatku melukis? Maka rasakanlah setiap goresannya, karena kali ini, kulitmu adalah kanvasnya."
Alhasil Yue Chuntao pasrah duduk bersandar di kursi bambu, matanya terpejam. Napasnya dangkal, sebuah tanda bahwa tubuhnya terus bertarung melawan kehampaan di dalam meridiannya yang layu. Di hadapannya, Guiren berdiri dengan keheningan seorang pemahat yang hendak menghadapi bongkahan batu paling rapuh di dunia.
“Ini akan terasa seperti air mendidih yang merayap di bawah kulitmu,” ucap Guiren. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang menyatu dengan kesunyian malam.
Yue Chuntao membuka matanya sedikit, memberikan senyum tipis yang sarat akan kepasrahan. “Guiren, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit. Yang belum terbiasa adalah harapan.”
Guiren tidak menjawab. Ia mengangkat Kuas Bulu Serigala Rohnya di bawah hangat cahaya lentera minyak. Kali ini, ia tidak menggunakan tinta biasa. Ia memeras esensi Qi-nya sendiri, mencampurnya dengan niat yang ditarik dari kedalaman Tubuh Kertas Surgawinya. Ujung kuas itu mulai bercahaya redup, membiaskan warna kelabu yang pekat.
Ia tidak melukis di atas kertas. Ujung kuasnya bergerak di udara, beberapa inci di depan dada Yue Chuntao.
Melalui Visi Qi, Guiren melihat jaringan meridian Yue yang mirip dengan akar pohon yang membusuk, kering, terputus, dan kehilangan daya lentur. Dengan presisi yang menyakitkan, ia mulai menarik garis-garis tinta transparan. Ia tidak sekedar mengalirkan energi, ia sedang melukis kembali struktur yang rusak. Setiap goresan kuasnya bertujuan untuk menjembatani bagian meridian yang putus, memaksanya untuk kembali menyatu menggunakan Niat Tinta sebagai perekat.
Dahi Guiren mulai dibanjiri keringat dingin. Setiap inci garis yang ia lukis di udara terasa seperti mencabut sehelai demi sehelai benang dari jiwanya sendiri. Ini bukan sekadar membuang energi, ini adalah donor kehidupan. Kekuatannya diperas habis untuk menggantikan apa yang telah hilang dari tubuh Yue.
Yue Chuntao mengerang lirih. Jemarinya mencengkeram lengan kursi bambu hingga memucat. Ia merasakan panas yang aneh, bukan panas api yang menghancurkan, melainkan panas dari sesuatu yang dipaksa untuk hidup kembali.
Di sudut ruangan, Xiaolian memperhatikan dengan tangan yang saling bertaut di depan dada. Ia tidak berani mendekat, namun matanya terus memantau setiap perubahan pada raut wajah kakaknya yang kian pucat. Saat ia melihat Guiren sedikit terhuyung, Xiaolian melangkah maju, meletakkan tangannya di pundak Yue Chuntao.
“Tahan sedikit lagi, Kak Yue,” bisik Xiaolian dengan lembut. “Kakakku tidak akan membiarkanmu jatuh.”
Yue Chuntao merasakan kehangatan dari sentuhan Xiaolian. Di tengah rasa sakit yang mengoyak batinnya, kehadiran gadis muda itu terasa seperti jangkar. Selama ini, Yue selalu dikelilingi oleh orang-orang yang melihatnya sebagai beban atau objek politik. Namun di sini, di bawah bimbingan tangan seorang pemuda buta dan dukungan adiknya, ia merasa utuh.
Guiren menarik napas tajam dan menarik kuasnya menjauh.
Seketika, cahaya redup dari goresan udara itu terserap masuk ke dalam pori-pori kulit Yue Chuntao. Guiren terhuyung ke belakang, kakinya terasa seperti terbuat dari kapas. Jika bukan karena Xiaolian yang dengan sigap menangkap lengannya, ia pasti sudah tersungkur ke lantai.
“Kakak!” Xiaolian berseru, suaranya penuh kekhawatiran.
Guiren memberikan isyarat lemah dengan tangannya, menyuruh adiknya tetap tenang. Napasnya terengah-engah, dan dadanya terasa kosong, wadah tintanya telah terkuras hingga ke dasar. Kelelahan mental yang ia rasakan jauh lebih berat daripada setelah duel melawan Bai Feng. Ia merasa seolah-olah sebagian dari penglihatannya yang tersisa telah direnggut demi menyatukan satu senti meridian gadis itu.
Yue Chuntao mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa dadanya tidak lagi sesak. Ada aliran tipis, sangat tipis, nyaris tidak terasa yang bergerak-gerak di lengannya.
“Kau melakukannya,” bisik Yue, menatap Guiren dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, tapi juga rasa bersalah yang besar saat melihat kondisi pria itu. “Kau memberikan sebagian dari dirimu untukku.”
“Aku hanya memperbaiki apa yang bisa diperbaiki,” sahut Guiren parau. Ia mencoba berdiri tegak kembali, meski tubuhnya gemetar. “Ini baru awal. Jalanmu masih panjang, dan harganya tidak murah.”
Xiaolian membantu Yue untuk bangkit. Kedua gadis itu saling bertatapan. Ada sebuah pemahaman tanpa kata yang terjalin di sana, sebuah persaudaraan yang lahir dari rasa sakit dan harapan yang sama. Xiaolian melihat dalam diri Yue seorang kakak perempuan yang selama ini tidak ia miliki, sementara Yue melihat dalam diri Xiaolian sebuah cermin dari ketabahan yang selama ini ia coba pertahankan sendirian.
Malam itu berakhir dengan kesunyian yang intim. Guiren duduk di sudut, memulihkan diri dalam kegelapan, sementara Xiaolian dan Yue Chuntao berbicara dengan nada rendah tentang hal-hal kecil di sekte.
Namun, di luar dinding bangunan terpencil itu, bayang-bayang tidak pernah tidur. Bai Feng, yang berdiri di kejauhan di bawah pohon pinus yang gelap, menatap cahaya lentera dari jendela tersebut. Ia tidak perlu mendengar apa yang dibicarakan di dalam, rasa panas di dadanya sudah cukup memberitahunya bahwa ia sedang kehilangan segalanya.